My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Reaksi Margareth



Berbekal tekad dan keteguhan hati, Sean menginjakkan kaki ke kediaman Ibunya demi memperbaiki hubungannya dengan Ruby. Sean tidak ingin berharap tinggi, hanya dengan mendengar kata 'Iya' dari sang Ibu, itu sudah lebih dari cukup baginya.


Rumah megah berlantai tiga itu terlihat sepi. Hanya ada seorang tukang kebun dan dua pelayan yang terlihat berkeliaran di halaman rumah.


"Paman, Ibu ada di rumah?." Sean bertanya pada Paman tukang kebun yang masih sibuk mencabut rumput liar di halaman sekitar.


"Tuan Sean," ucap pria paruh baya itu seraya setengah berlari menghampiri sang Tuan. "Nyonya dan Nona Selena ada di dalam, Tuan," sambung pria itu kemudian.


Sean pun menganggukkan kepala seraya berucap, "Terimakasih, Paman."


"Sama-sama, Tuan."


Sean pun mulai memasuki pintu utama kediaman Ibunya. Suasana ruang tamu sepi, begitu pun dengan ruang-ruang lain.


"Kak Sean, kau datang?." Selena yang baru saja keluar dari kamar, bertanya kemudian mendekati sang Kakak.


"Iya. Aku ingin bertemu Ibu, beliau ada di mana sekarang?."


"Ibu sedang ada di kamar. Sebentar, akan aku panggilkan." Selena beranjak, ia meninggalkan Sean untuk memanggil Margareth di kamar.


Sean memposisikan tubuhnya senyaman mungkin saat duduk di sofa rung keluarga. Seorang pelayan perempuan mendekat dengan membawa nampan berisi minuman yang mang sudah menjadi kesukaan sang Tuan.


"Terimakasih, Bibi," ucap Sean selepas Bibi paruh baya itu mendaratkan segelas minuman itu ke hadapannya.


"Sama-sama, Tuan."


Sean menatap kesekeliling bangunan megah yang menjadi tempat dilahirkannya dulu. Masih sama, semua tak ada yang berubah saat terakhir kali ia memasuki rumah ini. Semenjak berpisah dari Ruby, bisa dikatakan jika Sean jarang sekali berkunjung ke rumah ini.


Dari arah tangan sudah terlihat Margareth yang turun dengan ditemani Selena. Sean mengulas senyum tipis pada sang Ibu, hingga perempuan itu pun membalasnya.


"Sean, kau datang." Wajah Margareth berbinar. Ia seakan mendapat berita baik atas kunjungan sang putra.


Ah mungkin Sean akan bersedia aku nikahkan dengan gadis yang sudah menjadi incaranku.


"Ya, aku datang Ibu. Maaf, kesibukan memang membuatku jarang memiliki waktu luang untuk bisa menemui Ibu di rumah ini."


"Tidak masalah, Ibu mengerti dengan kondisimu." Margareth duduk, sementara Selena pun ikut menjatuhkan bobot tibuhnya di kursi yang sama dengan Ibunya.


Untuk beberapa saat, Sean memilih membahas masalah ringan yang tidak ada sangkut pautnya dengan Ruby dan rencananya. Melihat senyum yang senantiasa terukir dari bibir Margareth, kian meyakinkan Sean jika ini memang menjadi waktu yang tepat baginya untuk menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya pada Margareth.


"Ibu kedatangku ke mari sejujurnya ingin mengatakan sesuatu hal pada Ibu. Tentang keinginanku dan pastinya juga menyangkut masa depanku." Ucapan Sean benar-benar membuat senyum di bibir Margareth merekah. Tidak salah lagi, tebakan Margareth pasti tepat.


"Katakanlah," jawab sang Ibu ramah dan penuh keyakinan.


"Aku ingin kembali pada Ruby dan merujuknya."


Duarr.


Spontanitas tubuh Margareth yang semula duduk itu, berdiri.


"Apa maksudmu, Sean. Ini tidak lucu!." Wajah berbinar itu kini berganti kemerahan. Penuh dengan kobaran amarah. Begitupun sepasang mata Margareth yang melotot memandangi sang putra.


"Ibu, dengarkan dulu."


"Aku tidak ingin mendengarkan apa pun darimu, Sean. Kau pria yang terlalu bodooh. Bagaimana kau mau kembali pada perempuan yang sudah menjajakan tibuhnya pada orang lain! Cih, menjijikkan!." Margareth berkacak pinggang, berdiri di hadapan sang putra yang masih terlihat santai. Sean seolah tak terkejut dengan reaksi yang diberikan Margareth begitu mendengar keinginannya. Ya, Margareth tetaplah Margareth. Perempuan keras kepala dan merasa dirinya paling benar.


