My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Adik Dan Kakak



Pagi hari yang cerah. Ruby tampak begitu bersemangat dan rindu untuk mendatangi Resto dan memasak di sana. Perempuan itu sudah bersiap. Tubuhnya bahkan sudah berbalut dres cantik berwarna salem dengan rambut di ikat sederhana. Terlihat cantik dengan polesan make up berwarna natural dan alas kaki setinggi 5 centimeter untuk penyempurna tampilannya.


Ruby sedang memberikan Celia pada Nina selepas disusui. Bocah cantik itu sudah terlelap dan akan dipindahkan ke dalam box bayi.


"Nina," pangil Ruby pada pengasuh Celia.


"Ya, Nyonya."


"Aku akan ke Resto. Segera hubungi kalau ada masalah apa pun yang berhibungan dengan Celia dan keadaan rumah."


"Baik, Nyonya."


Ruby menatap ke dalam box bayi di mana bayinya tengah terlelap begitu nyaman. Ah, dirinya seperti tak rela meninggalkan Celia untuk bekerja, namun bagaimana lagi, Resto kini sudah menjadi tangung jawabnya dan ia pun adalah salah satu koki yang dimiliki oleh Ruby Resto.


"Nina, aku titip Celia, ya," lirih Ruby. Ia menatap sang putri kemudian pada Nina.


Pengasuh itu tersenyum. Ia mengerti akan perasaan Ruby yang berat untuk berpisah dengan sang buah hati meski barang sejenak.


"Nyonya jangan khawatir, Nona kecil akan aman bersama saya. Atau jika Nyonya ingin, saya bisa mengantar Nona Celia ke Resto andai Nyonya mengizinkan."


Wah ide bagus, tapi...


"Sepertinya jangan sekarang, Nina. Itu terlalu beresiko." Bagaimana pun Ruby masih memikirkan Margareth. Meski Celia adalah cucu kandung dari sang ibu mertua, tapi siapa yang bisa menjamin jika Margareth tak akan mencelakai Celia andai tanpa sengaja berjumpa.


"Baiklah, Nyonya."


Ruby pun berpamitan. Sean sendiri sejak pagi tadi sudah meminta izin untuk pulang ke Ibu kota untuk melihat perkembangan beberapa bisnis kuliner yang sempat ia tinggalkan selepas kembali merujuknya. Sean hanya mempercayakan usahanya pada orang yang sudah mejadi kaki tangannya selama ini.


Begitu keluar dari kamar Celia, Ruby bertemu dengan Selena. Gadis itu berpakaian rumahan dengan handuk kecil yang mengulung rambut panjangnya. Selena menatap Ruby dengan dahi mengernyit.


"Kakak akan pergi?." Selena bertanya selepas memperhatikan penampilan sang kakak ipar secara seksama. Ruby seperti mengalami banyak perubahan. Bukan hanya wajahnya yang terlihat lebih segar tapi juga cara berpakaiannya.


"Ya, sudah lama Kakak tidak mengunjungi Resto. Kakak Rindu untuk masak dan bertemu teman-teman di sana." Hah, bahkan rasanya baru kemarin ia masih menjadi asisten Koki Mario, tapi sekarang dirinya bahkan sudah menjadi sang pemilik Resto. Rasanya masih seperti mimpi.


"Kak, apa aku boleh ikut?." Ragu-ragu gadis manis itu bertanya. Gestur tubuhnya terlihat tidak nyaman, mengingat begitu banyak kejahatan yang pernah ia lakukan pada sang kakak ipar.


"Tentu saja boleh," jawab Ruby dengan suara riang.


"Kak Ruby tidak keberatan?."


"Memangnya aku harus mengendongmu hingga Resto sampai aku merasa keberatan?." Ruby menggoda Selen yang kini tersenyum kecut.


"Ayok lah, tapi aku akan ganti pakaian dulu sebentar." Selena berlari ke arah kamar. Secepat kilat ia bersiap hingga kembali ke hadapan Ruby tak lebih dari waktu lima menit.


"Aku sudah siap." Selena tersenyum lebar dengan stelan pakaian berwarna jingga yang membalut tubuh tinggi semampainya. Ada yang berbeda, gadis itu hanya memoles wajahnya dengan bedak tipis dan lipstik warna bibir.


Ruby seperti mendapatkan anugerah tak terkira. Selepas lahirnya Celia dan rujuknya dengan Sean, keakrabannya dengan Selena juga menjadi anugerah terbesar dalam hidupnya. Dulu, dirinya dan Selena tak pernah sedekat ini. Dulu meski status mereka adalah ipar, namun keduanya tak pernah bisa dekat seolah ada jurang pemisah yang membuat mereka tak pernah bisa dekat, meski dalam hati menginginkan.


💗💗💗💗💗


Selena menatap kagum pada sang Kakak ipar yang terlihat sibuk di ruang kerjanya. Dapur terpisah yang dilengkapi perabotan masak dengan kualitas nomor satu, kini seolah mejadi arena tempur sekaligus tempat berkreasi bagi seorang Ruby.


