My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Extra Part Kiran Dan Wira



Jika menurut Kiran, Wira terkesan acuh atau pun masa bodoh dengan rencana pernikahan mereka, akan tetapi pada kenyataannya justru berbeda. Bila selama ini Kiran hanya mengira Waktu yang dimiliki Wira dihabiskan untuk bekerja, namun sesungguhnya duda beranak satu itu tengah mempersiapkan sebuah pesta sebagai kejutan untuk sang calon istri.


Berbeda dengan lamaran yang digelar begitu sederhana di kediaman orang tua Kiran, saat pernikahan Wira menginginkan adanya pesta yang digelar dengan mewah sesuai dengan keinginannya.


Andai dirinya memberikan penawaran pada kiran, kemungkinan besar gadis itu akan meminta pernikahan yang sederhana, dan Wira tak menginginkan itu. Maka dari itu Wira sama sekali tak membocorkan rencana pernikahannya pada siapa pun termasuk ibunya sendiri. Kiran hanya akan diminta datang kesebuah butik untuk mengukur pakaian, dan tentunya di tempat itu pun baik Wira atau pun sang desainer tak akan berbicara banyak, hanya menjawab seperlunya agar Kiran tak curiga.


Kini hanya menjelang satu hari acara sakral itu akan dilangsungkan. Baik Kiran dan juga Wira sudah berada di hotel di gedung yang sejatinya akan gunakan sebagai tempat resepsi. Akan tetapi, lagi-lagi Kiran tak tau sama sekali. Wira hanya mengatakan jika dirinya dan sang Ibu untuk sementara waktu tinggal di hotel sementara pihak WO mendekorasi rumah mereka untuk acara akad. Kiran menurut, gadis itu tak banyak tanya apa lagi protes.


Di hotel itu pulalah Kiran melakukan serangkaian perawatan tubuh khusus untuk calon pengantin. Segala bentuk perawatan ia lakukan, dari ujung kepala sampai kaki, dan tentunya atas saran dari calon Ibu mertuanya.


Kiran tak sendiri. Ia selalu bersama Willy yang tak lelah mengekori langkah kemana pun ia pergi. Bahkan pria kecil tampan itu pun tak mau kalah. Ia juga menikmati perawatan tubuh, dan juga memangkas rapi rambutnya yang sedikit panjang.


Bukan hanya Kiran yang dibuat gemas dengan nada bicara Willy beserta tinggkahnya, namun para staf hotel yang merawat tubuh mereka pun juga dibuat gemas. Willy memang pintar. Ia pun sudah menganggap dan memperlakukan Kiran seperti Ibunya sendiri. Bahkan jika dibandingkan dengan Wira, Kiran jauh lebih disayangi oleh Willy.


💗💗💗💗💗


"Bagaimana para saksi?."


"SAH."


"Alhamdulilah."


Suara riuh memenuhi sebuah ruangan di dalam gedung yang digunakan Wira dan Kiran sebagai tempat berlangsungnya akad nikah sepasang insan tersebut dalam suasana syahdu.


Meski pernikahan mereka terbilang megah namun untuk acara akad Kiran hanya mengundang keluarga dan teman terdekat.


Selepas mengucap syukur, sepasang pengantin baru itu saling berhadapan. Kiran lekas menyabut uluran tangan Wira kemudian menciumnya takzim. Ada keharuan dan rasa syukur yang terpancar dari raut wajah kedua mempelai. Kini Wira tanpa ragu mengecup kening Kiran selepas melafalka sebuah doa dari dalam hati.


Duduk tak jauh dari Kiran dan Wira, Willy tersenyum geli dan spontan membekap mulutnya sendiri saat sang Ayah mencium kening Ibu sambungnya. Bukan hanya sepasang mempekai, rupanya Willy pun dibuat berdebar-debar kala disuguhi adegan khusus dewasa yang belum pantas ditonton oleh bocah ingusan seperti dirinya.


"Willy, pejamkan matamu," bisik sang Nenek selepas menangkah basah cucunya yang masih menatap pada Kiran dan Wira tanpa kedip.


Begitu mendengar ucapan sang Nenek, Willy lekas memalingkan wajah dan cepat-cepat memejamkan mata.


"Telat," gerutu sang Nenek dengan menggelengkan kepala.


💗💗💗💗💗


Malam yang mungkin terasa canggung bagi sebagian pengantin baru saat mereka sudah berada di dalam satu ruangan dan hanya diisi mereka berdua. Setelah resepsi, kedua mempelai dan juga keluarga memilih pulang dan tak menginap di hotel.


Kiran sudah selesai membersihkan diri. Dia duduk di bibir ranjang berukuran King size yang sudah dipersiapkan Wira sebelumnya. Rambut gadis itu masih setengah basah, dan ia juga mengenakan stelan piyama sebagai penutup tubuh.


