My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Bundanya Willy



Rasanya masih seperti mimpi. Berbalut kebaya modern berwarna salem, Kiran mematut penampilannya di depan cermin. Malam ini, gadis bernama lengkap Kirana Ayudya itu akan melangsungkan lamaran bersama seorang pria bernama Wira Saputra yang merupakan atasannya.


Seperti kilat, lamaran ini sungguh diluar perkiraan. Sampai saat ini Kiran pun masih merasakan syok. Bagaimana tidak, selepas makan siang dan bertepatan dengan Wira yang melamarnya, hanya berselang satu hari lamaran resmi itu pun benar-benar terjadi.


Kiran tertunduk selepas mengamati wajahnya sendiri yang sudah tersapu riasan. Siang itu dirinya memang masih ragu dan belum menjawab secara pasti lamaran Wira. Begitu sampai rumah, Kiran pun berbicara pada Fatimah, sang Ibu.


Kiran yang dalam kesehariannya sangat membatasi diri dalam bergaul dengan lawan jenis, rupanya belum berkeinginan untuk cepat-cepat melepas masa lajang. Akan tetapi Fatimah terus memberinya wejangan. Menggambarkan seperti apa kehidupan wanita saat usia mereka semakin dewasa.


"Suatu saat kau pasti akan berumah tangga. Entah itu esok, satu tahun kemudian, atau bahkan lima tahun kemudian. Akan tetapi saat kau diinginkan seorang pria yang membuatmu nyaman dan memiliki latar belakang yang gamblang, untuk apa kau menundanya. Toh, putra Nak Wira juga sepertinya menyukaimu."


Ucapan sang Ibu kembali terngiang. Meski sudah cukup lama ia mengenal Wira mengingat bekerja di satu tempat yang sama, namun keduanya terbilang tidak dekat.


Pada awalnya mereka memiliki tujuan hidup masing-masing. Kiran yang ingin terus bekerja untuk kehidupan yang lebih baik, sementara Wira yang sedang berusaha mendapatkan cinta dari Ruby kala itu, tak pernah mengira jika takdir hidup akan membawa keduanya dalam ikatan seperti ini.


"Lagi pula Ibu bisa melihat jika Nak Wira adalah sosok pria yang bertanggung jawab." Lagi-lagi ucapan kembali memenuhi fikiran sang putri. Entah dari mana seorang Fatimah bisa melihat sisi tanggung jawab dari sosok pemuda yang belum lama ia kenal, namun jika dilihat dari pandangan, paruh baya itu sama sekali tak keberatan jika putrinya dipinang oleh duda beranak satu tersebut.


Kiran masih tertegun saat Fatimah datang dan duduk di sampingnya.


"Nak, ada apa?." Tanya Fatimah sembari mengusap lembut bahu sang putri.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala.


"Apa kau masih ragu dengan keputusanmu?." Sesungguhnya Kiran masih ragu, namun melihat tak ada penolakan dari sang Ibu membuat gadis tersebut menerima lamaran Wira meski belumlah yakin sepenuhnya.


Gadis itu lagi lagi terdiam.


Fatimah menghela nafas dalam. Demi tuhan, ia tak ingin memaksakan kehendak sang putri. Akan tetapi ketika ada seorang pria yang datang dengan maksud baik untuk melamar putrinya, haruskah ia menolak sedangkan usia Kiran memang sudah pantas untuk berumah tangga?.


"Kiran, Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karna seringnya bertemu. Tak kenal, maka tak sayang. Kalian bisa pacaran setelah lamaran atau bahkan menikah. Ibu yakin, Nak Wira ada sosok pria yang baik. Usianya yang jauh diatasmu, kelak bisa membimbingmu untuk menjadi istri juga Ibu yang baik untuk keluarga kecil kalian." Meski sejujurnya berat melepaskan sang putri, namun Fatimah sadar jika Kiran pun berhak mendapatkan kebahagiaannya dengan berkeluarga.


Mereka berpelukan. Sampai terdengar ketukan dari pintu depan rumah.


💗💗💗💗💗


Tak ada yang mewah. Acara lamaran saat ini sangatlah sederhana atas keingin Kiran. Hanya ada beberapa keluarga kedua calon mempelai. Mereka duduk di ruang tamu yang dilapisi karpet tebal.


Wira yang mengenakan kemeja yang sama dengan Willy, tampak duduk berdampingan. Diantara wajah senang para keluarga dan kedua calon mempelai, wajah Willy-lah yang paling berbinar dari pada yang lain.


Sepanjang acara bocah tampan itu tak hentinya menjemur gigi. Ketika lelah tersenyum, barulah bibir kemerahan itu terkatup, kemudian menghela nafas dalam dan tersenyum lebar kembali. Begitu seterusnya.


Wira datang tidak dengan tangan kosong. Seperti lamaran pada umumnya, Wira membawa barang-barang yang sudah ia persiapkan untuk Kiran. Dan nyatanya, Willy berserta sang nenek lah yang memilih. Ke duanya terlihat antusias dengan mengelilingi Mall seharian untuk mencari barang yang sesuai keinginan mereka. Meski harus mengeluarkan banyak uang, mereka tak ambil pusing, toh Wira sendiri sudah menyanggupi.


