
"Wah, Kakak?." Bola mata Willy kian membulat sempurna. Mendapati jika seseorang yang sudah menolongnya adalah seseorang yang pernah ia temui beberapa hari yang lalu.
"Willy?." Seseorang yang tak lain adalah kiran, tentu dibuat terkejut dengan kedatangan Willy. Setahu Kiran Wira memang tak pernah membawa putra kecilnya itu bekerja, dan hari ini kenapa begini?.
"Ya, aku Willy." Bocah itu mengerjap. Mendongak untuk melihat wajah Kiran yang jauh lebih tinggi darinya.
Kiran tersenyum lembut, gadis itu berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuh Willy.
"Willy datang kemari bersama Ayah?." Kiran bertanya yang mana mendapatkan anggukan dari bocah tampan nan menggemaskan itu.
Lucu sekali.
Tanpa sadar Kiran mencubit pipi gembul Willy. Bocah itu justru tertawa dan merasa senang saat diperlakukan seperti itu oleh Kiran.
"Willy." Wira setengah berteriak mencari sang putra. Saat melihat buah hatinya itu sedang bersama Kiran, Wira pun menghela nafas lega. "Willy, Ayah sampai mencarimu kemana-mana." Wira lekas menarik Willy untuk sedikit menjauh dari Kiran. Terlihat jelas jika bocah itu menekuk wajah, tidak suka dipisahkan dengan Kiran. "Kiran, maaf jika Willy mengganggumu," lanjut Wira kemudian.
Kiran pun bangkit dari posisinya. Ia tersenyum dan mengatakan jika Willy sama sekali tidak nengganggunya.
"Willy, ayo ikut ke ruangan Ayah. Nanti Bibi pengasuh akan menemanimu bermain di dalam." Wira tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya jika Willy dibiarkan bermain di area Resto. Setidaknya dengan mengurungnya di ruang kerja, akan menghemat tenaganya hingga pulang nanti.
"Tidak, Ayah. Willy ingin belmain di lual," tolak Willy tegas sementara Wira menelan ludah kasar.
Ya tuhan, bagaimana ini?.
"Di luar sangat berbahaya untuk Willy. Apalagi di dapur, sangat berbahaya sekali. Di sana banyak api dan anak-anak tidak diperbolehkan bermain di sana." Wira coba memberikan pengertian dengan pelan-pelan, berharap jika sang putra akan mengerti dan mematuhi ucapannya.
"Tidak, Ayah. Willy ingin di lual," tolak Willy lagi. Kini bukan hanya lewat kata-kata namun dengan bola mata yang mulai berkaca.
Ya Tuhan, jika sudah seperti ini maka Wira pun tak kuasa menolak.
"Baiklah, tapi sebentar saja," ucap Wira pada akhirnya, dan Willy pun sontak bertepuk tangan kegirangan. Wira meminta pada Bibi pengasuh untuk ekstra mengawasi Willy. Membawanya ke tempat aman yang jauh dari kendaraan dan benda-benda berbahaya lain. Sesungguhnya Wira tak tega pada Bibi pengasuh yang usia tak lagi muda harus berlarian mengejar Willy, tapi bagaimana lagi. Willy pasti akan terus merengek hingga pulang nanti saat keinginannya tak dituruti.
💗💗💗💗💗
Kiran yang diminta Wira untuk menyelesaikan laporan tugas bulanan, sempat melihat kesekeliling penjuru ruang kerja namun tak mendapati Willy di sana. Mungkin Willy sudah pulang, begitu fikir Kiran.
Setelah selesai Kiran pun keluar dari ruang Manager. Saat itu bertepatan pula dengan jam makan siang untuk para karyawan Ruby Resto & Cafe. Kiran lekas menuju loker penyimpanan untuk mengambil bekal yang ia bawa dari rumah ke ruang makan khusus staf. Begitu melintas di sebuah lorong resto, tanpa sengaja ia melihat Willy yang bermain bersama pengasuhnya.
Bibi pengasuh itu tampak kelelahan, menjaga Willy yang tampak aktif bergerak. Beberapa kali terlihat paruh baya itu menyeka bulir keringat di kening dan lehernya. Kiran dibuat tak tega dan berinisiatif menghampiri mereka.
"Willy," panggil Kiran.
Bocah itu menoleh kemudian tersenyum senang saat tau yang menyapanya adalah Kiran, teman kerja sang Ayah.
"Kakak," jawab Willy yang spontan berlari dan mendekap ke dua kaki Kiran.