Sementara Wira sendiri masih menguyur tubuhnya di kamar mandi. Terdengar dari gemercik air dan deheman dari arah kamar mandi yang pintunya tertutup rapat.


Di tempat duduknya Kiran memilin sepasang tangannya di atas pangkuan. Sebagai pengantin baru tentu ia tau apa yang harus dilakukan saat malam pertama. Tentu saja gadis itu hanya tau sebab sering iseng mendengarnya dari teman sebaya yang sudah lebih dulu menikah. Akan tetapi jika ditanya bagaimana prosesnya, tentu ia sama sekali tak berpengalaman. Berbeda dengan Wira yang sudah ...


Wira sudah berdiri di depannya saat gadis itu melamun. Pria itu sudah terlihat segar dengan balutan celana pendek dan kaos tipis yang mampu membentuk dada bidang dan otot-otot tubuh bagian perutnya. Kiran tersentak akibat terkejut, selepas bisa menguasai keadaan gadis itu pun tersenyum meski kikuk.


"Kau lelah," tanya Wira yang kemudian ikut menjatuhkan bobot tubuh di ranjang, hingga berdampingan dengan Kiran. Tangan pria itu terulur untuk menyentuh bahu sang istri dan kemudian memijatnya lembut.


"Hem, kau lelah?." Wira bertanya lagi ketika tak mendapati respon dari sang istri. Tangannya tentu masih bergerak memberikan pijatan ringan di bahu sang istri, dan kini mulai merambat ke lengan.


"I-iya, se-sedikit," jawab Kiran terbata.


Wira meulum senyum. Menyadari jika istrinya dalam keadaan gugup. Ya, wajar saja. Mungkin ini pertama kalinya bagi Kiran berada di satu ruangan dalam jarak begitu dekat seperti ini dengan seorang pria.


"Mau aku pijat," tawar Wira pada Kiran.


"O, ti-tidak usah. Lagi pula bukankah itu terbalik. Seharusnya istri lah yang memijat suami, bukan sebaliknya."


Wira tergelak. Merasa jika jawaban Kiran hanya sebagai alasan saja sebab rasa malu.


"Kata siapa?. Lagi pula bukankah diantara suami istri itu saling membantu, melengkapi dan jugaaa meengiisii." Wira sengaja memperlambat kata 'Mengisi' dengan artian yang hanya dimengerti oleh pria itu sendiri.


Kiran sendiri masih tak mengerti namun menikmati pergerakan tangan Wira yang masih setia memberi pijatan. Di sisi lain gadis itu berfikir. Jika dari novel romantis yang pernah ia baca, ketika momen malam pertama antara gadis yang dinikahi seorang duda, bukankah selalu di akhiri dengan tidur bertiga akibat sang anak merengek untuk ikut tidur bersama?.


Apa mungkin Willy juga akan menyusul kemari dan tidur dengan kami?.


"Kiran, ada apa?."


Kiran mengerjap saat Wira menatapnya penuh tanya.


Gadis itu meringis dan cepat-cepat menggelengkan kepala.


"Berbaringlah, kau pasti lelah," titah Wira yang kemudian sigap menata bantal dan mempersilahkan pada sang istri untuk berbaring.


Kiran patuh. Ia berbaring namun mengernyit bingung saat Wira juga masih melanjutkan pijatan di tubuhnya.


Aduh, kenapa begini? Bukannya tadi menyuruhku berbaring?.


Sebenarnya tak masalah bagi Kiran. Terlebih pijatan itu terasa sangat nyaman. Akan tetapi Wira seperti memanfaatkan keadaan dengan menyentuh beberapa bagian tubuh yang membuat Kiran meremang.


"Jangan takut dan nikmati," bisik Wira di telinga Kiran. Gadis itu rupanya sudah terbuah dan tak sadar jika Wira mulai melepas satu persatu kancing piamanya.


"Aku akan mengajarimu banyak hal. Tentang menikmati suatu rasa yang belum kau rasakan sebelumnya." Entah apa yang sedang Wira lakukan namun Kiran bisa merasakan ciuman di daerah bahu dan juga lehernya.


Sementara itu di sebuah kamar.


"Nenek, cepat buka pintunya. Aku ingin tidul dengan Ayah dan bunda Kilan," teriak Willy seraya menggedor pintu kamar hotel tempatnya bermalam yang memang sengaja Nenek Willy kunci dari dalam.


Nenek Willy berdiri seraya menepuk jidat. Sudah nyaris tengah malam namun Willy menolak untuk tidur. Paruh baya itu semakin dibuat pusing setengah mendengar ucapan sang cucu yang ingin tidur dengan Ayah dan Ibu sambungnya di momen malam pengantin mereka.


Ya tuhan, aku bisa gila.


Nenek Willy nyaris menangis terlebih Willy yang semakin bringas menggedor pintu kamar hotel tanpa henti.