My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Perubahan Ruby



Sepertinya Sean memang tidak main-main dengan ucapannya. Sepulangnya sepasang suami istri itu dari Ruby Resto, tepatnya di ruang tamu sudah menunggu tiga orang perempuan yang sejatinya adalah orang-orang yang sudah dibayar Sean untuk merubah penampilan Ruby menjadi lebih mempesona.


"Mas, mereka siapa?." Ruby yang kebingungan begitu melihat tiga perempuan asing di dalam rumahnya, spontan melempar tanya pada sang suami.


Sean tersenyum tipis, kemudian ia meminta sang istri untuk duduk bergabung dengan ketiga tamunya.


"Silakan, perkenalkan kalian pada istriku."


Ketiga perempuan itu menganggukan kepala kepada Sean dan Ruby.


"Nyoya Ruby, perkenalkan. Saya Maria dan dua rekan saya adalah Karen dan Dela." Perempuan bernama Maria itu memperkenalkan kedua rekannya pada Ruby.


Maria adalah seorang instruktur senam, sementara Karen seorang Fashion Staylis dan Dela seorang Desaigner. Mereka rupanya ditunjuk oleh Sean untuk membantu Ruby sesuai dengan keinginan yang pernah ia sebutkan sebelumnya.


"Sayang, mereka inilah yang kelak akan membantumu. Aku tidak memaksamu untuk berubah, aku sudah suka dengan apa yang ada dalam dirimu seperti ini, hanya saja aku tak rela jika ada orang lain yang merendahkanmu apalagi mencibirmu. Maka, aku berharap dengan bantuan mereka akan membuatmu semakin percaya diri dan bangga dengan semua kelebihan yang kau miliki." Sean terus meyakinkan Ruby. Setidaknya hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk saat ini.


Ruby sendiri masih diliputi perasaan yang menentu, akan tetapi keterkejutanlah yang lebih mendominasi. Namun, dibalik rasa cemas yang menggerogoti, rupanya Ruby dibuat amat terharu dengan berbagai cara yang dilakukan sang suami untuk bisa merubah dirinya menjadi lebih baik.


"Sayang, terimakasih. Aku sangat senang dan terimakasih juga untuk kalian. Untuk hari ini dan seterusnya, mohon bantuannya. Sepenuh hati saya akan mulai belajar dari kalian." Ruby sampai kebingungan untuk berbicara apa.


"Sama sama, Nyonya." Salah seorang menjawab mewakili kedua rekannya.


Beberapa saat kemudian selepas membahas perihal kontrak kerja yang sudah disepakati, Maria dan Karen memilih undur diri dan hanya menyisakan Dela yang mulai bergelut dengan pekerjaannya.


Ruby kini menemui Celia yang sedang bermain di kamarnya bersama pengasuhnya. Bayi cantik itu tak rewel. Dirinya begitu senang dan berceliteh saat Nina memberinya bola-bola dengan beraneka ragam warna.


"Celia," panggil Ruby begitu memasuki kamar putrinya. Tak lama kemudian Sean pun mengekori langkah sang istri, memasuki.kamar putrinya. Nina yang menyadari sang Tuan memasuki ruangan, lekas menjauhkan diri. Memberi ruang pada pasangan itu untuk menimang buah hati mereka.


"Sayang, berikan Celia padaku. Aku ingin mengendongnya," pinta Sean pada Ruby. Celia yang sedang tersenyum di dekapan Ruby, lekas dipindahkan pada ke dua lengan sang Ayah.


"Wah, anak Ayah sudah pintar," puji Sean begitu mendengar bayinya berguman tak jelas, khas suara bayi.


"Mas, apa semua yang kau lakukan tidak berlebihan?." Takut-takut Ruby berucap. Ia seperti menyuarakan isi hati, yang sempat dipendam.


"Tidak. Toh apa yang aku lakukan kelak akan membantumu di kedepannya." Sean menjawab dengan suara datar. Ia masih menimang Celia dan memainkan jemari moontok sang buah hati.


Ruby hanya menghela nafas. Ya, Sean pasti akan menjawab demikian, terlebih saat sudah mengetahui akan perlakuan Margareth dan Selena kepadanya dulu.


