
Akhir pekan ini sepertinya akan menjadi hari yang berbeda dari sebelum-sebelumnya bagi Ruby saat dua orang yang pernah berkunjung ke rumahnya, kembali datang. Maria dan Karen. Maria yang merupakan seorang instruktur kebugaran, lekas membawa Ruby menuju ruang olah raga yang berada di dalam rumah megah tersebut.
Ruang olah raga yang biasanya hanya dimasuki oleh Sean dan seorang pelayan, rupanya memiliki ukuran cukup luas dengan kaca yang melapisi hampir di seluruh dinding ruangan. Ruby menatap ke sekeliling, bibirnya mengulas senyum saat melihat beberapa alat olah raga milik sang suami tertata apik di tempatnya. Bukan hanya di rumah ini, di rumah lama pun Sean juga memiliki ruang olah raga khusus demi stamina dan bentuk tubuhnya agar tetap terjaga.
Sean memang gemar berolah raga. Bahu lebar, dada bidang dengan otot perut yang terpahat nyaris sempurna adalah hasil dari rutinitasnya berolah raga yang pria itu lakukan hampir setiap hari. Pipi Ruby memerah, ia sangat suka saat menyentuh dada bidang dan otot perut Sean yang keras. Bukan hanya sekedar menyentuh Ruby bahkan melakukan banyak hal yang lebih dari itu.
"Nyonya Sean, bisa kita mulai?." Ucapan Maria membuat Ruby terkesiap. Perempuan itu tersadar jika Maria sedang bersama dengannya kini.
"Tentu saja." Maria sudah mengenakan pakaian khusus, Ruby juga sudah melakukan hal yang sama. Pakaian khusus yang dibuat pas dengan ukuran sang pemakai membuat lekuk tubuh Ruby dan Maria tercetak jelas.
Ruby sempat melirik pada tubuh Maria yang berlekuk dan kencang. Ruby akui jika Maria mempunyai postur tubuh yang banyak diidamkan kaum hawa. Tinggi semampai dengan dada membusung, perut rata dan paantat yang kencang. Sungguh perpaduan yang membuat Ruby semakin tak percaya diri saat berdampingan dengan Maria.
Maria mulai menggelar dua matras untuk dirinya dan juga Ruby. Pada kesempatan kali ini Maria ingin membuka pelajaran awalnya dengan beberapa gerakan yoga untuk mengencangkan beberapa anggota tubuh.
Ruby memperhatikan bagaimana lenturnya tubuh Maria ketika menunjukkan beberapa macam gerakan padanya. Saat Ruby bergerak, Maria sigap duduk di samping Ruby. Memegang dan memberi pengarah pada Ruby agar tak salah bergerak.
Maria menatap Ruby yang begitu giat belajar. Perempuan itu terus berusaha dan mendengar setiap intruksi yang diberikan olehnya. Menurut Maria, Ruby sudah memiliki postur tubuh yang cukup ideal. Meski tinggi bandannya terbilang mungil, namun Ruby memiliki lekuk tubuh yang indah, dan dia hanya butuh sedikit saja untuk menyempurnakannya.
Keringat sudah melai meluncur di tubuh Ruby bahkan menetes ke matras. Nafasnya berkejaran seiring gerakan yoga yang semakin lama kian meguras tenaganya.
"Kita istirahat sejanak, Nyonya." Maria membantu Ruby untuk bangkit. Perempuan itu kemudian memberikan segelas jus besar hasil buatannya yang merupakan campuran dari beberapa macam buah dan sayuran.
"Maria, minuman apa ini?." Ruby bertanya selepas menyesap minuman berwarna jingga yang terasa asing di mulutnya. Tapi rasanya cukup segar.
"Itu jus campuran dari buah tomat, apel, wortel dan saya campurkan dengan sedikit madu. Bagaimana rasany, Nona. Apa anda menyukainya?."
Ruby mengangguk kemudian menjawab, "Ya, jus ini cukup segar dan enak. Aku menyukainya."
Maria juga menjelaskan pentingnya mengonsumsi jus dari bahan-bahan segar untuk tubuh dan juga kulit. Olah raga teratur dan rutin mengonsumsi makanan sehat diyakini akan mencepat proses pembentukan tubuh sesuai dengan apa yang Ruby inginkan.
