My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Ulah Margareth



Cukup lama meninggalkan Ibu kota selepas kembali bersama dengan Ruby, Sean cukup dibuat kewalahan begitu mengunjungi beberapa tempat bisnis kulinernya yang sudah ia percayakan pada orang lain. Menurut laporan beberapa rumah makan miliknya menunjukan grafik peningkkatan jumlah pengunjung dalam setiap bulannya pada tempat tertentu yang letaknya tepat di jantung Ibukota. Sean tentu menyukainya, meski di resto lain tak terlalu mengalami perubahan, namun Sean tetap bersyukur. Apa yang sudah ia dapat bahkan bisa dikatakan lebih dari memuaskan dan sesuai dengan keinginan.


Beberapa teman itu Sean kunjungi satu persatu. Bisnis kuliner yang ia tekuni sebelum menikah itu, kini menunjukan eksistensi setiap tahunnya.


Saat malam mulai merayap serta rasa lelah yang menyergap, Sean memutuskan untuk bermalam di ibu kota sekaligus mengunjungi Rumahnya yang beberapa waktu ini sudah ia tinggalkan.


Menuju perjalanan, Sean tertidur di kursi penumpang. Seorang sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama mereka pun sudah sampai di depan gerbang utama sebuah rumah mewah milik Sean yang dulunya ia tempati bersama Ruby saat sebelum mereka berpisah.


"Tuan, kita sudah sampai." Pria berpakaian serba hitam itu berbicara, membangunkan sang Tuan yang sempat terlelap di kursi penumpang.


Sean mengerjap, ia mengerakkan kepala ke kiri dan Ke kanan kemudian meregangkan otot tubuh yang terasa kaku.


"Ya, terimakasih."


Sopir bergerak dengan sigap membuka pintu untuk sang Tuan. Sean melangkah, pintu rumah utama sudah di buka oleh seorang pelayan.


Begitu menatap sang Tuan pelayan perempuan itu menundukan kepala. Sean terus berjalan, namun langkahnya sontak terhenti begitu pandangannya menangkap sosok seorang perempuan paruh baya yang duduk dengan angkuhnya di sofa ruang tamu.


"Ibu," panggil Sean setengah tak percaya begitu mendapati Margareth berada di rumahnya. Padahal ia tak melihat mobil lain pun yang tersimpan di garasi rumah, tapi kenapa Ibunya berada di rumahnya ini?.


"Kau, baru pulang rupanya? Kenapa, begitu terkejutnya kau melihat ibu, atau kau tak menginginkan kehadiran Ibu di rumah ini?." Margareth sepertinya tak bisa berbasa basi meski dengan putranya sendiri. Nada bicaranya yang lembut namun tajam, seolah menjadi ciri khas Margareth untuk mengintimidasi sang lawan bicara.


"Ibu, kenapa berbicara seperti itu." Sean memilih mengalah. Ia mendekat pada sang Ibu kemudian menjabat tangan dan mencium punggung tangan perempuan yang sudah melahirkannya tersebut. "Aku senang Ibu datang, hanya saja aku terkejut sebab Ibu tak mengabarkannya lebih dulu," sambung Sean yang kini sudah menjatuhkan bobot tubuh di sofa yang letaknya berseberangan dengan sang Ibu.


"Sengaja karna Ibu ingin memberikanmu kejutan."


Ya, kejutan yang benar-benar mengejutkan. Aku bahkan sudah meraba jika kedatangan Ibu hanyalah modus belaka.


"Sean," panggil Margareth pada putranya.


"Ya."


"Di mana Selena?." Pertanyaan Margareth langsung pada intinya.


"Ibu tenang saja, dia ada bersamaku."


Margareth terlihat menghela nafas lega. Setidaknya ia tak bingung lagi dan mengkhawatirkan keberadaan putrinya kini.


"Katakan pada Adikmu untuk pulang."


"Tidak, selama Ibu masih memaksanya untuk menikah dengan pria yang tak ia cintai."


Margareth tersenyum tipis. Ke dua buah hatinya bahkan berkomplot untuk menghancurkan keinginannya.


"Persetan dengan cinta, perjodohan Selen dan Leo bahkan sudah terencana dari jauh-jauh hari dan tak mungkin akan gagal begitu saja. Apa kau tau, adikmu bahkan sudah berani berbuat ulah di pertemuan pertama mereka. Yang lebih parah lagi, Leo sampai dirawat di sebuah rumah sakit karna ulah bar bar adik kesayanganmu itu." Emosi Margareth mulai meledak-ledak saat menceritakan kondisi Leo pasca area sensitivnya ditendang oleh Selena. Sean tentu tersenyum kecut, dalam hati ia merutuki keboodohan sang Ibu karna berbicara tak sesuai dengan fakta yang ada. Ah, bisa saja jika Leo berdrama dan memutar balikkan fakta untuk mencari pembenaran.