Gadis itu terkesiap. Tubuhnya membatu saat kedua lengan kecil Willy mendekap kakinya erat, sedangkan wajahnya menempel di lututnya.
"Kakak, ayo main denganku," ajak Willy yang masih betah menyembunyikan wajahnya di kedua lutut Kiran.
Kiran kesusahan untuk bergerak. Kakinya terbelenggu oleh Willy, namun gadis itu sama sekali tak keberatan.
"Tuan Willy, tidak boleh seperti ini ya." Bibi pengasuh menatap tak nyaman pada Kiran. Takut jika gadis itu merasa terganggu akan perbuatan Willy.
"Bibi, biarkan saja seperti ini. O ya, apakah Willy sudah makan?."
Paruh baya itu menggeleng kemudian menjawab, "Belum, Nona."
Kiran setengah membungkuk untuk mengusap rambut lembut Willy. Ah, kenapa hatinya menghangat saat berada dekat dengan putra atasannya ini. Sama seperti Celia, Kiran memang menyukai anak kecil apalagi yang menggemaskan seperti Celia dan Willy ini.
Spontan Willy melepaskan tangannya dari kaki Kiran kemudian mendongak dengan bibir tersenyum lebar.
"Mau, Willy mau. Ayo kita makan."
Akhirnya. Kiran bisa bernafas lega. Ia pun membawa serta Bibi pengasuh ke ruang makan khusus staf. Paruh baya itu benar-benar mempersiapkan segala kebutuhan Willy dengan matang termasuk bekal.
"Willy bawa bekal?."
Bocah itu mengangguk. Kemudian menunjuk ke sebuah paper bag yang berisikan bekal makan khusus untuknya. Terdiri dari nasi, lauk dan sayuran. Tak lupa buah-buahan serta beraneka camilan sehat yang secara rutin ia konsumsi.
"Wah." Kiran yang melihatnya saja ikut tergiur. Maklumlah, bekal Willy memang dibuat secara khusus dari bahan berkualitas tinggi dan rasanya yang dijamin nikmat. Pihak resto memang mempersiapkan makanan untuk para pekerja, namun Kiran yang bosan terkadang memilih untuk membawa bekal dari rumah dari pada membelinya dilain tempat.
"Kakak juga membawa bekal?." Pandangan Willy kini tertuju pada kotak bekal berwarna merah muda milik Kiran.
"Ya, Kakak membawa bekal. Willy mau lihat apa isinya?."
Willy mengangguk antusias dan membuat Kiran semakin gemas.
"Wow." Nasi putih, Jamur crispy dan tumis udang brokoli menjadi isi kotak bekal Kiran siang ini.
"Kenapa, Willy mau coba?." Gadis itu menawarkan pada Willy.
Bocah itu nampak ragu. Bibi pelayan hanya melihat interaksi ke dua insan itu dalam diam dan menanggapinya dengan senyuman.
"Apa itu pedas?." Ya, Willy takut jika makan itu pedas.
"Em, tidak pedas. Hanya sediiikiitt pedas." Padahal Kiran mencampurkan dua buah cabai dalam tumis udang brokolinya.
"Benarkah?." Willy masih kurang yakin.
"He em."
"Yeay, aku mau." Tanpa ragu Willy pun lekas membuka mulut. Agar kondisi aman terkendali, Kiran memilih menyuapi Willy dengan jamur crispy lebih dulu.
"Hem, enak," puji Willy seraya mengacungkan dua jempol tangannya.
Kiran pun tersenyum dan kembali menyuapi Willy.
"Willy mau coba yang ini?." Kiran menunjuk pada Tumis udang brokolinya.
"Yang sediiikiiit pedas?."
"He em."
Lagi, Willy mengangguk antusias. Bibi pengasuh tersenyum menatap Tuan mudanya yang anteng di tangan orang lain. Hah, setidaknya sejenak ia bisa beristirahat.
Hup..
Satu suapan mendarat ke mulut Willy. Pipi bocah itu memerah. Mungkinkah ia kepedasan?.
"Kakak, ini enak. Ini juga hanya sediiikiiit pedas." Willy berbicara dengan sesekali mendesis. Benar, bocah itu sepertinya kepedasan tapi terus meminta Kiran untuk menyuapinya dengan tumis pedas itu.
Tanpa disadari, Wira sedari tadi berdiri dan mengamati pemandangan itu sedari tadi. Ia dibuat keheranan akan sikap sang putra yang mudah sekali dekat dengan Kiran sama seperti kejadian di rumah sakit tempo hari.
Benarkah jika ini menjadi suatu pertanda.
Tbc.