My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Penjelasan Rio



Apa ini mimpi?.


Selena mencubit ke dua pipi dan berteriak seketika.


"Awww." Sakit.


"Selen, kau kenapa?." Tanya Rio dengan wajah khawatir.


Ya, Tuhan. Ini nyata. Kenapa jadi seperti ini ceritanya.


Selena terlihat frustrasi.


"Selen, kau kenapa? Kenapa berteriak? Kau bahkan mencubit pipimu sendiri." Rio bergerak untuk mengusap Pipi Selena yang memerah akibat bekas cubitan. "Pasti sakit. Lihatlah, pipimu sampai memerah seperti ini," celoteh Rio yang tak habis fikir dengan ulah gadis di depannya yang berniat menyakiti diri sendiri.


Selen tak perduli dengan usapan tangan Rio di pipinya, yang gadis itu fikirkan kini adalah penampilan Rio yang sangat berbeda dari biasanya.


"Rio," panggil Selen.


"Heem," jawab sang pria yang masih sibuk mengusap pipi sang gadis.


"Kemana baju dinasmu? Kenapa harus berpakaian seperti ini untuk menemui Ibuku?."


Rio bergeming. Aktifitasnya yang sedang mengusap pipi Selen pun terhenti.


"Aku tanya di mana pakaian dinasmu?."


Rio masih juga diam yang mana membuat Selen mulai geram.


"Rio, sudahlah. Tak perlu menjadi orang lain untuk bisa meluluhkan hati Ibuku. Apalagi dengan cara berpenampilanmu juga kepura-puraanmu di hadapan Ibuku. Apa kau tau jika semua yang kau lakukan ini hanya semakin menysahkanmu." Selen menatap Iba pada Rio. Haruskan pria itu merombak penampilan dan berpura-pura kaya di hadapan sang Ibu untuk bisa melamarnya?


"Kau tidak perlu bertindak sejauh ini, Rio. Kau justru akan terjebak pada permainanmu sendiri andai Ibu tau kebenarannya." Selen menyesalkan sikap Rio yang kekanakan untuk bisa mendapatkannya, dan apa yang terjadi tidaklah bisa dibenarkan. Bagaimana jika Ibunya tau jika Rio tak mempunyai apa-apa dah hanya berprofesi sebagai Guru di sebuah sekolah.


Rio yang semula kebingungan mencerna ucapan Selen, kini mulai bisa membaca kemana arah pembicaraan sang gadis. Ya, benar. Selen berfikir jika dirinya kini sedang berpura-pura di hadapa Ibunya. Mengaku berada dan tak sesuai dengan tealita yang ada.


"Memang apa salahnya, lagi pula Ibumu pun sudah menerima lamaranku. Lalu kau sendiri bagaimana, menerima atau menolaknya?." Rio menggoda Selen. Ia menjawail dagu sang gadis kemudian mengedipkan sebelah mata.


Astaga Rio. Dalam situasi segenting ini kau masih bisa menggodaku.


"Berhenti menggodaku, Rio. Itu tidak lucu!." Selen bersungut. Saat melihat ekspresi wajah Rio yang tetap terlihat santai, gadis itu menggeram kesal. Tak habis fikir, bagaimana Rio bisa bersikap sesantai itu dan tak memikirkan dampak dari masalah yang ia buat.


"Selen, lalu aku harus apa? Saat itu aku sudah datang untuk melamarmu pada Kak Sean, dan kau tau apa jawaban darinya?."


Selena menggelengkan kepala lemah.


"Sama sepertimu, Kak Sean juga tidak bisa memutuskan. Maka dari itu aku menemui Ibumu kemudian mengutarakan keinginanku untuk melamarmu pada beliau. Sekarang, seperti yang kau lihat. Ibumu menerima lamaranku." Rio terlihat berbangga diri.


"Ya aku tau," jawab Selen kian frustrasi. "Tapi tidak dengan cara seperti ini juga. Kau mengaku kaya dan memiliki banyak usaha. Ketahuilah, Rio. Andai Ibuku tau jika kau hanya seorang guru, apa reaksi beliau? Kau pasti akan di seret keluar dari rumah ini bahkan sebelum pernikahan kita terjadi." Sifat sang Ibu yang materalistis membuat Selen yakin jika Rio menyusun sebuah kebohongan hingga membuat Ibu terjerat dan dengan mudahnya menerima lamaran, sama seperti pada Leo kala itu. Berasal dari keluarga terpandang dan memiliki banyak usaha membuat Margareth melakukan hal sama. Mengatur perjodohan tanpa tau sifat sang pria yang nyaris menodai putrinya.


Rio terlihat menghela nafas dalam. Ia menatap sepasang mata Selena yang memerah, begitu lekat.


"Selen, apa kau fikir aku seburuk itu?." Beberapa tahun berpisah dan beberapa minggu bertemu kembali, Rio memang melihat begitu banyak perubahan yang terjadi pada diri Selena terutama pada hal yang tergolong positif. Rio bisa merasakan kekhawatiran dalam diri Selena, tapi khawatir dalam bentuk apa, pria itu pun tak tau pasti.


