
"Percuma berontak, sayang. Bersiaplah, hari ini kau akan menjadi milikku." Senyum di bibir Leo, kini berubah menjadi serigai yang begitu menjijikan di mata Selena. Pria itu berusaha mendekat dengan kedua tangan yang berusaha untuk menggapai tubuh Selena.
"Leo, berhenti! Aku mohon berhenti!." Selena mulai berteriak. Ia seperti terancam terlebih pintu kamar sudah terkunci rapat, dan grapp. Leon berhasil menangkap tubuh Selena dan mendekapnya erat. Sangat erat hingga membuat sang gadis sulit bernafas. "Kau- Kau menyakitiku, Leo," pekik Selena saat sang pria berusaha untuk mencium wajahnya.
"Menurutlah, maka kau tidak akan kesakitan."
Selena justru kian memberontak. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari dekapan tangan besar Leo.
"Demi apapun aku tidak akan sudi menuruti keinginanmu. Kau pria lancang, kita bahkan baru sekali bertemu tapi kau sudah berani melecehkanku." Sekerap apa Selena berontak maka sekeras itu pulalah Leo bertahan. Ia semakin melemparkan serangan, hingga kedua tangannya mulai bergerilya untuk menyentuh bagian tubuh sensitif Selena.
"Dasar beedebah!."
Leon yang mendapat makian dari Selena, menetatkan rahang. Ia dorong tubuh sang gadis hingga terjerembab ke atas ranjang.
"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi, kau menyebutku apa gadis siialan!." Leo yang tersulut emosi lekas merangkak ke atas ranjang, memposisikan tubuh besarnya untuk mengukung tubuh Selena yang masih tak bergerak akibat kesakitan.
"Kau beedebah. Aku menyesal sudah menuruti ucapan Ibuku untuk menemuimu!."
Satu tamparan melayang di pipi kiri Selena. Gadis itu meringis dan sontak menyentuh pipi ketika rasa panas bercampur pedih mulai menjalar.
Sementara itu deru nafas leo masih memburu pun dengan telapak tangannya yang juga masih menyisakan rasa panas selepas ia gunakan untuk menampar pipi gadis yang yang sudah semena-mena memakinya.
Selena yang tersadar jika Leo setengahelamun, lekas bergerak cepat. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh besar Leo hingga jatuh terjengkak dari ranjang.
Leo yang terkejut dan kesakitan berusaha mengembalikan kesadaran. Ia hendak bangkin akan tetapi Selena lebih dulu tirun dari ranjang kemudian mengayunkan kakinya, hingga menendang kejatanannya dengan sekuat tenaga.
"Aaaaaaa..." Leo berteriak saat rasa sakit yang teramat sangat merambat di daerah sentivnya. Menciptakan rasa sakit luar biasa dan nyeri yang tak terkira.
"Rasakan," Selena bergumam kemudian merogoh saku pakaian Leo untuk mengambil kunci kamar yang sengaja sang pria sembunyikan.
Leo sendiri tak punya kekuatan untuk menghentikan aksi Selena. Pria itu pasrah saat Selena berhasil membuka pintu dan keluar.
Aku tidak akan tinggal diam. Lihat saja nanti.
Leo bersimpuh di lantai, meringis dan menangis seraya mengentuh bagian kejantanannya. Tertatih ia bangkit, mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
πππππ
"Anak tidak tau diuntung. Kau apakan Leo sampai dia masuk rumasakit selepas bertemu denganmu?." Bukan kata-kata simpati atau pun ucapan penyesalan dari sang Ibu saat melihat dirinya pulang dengan penampilan awut-awutan. Margareth justru menyerang sang putri seolah ia lebih membela Leo tanpa tau akan kejadian yang sebenarnya.
"Tentu, karna aku yakin jika Leo tidak akan mungkin untuk memperkosamu." Begitu pongah Margareth berucap, yang menandakan jika percuma saja usaha sang putri untuk membela diri.
"O, memangnya sesempurna apa pribadi seorangLeo, hingga Ibu bisa seyakin ini jika dia tak berniat untuk melecehkanku?."
"Leo pria bermartabat, berprinsip dan juga berpendidikan tinggi. Ibu yakin jika Leo bisa menghargai dan juga menjaga kehormatan seorang gadis terlebih kau adalah gadis pilihan orang tuanya."
Selena sontak terbahak. Ia sampai menangis selepas mendengar sanjungan dari sang Ibu untuk seseorang pria yang sejatinya tak patut mendapatkan sanjungan.
"Percaya diri sekali Ibu, hingga lebih mempercaya ucapan orang lain dari pada putri kandungnya sendiri." Dalam situasi seperti ini, hati Selena seolah teremas. Begitu sakit mendapati kenyataan jika perempuan yang amat ia sayangi tega menyakiti hati. Diseumur hidup, barulah saat ini dirinya merasa dikecewakan oleh sang Ibu, terlebih selepas pergorbanan yang ia lukakan untuk sang Ibu termasuk mefitnah Kakak iparnya sendiri, Ruby.
"Aku percaya karna Ibu tau sifat Leo dan juga sangat mengerti tentang sifatmu. Kau memang memiliki sifat keras dan semau sendiri, tapi untuk urusan cincin pertunangan dan gaun, tentunya kau bisa berbicara baik-baik dan bukannya menendang burung Leo sampai di rawat di rumah sakit seperti ini."
Selena mengernyit, o rupanya si Leo berniat untuk mengadu dombanya?.
"Baiklah, aku mengalah. Aku malas mendebatkan masalah yang sepertinya tidak perlu untuk dipermasalahkan. Dan untuk perjodohan ini, Maaf, aku menolaknya Ibu."
"Selena! Apa maksudmu, kau sudah giila?."
Waw, tadi tidak percaya jika anaknya mengalami pelecehan. Sekarang giila, lalu setelahnya apa lagi?.
"Ya, katakanlah aku giila, tapi aku akan benar-benar giila andai perjodohan ini terealisasi. Maaf, Ibu aku tidak bisa. Ibu jangan pernah memaksa dan detik ini pula aku akan pergi dari rumah ini."
"Selena, apa maksudmu?."
Selena tak menjawab, ia lekas pergi dari hadapan Margareth untuk memasuki mobilnya kembali. Saat kendaraan itu mulai melesat, Margareth terus berterik memangil nama sang putri untuk berhenti. Namun sayang, Selena tak menggubris dan kian menambah laju kecepatan kuda besinya.
"Kak, tolong aku." Selena menghubungi satu nomor kontak. Ia menanggis hingga mampu didengar oleh sang lawan bicara.
"........"
"Baiklah, aku akan ke sana."
Selena memutuskan panggilan. Sepertinya hanya seseorang itu lah yang menjadi tempat tujuan sang gadis saat ini. Biarlah ia merasa malu, dari pada harus mengikuti kemauan sang ibu untuk menikah dengan si breengsek itu.
Note. Klo ada huruf yang ke doble, itu bukan typo ya, Kak. Itu sengaja agar proses review tidak terhambat. Terimakasihππ