My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Berkunjung Ke Rumah Ruby



Pagi ini Fatimah nampak berpakaian rapi. Paruh baya itu bersama sang putri rencananya akan berkunjung ke rumah baru Ruby untuk pertama kali.


"Memang Kakakmu tidak ke Resto?." Fatimah bertanya pada Kiran. Ia cukup ragu, mengingat menurut Kiran, Ruby masih tetap bekerja di Resto sebagai koki sama seperti sebelum rujuk kembali dengan Sean.


"Kak Ruby di rumah, Ibu. Semalam aku sudah mengabari jika kita akan datang berkunjung. Jadi mana mungkin Kakak bekerja. Lagi pula dia kan bosnya. Suka-suka dia mau bekerja atau tidak." Kiran tergelak yang spontan mendapatkan satu pukulan kecil di bahunya dari tangan sang Ibu.


"Kau ini ya. Memang kau fikir seperti apa sifat kakakmu itu," geram Fatimah, tak terima pada ucapan putrinya sendiri tentang Ruby.


"Maaf, aku hanya bercanda Ibu." Kiran memanyunkan bibir. Pura-pura merajuk.


"Nak, sudan pesan taksi, dan apa kau juga sudah tau alamat tempat tinggal Ruby yang sekarang?." Fatimah hilir mudik, kesana kemari. Masih sibuk menata beberapa kotak berisi masakan buatannya sebagai buah tangan untuk Ruby dan juga Sean. Paruh baya itu juga tak ketinggalan, membeli selembar selimut berbahan lembut untuk cucunya Celia.


Dari kejauhan Kiran hanya menatap sang Ibu yang begitu antusias mengemas barang bawaanya yang dibagi dalam beberapa kantong plastik. Gadis itu menghela nafas, kepergian Ruby dari rumahnya memang menyisakan sesak dalam dada untuk dirinya dan sang Ibu. Bagaimana tidak, mereka suda seperti keluarga, pun dengan Celia yang sudah seperti keponakan sendiri bagi Kiran.


Saat Sean membawa Ruby pergi, Fatimah kerap termenung. Rumah pun menjadi sepi dan sang Ibu harus kembali seorang diri saat dirinya sibuk bekerja. Fatimah kesepian setelah kepindahan Ruby dan Celia.


"Kiran," panggil Fatimah. Gadis itu tersadar dari lamunan.


"Ya, Bu."


"Lihatlah, di luar sepertinya ada tamu." Fatimah sempat mengintip dari jendela jika ada sebuah mobil mewah yang kini terparkir di halaman rumahnya.


Kiran keluar untuk memastikan. Benar saja, dari pintu mobil yang terbuka seorang pria berbadan tinggi tegap keluar.


"Selamat pagi, Nona," sapa sang pria seraya menundukan kepala.


"Selamat pagi, Bapak. Maaf cari siapa ya, atau ada sesuatu yang bisa saya bantu?." Kiran bertanya dengan menatap sang pria yang tampak asing baginya. Pria itu tersenyum ramah pada pemilik rumah.


"Saya supir pribadi Tuan Sean yang ditugaskan untuk menjemput Nona Kiran beserta Ibu Fatimah," ucap sang pria memberi tahu.


"Hah, supir Tuan Sean?."


"Benar, Nona. Saya Supir pribadi dari Tuan sean."


"Kiran, siapa yang datang?." Fatimah tiba-tiba keluar. Ia terkejut mendapati sesosok pria asing yang menjadi tamunya. Saat sang tamu melempar senyum dan menundukkan kepala padanya, perempuan paruh baya itu pun tak ragu untuk membalasnya.


"Ibu, beliau adalah supir dari Tuan Sean yang katanya akan menjemput kita." Kiran menjelaskan pada sang Ibu. Fatimah tentunya tak menyangka saat mendapat perlakuan yang bisa dikatakan istimewa dari suami putri angkatnya. Mereka pun lekas bersiap, meminta bantuan pada sang sopir untuk memasukkan beberapa bungkusan buah tangan ke dalam bagasi mobil.


💗💗💗💗💗


Fatimah dan Kiran menatap kagum pada sebuah bangunan bertingkat yang merupakan kediaman Ruby saat ini. Rumah mewah dengan halaman luas dan juga kolam renang, membuat Ibu dan anak itu merasa rendah diri untuk melangkahkan kaki lebih dekat menuju pintu rumah utama.


"Bibi, Kiran." Suara seseorang seorang perempuan yang cukup familiar, menyapa indra pendengaran Fatimah dan Kiran yang masih diliputi kekaguman.


"Ruby." Fatimah berseru, wajahnya tampak berseri-seri begitu mendapati Ruby muncul dari pintu rumah utama dan setengah berlari menghampirinya.


"Bibi, Kiran, apa kabar?." Ruby lekas memeluk Fatimah kemudian Kiran. Senyum di bibirnya kian merekah. Perempuan itu lekas membawa dua perempuan yang paling dekat dengannya itu untuk masuk ke dalam rumah setelah puas melepas rindu.


Celia kini sudah berada dalam gendongan Fatimah. Putri kecil Ruby itu sedang berceloteh saat terus digoda oleh Kiran. Celua sudah semakin aktif bergerak. Bola matanya yang bening, bergerak indah, mencari titik-titik pandangan yang mencuri perhatiannya.


