My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Rio Bagaskara



Aku Ini Selena, bukan Siti nurbaya.


Ingin rasanya Selena berteriak dan mengucap kalimat itu di depan wajah sang Kakak, hanya saja ia tak tega saat wajah Ruby dan Celia yang menangis memenuhi isi kepala. Ya, Selena bukanlah manusia egois yang mengedepankan keinginannya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Setelah beberapa hari tinggal bersama Sean dan Ruby, ia mengalami banyak perubahan, baik dari cara berfikir juga bersikap. Selena semakin dewasa dan tak lagi manja seperti sebelumnya.


Saat kendaraan yang membawa mereka melaju kencang di jalananan padat, Selena sempat menggeser pandang ke arah sang Kakak yang sedang menatap kosong ke arah jendela kaca yang tertutup rapat. Gadis itu menghela nafas kemudian mengalihkan pandangan. Ia tau perasaan semacam apa yang dirasakan sang Kakak saat ini. Berada jauh dari orang-orang tercinta dan dicekam ketakutan akibat ancaman yang diberikan oleh Ibunya.


Selena menghela nafas dalam. Biarlah, ia pulang. Tapi bukan berarti jika ia akan menerima lamaran dari pria bernama bagas. Bukankah Sean bilang jika perlu bertemu lebih dulu baru bisa memutuskan?.


Gadis berambut hitam legam itu memilih memejamkan mata. Ia ingin menggunakan waktu perjalanannya untuk beristirahat, sebelum dipertemukan lagi dengan Ibu dan urusan lamaran.


💗💗💗💗💗


Kedatangan Sean dan Selena di sambut hangat oleh Ruby, Celia dan tentunya Margareth. Paruh baya itu tersenyum senang dan tak henti memeluk tubuh sang putri sebagai luapan kebahagiaan. Ya, meski sejatinya ada hal lain yang membuat Margareth begitu girang saat putrinya berhasil dibawa pulang oleh Sean.


"Selen, Ibu sangat senang saat kau kembali pulang." Margareth mendudukkan sang putri di sebuah sofa. Mereka duduk berdampingan. Jika wajah Margareth berbinar namun berbeda dengan Selen yang nampak datar dan tak banyak bicara. Ia enggan menanggapi sang Ibu dan lebih memperhatikan Ruby dan Celia yang kini duduk di samping Sean.


Senyum dan Celotehan Celia membuat Selen seketika mendukkan kepala. Ia tak kuasa. Pertahanan dirinya kembali melemah. Andai ia hanya menemui namun tidak menerima lamaran Bagas, apakah sang Ibu akan membebaskan Kakak ipar beserta keponakannya?.


Tentu tidak akan semudah itu, Selen. Kau sendiri sudah tau seperti apa sifat Ibumu.


"Selen, beristirahatlah. Malam nanti ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan denganmu." Margareth meminta putrinya untuk beristirahat.


"Sesuatu, tentang apa?. Apakah ada hubungannya dengan Bagas?."


Margareth mengulum senyum, ah tebakan sang putri memanglah tepat.


"Em, Iya." Margareth menjawab malu-malu.


"Apa lagi yang ingin dibicarakan. Minta padanya untuk menemuiku nanti malam. Di sini atau di tempat manapun. Terserah, aku patuh."


Jawaban sang putri benar-benar membuat sepasang mata Margareth berbinar senang. Ah, sepertinya ia tak harus buang-buang tenaga untuk membujuk sang putri agar mau menemui Bagas.


"Ah, ya. Em, bagaimana jika di rumah ini saja. Nanti Ibu akan meminta pada Bagas agar datang untuk bisa berbicara denganmu." Ingin rasanya Margareth bersorak dan bertepuk tangan riang. Kebahagiaannya bahkan sudah tak terbendung lagi. Bayangan mobil mewah dan tumpukan uang sudah ada di depan mata.


Em, sebentar lagi aku akan bersenang-senang.


💗💗💗💗💗


Malam ini langit bertaburan bintang. Selen yang sedang merias diri, menatap ke arah luar jendela di mana gemerlap bintang malam dan rembulan terlihat jelas.


Rambut legamnya ia sisir perlahan. Ada rasa gamang yang mulai merayap ketika seraut wajah Rio tiba-tiba muncul diingatan. Sudah beberapa hari pasca kedatangan pria itu secara mendadak ke kediaman Sean, Rio seperti tenggelam dan tak ada kabar. Pria itu tak lagi menghubungi. Jangankan menelfon, mengirim pesan pun tak lagi.


