My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Celia, Cucuku.



Atas permintaan Margareth, Sean pun menjemput Celia dan membawanya ke Rumah sakit di mana Ibunya sedang mendapatkan perawatan. Berada dalam kereta bayi yang didorong oleh Nina, Celia tampak tersenyum memandangi orang-orang yang berlalu lalang di lobi rumah sakit.


Sampai ruangan VVIP, sean pun berinisiatif mengendong putrinya sebelum memasuki Ruang perawatan Margareth. Di dalam Ruby tampak sedang menunggu Margareth yang terbaring namun dengan ke dua mata yang senantiasa terbuka.


Begitu pintu terbuka, pandangan Margareth sontak terarah pada ketiga orang yang datang. Senyum di bibir pucatnya terukir. Margareth tampak senang melihat wajah Celia.


"Sean, kemarilah. Bawa Celia padaku," titah Margareth pada putranya.


Sean rak menjawab. Pria itu hanya tersenyum namun mengayunkan kaki untuk mendekati ranjang perawatan sang Ibu. Saat sean kian mendekat, tanpa ragu kedua tangan Margareth terangkat untuk bisa menggapai tubuh moontok Cucunya.


"Kondisi Ibu masih lemah." Sean ragu memberikan Celia pada sang Ibu mengingat kondisi wanita paruh baya itu sendiri.


"Tidak apa, Sean. Ibu masih kuat jika untuk mengendong Cucuku saja." Margareth lekas mengambil alih Celia dari tangan sang putra meski awalnya cukup kesulitan karna tubuh berisi Celia.


Sean pasrah. Ia tak berdaya untuk menolak, terlebih Margareth langsung menghujani pipi putrinya dengan ciuman.


"Celia," panggil Margareth dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar. Margareth terus menciumi dan mendekap Celia yang hanya terkekeh dan berusaha menggapai wajah sang Nenek dengan jari-jari gemuknya.


Suasana berubah haru saat Margareth tiba-tiba menangis dan membenamkan tubuh Celia dalam pelukannya. Meski cukup kesulitan namun Celia yang anteng membuat suasana haru yang tercipta benar-benar terasa.


Sean dan Ruby terpaku di tempat, begitu pun dengan Nina. Mereka diam dan hanya memandang interaksi diantara Margareth dan Celia.


Cukup lama mereka membiarkan Margareth menangis seraya mendekap tubuh cucunya, hingga Celia yang memang sedang mengantuk terlelap damai dalam pelukan sang Nenek.


💗💗💗💗💗


Beberapa hari berlalu, Margareth pun sudah diperbolehkan pulang dan bisa melakukan perawatan jalan selama dalam pantauan dokter spesialis yang menanganinya.


Dalam kondisi yang masih terbaring, Margareth kini menghabiskan seluruh waktunya hanya di dalam rumah. Pada awalnya perempuan itu memang mengeluh, namun seiring berjalannya waktu Margareth pun menjadi terbiasa.


Selena memberikan Ibunya banyak tabloid dan buku-buku bacaan untuk pengisi waktu. Akan tetapi ada yang menarik dari Margareth selepas kecelakaan, paruh baya itu justu mempergunakan banyak waktu untuk bermain dengan Celia, Cucunya. Entah bermula seperti apa namun yang pasti Margareth selalu meminta pada Nina agar membawa Celia bermain di dalam kamarnya.


Ruby dan Sean semula terkejut, saat menemukan Celia sedang bermain di atas ranjang Margareth tentunya ditemani Nina. Pasangan suami istri itu masih tak percaya dengan penglihatan mereka sendiri dan mengiranya hanya halusinasi saat bibir pucat Margareth tampak menirukan suara Celia, seperti seorang bayai.


"Da da da..., Ma ma ma." Margareth menoel pipi Celia dengan gemas. Bayi itu tertawa, hingga terlihat gusi merah mudanya yang belum ditumbuhi gigi.


"Cucu Nenek pintar," puji Margareth saat Celia mengulurkan rmtangan dan memberikan sebuah mainan berbahan karet kepadanya. Margareth sumringah, sama seperti Celia yang seakan mengerti akan kebahagiaan yang tengah dirasakan sang Nenek. Celia merangkah, mendekat untuk menggapai tubuh Margareth, dan meminta digendong.