"Baiklah, kalau semua sudah menjadi keputusan Mas, maka aku pun tak bisa untuk menolaknya."


"Bagus. Itu baru istri kesayanganku." Sean merengkuh tubuh Ruby, hingga sepasang orang tua dan anak itu saling berpelukan.


💗💗💗💗💗


Dela tengah mengukur tubuh Ruby. Mulai saat ini dirinya sudah terlihat sibuk. Sean memintanya untuk mendesain seluruh pakaian milik Ruby dan Baby Celia. Bukan hanya untuk pakaian pesta, di hari-hari biasa pun Ruby akan selalu mengenakan pakaian rancangannya.


Huh, ini bisa dikatakan berkah bagi seorang Dela saat diberi kehormatan untuk mendesain pakaian dari istri seorang pebisnis tersohor di Ibu kota juga di beberapa kota lain. Dela pun dibayar mahal dalam setiap bulannya oleh Sean, dan bisa dikatakan lebih banyak dari pada sebelum dirinya bekerja pada Sean.


"Nyoya, Tuan Sean meminta saya untuk membuat pakaian untuk anda, bukan hanya untuk pakaian formal saja, namun untuk pakaian sehari-hari pun sama. Semua hasil jahitan saya." Dela mengangsur sebuah majalah. Di dalam lembaran terdapat berbagai macam model pakaian. Dres, setelah dan berbagai jenis model pakaian lain. Ruby menatap gambar dalam lembara majalan secara saksama. Ia terkagum, namun juga setengah tak percaya diri.


"Tentu, dengan senang hati, Nyoya." Dela mendekat, lewat tutur kata yang ramah ia menjelaskan setiap detail model pakaian dalam majalah. Ia juga menunjukkan beberapa buku lain yang lebih lengkap pada Ruby.


"Maaf, Nyonya Sean. Bisakah saya mengukur tubuh anda lebih dulu?." Dela meminta izin pada Ruby. Perempuan itu sudah memegang suatu benda ditangan yang biasanya ia gunakan untuk mengukur tubuh para pelanggannya.


"Oh, ya. Baiklah." Ruby sengaja membawa Dela ke dalam ruangan pribadinya dan Sean. Tempat di mana pakaian dan barang-barang pribadi milik sepasang suami istri itu tersimpan.


Dela begitu hati-hati dalam bekerja. Ia tak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun. Jujur, meski sebagai seorang perempuan, ia pun cukup mengagumi postur tubuh Ruby yang ramping dan terjaga meski sudah pernah mengandung dan melahirkan. Kulit tubuh Ruby kencang. Tubuh Ruby pun bisa dikatakan munggil, tingginya hanya sekitar 161 sentimeter, jauh sekali jika dibandingkan dengan Sean yang memiliki tinggi badan 180 sentimeter.


Pinggul Ruby pun memiliki lekuk yang indah. Dela bahkan bisa membayangkan akan secantik apa Ruby andai sudah mengenakan gaun hasil rancangannya.


Pintu ruangan diketuk dari luar. Dela meminta izin pada Ruby untuk membukakan pintu lebih dulu.


"Selamat Sore, Nyonya. Maaf Mengganggu." Art Ruby mendekat. "Tuan Sean memerintahkan saya untuk mengemasi pakaian lama Nyonya dan digantikan dengan pakaian baru dari rancangan Nona Dela." Art bernama Fatma meminta izin lebih dulu. Ruby tentu saja terkejut. Bagaimana Sean bisa setotalitas ini hingga sampai menyingkirkan pakaian-pakaiannya terdahulu dan digantikan seluruhnya dengan yang baru.


Ruby hanya pasrah. Dia membiarkan Fatma bekerja, membersihkan semua pakaiannya dari walk in closet dan memindahkannya ke ruangan lain. Sepeninggal Fatma, beberapa orang pria yang merupakan suruhan Dela, masuk ke dalam ruangan dengan membawa banyak pakaian yang mereka kemas dalam beberapa box besar, sebelum akhirnya ditata rapi ke dalam walk in closet.