Margareth masih berbicara ini dan itu. Coba Mengingatkan kembali Sean pada kejadian kelam malam itu. Selena sendiri lebih banyak diam. Berbeda dengan Margareth yang emosinya masih meledak-ledak saat menyebut nama Ruby.


"Sebutkan beberapa alasan yang membuat Ibu sangat membenci Ruby."


Margareth menetralkan deru nafas. Perempuan itu terlihat berfikir.


"Dia berselingkuh."


"Lalu?." Pancing Sean.


"Miskin."


"Lagi."


"Kampungan."


"Dan."


"Dan aku sama sekali tak menyukainya. Dia bukanlah menantu Idaman dan Istri yang sempurna untuk putraku. Kau faham, Sean?."


Sean mengangguk patah-patah. Saat beberapa kalimat yang meluncur bebas dari bibir sang Ibu sebagai alasan perempuan itu tak menyukai Ruby, jujur hati Sean kian teriris pedih.


Ya, tuhan. Selama ini ia berfikir jika Margareth menerima pernikahannya saja sudah cukup baginya. Akan tetapi, kenapa kebenaran yang ia dapati justru sesakit ini.


Ruby memang tak pernah bercerita akan perlakuan yang ia dapat dari Ibu dan adik iparnya. Ruby selalu mengatakan baik-baik saja, hingga ia mengira jika hubungan pernikahannya berjalan layaknya keluarga bahagia seperti pada umumnya.


"Apakah Ibu yakin jika selama menikah Ruby tidak setiap padaku?."


Margareth mendelik.


"Kau masih bertanya, Sean? Dasar boodoh! Bukankah kau sendiri yang sudah menemukan istri bermain gila dengan pria lain pada malam itu? Ibu yakin ingatan masih kuat untuk mengingat kejadian malam itu."


Sean menggelengkan kepala, tak habis fikir. Memuji betapa hebatnya sang Ibu bersandiwara.


"Kemudian miskin. Bukankah sedari awal Ibu tau jika aku mencintai Ruby, tulus. Aku tidak pernah memandang paras dan juga kekayaan dari seseorang yang aku cintai. Ruby memang miskin, dia sebatang kara dan tak memiliki harta, namun aku tak mempermasalahkannya."


"Tapi itu masalah bagi Ibu, Sean!." Margareth menyela ucapan sang putra. "Sebagai keluarga terhormat, sudah sepatutnya kau mendapatkan gadis terhormat pula. Berasal dari keluarga yang jelas asal usulnya dengan kasta yan setara." Margareth selalu beranggapan demikian namun sayangnya tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Sean.


"Kasta dan kehormatan tidak menjamin kebahagiaan dalam pernikahan. Aku hanya menginginkan Ruby dan bukan wanita mana pun." Pandangan Sean kini beralih pada Selena selepas melihat amarah dari wajah Margareth. Aneh, adik perempuannya itu kali ini terlihat tak ikut campur dalam pembicaraannya bersama sang Ibu. Padahal biasanya tak begitu. Selena pasti akan ikut bicara dan membela Ibunya, mengingat jika gadis itupun juga tak menyukai Ruby.


Margareth mendengus. Wajahnya benar-benar memerah akibat amarah. Tidak menyangka jika kedatangan putranya hanya untuk menyampaikan satu keingin yang sama sekali tak pernah ia duga.


Rujuk dengan Ruby. Cih


"Dan menurut Ibu Ruby kampungan?."


"Ya, benar. Dia kampungan dan tak selevel dengan kita. Apa kau tau, Ibu sangat malu saat membawa perempuan itu dalam setiap pertemuan dengan kolega bisnis atau pung menghadiri acara penting dari rekan-rekan sesama sosialita. Ruby terlalu kolot dan kurang pergaulan. Penampilan yang kuno bahkan kerap menjadi bahan tertawaan. Demi apa pun, Sean. Ibu merasa malu saat memiliku menantu seperti Ruby!."


"Cukup Ibu! Berhenti menghina Ruby di hadapanku." Sean mulai geram dan tak terima saat Ruby diperolok oleh sang Ibu.


"Kenapa? Toh sekarang dia sudah tak lagi menjadi istrimu."


"Baik, sekarang memang Ruby bukanlah istriku. Tapi perlu Ibu ketahui, ucapanku beberapa saat lalu bukanlah sekadar bualan. Aku akan merujuk Ruby, meski tanpa seizin Ibu sekalipun. Permisi!." Entah kemana perginya rasa sopan Sean pada Margareth. Pria itu beranjak dan lekas pergi dari hadapan Margareth meski pun merempuan itu berteriak memintanya untuk tetap tinggal.


Sean tak perduli lagi. Ucapan sang Ibu justru membuat niatnya untuk merujuk Ruby kian bulat. Ruby, memang pantas untuk dirinya perjuangkan.