My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Permintaan Willy



Bagi sebagian orang mungkin menggambarkan kebahagiaan hidup hanya berpaku dengan seberapa banyak kekayaan yang dipunya. Hunian mewah dan hidup serba berkecukupun dianggap menjadi catatan utama seseorang layak disebut makmur dalam berkehidupan.


Begitu pun dengan yang dialami Willy saat ini. Memiliki hunian mewah dan hidup berkecukupan, membuat sebagian orang yang melihat menganggap hidupnya sempurna. Akan tetapi kenyataan yang pria kecil itu alami justru berkata sebaliknya. Hidupnya belumlah sempurna.


Pagi menyapa. Pria kecil yang hari ini genap berusia 3 tahun itu menyibak selimut yang mentupi tubuh dengan penuh semangat. Willy bangkit dan langsung berlari selepas menuruni ranjang.


Apakah karna hari ini merupakan hari bertambahnya usia sang anak, hingga membuatnya lebih bersemangat ataukah ada hal lain yang mampu menyulutkan semangatnya sampai berkobaran berkali lipat.


Pengasuh Willy terkesiap saat Tuan kecilnya melewati ia begitu saja dan langsung memasuki kamar Ayahnya, Wira.


Jika tahun-tahun sebelumnya Wira akan memberikan pesta kejutan untuk sang putra, namun tidak dengan hari ini. Bukan Wira yang tak ingin, hanya saja bocah itulah yang menolak.


Entah apa yang sedang direncanakan sang anak namun yang pasti Wira sudah mawas diru agar siap menghadapi kemauan sang putra yang akhir-akhir ini cukup membuatnya kelimpungan.


"Ayah," teriak Willy begitu pintu kamar Wira terbuka. Bocah itu berlari dan melompat ke ranjang, di mana tubuh sang ayah masih terbaring di atasnya.


"Willy." Wira terperanjat. Akibat terkejut sepasang mata yang semula terpejam kini membulat sempurna. "Ada apa, Nak. Kenapa berteriak?." Jika bukan Willy, Wira pasti murka sebab tidurnya dibangunkan paksa. Akan tetapi karna Willy-lah yang berulah, Wira hanya bisa pasrah.


"Ayah tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku?." Pria kecil itu bertanya, atau lebih tepatnya mengingatkan. Wajahnya dipasang sepolos dan seimut mungkin, sebab terselip sebuah keinginan yang kelak dapat dikabulkan oleh sang Ayah.


Wira melebarkan mata. Oo oo..., sepertinya Wira bisa membaca fikiran sang putra.


"O, tentu saja. Tentu Ayah-lah orang pertama yang akan mengucapkan kata-kata itu untuk putra kebanggan Ayah." Wira yang sudah duduk di atas ranjang lekas membawa tubuh kecil sang putra dalam dekapan. Tak terasa, tiga tahun sudah ia membesarkan sang putra tanpa didampingi oleh mantan istrinya. Berbagai fikiran berkecamuk. Begitu pun rasa haru yang tiba-tiba menyeruak, melingkupi ke dua insan yang kini sedang berpelukan dengan mata saling terpejam.


Wira mulai menitikkan air mata, dan diam-diam Willy pun melakukan hal yang sama. Dalam diam ke dua pria berbeda usia itu menangis. Tak ada isakan, karna mereka tak ingin jika tangisnya diketahui oleh orang lain. Wira mengusap bulir bening di pipi sebelum mengurai dekapan, begitu pun dengan Willy. Pria kecil itu tak ingin terlihat lemah di depan sang Ayah yang selalu berjuang untuk kehidupannya.


Ayahku, idolaku.


Willy selalu mengaungkan jika Wira-lah yang menjadi idolanya. Ketika besar nanti ia ingin menjadi seorang Manager seperti sang Ayah. Dia juga ingin tubuh tinggi dan tampan seperti Ayahnya. Ah, apa pun itu yang ia ingin selalu berpatokan pada Ayahnya.


"Selamat ulang tahun putraku, William Andrean. Jadilah putra terbaik yang kelak membahagiakan Ayah di dunia dan akhirat. Tumbuh besar, sehat dan selalu sayang pada Ayah dan Nenek." Baik Wira dan Willy pun meng-Aamiini.


"Terimakasih, Ayah," jawab Willy yang kini kembali membenamkan wajahnya di dadaa bidang sang Ayah.


Wira tersenyum. Jika tahun sebelumnya, Willy tidak bertingkah seperti ini. Kenapa saat ini sikap sang anak mulai berubah? Apakah karna usia yang mulai bertambah?.


Meski setiap kosa kata yang keluar dari mulut sang anak masih belum jelas, namun Wira bisa memahaminya.


Bocah itu mengernyit, bingung dengan kata-kata sang Ayah yang terdengar asing di telinganya.


"Ayah, bukankah hali ini ulang tahunku?."


"Ya, lalu?." Wira bertanya dengan satu tangan membelai rambut lembut sang putra.


"Em, bolehkah aku meminta sesuat. Em, maksud Willy seperti kado?."


Tanpa ragu Wira pun mengangguk.


"Tentu saja. Willy mau apa, mainan, sepeda, motor, atau mobil?." Tentunya Wira menyebut merek motor dan juga mobil yang aman dikendarai anak seusia Willy (Mobil-mobilan gan, bukan beneran).


Willy mengeleng ragu kemudian berucap, "Bukan, Willy tidak mau semua itu."


"Lalu, Willy mau apa?." Bukankah hadiah semacam itu yang kerap diinginkan anak-anak seusia Willy saat berulang tahun. Tapi kenapa penawaran Wira seakan tak diingini Willy?.


"Em, tapi Ayah janji tidak akan malah, ya?." Ragu-ragu bocah itu berucap.


Wira terkekeh. Bagaimana dia bisa marah jika keinginan sang putra saja masih belum ia ketahui.


"Heem, Ayah janji tidak akan marah."


"Janji?." Willy bahkan meminta pada sang Ayah untuk menyatukan jari kelingking.


"Janji," jawab Wira yang menyatukan jari kelingkingnya pada sang putra sebagai 'Tos'.


Dirasa waktu sudah tepat, Willy pun bersuara lantang. Agar dari didengar dengan jelas oleh sang Ayah.


"Ayah, aku ingin meminta seolang Ibu untuk hadiah ulang tahunku." Degg. Dunia seakan berhenti berputar untuk seorang Wira. "Bolehkan Ayah?. Sepelti Clay dan Celo, aku juga ingin punya teman belmain yang bisa kupanggil Ibu," lanjut Willy kali ini dengan menangkupkan kedua tangan sebagai bentuk permohonan.


Ya tuhan.


Wira merasakan sesak di daada. Untuk menghela nafas saja terasa begitu menyakitkan.


Ya, Tuhan. Aku harus bagaimana?.