Selepas bersama Maria, Ruby sejenak menghabiskan waktunya bersama Baby Celia sebelum menyapa Karen. Saat bersama Karen rupanya tak terlalu berbeda saat Ruby bersama Dela. Hanya saja Karen lebih banyak berbicara tentang tren busana dan macam-macam pakaian yang cocok digunakan saat keluar rumah. Bagian ini sepertinya tak terlalu penting bagi Ruby. Ia mungkin akan memerlukan Karen pada saat menghadiri acara tertentu saja.
"Maaf, Nyonya. Saya juga bisa membantu anda untuk belajar berjalan di karpet merah." Karen meminta izin terlebih dahulu sebab tak ingin Ruby merasa tersudut akan ucapannya.
"Em, baiklah. Mungkin suatu saat aku akan memerlukannya." Malu-malu Ruby menjawab. Itu bukannya tidak mungkin terjadi, sebab bisa saja Sean akan membawanya ke acara pesta atau bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya.
Ruby bertepuk tangan. Jujur ia amat mengagumi ketiga pengajarnya yang luar biasa hebat dibidangnya.
Hari ini adalah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bagi Ruby. Dirinya mendapatkan pelajaran baru yang membuatnya semakin percaya diri untuk mendampingi suaminya, Sean Fernandez.
Selepas kepergian Karen, Ruby pun membersihkan diri dan kini sudah menemani Celia yang masih dalam penjagaan suster. Ruby menimang buah hatinya yang menguap selepas kenyang menyusu.
Puk puk puk, Ruby menepuk paantat san putri yang kini mulai memejamkan mata. Perempuan itu mencium kening sang putri dan dengan perlahan memindahkan ke dalam box bayi.
Celia kini tertidur dengan nyaman. Ruby memandangnya dengan senyuman. Masih tak menyangka jika selepas prahara itu dirinya masih bisa merasakan kebahagian seperti ini. Kebahagian yang selama ini ia idamankan.
Berbeda dengan Ruby yang diliputi rasa bahagia tak terkira, seorang perempuan justru berteriak, memaki dua orang pria yang bertugas sebagai penjaga keamanan di kediaman putranya.
Margareth berkacak pinggang. Kaca mata hitam yang semula bertengger di atas hidung, kini sudah berada di kepala, menyingkap bagian depan rambut hitamnya.
Teriakan terdengar hampir memekakkan telinga kedua penjaga.
"Kalian sudah giila, ini rumah putraku, kenapa kalian melarangku untuk masuk. Dasar beedebah, Siialan kalian!." Margareth menggeram. Seorang sopir yang ia bawa bahkan sudah babak belur ditangan kedua penjaga rumah Sean.
"Maaf, Nyonya. Tuan Sean sudah memberi perintah untuk tidak memasukkan siapa pun tanpa izin, termasuk keluarga Tuan Sean sendiri."
Ucapan sang penjaga membuat Margareth kian murka. Ia nekat meringsek masuk, berusaha melewati dua penjaga, namun ke dua pria itu bergerak sigap dengan menahan dua tangan Margareth.
"Jangan sentuh aku! Lepaskan tangan kotor kalian dari tubuhku. Lepaskan!." Teriakkan Margareth tak membuat ke dua pria itu melepaskan gengamannya pada lengan Margareth.
"Maaf Nyonya, ini perintah langsung dari Tuan. Jika anda nekat maka dengan terpaksa kami pun akan menyeret anda keluar." Para pengawal tak mau mengalah apa lagi gentar. Terlebih sosok tamu yang datang termasuk dalam daftar orang-orang yang tak diizinkan oleh Sean untuk berkunjung ke rumahnya.
"Baik, aku akan pergi tapi lepaskan dulu tangan kalian." Margareth menyentakkan ke dua tangannya agar terlepas dari cengkraman pria berbadan kekar itu yang perlahan mulai mengendur.
"Baik, dan silakan Nyonya untuk segera pergi dari rumah ini." Margareth mengepalkan kedua tangan. Demi apa pun dirinya membenci situasi seperti ini. Harga dirinya sebagai seorang Ibu seperti terinjak, saat diusir dari rumah putranya sendiri.
"Aku belumlah kalah, Ruby. Kau harus membayar mahal atas apa yang kau buat padaku hari ini," gumam Margareth sebelum memasuki mobilnya yang kini mulai menjauh, meninggalkan rumah megah Sean bersama Ruby.
Tbc.