My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Kembali Bersama



Sungguh kejadian yang tak pernah Ruby bayangkan saat Sean kembali merujuknya. Di kediaman Fatimah, sepasang suami istri yang sempat berpisah itu dinikahkan kembali. Raut wajah bahagia terlihat jelas pada Sean. Pria itu merasakan lega selepas mimpinya untuk kembali membersamai sana mantan istri benar-benar terwujud.


Ruby pun merasakan hal yang sama, namu rasa was-was justru lebih mendominasi. Begitu pun dengan Fatimah yang sempat menitikkan air mata saat proses pernikahan itu terjadi begitu mendadak di kediamannya.


Ruby tak menjamin jika Margareth akan diam saja selepas mengetahui jika Sean merujuknya.


"Apa yang sedang kau fikirkan?." Sean bertanya dengan suara lirih pada Ruby ketika mendapati istrinya itu melamun selepas hubungan mereka diresmikan oleh seorang pemuka agama.


"Tidak ada," bohong Ruby seraya tersenyum tipis pada Sean. Perempuan itu tak mau jika Sean malah terbebani oleh fikirannya.


Sean mengangguk dan tak bertanya lebih lanjut, namun ia sepertunya tau akan apa yang sedang difikirkan oleh sang istri saat ini.


💗💗💗💗💗


Selepas meminta izin pada Fatimah, Sean memboyong Ruby kesebuah Rumah yang sudah ia beli lebih dulu dari salah satu rekannya. Fatimah sesungguhnya berat untuk berpisah dari Ruby dan Celia, namun perempuan paruh baya itu sadar jika kini Sean lebih berhak atas Ruby dan Celia dari pada dirinya.


Ruby hanya membawa beberapa potong pakaian miliknya dan juga Celia atas saran Sean.


"Bawa beberapa pakaian saja, Sayang. Maaf di rumah kita aku belum sempat mempersiapkannya. Tapi tenang saja, aku sudah meminta Bibi untuk menyiapkan makanan dan kebutuhan lain untuk kita."


Sean membimbing Ruby yang menggendong Celia untuk masuk ke dalam mobil. Ruby sempat menoleh dan melambaikan tangan pada Fatimah dan Kiran yang berdiri di depan pintu.


💗💗💗💗💗


Kendaraan milik Sean kini terhenti di depan gerbang sebuah rumah. Seorang pria setengah berlari menuju pintu gerbang dan membukanya lebar, memberi akses pada kendaraan beroda empat itu untuk masuk.


Sean memasukkan kuda besinya ke dalam garasi. Pria itu lebih dulu memberi seulas senyum pada Ruby sebelum membuka pintu mobil kemudian turun. Sean bergerak memutar, kali ini membukakan pintu untuk Ruby.


"Sayang, berikan Celia padaku," pinta Sean seraya mengulurkan tangan untuk memgambil alih Celia dari gendongan Ruby.


Ruby pun memberikan putri kecilnya itu pada sang suami. Sean kini menggendong Celia juga menggandengan tangan Ruby untuk masuk ke dalam rumah.


"Sayang, ini rumah baru kita. Kau suka?." Berjalan sambil mengandeng tangan Ruby, Sean bertanya. Ia menatap pada Ruby, juga menantikan jawaban yang akan keluar dari bibir sang istri.


"Suka, aku dan Celia sangat suka. Terimakasih, Mas."


Sean tersenyum lega, pria muda itu mengusap rambut Ruby penuh kasih dan tetap membimbing langkah untuk memasuki rumah.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa seorang perempuan kisaran umur 30an yang sudah menunggu di depan pintu seraya menundukan kepala ramah.


"Terimakasih," jawab Sean. "Bi, ini istri dan putri saya." Sean memperkenalkan Ruby dan Celia pada perempuan tersebut.


"Selamat datang, Nyonya dan Nona Celia."


Ruby mengangguk dan tersenyum ramah. Sean lekas membawa Ruby ke kamar pribadi mereka untuk beristirahat.


💗💗💗💗💗


Kehidupan Ruby mungkin akan kembali pada masa-masa saat sebelum dirinya diceraikan oleh Sean. Hidup nyaman dengan harta melimpah. Akan tetapi apakah Ruby menyukainya?.


Perpisahannya kala itu tentunya menjadi pembelajaran hidup bagi Ruby. Ia tak ingin selalu mengandalkan Sean dan terus bergantung hidup pada suaminya tersebut.


