My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Membujuk Selena



Sean melangkah keluar dari kediaman orang tuanya dengan penuh pengharapan. Dalam hati ia selalu berdoa agar Selena, adiknya dapat mengikuti alur sesuai yang ia rencanakan. Bersama seorang sopir, pria berbadan tegap itu melakukan perjalanan jauh ke kota XX untuk membawa Selena pulang ke rumah orang tua mereka.


Dalam fikir sempat terbesit ketakutan saat ia meninggalkan Ruby dan Celia dalam satu rumah bersama Margareth yang sejak dulu memang tak menyukai menantunya tersebut. Akan tetapi, sebagai seorang anak Sean pun meyakini jika sang Ibu tidak mungkin berbuat lebih jauh mengingat Ruby masih terbilang di dalam jangkauannya. Meski jauh, namun Bibi pelayan atau pun Nina bisa saja memberitahukan padanya. Terlebih saat ini Ruby sudah punya Celia, yang lucu dan menggemaskan. Sean yakin jika sebenarnya Margareth pun tak tahan untuk tidak menyentuh cucunya, hanya saja paruh baya itu terlalu gengsi atau pun malu jika sewaktu-waktu tertangkap mata tengah memperhatikan Celia oleh orang lain.


Dalam diam pria itu mengulas senyum tipis. Ia selalu berharap jika suatu hari nanti Ibunya bisa menerima kehadiran Ruby dan Celia kemudian memperlakukan mereka selayaknya menantu dan cucu pada umumnya. Semoga saja.


💗💗💗💗💗


Waktu berlalu. Sean kini sudah berdiri di depan pintu rumah megahnya. Saat bersamaan Selena membuka pintu dan terkejut mendapati Sang Kakak pulang tidak membawa serta Kakak ipar dan keponakannya.


"Loh Kak Sean, Kak Ruby dan Celia mana?." Gadis itu celingak celinguk, mencari keberadaan Ruby dan Celia, tapi kenapa mereka tidak terlihat.


"Kak, di mana mereka?." Selena masih berusaha mencari, entah kena fikirannya menjadi tidak enak. Sampai ia mencari ke dalam mobil yang dibawa Sean, tapi nihil. Mereka tidak ada.


"Selen," panggil Sean dengan suara lemah.


"Kak Sean, ada apa ini. Kenapa Kakak hanya pulang seorang diri?." Wajah gadis itu mulai khawatir. Cemas dan juga takut bercampur jadi satu.


"Masuklah," titah Sean pada sang adik. "Ada sesuatu hal yang ingin Kakak bicarakan padamu," sambung Sean kemudian bergerak lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah.


Ada apa ini, kenapa perasaanku jadi tidak enak? Kak Ruby, Celia, apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?.


Saat Selena masuk, ia melihat Sean sudah duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan tertunduk. Selena meneguk salivanya berat. Ia pun ikut bergabung dan meneliti penampilan sang Kakak yang berantakan dan tak serapi biasanya, dan apa itu? Sepasang mata Sean memerah seolah menahan tangis. Apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Kak Sean, katakan apa yang sebenarnya terjadi. Kak Ruby dan Celia tak ikut kembali, dan Kakak juga menangis, apa yang sebenarnya terjadi? Ayo katakan padaku kak." Diliputi rasa penasaran yang mendalam juga kekhawatiran membuat Selen sampai meninggikan nada bicaranya pada sang Kakak, hingga pria tampan itu memgangkat wajah dan pandangan keduanya perpautan.


"Ibu menahan Ruby dan Celia. Mereka akan menjadi tawanan andai kau menolak untuk pulang."


"Apa!." Selena bangkit dari posisinya. "Apa maksud Kakak?." Tawanan, apa maksudnya?.


"Ya, Ruby dan Celia menjadi tawanan Ibu. Ibu juga mengancam akan menyakiti mereka andai kau terus menolak pulang dan bersikeras menolak lamaran Bagas." Suara Sean terdengar seperti pria yang putus asa. Lemah dan tak berdaya.


"Kak, kenapa bisa begini?." Kini Selena yang dibuat frustrasi, terlebih Sean hanya menggelengkan kepala dan menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangan.


"Kenapa semalam Kakak harus pulang membawa Kak Ruby dan Celia kalau seperti ini kejadiannya?." Selena kini terisak. Air matanya tak mampu dibendung saat membayangkan wajah Ruby dan Celia berada dalam tekanan Ibunya. Tangisan Selem pun kian menjadi, yang mana membuat Sean kebingungan sendiri.


"Selen, diamlah. Tangismu bukan menjadi solusi dan hanya memperkeruh suasana." Sean menyentak. Tangisan Selen membuatnya pusing. Ia baru sadar jika adiknya hanyalah bocah yang selalu menggambarkan kesedihan yang ia rasa lewat tangis.