"Sean! Apa maksudmu menodai? Leo tidak sebajiingan itu, Ibu kenal dia, Ibu juga tau sifatnya. Selena saja yang sudah berfikir tidak-tidak sampai tak punya hati mencidrai barang penting milik seorang pria." Margareth tetap keukeuh membela Leo.


"Baiklah, aku menyerah. Lagi pula tak ada gunanya diantara Ibu dan Anak saling berdebat hanya untuk urusan Leo yang aku sendiri sama sekali tak mengenalnya. Akan tetapi perlu Ibu ketahui, Selena perempuan dan sampai kapan pun aku tidak ingin adikku dilecehkan apalagi oleh seorang pria breengsek yang mengunakan kedok perjodohon. Aku mohon, Ibu. Hentikan perjodohan Selena. Biarkan dia memilih pria yang ia cinta."


Margareth spontan membuang muka.


"Selena berbeda denganmu. Dia pasti akan menuruti apa pun kemauan Ibu."


"Berhenti mengumpankan anak untuk obsesimu, Ibu! Selena pergi, dia memilih kabur, apa Itu belum cukup menegaskan jika Selena menolak perjodohan itu? Sadarlah Ibu, buka matamu. Selena menolak perjodohan dan Ibu pun harus menerimanya dengan lapang dada." Suara Sean mulai meninggi. Tubuhnya yang teramat lelah dan mengantuk, membuatnya tak bisa lagi bersabar untuk menghadapi ucapan semena-mena sang Ibu.


"Baiklah, kita lupakan tentang Selena. Kita akan membahas temtangmu." Margareth menatap sang putra begitu tajam.


Sean sadar, ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Ibunya.


"Bisa-bisanya kau merujuk Ruby tanpa meminta izin padaku?."


Sean jengah. Andai bukan Ibunya, Sean pasti sudah menyeret perempuan paruh baya itu keluar dari rumahnya atau menutup mulutnya dengan lakban agar berhenti bicara.


"Aku rasa itu semua tidak perlu. Semua yang terjadi adalah murni keputusanku, dan tak ada seorang pun yang boleh menghalangi."


Margareth tergelak. Wah, semudah itukah putranya menjawab.


"Oh, begitukah. Apa kau tak takut jika istri kesayangmu itu berulah kembali. Berselingkuh misalnya."


"Cukup Ibu!." Sean bangkit, dengan isyarat tangan ia meminta Margareth untuk diam.


"Kenapa, bukankah memang seperti itu kenyataannya?." Margareth tetap tak mau kalah. Sementara Sean yang tak ingin mengibarkan bendera peperangannya terhadap sang Ibu, memilih tak banyak bicara. Biarlah Margareth mengira jika Sean belum menhetahui kebenarannya, lagi pula itu sudah tak penting lagi bagi Sean. Ruby sudah kembali bersamanya, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Sean.


Brak


Tiba-tiba Margareth menepuk keras meja dengan mendaratkan selembar foto di sana.


Sean menatap pada lembaran foto tersebut. Terlihat seorang gadis bergaun biru yang menatap kamera dengan senyum terkembang.


Apalagi maksudmu, Ibu.


"Temui dia. Aku yang akan mengatur pertemuan kalian berdua. Ingat Sean, dari dulu sampai sekarang aku masih tetap tak menyukai Ruby menjadi menantuku. Tentu kau tau alasannya 'kan, Karna dia tak jelas asal usul, miskin dan juga kampungan." Margareth tersenyum miring. "Sedangkan Devita, dia adalah gadis yang sesuai dengan kriteria menantu idamanku. Cantik, modis dan tentunya berasal dari keluarga terhormat. Ibu tidak ingin mendengar penolakan. Temui dia dan jadikan Devita menantuku. Untuk Soal Ruby, biarkan saja dia, aku tak perduli." Margareth bangkit, tanpa pamit ia keluar dari kediaman Sean.


Di tempat duduknya Sean meraup wajahnya kasar. Permainan macam apa lagi ini? Begitu fikirnya.


Langkah seperti apa yang seharusnya ia ambil. Apakah dia akan secara diam-diam menemui Devita tanpa sepengetahuan Ruby atau kah berterus terang tentang pada sang istri kemudian mencari solusi yang tepat untuk mencari jalan keluarnya.


Tbc.