
Seorang pria berbadan tegap hanya mampu berdiri menatap tubuh perempuan paruh baya yang terbaring lemah di atas ranjang perawatan dari balik kaca. Margareth mengalami kecelakaan tunggal akibat menabrak kontainer yang berhenti di pinggir jalan. Malang tak lagi ditawar saat paruh baya yang berniat ingin unjuk kebolehan di hadapan teman-teman sosialitanya justru berakhir musibah.
Saat ini Margareth tak sadarkan diri. Sean yang menemukan Ibunya sedang berusaha dikeluarkan dari mobil sportnya yang ringsek parah di bagian depan, lekas menghubungi rumah sakit terdekat untuk menolong Ibunya.
Jika wajah Margareth hanya terkena serpihan kaca, tapi berbeda dengan sepasang kakinya yang terluka parah. Ke dua kaki itu terhimpit, hingga membuat beberapa orang yang menolong kesusahan.
Di tempatnya, Sean menitikkan air mata. Meski sang Ibu kerap kali membuatnya terluka namun dikondisi seperti ini ia pun tak kuasa untuk tak mengeluarkan air mata.
"Kak, bagaimana dengan Ibu." Suara Selena memecahkan kesunyian. Gadis itu datang bersama Ruby dan Celia. Raut kedua perempuan itu pastinya tak berbeda dari Sean. Sembab dan menyedihkan.
Selena berlari mendekati pintu kaca. Ia menangis seketika saat melihat tubuh Ibunya tak berdaya dengan bantuan alat penunjang kehidupan.
"Ibu masih pingsan." Sean menjawab singkat. Ia mengambil alih Celia dari tangan istrinya. Sepertinya pria itu ingin memberikan waktu pada Ruby untuk bisa melihat kondisi Ibunya.
Sean memilih duduk di kursi. Mengistirahatkan tubuh serta fikiran yang sempat tak karuan akibat mendapati Ibunya terluka di jalananan.
"Kak," panggil Selena pada Ruby. Gadis itu mendekap sang kakak Ipar dan mereka menangis bersamaan.
"Ibu bagaimana, Kak," ratap Selena disela tangisnya.
Ruby mengusap bahu Selena dan menenangkan sang adik untuk tabah dalam menjalani semua cobaan. "Yakinlah, Ibu pasti akan baik-baik saja."
💗💗💗💗💗
Margareth sudah dipindahkan ke sebuah ruang perawatan kelas VVIP. Ia sudah sadar namun kondisi tubuhnya masih lemah. Begitu pun dengan ke dua kakinya, sesekali perempuan itu terlihat meringis menahan sakut di area ke dua kakinya.
Sean menatap pada sang Ibu. Ia mengingat akan ucapan sang dokter jika luka di kaki sang Ibu membutuhkan waktu penyembuhan cukup lama. Ke dua kaki itu terhimpit, hingga retak. Seperti saat ini sepasang kaki itu masih sulit digerakkan.
Pada awal tersadar, Margareth histeris saat mendapati ke dua kakinya diperban dan tak dapat digerakan. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya hingga seorang perawat memberikannya suntikan penenang.
Kini setelah tersadar, Margareth lebih banyak diam. Sepertinya paruh baya itu sadar, jika tak ada gunanya menangis kecuali belajar menerima keadaan dengan lapang dada.
"Ibu haus?." Ruby yang berdiri di sisi ranjang, bertanya saat paruh baya itu melirik dan menggerakkan tangannya ke arah nakas, di mana segelas air putih berada di sana.
Margareth mengangguk lemah, dan Ruby pun sigap membantu Margareth untuk bisa meneguk cairan bening itu secara perlahan.
"Su-da-h," ucap Margareth lemah.
"Ibu lapar?." Tanya Ruby.
Margareth diam. Ia melirik ke arah Sean yang juga sedang berada di dalam ruangan. Pria berkemeja putih itu sedang duduk dan mengamati interaksi antara Ibu dan juga istrinya.
Margareth terlihat ragu. Ia diam namun tak dipungkiri jika perutnya pun sudah teramat lapar. Maklumlah, selepas kecelakaan beberapa jam lalu perut Margareth belum terisi apa pun.
"Ibu, ayo makan. Biar Ruby yang akan menyuapi." Sean menengahi. Ia tau jika sang Ibu masih gengsi untuk menerima tawaran dari menantunya.
"Sayang, Ayo suapi Ibu dengan bubur buatanmu," titah Sean yang langsung dipatuhi oleh Ruby.
Sean membantu Margareth untuk bersandar pada punggung ranjang agar bisa menikmati makan dengan nyaman.
Bibir Margareth mulai terbuka saat Ruby menyodorkan sesendok bubur ke mulutnya. Saat makanan itu menyentuh indra perasa, Margareth terhenyak. Kenapa saat disuguhi dengan makanan yang diolah langsung dengan ke dua tangan Ruby rasanya menjadi tak biasa seperti ini?.
Timbul sebuah rasa asing dalam hati Margareth yang tak mampu paruh baya itu utarakan saat Ruby dengan telaten menyuapinya.
Apakah karna di sini ada Sean, Ruby jadi memperlakukanku sebaik ini? Tapi bukankah dari dulu Ruby memang selalu perduli padaku, namun aku sendiri yang terus-terusan abai dan memungkiri jika Ruby menantu yang baik?.
"Cu-kup." Margareth berbicara, meminta Ruby untuk berhenti menyuapinya.
"Ibu sudah kenyang."
Margareth hanya menganggukkan kepala.
"Di-Dimana Celia?." Sedari tadi Margareth memang tak melihat Celia dan Selena di dalam ruangannya.
"Celia ada di rumah bersama Nina," jawab Sean. Wajah Margareth berubah muram. Entah apa yang sedang paruh baya itu fikirkan.
Ruby membersihkan Sisa makanan Margareth sementara Sean mengembalikan sang Ibu pada posisi sebelumnya, berbaring.
"Sean," panggil Margareth setelah beberapa saat terdiam.
"Ya, ada apa Ibu?." Sean mendekatkan kembali tubuhnya pada sang Ibu.
Wajah Margareth kian muram. Ia seperti ingin menangis namun sebisa mungkin ditahan.
"I-Ibu ingin bertemu dengan Celia, bawa cucuku kemari. Aku rindu pandanya." Selepas berucap Margaret menundukan kepala kemudian terisak. Perempuan paruh baya itu menangis, hingga mengejutkan anak beserta menantunya.
Sean dan Ruby saling berpandangan. Mereka terkejut sekaligus senang. Tak menyangka jika Margareth yang angkuh kini mulai menyebut Celia sebagai cucunya.
Tbc.
Salam sayang untuk para pembaca tercinta. Terimakasih atas cinta dan dukungan yang diberikan.