Tak berapa lama Sean pun ikut bergabung. Ia sudah lebih dulu meminta pada sang pelayan untuk mempersiapkan makan siang dengan menu yang spesial.


Fatimah pada awalnya cukup canggung saat berinteraksi dengan Sean, begitu pun dengan Kiran. Gadis itu bahkan lebih banyak diam, tak banyak bertingkah mengingat Sean adalah Bos besar di tempatnya bekerja. Akan tetapi, sikap Sean yang tenang pun tutur katanya yang lembut, membuat ke dua perempuan itu berangsur mengurangi kadar kecanggungan saat Sean terus memancing pembicaraan. Sean selalu bercerita tentang betapa bahagianya dia saat dapat kembali bersatu dengan Istri dan juga putrinya. Sean juga tak gengsi mengucapkan terimakasih pada Fatimah yang dengan kemurahan hatinya memperbolehkan Ruby untuk tinggal dan juga menjaganya disaat hamil sampai melahirkan.


Fatimah merasa terharu. Sepasang mata senjanya berkaca-kaca. Sungguh ia tak mengira jika Sean memiliki budi yang luhur dan tak sedikit pun memandangnya rendah sebab tak berpunya.


💗💗💗💗💗


"Paman, nanti bisa kita mampir ke pusat perbelanjaan sebentar?." Di kursi penumpang Kiran bertanya pada Supir pribadi Sean yang tengah mengatur kemudi di kursi depan.


"Tentu bisa, Nona," jawab sang sopir.


"Ah, terimakasih."


Fatimah yang duduk di samping sang putri, menjawil lengan sang gadis.


"Kiran, kau mau kemana?."


"Aku hanya ingin turun ke pusat perbelanjaan sebentar saja, Ibu. Ada sesuatu yang ingin aku cari." Kiran melihat ke luar jendela, sepertinya pusat perbelanjaan tidak jauh lagi.


"Tapi jangan lama-lama." Fatimah mewanti-wanti. Sesungguhnya ia tak enak pada Supir Sean. Tapi bagaimana lagi. Keinginan Kiran sepertinya tak mampu untuk dicegah.


Laju kendaraan terhenti begitu sudah mencapai area parkir pusat perbelanjaan. Kiran pun turun selepas berucap jika ia tak akan lama kepada Fatimah dan sang sopir. Fatimah sendiri lebih memilih menunggu di dalam mobil. Ia bisa kelelahan jika harus berjalan mengikuti langkah kaki putrinya.


💗💗💗💗💗


Kiran langsung menuju jajaran rak khusus kebutuhan wanita seperti alat make up dan juga perawatan lengkap lain dari kaki hingga wajah. Tujuan Kiran sejatinya hanya untuk membeli lip glos dan pelembab wajah miliknya yang hampir habis.


Ia tak bisa bekerja esok hari dengan penampilan tanpa riasan sedikit pun. Wajahnya pasti terlihat pucat dan menyeramkan, dan Kiran merasa tak percaya diri akan hal itu.


"Nah, cukup. Sekarang tinggal bayar." Kiran lekas menuju meja kasir. Saat berdiri mengantri, sepasang matanya menangkap sesosok tubuh seorang pria tak asing yang kini berdiri tepat di depannya.


"Tuan Wira," gumam Kiran yang sayang masih mampu didengar oleh sang pemilik nama yang sontak menoleh ke belakang begitu medengar namanya disebut meski dengan suara cukup pelan.


"Loh, Kiran?." Wira menatap pada Kiran yang justru meringis memandangnya. "Belaja juga?." Wira bertanya yang spontan mendapatkan anggukan dari Kiran.


Wira kembali menatap kedepan saat seorang Kasir mulai menghitung total belanjaan miliknya. Kiran melirik ke depan, ke sebuah meja di mana belanjaan Wira tertumpuk di sana.


Hah, susu anak lagi?.


"Kenapa?."


Kiran berjingkat saat Wira menegurnya.


Asem, aku kaget.


"Tidak, Tuan. Tidak apa-apa." Kira meringis berusaha menetralkan wajah terkejutnya yang tertangkap basah sudah mengamati Wira.


Wira bergeser, memberi ruang pada Kiran untuk maju ke depan. Saat hendak mengangkat barang belanjaan dari meja kasir Wira sempat mengamati beberapa benda yang dibeli oleh Kiran.


"Saya duluan."


Kiran setengah tersentak mendengar ucapan Wira. Gafis itu menoleh ke belakang, kalau-kalau saja Wira sedang berbicara pada orang lain dan bukan padanya. Akan tetapi, tak ada siapa pun di belakangnya.


"Ck," Wira berdecak. "Kiran, saya duluan. Aku berbicara padamu, bukan orang lain." Wira terlihat menghela nafas dalam dan memasang wajah masam.


"Oh, i-iya pak. Silakan." Kiran berucap sembaei membungkukkan separuh badan. Yah setidaknya sebagai bentuk penghormatan, sebab dirinya mendapatkan sapaan dari sang atasan yang termasuk dalam golongan kaum tidak ramah.


Tbc.