
"Kenapa, kau takut?." Rio bertanya pada Selena yang masih berdiam diri di tempat. Gadis itu terlihat ragu melangkah, menuju ke sebuah ruangan di mana sang Ibu sedang duduk menunggunya.
Selena terkesiap. Entahlah, bisa-bisanya ia melamun di situasi semacam ini.
"Em, tidak. Aku hanya sedikit gemetar saja," jawab Selena dengan senyum kikuk. Rio tentu tergelak, ia pun lekas menggengam tangan Selena dan membimbing langkah sang gadis untuk masuk ke dalam ruangan.
Langkah Rio terhenti tepat di samping perempuan paruh baya yang sedang duduk di sebuah kursi. Mereka sedang berada di ruang kelas VIP, di resto milik Rio.
"Ibu," panggil Rio pada Paruh baya itu. "Kami sudah datang," lanjut Rio ketika sang Ibu sudah mengeserkan pandangan ke arah mereka.
Selena menelan salivanya berat. Entah mengapa wajah angkuh Margareth terbayang di mata.
Tidak, semoga Ibu Rio tidak semengerikan Ibuku.
Menetralkan deru nafas, Selena menundukan pandangan. Rasa takut mulai menyergap seiring bayangan sosok Ibu Rio memenuhi benak.
"Nak, kau kah gadis yang bernama Selena itu?." Suara lembut itu menyapa indra pendengaran Selen, dan sontak membuat gadis tersebut meluruskan pandangan.
Paruh baya berwajah lembut itu tersenyum saat pandangannya bertemu dengan sepasang mata indah milik Selena.
"Be-benar, Bibi. Sa-saya Selena," jawab Selena dengan terbata. Lidahnya terasa kelu dan sangat susah untuk digerakkan.
Paruh baya itu bangkit dari posisinya kemudian mengulurkan tangan ke hadapan Selena.
"Perkenalkan, aku Kinanty. Panggil saja Bibi Kinanty atau... Ibu," goda Ibu dari Rio tersebut seraya mengulas senyum pada Selena. Sementara Rio yang berdiri di antara mereka hanya bisa tersipu malu atas tingkah sang Ibu.
"Baik, Bibi Kinanty."
"Senang bisa berkenalan denganmu, Nak. Apalagi kalau kau mau menjadi menantuku, Bibi akan luar biasa senang." Ucapan bernada tulus itu keluar dari bibir Kinanty. Seperti diterpa hujan ditengah hamparan padang pasir, Selena merasakan kesejukan melingkupi diri. Terlebih lewat senyum paruh baya di hadapannya yang menggambarkan ketulusan, Selena benar-benar tak percaya dibuatnya.
"Nak, duduklah," pinta Kinanty yang melihat Selena masih betah berdiri.
"Baik, Bibi." Meski setengah canggung namun Selena mengikuti ucapan Kinanty. Mereka pun duduk bersama. Rio yang merasa sangat senang saat Sang Ibu menerima Selena dengan tangan terbuka lekas memanggil pelayan untuk mempersiapkan hidangan.
Di tempatnya, Selena terlihat asik menemani Kinanty berbicara. Entah itu basa basi atau sekedar pengenalan diri, namun yang pasti Kinanty menyukai pilihan sang buah hati.
💗💗💗💗💗
Sean masih mengura jika apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi. Bisa berkumpul di rumah orang tua dan Sang Ibu bisa menerima Ruby juga Celia seperti mertua dan menantu pada umumnya.
Benarkah semua berjalan dengan cepat?. Tentu tidak, Sean butuh waktu bertahun-tahun untuk meluluhkan hati sang Ibu sampai seperti ini.
Sean meyakini jika semua yang terlewati, tak semudah yang orang lain bayangkan. Hidup terpisah dari Ruby, Sean pernah melalui. Hidupnya hancur dan tak memiliki gairah selepas ketuk palu hakim yang memutus tali pernikahan antara dirinya dan Ruby.
Margareth kini sudah sadar begitu pun dengan Selena. Ke dua orang terdekat Sean sudah memetik hasil dari perbuatannya sendiri. Mereka mendapatkan ujian yang membuatnya sadar jika apa yang mereka lakukan untuk memisahkan dua orang yang saling mencinta adalah Salah.