"O, cucu Nenek mau digendong?. Ayok, sini." Meski kesusahan namun Margareth berusaha mengangkat tubuh gemuk cucunya untuk masuk dalam rengkuhan ke dua tangannya. Senyum lebar Margareth terkukir saat Celia juga tertawa lebar begitu berada dalam rengkuhannya.


Indah sekali.


"Sayang, aku sangat bahagia," ucap Sean disela isakan. Ia memeluk Ruby begitu erat seolah mengatakan pada sang istri betapa bahagia dirinya sekarang.


"Iya, Mas. Aku juga merasakan yang sama."


Sean masih memeluk tubuh Ruby. Ia masih terisak. Biarlah beberapa saat ia bertahan dalam posisi seperti ini sampai dirinya benar-benar puas.


💗💗💗💗💗


Selena termenung. Jalan hidup yang saat ini ia jalani seperti memberi kebahagiaan sekaligus kesedihan untuknya. Bermula lamaran yang datang dari seseorang di masa lalu yang tak pernah ia duga. Memang nama Rio masih terukir indah disanubari, namun berfikir jika kasta mereka yang berbeda membuat Selena tak berani berharap. Akan tetapi siapa yang menyangka jika Rio yang dulu amat sangat sederhana kini menjelma menjadi pengusaha muda.


Pada awalnya Selen juga tak menyangka saat sang Ibu menerima lamaran Rio tanpa fikir panjang, dan saat ini rupanya Selen pun sudah tau semuanya.


Satu unit mobil sport dan sejumlah uang rupanya menjadi kompensasi andai sang Ibu menerima lamaran dari Rio untuk Selena. Gadis menutup wajahnya dengan ke dua tangan. Frustrasi melanda saat mobil pemberian dari Rio pula lah yang membuat Ibunya celaka.


"Selena," panggil seseorang yang membuat gadis itu tersadar dan merapikan kembali penampilan.


"Hei, kau kenapa?." Seseorang yang tak lain adalah Rio tersebut, mendekat dan memperhatikan wajah sang calon istri yang terlihat muram.


"Em, tidak apa," jawab Selena sekenanya.


"Apakah ada sesuatu yang sedang kau fikirkan?." Rio tak percaya begitu saja dengan jawaban dari Selena. Wajah muram dan sepasang mata yang berkaca-kaca bukankah menyiratkan jika gadis itu sedang terluka.


"Ayo, aku akan memperkenalkanmu pada Ibuku," titah Rio seraya mengulurkan satu tangan pada Selena. Rio dan Selena kini sedang berada di salah satu Resto milik Rio. Duduk di antara para pengunjung Resto sembari menunggu ke datangan perempuan yang sudah melahirkan Rio.


Selena mengangguk. Ia bangkit dari posisinya dan menyambut ulurun tangan Rio. Mereka pun berjalan menuju sebuah ruangan privat yang berada di dalam resto tersebut.


Saat kedua kakinya melangkah, fikiran Selen pun ikut melanglang buana. Ia mulai diliputi rasa khawatir kalau-kalau Ibu dari Rio lah yang tak menerimanya menjadi calon menantu.


Mobil mewah dan uang dengan nominal milyaran rupiah yang diberikan Rio pada Margareth tentu membuat Ibu dari Rio berfikir jika keluarganya hanya menginginkan harta milik putranya.


Belum menikah saja sudah berani minta ini itu, apalagi kalau sudah menikah nanti. Wajah sinis Ibunya Rio terbayang dibenak Selen saat mengucap kalimat seperti yang sedang ia bayangkan.


"Ibuku sudah di dalam, beliau sedang menunggu kita."


Ucapan Rio tak ayal membuat gadis yang sedang bersamanya, meneguk salivanya berat. Wajah sang gadis pucat pasi terlebih saat Rio membuka pintu dan seraut wajah perempuan paruh baya terlihat duduk menenggunya.


Tbc.


Yeay, selamat datang tahun 2023