Perempuan muda itu tengah berkutat dengan sayuran dan berbagai macam ikan segar yang akan diolah menjadi menu pesanan para pelanggan Resto. Ruby beserta asistennya bahu membahu, mengolah dengan teknik terbaik, memastikan kualitas rasa, hingga sepiring sajian menggugah selera mendarat cantik di meja pelanggan.


Kali ini Ruby bukan hanya memasak untuk pelanggan tetapi juga untuk Selena dan Kiran. Mereka menghabiskan makan siang di ruangan terpisah. Ruby memperkenalkan Kiran pada Selena. Pada awalnya Kiran memberikan respon biasa saja dan terdengar krtus saat menyapa Selena. Wajar saja sebab Kiran pun tau jika Selena adalah adik ipar yang memperlakukan Ruby secara tak baik sebelum perceraian dulu.


Selena pun sadar, ia bisa merasakan keketusan Kiran saat berbicara padanya. Gadis itu pun akhirnya mengetahui jika semenjak berpisah dari sang Kakak, Kiran dan Ibunyalah yang sudah berbaik hati menampun Ruby.


💗💗💗💗💗


"Kak, boleh aku bertanya sesuatu hal?." Sepulang dari Resto, Selena justru mengajak Ruby untuk beristirahat sejenak di taman kota. Awalnya Ruby menolak mengingat Celia mungkin sedang menunggunya, namun Selena terus memaksa higga mau tak mau Ruby pun menurutinya.


"Tentang?."


"Apa yang membuat Kak Ruby menyukai Kak Sean? Karna dia tampan, Kaya, atau?."


Ruby tersenyum begitu mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Selena. Pandangan perempuan itu menatap jauh kedepan, sementara fikirnya coba mengurai kenangan demi kenangan beberapa tahun lalu pada awal pertemuannya dengan Sean Fernandez.


"Banyak, dan salah satu adalah kepribadiannya." Dari hati terdalam Ruby amat mengagumi akan kepribadian Sean rendah hati serta dermawan. Pria yang memiliki jarak usia cukup jauh darinya itu sama sekali tak memandang rendah orang lain yang memiliki kasta jauh di bawahnya.


Seperti pada saat Sean ingin mengenalnya lebih jauh. Ruby yang tak percaya diri terus berusaha untuk menjauh. Ia menghindar sebisa mungkin agar tak bisa ditemui lagi oleh Sean. Akan tetapi tekad Sean lebih bulat, hingga tak mampu dikalahkan oleh apa pun. Pria itu justru meminta izin langsung pada Rahayu untuk bisa dikenalkan dan didekatkan dengan Ruby.


"Selen, apa kau tau?."


Tentu Selena mengeleng sebab tak mengerti arah tujuan pembicaraan sang Kakak.


"Sedari dulu aku memang merasa tak pantas untuk mendampingi Mas Sean. Kita sangatlah berbeda, seperti langit dan bumi. Terlebih saat itu Ibu dengan terang terangan menentang keputusan Mas Sean untuk menikahiku. Pernikahan kami terganjal restu, ya meski pun beberapa hari kemudian ibu memberikan restu yang aku yakin jika beliau lakukan karna terpaksa."


Tentu Selena masih mengingatnya. Pada saat itu amarah Ibunya seperti tak terkendali saat Sean meminta izin untuk meminang Ruby.


"Setelah pernikahan, aku sadar jika harus menyesuaikan diri dengan kehidupan serta lingkungan keluargaku. Termasuk menjadi menantu idaman Ibu dan juga Kakak yang baik untukmu." Tak terasa sepasang mata Ruby mulai berkaca. Betapa berat kehidupannya pada masa-masa itu. Dikucilkan bahkan diacuhkan keberadaanya. Hidupnya hanya berada dalam hujatan serta makian dari keluarga suaminya.


"Sebesar apa pun cobaan, aku tetap bertahan karna di sampingku ada Mas Sean yang selalu menguatkan, dan saling menggengam satu sama lain. Aku terus berjuang, hingga pada malam itu aku pun mengalah, saat Mas Sean sendirilah yang menginginkan kami untuk berpisah." Kepingan kenangan seakan bergentayangan dalam ingatan.


"Dari semua pengalaman hidup yang kami rasakan, aku berharap kau bisa mengambil pelajaran. Aku selalu berharap jika kelak kau akan mendapatkan suami yang sebaik dan serendah hati Kakakmu. Tidak perlu kaya, yang terpenting adalah satu sama lain saling melengkapi." Ruby menepuk bahu Selena lembut.


Selena sendiri kini menghela nafas dalam. Saat mengungkit masalah pendamping hidup, bukanlah wajah Leo yang tergambar diingatan. Akan tetapi justru wajah Rio lah yang kini selalu terbayang di wajahnya. Kenapa bisa begini? Selena bertanya dalam hati, dan yang pasti ia sendiri pun tak tau jawabnya.


Tbc.