My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Rengekan Willy



Pagi hari ini Wira dibuat pusing saat Willy bergelayut manja dalam gendongan dan terus merengek untuk ikut serta dirinya bekerja. Sungguh adegan yang tak biasa, sebab ini untuk kali pertama bocah tampan itu terus memaksa ikut dan tak ingin ditinggalkan. Wira menghela nafas dalam, rasanya tak tega pula jika ia menolak permintaan sang putra, tapi bila Willy ikut, bagaimana dengan pekerjaannya?. Tidak mungkin juga dia bekerja nyambi menjaga Willy.


"Aku ingin ikut Ayah," rengek Willy yang mengalungkan tangan mungilnya ke leher sang Ayah. Wajahnya terus mengiba yang mana membuat Wira kian tak tega.


"Willy tapi sekarang Ayah harus bekerja. Bagaimana jika akhir pekan nanti kita bermain apa saja yang Willy inginkan," bujuk Wira pada sang putra.


Bocah tampan itu sontak menggelengkan kepala kemudian berucap, "Tidak mau Ayah, aku ingin bermain bersama Ayah sekarang." Willy merajuk lagi. Bukan lagi wajah Iba yang pasang, tapi dengan bola mata yang berkaca pula.


Ya Tuhan.


Wira tak kuasa. Meski berat sepertinya ia harus mengikuti keinginan sang putra. Biarlah sekali ini saja Willy bersamanya.


Wira menitahkan pada pengasuh Willy untuk mempersiapkan keperluan sang anak sebelum berangkat. Pria itu juga membawa serta pengasuh Willy agar bisa menjadi teman di Resto nanti.


"Yeay." Willy bersorak begitu Wira mengandengnya keluar rumah menuju garasi di mana kendaraan sang Ayah terparkir rapi.


Willy berpamitan dan melambaikan tangan pada sang Nenek. Pria kecil tampan itu terlihat begitu senang saat kuda besi yang dikendarai sang Ayah mulai keluar dari pintu gerbang utama.


Wira sadar jika waktu yang ia miliki untuk sang putra tak bisa dikatakan cukup. Tanggung jawabnya sebagai tulang punggung mengharuskannya untuk berkerja keras, mengais rezeki di luar rumah. Sementara ia pun tau jika anak seusia Willy juga butuh perhatian khusus dari orang-orang terdekat, termasuk orang tuanya.


Maafkan Ayah, Nak.


Saat melirik pada Willy yang duduk tenang dipangkuan pengasuh, rasa bersalah dalam diri Wira kembali tumbuh.


Menyesalkan dirinya yang tak pernah mengizinkan sang mantan istri untuk menemui putranya? Tentu tidak. Jangankan mengizinkan, melihat wajah perempuan jaalang itu saja ia sudah tak sudi.


Meski sang mantan istri meninggalkan luka mendalam, namun Wira merasa beruntung karna perempuan itu juga meninggalkan seorang putra yang menjadi pelita dalam hidupnya kelam.


Selepas berpuluh menit menempuh perjalanan, mereka pun sampai di area parkir khusus karyawan Ruby Resto & Cafe. Willy begitu antusias dan tak sabar untuk keluar dari kendaraan.


"Willy, hati-hati nak." Wira berusaha mengejar sang putra yang berlari memasuki Resto. Pengasuhnya terlihat kewalahan jika harus mengejar dan membawa barang-barang milik Willy.


"Ayah, ayo kejar aku." Willy mengoda sang Ayah. Bocah itu terkekeh saat mendapati Wira yang sedang mengejarnya dengan wajah cemas.


Ya tuhan, Willy. Bukan seperti itu, Nak. Tempat ini bukan area bermain.


Willy terus berlari memasuki Resto sampai keruangan staf bahkan dapur. Semua pekerja kebingungan, melihat paras asing yang memasuki area tempat kerja mereka namun juga terhibur dengan tingkah mengemaskan sang bocah. Ia berlari dan sesekali bernyanyi dengan suara yang tak terlalu jelas. Tersenyum dan tertawa seolah dunia ini memang hanya miliknya.


"Willy, berhenti Nak. Stop. Ayah lelah," titah Wira dengan nafas terengah akibat berlari. Ia benar-benar kewalahan namun tenaga Willy seolah tak habis dan masih aktif berlatian ke sana kemari.


"Kejar aku, Ayah." Willy terus berlari. Ia menoleh kebelakang untuk melihat sang Ayah, ia tak fokus pada apa yang ada di hadapa hingga tubuhnya menubruk seseorang.


"Aww," pekik Willy yang hendak terjatuh, namun seseorang yang sempat ia tubruk bergerak sigap untuk menangkapnya.


"Hei, kau baik-baik saja?." Seseorang itu bertanya pada Willy yang masih terpejam akibat ketakutan. Pelan pelan sepasang mata bening milik bocah tampan itu terbuka.


"Wah, Kakak?." Bola mata Willy kian membola. Mendapati jika seseorang yang sudah menolongnya adalah seseorang yang pernah ia temui beberapa hari yang lalu.


Tbc.


Wah siapa ya kira-kira yang sudah menolong Wiily 😊