Ruby sampai tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa terduduk dengan menangkup ke dua sisi wajahnya dengan tangan.


"Beberapa hari lalu Tuan Sean datang dengan menunjukan foto anda, Nyonya. Beliau juga sempat memberitahukan pada saya tentang tinggi tubuh dan berat badan Nyonya juga sifat dan karakter Nyonya. Dari sana saya sudah menemukan gambaran tentang pakaian-pakaian yang sekiranya cocok untuk dikenakan oleh anda, Nyonya Sean." Dela membawa Ruby untuk mendekat, melihat secara detail pakaian-pakai hasil karyanya.


"Tuan Sean bilang jika Nyonya lebih suka memakai pakaian yang berwarna pastel dan tidak mencolok." Dela mengambil selembar dres berwarna peach dan memberikannya pada Ruby.


"Gaun berwarna semacam ini memang cocok di pakai Nyonya. Tapi tahu kan Nyonya jika pakaian dengan warna-warna terang seperti Merah, hitam dan kuning juga akan terlihat menyatu dengan kulit tubuh Nyonya yang putih bersih?."


Ruby lantas mengeleng ragu. Selama ini dirinya bahkan tak percaya diri untuk mengenakan pakaian dengan warna yang mencolok dan terkesan berani.


Dela dengan suara lembutnya kembali menjelaskan pada Ruby. Ia juga membantu Ruby untuk mencoba salah satu dres hasil karyanya. Dres polos dangan potongan sederhana tanpa aksen atau pun kerah yang cocok untuk proporsi tubuh Ruby yang ramping dan juga berlekuk. Bagian atasnya membalut tubuh perempuan itu dengan pas, lalu melebar di area pinggang hingga ke bawah lutut.


Dela dibuat terkagum. Sungguh Sesuai dengan apa yang ada difikirnya. Ruby nyaris sempurna, hanya saja perempuan itu menyembunyikan kesempurnaannya dari orang lain.


"Anda luar biasa, Nyonya Sean," puji Dela, yang mana membuat pipi Ruby bersemu merah.


"Terimakasih, Dela atas pujianmu. Tapi kurasa, aku tak seluar biasa itu." Dela mengerti sekarang. Awalnya dia pun dibuat bertanya-tanya kala mengetahui jika istri dari seorang Sean Fernandez, hanyalah seorang perempuan dari kalangan biasa. Parasnya memang rupawan, akan tetapi penampilannya jauh dibawah para istri pejabat yang selama ini jumpai. Ah, rupanya setelah ia mengenal secara dekat, barulah keustimewaan Ruby terlihat. Ruby bukan hanya cantik fisik, namun juga hatinya.


💗💗💗💗💗


Sean memasuki kamar pribadinya selepas memastikan jika Dela sudah pulang tiga puluh menit yang lalu. Tubuhnya sudah lelah, ia ingin mandi kemudian beristirahat. Pintu kamar ia tutup kembali tanpa menguncinya.


Saat berbalik badan, Sean terlonjak begitu mendapati Ruby keluar dari ruang pakaian dengan rambut setengah basah dan pakaian yang....


"Waw." Sean nyaris tak berkedip. Malam ini Ruby berpenampilan tak seperti malam-malam biasanya. Gaun malam berwarna merah dengan potongan daada rendah tepat selutut. Tampak membukus pas ditubuhnya yang ramping. Sean tak kuasa untuk mendekat, sementara Ruby menelan ludah. Ia berjalan rikuh. Cukup tak percaya diri dengan penampilannya malam ini.


"Sayang," panggil Sean seraya menangkup ke dua pipi sang istri yang kini sudah berdiri di depannya. "Hem, nakal ya." Sean bahkan menggigigit daun telinga Ruby saking gemasnya.


Ruby hanya memejamkan mata. Gaun malam yang ia kenakan tentunya hasil dari kerja keras Dela. Dela benar-benar total dalam bekerja. Bukan hanya gaun malam minim yang ia siapkan, pakaian dalam pun tak luput dari pilihannya. Terserah saja, Ruby pun ikut senang begitu mendapati respon positif dari Sean yang langsung membawa tubuhnya berbaring di ranjang.


Tbc.