
Selena menatap pada benda berkilauan yang melingkar indah di jari manisnya. Sebuah cincin simpel bertakhtakan berlian yang semalam Rio hadiahkan untuknya. Senyum di bibir sang gadis semakin lebar. Semula ia sempat mengira jika semua hanyalah mimpi, namun keberadaan cincin tersebut membuktikan jika semua yang terjadi memanglah nyata dan bukan ilusi semata.
"Selen, kau terlihat sangat senang rupanya."
Selena tersentak saat Sean sudah berdiri di sampingnya. Pria tampan itu mengulas senyum simpul dan melirik pada sang adik yang asik senyum-senyum sendiri.
"Kak Sean, kau mengejutkan saja," sugut Selena pada sang Kakak karna terkejut.
Sean menjatuhkan bobot tubuh di sofa sebelah tempat duduk sang adik.
"Bagaimana, apa kau suka dengan pria bernama bagas itu?." Ah, tidak ada salahnya jika menggoda Selena lebih dulu.
Selena tersenyum dan menganggukkan kepala.
"He em, aku suka dan aku juga sudah menerima lamarannya." Setelah sadar sesuatu, Selena pun mencubit perut sang Kakak sampai pria itu meng-aduh, kesakitan.
"Awww," pekik Sean begitu menerima serangan tiba-tiba dari sang adik.
"Kakak kenapa tidak bilang jika Bagas itu Rio. Atau kalian berkomplot untuk mengerjaiku?. Ayo katakan!." Selena lagi-lagi mencubit perut sang Kakak. Layaknya bocah yang memendam kesal saat dipermainkan oleh saudaranya.
"Awww. Ampuun, maaf Selen. Hentikan!. Ini sakit, awww," teriak Sean, hingga menimbulkan gaduh diseisi ruangan yang mereka tempati.
"Sean, Selen, apa-apaan ini?." Margareth muncul, menatap penuh tanya pada ke dua buah hatinya yang sedang adu pukul seperti bocah.
Selena lekas melepaskan tangannya dari tubuh Sean, meski amarahnya belum sepenuhnya terkeluarkan. Tapi setidaknya ia terlihat puas begitu melihat sang Kakak meringis kesakitan.
"Astaga, Selen. Kuku panjangmu mengores lukaku. Tega sekali kau pada Kakakmu yang paling tampan ini." Sean menata nanar pada lengannya yang dipenuhi luka cakaran kuku Selen. Entah sengaja atau tidak, namun rasanya lebih sakit dari pada cubitan di bagian perutnya tadi.
Selena membelalak. Ia membekap mulut, tak percaya saat kuku tanganya sampai melukai lengan sang Kakak.
"Kak, kenapa begini. Bukannya tadi aku hanya mencubitmu?." Selena kebingungan, namun nyatanya ia tak sadar jika adegan mencubitnya tadi justu membuat Sean yang berniat ingin meloliskan diri justru tergores dengan kuku tangannya yang sengaja dipanjangkan.
Sean hanya menggeleng, lagi pula Ibunya sudah menatap tajam pada mereka seolah meminta untuk segera menghentikan perdebatan.
"Kalian ini, sudah besar tapi kelakuan kekanak-kanakan." Margareth melengos kemudian melenggang pergi. Akan tetapi baru beberapa langkah paruh baya itu bergerak, seorang pelayan tergopoh menghampirinya.
"Nyonya, di luar ada..."
"Ada apa?." Margareth bertanya saat pelayan tersebut tercekat dengan nafas ngos-ngosan sehabis berlari.
"Itu, Nyonya. Di luar ada tamu yang..." Lagi, Bibi pelayan itu tergagap yang mana membuat Margareth yang penasaran lekas melangkah ke luar rumah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Merepotkan saja, memang semenakutkan apa tamuku hingga membuatmu tergagap dan...." Mulut Margareth mengangga. Sehabis memaki sang pelayan yang tergagap-gagap berbicara, nyatanya begitu dirinya keluar giliran dirinyalah yang dibuat tergagap pula.
"Mmm-mo-mobil, mobilku su-sudah datang. Hah, mobilku sudah datang!." Margareth berteriak. Tubuhnya melonjak-lonjak seperti bocah dengan mulut menganga lebar. Wajahnya pun terlihat syok bercampur senang. Ya tuhan, Margareth seperti bocah berusia 2 tahun yang mendapatkan gula-gula kapas kesukaannya.