"Memang Kakak fikir aku bisa apa?."


"Pulanglah dan coba temui Bagas." Sean mulai melancarkan aksi saat dirasa waktu sudah tepat.


"Kakak sudah gilaa?" Selen berteriak. Ia seperti ingin melahap sang Kakak hidup-hidup sebab sudah berbicara tanpa disaring lebih dulu.


"Selen, Kakak tidak bilang padamu untuk menerima lamaran Bagas, hanya saja temuilah dia lebih dulu. Bukankah tidak ada salahnya?. Kita pulang ke rumah Ibu dan kau bisa mengatur pertemuan dengan Bagas. Jika kau tak suka, kau boleh menolaknya."


"Lalu Kakak harus apa Selen?." Sean tak ingin kalah dari sang adik. Suara kakak beradik itu sama-sama tinggi sampai para pelayan dan penjaga keamanan tergopoh untuk melerai kedua majikan yang mereka kira tengah bersitegang. "Kau kira Kakak bisa berfikir jernih saat tak tau nasib Ruby dan Celia di sana. Kau bahkan tau Ibu memperlakukan kakakmu seperti apa, Selen. Kau yakin jika Ruby saat ini dalam keadaan baik-baik saja?." Sean seperti ingin membuka memori beberapa tahun lalu Selena, saat Ruby diperlakukan semena-mena oleh Ibunya. Selena pasti masih mengingat kejadian itu dengan jelas.


"Bukan tidak mungkin jika Ibu juga akan menyakiti Celia jika kau terus bersikap seperti ini. Setidaknya fikirkan nasib Kakak iparmu dan juga keponakanmu, Selen. Pulanglah, dan temui Bagas. Hanya itu saja." Suara Sean berangsur melemah. Pria itu berlutut ke lantai. Ia terlihat amat menyedihkan di mata sang adik.


Selena terpaku. Ia terdiam. Tubuhnya pun seakan lemah tak bertulang dan terduduk di atas lantai.


"Tapi, jika kau memang menolak. Tak apa." Tertatih Sean coba bangkit. "Biarlah Ruby dan Celia berakhir di tangan Ibu kita sendiri." Sean menyeka air mata kasar dengan ke dua tangan. "Carilah kebahagianmu sendiri Selen, uruslah hidupmu sendiri. Kakak akan pergi dan menyusul Ruby dan Celia. Jika kami tidak kembali, maka anggap saja kami sudah matii. Permisi." Sean berbalik badan. Tertatih ia melangkah mencari pintu utama kediamannya. Dalam hati ia terus memaki Selen yang tak memangil dan menghentikan langkahnya.


Siallan kau Selen. Kau fikir aku tidak bekerja keras untuk menampilkan ekting terbaikku di hadapanmu? Lalu apa ini? Kau bahkan tak memangil dan juga menah..


"Kak, Sean. Tunggu!."


Sean menghentikan langkah. Sepasang matanya membulat sempurna.


"Apa lagi?." Suara itu masih terdengar dingin tapi siapa yang tau jika bibir Sean berkedut menahan tawa.


"Baiklah. Aku, akan pulang dan menemui Bagas," jawab Selena meski sedikit ragu.


Bagus.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?." Tanpa berbalik badan Sean bertanya.


"Yakin."


"Kau tidak akan menyesal?." Ah, Sean merasa senang saat bisa mempermainkah sang adik lebih dulu.


"Ti-tidak."


"Jawabanmu masih terdengar setengah hati. Kau belum sepenuhnya yakin, Selen." Sean pura-pura melangkah meski sesungguhnya pria itu sampai menggigit bibir, berusaha keras agar tawanya tak meledak kepermukaan.


"Kakak, berhentilah. Sudah kubilang, aku yakin. Seratus persen yakin. Apa Kakak masih meragukan ucapanku?."


Yak, bagus, bagus sekali Selen. Aku suka itu.


Sean berbalik badan. Menatap sang adik dengan memasang wajah sesendu mungkin.


"Aku sangat menyayangi Kak Ruby dan Celia, Kak. Aku tidak ingin mereka dalam bahaya. Ayo, Kak. Kita pulang. Aku sangat mencemaskan mereka."


Tanpa aba-aba, Sean langsung memeluk tubuh sang adik sangat erat.


"Terimakasih Selen, terimakasih. Kakak tau, kau gadis yang baik dan tak akan membiarkan saudaramu tersakiti." Sean mengusap puncak kepala sang adik penuh sayang. Dalam hati ia bersorak senang dan berucap 'Yes'.


Tbc.