Celia sudah terlelap di atas ranjang. Bayi cantik itu terlihat menggemaskan saat tidur menelungkup.


"Sesungguhnya aku sudah mempersiapkan tempat tidur Celia di kamar yang berbeda, tapi malam ini biarlah Celia tidur bersama kita." Sean menarik selimut dan menutupi tubuh Celia sampai ke leher.


"Sayang, mandilah lebih dulu, dan selepas itu beristirahatlah." Sean bisa melihat raut wajah lelah sang istri. Pernikahan kali ini mungkin masih mengejutkan Ruby, atau bisa saja perempuan itu setengah terpaksa menerimanya. Akan tetapi Sean tak ingin sibuk menerka. Pria itu lebih memilih untuk memberikan ruang bagi Ruby, sampai perempuan itu tenang dan menjalani pernikahan tanpa beban.


Ruby keluar dari kamar mandi sudah dengan berganti pakaian. Piyama merun berlengan panjang tampak menutupi tubuh rampingnya. Sean terpaku. Menatap pada rambut setengah basah milik Ruby yang dicepol tinggi, hingga memperlihatkan leher putih jenjangnya yang membuat pria itu meneguk ludah.


Sean lekas mengalihkan pandangan kemudian menghela nafas.


Sekarang bukan waktunya Sean.


"Mas," panggil Ruby.


Pria itu sontak menatap Ruby kembali.


"Tidak mandi?."


Sean terlihat salah tingkah terlebih saat ditetap begitu lekat oleh sang istri. Ah, rasanya sudah lama ia tidak merasa seberdebar ini selepas kepergian Ruby.


"Tentu, aku akan mandi sebentar lagi." Sean lekas bergerak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Demi apa pun ia sebenarmya sudah tidak tahan untuk memeluk Ruby, tapi sebisa mungkin ia tahan.


💗💗💗💗💗


Serasa ada yang menggelitik di hati seorang Ruby saat hubungan dengan Sean kembali terikat. Jika saat pernikahannya dulu Sean dan Ruby sama-sama malu, lalu bagaimana kondisinya sekarang?.


Ruby tersenyum tipis begitu mendekati suaminya yang kepergok menatapnya tanpa kedip. Beberapa detik kemudian Sean salah tingkah dan pura-pura mengalihkan pandangan. Ah, lucunya. Ruby tergelak lirih, sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Perempuan itu bangkit, menuju lemari pakaian dan mengambil satu stel piama yang nantinya akan dipakai oleh sang suami.


"Sayang," panggil Sean yang mana membuat Ruby yang masih berdiri di depan lemari pakaian, berbalik badan.


Ruby menelan saliva susah payah, dan mengalihkan pandangan saat mendapati tubuh Sean yang hanya terlilit handuk di bagian pinggang sampai lutut.


"Maaf, tadi aku lupa membawa pakaian." Sejujurnya Sean hendak tertawa begitu mendapati wajah syok sang istri begitu melihat penampilannya. Akan tetapi, sepertinya Ruby harus kembali membiasakan diri, toh mereka pun sudah resmi bersama.


"I-ini, aku sudah memilihkannya. Pakailah." Malu-malu Ruby mengangsur pakaian di tangannya pada Sean.


"Terimakasih, sayang." Setelah menerimanya, Sean tak lagi ke kamar mandi. Ia malah sengaja memakai pakaiannya di kamar, tentunya setelah Ruby menjauh. Perempuan itu terlihat bergabung bersama Celia di ranjang. Tak mau kalah, Sean pun menyusul. Memeluk Ruby dari belakang dan memandangi wajah imut Celia yang terlelap.


"Sayang, hari ini sungguh menjadi hari paling bersejarah bagi hidupku. Aku masih tak menyangka, jika semua cobaan yang sudah kita lewati, masih membuatmu sudi untuk mau kembali bersamaku lagi." Sean memejamkan mata, ia menyimpan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menghindu aroma tubuh yang sudah menjadi candu baginya.


"Mungkin ini sudah menjadi takdir. Kedepannya kita akan sama-sama berjuang. Berjuang untuk keutuhan rumah tangga, juga untuk Celia."


Sean mempererat dekapan. Ia pun membaringkan tubuh Ruby di sampingnya. Malam ini sepasang insan itu tidur saling berpelukan. Sean tak ingin grusa grusu. Bisa tidur dengan memeluk tubuh Ruby saja sudah menjadi kebahagiaan tak terkira untuknya. Terlebih sudah ada Celia yang kian memperkokoh pernikahannya.


Tbc.