Beberapa pria tampak menurunkan sebuah mobil mewah berwarna merah dengan alat khusus di halaman rumah Margareth. Rupanya Rio memenuhi janjinya untuk memberikan Margareth mobil baru andai Selena bersedia untuk menikah dengannya.
"Ya, Tuhan. Hah, Bagas memang menantu idaman." Margareth masih melonjak kegirangan. Ia berlari menghampiri mobilnya yang dihiasi pita berwarna merah muda. "Astaga. Kau manis sekali," puji Margaret pada kuda besi mengkilap tersebut. "Aku sudah tak sabar untuk lekas mengendaraimu." Margareth memeluk badan mobil, memejamkan mata, membayangkan betapa nyamannya berada di dalam mobil yang ditaksir memiliki harga fantastis tersebut.
"Selen, aku rasa mobil baru Ibu adalah pemberian dari Bagas." Sean bersuara. Maski ia sendiri tak tau pasti, namun jika menilik dari sifat sang Ibu yang mata duitan, praduganya bisa saja menjadi kenyataan.
"Ah, mana mungkin," jawab Selen seraya mencebik. Gadis itu berfikir, mana mungkin Rio rela memberikan barang mewah itu untuk Ibunya.
Sean berdecak.
"Memang kau fikir siapa lagi yang mau membelikan barang semewah itu jika bukan orang terdekatnya. Kau tidak, aku sendiri juga tidak, lalu siapa lagi jika bukan Rio?."
"Kak Ruby." Jawaban Selen seketika membuat Sean tergelak.
"Selen, kau ini ada-ada saja. Lagi pula Ruby pasti akan meminta izin padaku lebih dulu untuk membeli sesuatu, apalagi mobil. Tidak, aku yakin bukan Ruby."
Selena terdiam. Pandangannya masih tertuju pada sang Ibu yang kini sedang mengendari mobil barunya di halaman.
Dasaar nenek-nenek.
"Apa sekarang Rio sekaya itu?." Entahlah, ini masih seperti mimpi bagi Selena. Ia takut jika semuanya hanya ilusi dan apa yang diucapkan Rio semalam tentang usahanya adalah bualan semata. Gadis itu mengusap wajah, tak sanggup bila apa yang ia bayangkan menjadi kenyataan.
"Ya, sepertinya. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali dalam acara khusus yang diadakan rekan-rekan sesama usahawan muda. Sama denganku, dia memiliki bisnis dibidang kuliner." Sesungguhnya Sean sendiri pun sudah begitu jelas mengingat pertemuan pertama keduanya. Hanya saja dalam beberapa kesempatan, Rio-lah yang selalu menyapanya lebih dulu, dan sekarang barulah Sean mengerti jika sebenarnya tujuan Rio untuk mendekatkan diri.
Selena terdiam. Akhir-akhir ini dirinya seperti dihantui rasa bersalah yang amat besar pada Rio. Ia yang sudah menyakiti sedemikian rupa, namun nyatanya seorang Rio masih berharap untuk memilikinya.
Ah, kau memang beruntung, Selena.
Ada bulir bening yang menetes di sudut mata. Andai Rio tak berpunya, pasti kisah cinta mereka tak jauh berbeda dengan Sean dan Ruby. Terus berusaha dipisahkan meski keduanya saling mencinta.
Selena mengarahkan pandangannya pada Sean. Pria berbadan tegap dengan paras rupawan tersebut pun sedang menatap pada mobil baru Ibunya. Wajah pria itu senantiasa berseri. Selen akui jika apa yang ada dalam diri sang Kakak adalah hasil kerja keras dari kakak iparnya.
"Kak," panggil Selen.
"Heem."
"Sekali lagi, aku minta maaf."
"Untuk?."
"Semuanya."
Sean tersenyum tipis. Ia mengusap bahu sang adik dan berucap, "Sudah sedari dulu aku memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf."
Yakinlah, tidak ada yang lebih baik dari ini saat kita saling memaafkan. Tak ada dendam, yang ada hanyalah kasih sayang dan berusaha untuk saling menjaga.
Apa lagi itu, kenapa mereka juga membawa koper untuk Ibu.
Tbc.