Apakah aku harus berhenti berharap?.


Sempat dibuat terkejut dengan lamaran Rio, dan mengiginkan hal tersebut menjadi sebuah kenyataaan. Akan tetapi lamaran dari seorang Bagas yang lamgsung melewati Ibunya, meruntuhkan angan Selen untuk bisa merajut hubungan kasihnya dengan Rio ke jenjamg yang lebih serius. Selen sadar jika selama ini dirinya dan Rio hanya berteman selepas resmi menjadi mantan bertahun-tahun lalu.


"Selen, kau sudah siap? Turunlah, Bagas sudah menunggumu di bawah." Margareth berteriak dari luar pintu kamar. Memanggil putrinya yang masih juga belum terlihat.


"Ya, tunggu sebentar," jawab Selen tanpa membuka pintu. Ia yakin jika sang Ibu pun sudah pergi dan memilih untuk menemani Bagas di bawah.


Selen menghela nafas dalam. Hidupnya kini sedang dipertaruhkan.


Gaun malam berwarna hitam menyempurnakan penampilannya malam ini. Meski hanya pertemuan biasa, Margareth menuntut dirinya untuk tampil memukau di hadapan Bagas yang sama sekali belum ia ketahui wajahnya.


Menuruni anak tangga dengan langkah anggun, gadis dengan rambut tergerai indah itu menyibak pandangan ke sekeliling dan tak menemukan Ibu dan juga Bagas di ruangan mana pun.


"Nona, Tuan Bagas menunggu anda di taman." Bibi pelayan memberitahukan pada Selen.


"Oh, terimakasih Bibi. Aku akan ke sana."


Dalam hati gadis itu terus mengumpat seorang Bagas yang memilih bertemu di taman. Kenapa tidak di ruang tamu saja? Mengobrol biasa tanpa terserang gigitan nyamuk, begitu fikir Selen.


Begitu kaki jenjangnya yang beralas hells lima sentimeter menjejaki hamparan rerumputan taman, Selen mendapati seluit seorang pria yang duduk di sebuah kursi dengan posisi memunggunginya.


Dahi gadis itu mengernyit saat padangannya memindai tubuh tegap berbalut stelan jas berwarna Navy dari atas sampai ke bawah. Rambut yang tertata rapi dan pakaian serta sepatu mengkilat, mungkin hal tersebutlah yang membuat sang Ibu gelap mata dan tanpa fikir panjang menerimannya.


Penampilanmu boleh juga, Bro. Tapi bagaimana dengan wajahmu?.


Seketika Selen bergidik. Membyangkan jika wajah dari sang pemilik tubuh ini sudah lanjut usia.


"Ehem."


Selen terlonjak saat pria itu menyadari kedatangannya.


"Aku tau jija kau sudah datang. Kemarilah. Apa kau tidak ingin melihat wajah calon suamimu?."


Selena nyaris ingin muntah saat pria itu menyebut dirinya sendiri sebagai 'Calon suami'.


Sumpah, belum apa-apa aku sudah merinding.


Selen pun melangkah lebih dekat. Toh lagian untuk apa ia menunda-nunda lagi. Sat set, setelah dilihat baru dia akan memutuskan dengan cepat.


Tanpa melirik pada sang pria, Selen lekas menjatuhkan bobot tubuh di kursi seberang sang pria.


"Selamat datang Tuan Bagas. Senang rasanya bisa bertemu deng---, hah kenapa kamu?." Selen terkesiap. Terkejut luar biasa saat memberanikan diri menatap pria di hadapan, yang menurut sang Ibu bernama bagas. Tapi kenapa yang datang justru...


Pria bernama bagas itu tergelak. Ia menikmati wajah terkejut dan kebingungan Selen yang semakin terlihat cantik di matanya.


"Iya, ini aku."


"Hah, kenapa bisa. Bukankah Ibu bilang jika aku harus menemui Bagas. Lalu kenapa kau tiba-tiba ada di tempat ini?. Ini pasti salah." Selen memijat pelipis. Gadis itu hendak beranjak saat tangan Rio coba mencegahnya.


"Ya, benar. Kau harus menemui Bagas sesuai permintaan Ibumu." Rio lekas mengulurkan tangan pada Selen. "Perkenalkan, Aku Rio Bagaskara. Pria yang menemui Nyonya Margareth untuk melamarmu."


Mulut Selena menggangga.


Apa ini maksudnya. Rio, Bagas? Rio Bagaskara?.


Tbc.