Berkaca dari apa yang sudah terjadi, Sean mulai membenahi diri. Ruby dan Celia adalah prioritas utamanya kini. Sementara tanggung jawabnya untuk sang Ibu, tetap ia patuhi. Tak ada yang merasa dicurangi. Sean berusaha adil untuk membahagiakan keluarga kecilnya sekaligus orang tuanya.
Begitu pun dengan Selena. Ketakutan tak beralasan yang sempat melanda, sejatinya hanyalah bayangan semata. Kinanty menerimanya dengan baik. Paruh baya itu sangat senang ketika ia datang berkunjung ke rumahnya. Mereka akan memasak bersama atau pun menyulam, sebagaima yang Kinanty kerjakan setiap harinya.
Tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Setiap detail kebutuhan pun Rio dan Kinanty yang mempersiapkan dibantu dengan jasa WO, yang merupakan kerabat dekat Rio pula.
💗💗💗💗💗
Ruby baru saja keluar dari kamar mandi begitu mendapati Sean sudah bersandar di atas ranjang dengan membaca sebuah buku. Saat mendengar pintu berderit, pandangan Sean dari lembaran kertas pun teralihkan. Senyum di bibirnya terkembang sempurna saat melihat sang istri yang terlihat cantik dengan pakaian tidurnya.
Baju tidur berbahan satin tanpa lengan yang perempuan itu pakai, nyatanya sukses membangkit sesuatu dalam diri Sean yang hanya bisa meledak-ledak ketika bersama Ruby.
Ruby melangkah ringan menuju meja rias. Tak mengerti jika sepasang mata elang milik seorang pria tengah bersiap memangsanya. Gerakannya begitu santai saat mengusapkan tones dan juga pelembab di atas permukaan wajah, dan demi apa pun Sean sudah tak mampu menahan diri.
Masalah yang menimpa akhir-akhir ini membuatnya tak memiliki waktu untuk sekedar bermesraan dengan sang istri. Saat tidur pun mereka hanya saling berpelukan dan berciuman, itu saja.
Ada yang berdiri tegak (Tapi bukan keadilan) di dalam tempatnya. Sean bangkit dan melangkah untuk mendekati Ruby. Saat perempuan itu masih sibuk mengaplikasikan beberapa produk kecantikan ke wajah, Sean tak membuang waktu dan lekas memeluk pinggang ramping Ruby dari belakang.
Sempat terkesiap namun setelah sadar jika Sean yang melakukan, Ruby tak kuasa untuk tidak tertawa.
"Kenapa?." Tanya Sean yang mulai menciumi bahu terbuka sang istri.
"Tidak, aku hanya terkejut," jawab Ruby. Ia merapikan kembali beberapa make upnya ke atas meja tanpa menggangu aktifitas sang suami yang membubuhkan beberapa tanda merah ke area bahu dan lehernya.
"Sayang," geram Sean yang mulai terbakar gairah. Ia menciumi setiap inci tubuh sang istri dengan mata terpejam. Pria itu terlihat meresapi sekaligus menikmati sesuatu yang tengah dilakukannya saat ini.
Runy tak menjawab. Ia pun ikut terbakar gairah dan menikmati setiap perlakuan sang suami pada tubuhnya. Tak munafik, Ruby pun mendambakan semua sentuhan itu.
"Aku menginginkanmu," bisik Sean dengan nafas memburu di telinga Ruby. Pria itu lekas merengkuh dan mengendong tubuh Ruby ke atas ranjang. Bersiap melakukan ritual yang mampu membuat pasangan suami istri itu mabuk kepayang.
Meski diliputi gelora yang membara, Sean tetap memperlakukan Ruby seperti Ratu. Sangat lembut dan berusaha untuk tidak menyakitinya.
Entah berapa lama ke dua insan itu memerah keringat bersama di atas peraduan. Suara Ruby parau menyapa indra pendengar Sean, yangg mana membuat pria tersebut kian bergaiirah. Mereka pun melakukannya lagi dan lagi sampai menjelang pagi😌. Ruby tak menolak, dengan senang hati ia layani mengingat apa yang mereka lakukan kini bisa menjadi ladang pahala sekaligus menambah kemesraan hubungan pernukahan mereka.
"Sayang, aku menginginkan seorang adik untuk Celia," ucap Sean setelah pelepas. Ruby samar mendengarnya sebelum terhanyut dalam dunia mimpi.
Tbc.
Beberapa part menjelang akhir ya guys...