Gadis itu hanya tertunduk dalam. Tak merespon atau menjawab ucapan Rio.


"Apa kau fikir aku melakukan banyak kebohongan untuk bisa mengambil hati Ibumu agar mau menerima lamaranku."


"Kau salah. Sebagian basar dari ucapanku adalah fakta dan sebagian kecilnya, aku memang tak menyebutkan profesiku sebagai guru di suatu sekolah. Tapi ketahuilah, Selen. Ibumu sama sekali tak mempermasalahkan hal itu."


Rumit. Selena berfikir jika masalah yang akan ia hadapi semakin sulit. Rio secara sengaja menceburkan diri sendiri dalam bara api dan sayangnya juga membawa serta dirinya.


"Aku menyerah, Rio. Kau urus saja semua masalah yang kau buat sendiri. Sungguh, akuku tak ingin terlibat. Aku sudah bisa membayangkan semurka apa Ibu saat tau kenyataan sebenarnya tentang dirimu nanti." Selena bangkit dari posisinya. Ia ingin pergi dari hadapan Rio secepatnya, namun tangan Rio lebih dulu menahan langkahnya.


"Selen, Selepas lima tahun kita berpisah rupanya kau tak sedikit pun tau tentang hidupku." Rio menarik lembut tangan Selena dan meminta pada gadis itu untuk duduk kembali ke tempatnya semula. Sementara Selena sendiri sudah tak bersemangat. Tak ada lagi binar di wajah ayunya dan yang ada hanya gurat wajah lelah dan kekecewaan.


"Duduklah dengan tenang dan aku akan menjelaskan semuanya kepadamu." Satu tangan pria rupawan itu bergerak untuk mengusap pipi sang gafis juga merapikan anak rambutnya yang berantakan.


"Selena, sampai detik ini rasa cintaku padamu tak pernah berkurang, dan bahkan kian bertambah selepas kita bertemu kembali setelah beberapa tahun terpisah." Selena diam dan tertunduk. Ia menikmati sentuhan tangan Rio di wajah dan rambutnya. Pria itu tak pernah berubah. Lembut dan penuh kasih dalam memperlakukannya.


"Saat kau meminta untuk berpisah, hari itu merupakan hari terburuk dalam hidupku." Rio mulai menceritakan perjalanan hidupnya selepas kejadian kelulusan itu. Selena mengigit bibir bawahnya, kelu. Ia merasa bersalah saat memutuskan hubungannya dengan Rio saat itu. Padahal jika boleh jujur saat itu rasa cintanya pada Rio sudah mulai tubuh dan bukan sekedar modus belaka.


"Aku bekerja apa saja, yang aku bisa dan bisa menghasilkan uang. Lima tahun aku berjuang Selen. Pada awalnya aku sendiri tak tau kesuksesanku akanku tunjukan pada siapa selain pada orang tuaku, hingga tanpa diduga kita dipertemukan kembali pada suatu kejadian."


Rio tiba-tiba mengangsur sebuah iphone tablet ke hadapan Selen. Di layar terlihat beberapa bidikan berlatar rumah makan.


"Lihatlah, di sana tersimpan beberapa foto usaha miliku."


Selena memberanikan diri untuk melihatnya. Dahinya mengernyit, melihat secara seksama dari satu gambar dan bergeser kegambar lainnya.


"Hah, resto ini bukankah tempat kita bertemu saat itu?."


"Ya," jawab Rio mantab.


"Dan kau adalah pemiliknya?."


"Ya." Lagi, Rio menjawab penuh keyakinan.


Selena membekap mulut. Wajahnya terlihat syok dengan sepasang mata berkaca.


"Resto itu adalah anak cabang resto utama yang terletak di jalan XX."


Kali ini Selena benar-benar terisak. Rio mengusap lembut kedua bahunya yang terguncang untuk menenangkan.


"Lima tahun aku berjuang Selena, aku hanya ingin membuktikan jika diriku pantas untuk berdiri di sampingmu. Mengengam tanganmu dan mengatakan pada keluargamu jika akulah pria yang akan membuatmu hidupmu bahagia disepanjang usia."


Selena pun bangkit, ia menangis dan menubruk tubuh Rio sampai pria itu terkejut.


"Rio, maafkan aku," lirih Selena disela isak tangis. Tak perduli dengan posisi tubuh Rio saat ini, Selena memeluk tubuh Rio erat, seolah enggan dipisahkan.


Rio pun tersenyum. Ia mengusap rambut Selena dengan lembut dan membubuhkan satu kecupan pada sisi kepalanya.


"Ya, sudah sedari dulu aku memaafkanmu."


Adegan berpelukan itu masih bertahan dalam beberapa menit kemudian. Margareth yang tanpa sengaja melihat aktifitas kedua muda mudi itu, terkekeh pelan.


Mobil baru, uang banyak, aku datanggg..


Tbc.