Dipenghujung acara mereka menikmati makanan yang dipesan langsung oleh Wira pula. Kiran dan Fatimah tak perlu dipusingkan dengan segala keperluan. Mereka hanya mempersiapkan tempat dan menyambut kedatanggan calon tunangan Kiran.


"Kak Kilan," panggil Willy yang berhambur memeluk Kiran setelah acara selesai. "Aku lindu," sambung bocah tampan itu lagi.


Gadis itu tersenyum dan membalas pelukan Kiran. Inilah salah satu alasan Kiran menerima lamaran Wira, Willy. Meski hanya beberapa kali bertemu, akan tetapi keduanya seperti memiliki keterikatan batin. Mereka pun terlihat nyaman satu sama lain, bahkan Kuran merasa lebih nyaman saat bersama Willy ketimbang Wira.


"Ck." Kiran berdecak.


Apa-apaan itu.


"Kak Kiran juga rindu pada Willy." Kiran mengurai pelukan. Ia mencubit puncak hidung Willy dengan gemasnya dan bocah itu hanya meringgis.


"Em, bolehkah Willy memanggil Kak Kilan Bunda?. Em sepelti ini, sini Kilan, Kilan Bundanya Willy." Willy memperagakan saat Kiran sedang dipanggil oleh seseorang dengan sebutan Bundanya Willy. Kiran hanya bisa tergelak. Terlebih melihat ekspresi Willy yang begitu antusias ketika bicara.


"Bagaimana, boleh ya?." Bocah itu merengek. Ah, Kiran tak tega.


"Boleh," jawab Kiran pada akhirnya. Gadis itu luluh juga.


💗💗💗💗💗


Di tempat berbeda dengan suasana nyaris serupa.


Pesta pernikahan Selena dan Rio digelar mewah, disebuah hotel berbintang milik Sean.


Dekorasi pernikahan dan segala persiapannya sesuai dengan impian Selena selama ini.


Bertemakan kerajaan negeri donggeng, Selena dan Rio tampil memukau begitu turun dari kereta kencana yang dikendalikan oleh beberapa kuda berwarna putih, ketika memasuki gedung resepsi.


Selena benar-benar seperti seorang putri. Gaun putih yang menjuntai, ditambah sepatu kaca dan mahkota bertakhtakan berlian, membuat penampilannya kian paripurna. Selena benar-benar menjadi bintang dan mampu menghipnotis para tamu undangan.


Di antara keriuhan pesta, disebuah toilet yang berada di tempat yang sama, seorang pria tampak membungkuk di depan wastafel. Pria itu seperti tengah berusaha keras untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.


"Uweeek."


Pria yang tak lain adalah Sean itu tengah kelelahan akibat rasa mual yang mendera. Lagi-lagi suara mual itu terdengar, hingga seseorang yang tak sengaja melintas, memeriksa bilik toilet tersebut yang rupanya tak terkunci.


"Sean, kau kenapa?." Smita, kerabat dekat Sean yang menghadiri resepsi Selena terlihat khawatir. Perempuan itu ingin mendekat begitu mengetahui saudaranya sedang dilanda mual.


"Tetap di tempat. Plis, aku mohon. Jangan mendekat," tahan Sean saat Smita hendak mendekat.


"Hei, kau ini kenapa?. Aku mendekat karna ingin membantumu." Smita bersikeras untuk mendekat.


"Berhenti, Smita. Aku bilang tidak usah mendekat." Suara Sean lebih tinggi dari sebelumnya.


Langkah Smita terhenti, namun saat Sean mual lagi, gadis itu hendak mendekat lagi.


"Smita, pergilah!. Menyingkirlah dariku, kau bau!."


Smita melotot. Ia buru-buru mengendus aroma tubuhnya sendiri.


Tidak, tidak bau. Yang aku cium hanya aroma parfum. Yang benar saja.


"Siialan kau, Sean mengataiku bau."


"Maka dari itu, pergilah!."


"oo.. daasar Giila," gerutu Smita sambil berlalu pergi dari hadapan Sean.


Dalam keadaan lemah, Sean menyandarkan punggungnya ke dinding. Seharian ini dirinya dibuat uring-uringan. Gidungnya seperti sensitif dengan aroma yang ia hirup diantara orang-orang di sekeliling.


"Mas, kau kenapa?." Sean akhirnya bisa bernafas lega saat suara lemut seorang perempuan menyapa indra pendengaran. Ruby dengan wajah penuh khawatir mendekat dan mengusap wajah sang suami yang dipenuhi keringat dingin.


"Sa-sayang, aku mual."


Ruby mengernyit.


"Mual?."


Pria itu mengangguk samar. Karna lemas ia hanya bisa mendekap sang istri dan mencium aroma parfum perempuan tersebut yang nyatanya membuat rasa mual diperutnya mulai berkurang.


"Ayo, mas. Kita keluar. Lebih baik Mas beristirahat." Ruby berniat untuk memapah tubuh besar sang suami menuju kamar, akan tetapi pria itu menolak.


"Sebentar lagi. Aku masih ingin seperti ini. Memelukmu dan menghirup wangi tubuhmu yang menjadi candu bagiku." Sean menyembunyikan wajahnya dilekuk leher sang istri. Menikmati aroma tubuh sang istri yang membuat tenang sekaligus menjadi candu baginya.


Tbc