
Sebuah kamar mewah yang berada di lantai dua sebuah bangunan, menjadi saksi saat Margareth tertawa girang saat koper berwarna hitam dengan tumpukan uang di dalamnya berhasil dibuka.
Rio benar-benar membuktikan ucapannya. 1 unit mobil mewah dan satu koper berisi uang dengan nominal angka mencapai milyaran rupiah, sudah berada di tangan Margareth.
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menghamburkan lembaran uang itu ke atas ranjang, lantas merebahkan tubuh di atasnya.
Ya tuhan, aku benar-benar tidur beralaskan uang.
Tak ingin kehilangan momen, Margareth lantas mengabadikan tingkah polahnya ke dalam ponsel pintar miliknya. Berpose semenarik mungkin dengan menampakkan taburan uangnya kemudian memamerkannya pada rekan sesama sosialita.
Margareth tak ingin kalah gaya. Ia tersenyum saat komentar beruntun membanjiri foto hasil bidikannya.
Berbagai komentar yang menunjukan pujian, membuat seorang Margareth besar kepala. Ia juga menambahkan sebuah foto saat dirinya berselfi di depan sebuah mobil sport pemberian sang calon menantu.
Lagi-lagi komentar berisi pujian membanjiri. Margareth semakin besar kepala. Ada komentar dari salah satu rekan yang menantang Margareth mengendarai mobil barunya tanpa bantuan seorang supir.
Margareth mengernyitkan dahi. Dia memang bisa berkendara, tapi setelah suaminya meninggal dalam kecelakaan, Sean melarangnya untuk mengendarai mobil seorang diri. Alhasil selama beberapa tahun ini dirinya pergi ke mana pun harus dengan kawalan seorang supir. Jadi, bila Margareth ditantang menyetir sendiri, apakah ia berani?.
Paruh baya itu membalas komentar yang berisikan tetang keenganannya. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan. Kini bukan hanya seorang rekan yang menantang namun beberapa rekan lain melakukan hal yang sama.
Duh, bagaimana ini?.
Margareth mengusap wajah. Ia kebingungan, antara ingin menerima tantangan atau justru menolak. Akan tetapi jika ia menolak, bagaima dengan reaksi rekan-rekannya.
"Tidak, mereka pasti akan menertawakanku terus berkoar-koar jika aku tak bisa berkendara," monolog Margareth seraya memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Tapi jika aku menerima, lalu bagaimana dengan Sean?. Pasti dia akan melarangku." Margareth gelisah. Ia mendapatkan pesan lagi jika berani membuktikan maka harus menayangkannya secara live di salah satu media sosial.
"Siialan," maki Margareth entah ditujukan untuk siapa.
"Tidak bisa dibiarkan. Awas saja kalian, aku akan membuktikan seberapa lihainya aku dalam menaklukan kuda besi di jalanan." Margareth menyambar ponsel dan kunci mobil barunya. Ia melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga dan mengamati situasi di lantai bawah.
"Aman," lirih Margareth saat tak mendapati siapa pun di lantai dasar. Sean, Ruby dan Selena tak terlihat. Entah ke mana mereka.
Margareth mengendap keluar rumah menuju garasi. Setengah berlari ia menghampiri mobil sport berwarna merah tersebut namun dikejutkan oleh seorang sopir yang sedang berdiri tak jauh dari kendaraan.
"Nyonya," sapa sopir pribadi Margareth pada sang majikan.
"Kau ini, mengagetkan saja," gerutu Margareth akibat terkejut.
"Nyonya ingin keluar?. Mari saya antar." Pria berpakaian serba hitam itu menawarkan diri. Sigap menghampiri sang Nyonya kenudian membuka pintu penumpang.
"Hustt." Margaret mengisyaratkan pria itu untuk diam. "Jangan banyak bicara. Pergilah, aku ingin menyetir sendiri tanpa bantuanmu." Margareth mengeser tubuh sang sopir dan membuka pintu depan kendaraan tersebut.
"Nyonya, jangan begini," cegah sang sopir. Ia menahan pintu yang terbuka dengan tubuhnya. "Tuan Sean bisa marah besar jika saya membiarkan Nyonya mengendarai mobil sendiri." Sopir itu ketakutan. Sebisa mungkin ia menahan agar Margareth mengurungkan niatnya.
"Anda," jawab pria itu seraya menunjuk Margareth.
"Maka dari itu turuti kata-kataku."
Pria itu menggeleng cepat.
"Tidak, Nyonya. Di sini tugas saya adalah melindungi Nyonya. Jika Nyonya memaksa mengendari mobil sendiri dan terjadi sesuatu yang tak diinginka, maka sudah pasti sayalah yang akan disalahkan Tuan."
"Kamu menyumpahi saya?." Margareth tak terima saat sopirnya berbicara yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Bu-bukan begitu, Nyonya. Hanya saja..."
"Ah, sudah sudah. Bikin repot saja." Margareth mendorong kuat tubuh si sopir sampai terjengkah. Dengan cepat ia mengambil peluang untuk menutup pintu dan menyalakan mesin mobil.
"Yeay, akhirnya." Margareth bersorak ia lekas melajukan kuda besi itu keluar dari garasi untuk dibawanya ke jalanan raya.
Sang sopir kelabakan. Tertatih ia bangkit. Meringis menahan sakit dan harus berlari mencari para penjaga keamanan untuk menutup pintu gerbang utama. Akan tetapi, mobil Margareth sudah melesat bahkan kini sudah keluar melewati pintu gerbang.
Bagaimana ini, Tuan Sean pasti marah.
Meski takut tapi mau tak mau sopir itu pun melapor pada Sean. Pria itu rupanya sedang beristirahat di kamar. Begitu mendengar Margareth mengendarai mobil seorang diri, Sean meloncat dari ranjang dan berlari ke garasi.
Tak ingin menyalahkan sang sopir sebab Sean tau jika sang Ibulah yang memaksa. Jika dilihat dari sifat, memang seperti itulah. Sampai Sean dan adiknya pun sudah memahaminya.
Sementara itu di jalanan padat Margaret mengendarai kuda besinya dengan kecepatan sedang. Ia juga menghidupkan musik dan sesekali menggoyangkan kepala. Margareth begitu menikmati kesenangan yang tengah ia ciptakan sendiri.
"Ow, bukankah aku harus mengabadikan momen ini secara live?." Margareth lantas membuka laci dan mengeluarkan ponsel pintarnya yang semula tersimpan.
Meski tengah mengemudi namun Margareth nekat mengoperasikan ponsel pintarnya secara lihai.
Pandangannya yang semula hanya tertuju ke arah jalanan, kini terbagi dengan ponsel pintar di tangan.
"Sebentar, aku harus menemukan sudut yang pas." Margareth seperti kebingungan menyandarkan ponsel pintarnya. Mencar tempat yang pas sesuai dengan yang ia inginkan. "Nah, pas..."
Brak
Brakk
"Aaaaaaaa." Teriakan terdengar, diikuti dentuman benda keras yang saling bertubrukan di jalan raya. Semua orang menjerit, terkecuali sang pengemudi yang terdiam akibat tak sadarkan diri.
Tbc.