My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Siapa Yang Pantas



Pria berbadan tegap dengan mengenakan stelan jas lengkap berwarna Navy berjalan, memasuki ruangan VVIP yang sejatinya sudah dipesan untuk rencana pertemuannya dengan seorang gadis bernama Devita yang merupakan pilihan dari Ibunya.


Sean Fernandez, pria berkharisma dengan sejuta pesona itu menyisir pandangan keseluruh penjuru ruangan. Ia kemudian menemukan sosok seorang gadis bergaun kuning yang sontak bangkit dari posisi duduk begitu melihat dirinya.


Gadis yang menurut sang Ibu bernama Devita itu menatap sang pria dengan bola mata berbinar. Senyum di bibirnya ia atur semanis mungkin, menciptakan kesan tak terlupakan untuk pertemuan pertama mereka.


"Sudah lama menunggu?." Sean betranya basa basi.


"Tidak," jawab sang gadis begitu riang. "Baru saja. Aku baru saja datang."


Gadis itu mengulurkan tangan kemudian berucap, "Perkenalkan, Aku Devita," sambung sang gadis kemudian.


Sean pun menyambut uluran sang gadis.


"Aku Sean Fernandez."


Jabatan tangan keduanya pun terlepas. Mereka kini duduk saling berhadapan. Seorang pelayan datang, tanpa diminta rupanya pelayan tersebut sudah mengantar minuman beserta hidangan yang mungkin saja sudah dipesan oleh Devita lebih dulu.


Bibir tipis Devita tak hentinya menebar senyum. Ia juga terlihat sibuk mengambilkan beberapa hidangan ke piring Sean tanpa pria itu minta.


"Devi, apa Ibuku sudah bercerita banyak tentang diriku kepadamu?."


Gadis itu menganggukkan kepala.


"Ya, tentu saja. Ibu kita kan berteman dekat. Tante Margareth banyak bercerita banyak tetang dirimu, Sean."


"Termasuk statusku yang sudah memiliki istri dan seorang putri?."


Devita yang sedang mengunyah makanan di dalam mulut, sontak tersedak.


"Pelan-pelan." Sean juga ikut terkejut saat gadis di depannya tersedak, langsung menyodorkan segelas air putih pada sang gadis.


Devita meneguk cairan bening tersebut. Terlihat beberapa kali ia mengatur nafasnya yang sempat memburu.


Hah, kenapa putri? Bukankah Tante Margareth bilang jika Sean hanya memiliki istri yang tak dianggap.


"Tentu aku tau, tapi itu semua bukanlah menjadi masalah besar bagiku." Begitu pongahnya seorang Devita berucap. Sean tersenyum simpul, dalam hati ia memuji nyali besar seorang gadis yang kini sedang duduk di hadapannya.


"Waw, kau tersenyum padaku? Apakah itu pertanda jika kau mulai tertarik padaku?."


Sean tergelak lirih. Memang Sean akui jika Devita memiliki paras menawan untuk menatik perhatian lawa jenisnya. Postur tubuhnya pun bak seorang model dengan kulit putih bersih dan rambut hitam sebahu yang dibiarkan tergerai indah begitu saja.


"Kau percaya diri sekali, Nona."


"Oh, tentu."


"Dan aku menyukai akan kepercayaan diri yang miliki."


"Terimakasih, aku sungguh tersanjung mendapat pujian langsung darimu." Patutkah Devita berbangga diri. Ia sempat berfikir jika akan kesulitan untuk memulai pembicaraan yang nyaman dengan Sean. Pasalnya Margareth sempat mengatakan jika putranya cukup dingin bersikap dan sekenanya saat bicara pada seseorang yang baru dikenal. Tapi nyatanya, tak begitu sulit bagi Devita untuk bisa melakukannya.


Untuk beberapa saat keduanya tampak menikmati hidangan. Raut wajah Devita masih terus berseri-seri, ia pun tampak angun menyuapkan makanan ke dalam mulut. Sementara Sean, disela aktifitasnya menyuapkan makanan ke mulut, pria itu berfikir keras untuk bisa membungkam bibir Devita sekaligus menampar kesombongannya. Sean mengakui jika Devita memiliki nyali cukup besar, bukan hanya berniat untuk memilikinya namun sepertinya juga siap menyingkirkan siapa pun yang akan menghalangi keinginannya.


"Nona Devita, apa kau tertarik padaku?."


Gadis itu mendongak, menatap kedua bola mata Sean dengan lekat.


"Ya, aku tertarik padamu bahkan saat melihat fotomu saja, aku sudah bisa merasakan ketertarikanku padamu." Devita tak malu lagi mengungkapkan perasaannya. Toh, untuk apa menutupi, lagi pula memang Devita mengakui jika Sean adalah pria idamannya. Bukan hanya hartanya yang berlimpah, namu paras dan postur tubuhnya bisa membuat siapa pun tergila-gila. Apalagi dirinya.


"Tapi sayangnya aku sama sekali tak tertarik denganmu, Nona Devita." Begitu lantang Sean berucap. Tak ada sedikitpun keraguan, hingga membuat mulut Devita menganga dibuatnya.


"K-kau..."


"Ya, aku sama sekali tidak tertarik padamu. Bukankah sudah kukatakan jika aku sudah memiliki istri dan seorang anak?."


Devita yang semula ternganga dan kehilangan kepercayaan diri, perlahan mulai membenahi hati. Tubuhnya kembali ia busungkan, wajahnya pun mulai angkuh seolah mengatakan jika gertakan Sean bukanlah hal besar untuknya.


"Tapi dia bukanlah perempuan yang pantas untukmu, dan akulah yang lebih pantas mendampingimu, Sean Fernandez." Devita seakan menantang Sean.


Kedua rahang Sean mengeras. Ia nampak tak suka dengan ucapan Devita yang seakan menghina istrinya, Ruby.


"Bukankah istri anda adalah perempuan yang tak jelas asal usulnya, miskin juga kampungan?." Devita tergelak, raut wajah terkejut yang ditunjukan Sean justru semakin membuat Devita tersenyum penuh kemenangan.


Ah, bukankah memang seperti itu yang Tante Margareth katakan. Istri Sean tak jelas asal usul, miskin dan kampungan.


"Raut wajah terkejutmu bahkan seperti membenarkan semua ucapanku, Tuan Sean Fernandez. Jadi, aku rasa dia bukanlah lawan yang sepadan denganku. Level kita nyata-nyata berbeda dan aku lah yang lebih pantas untuk mendampingimu!."


Dalam diam, kedua tangan Sean terkepal erat. Jika bukan wanita, tentu Sean sudah melayangkan satu tamparan ke pipi merah seorang gadis yang sudah berani menghina istrinya.


"Apa tadi yang kau bilang? Istriku tak jelas asal usulnya?."


"Ya," jawab Devita penuh keyakinan.


"Miskin?."


"Benar," jawab Devita lugas.


"Dan kampungan?."


Devita tergelak lagi.


"Tidak perlu bertanya, anda suaminya dan tentu lebih tau dari saya." Devita memakai nada suara yang terkesan mengejek.


"Ya, anda benar, Nona. Kau dan Istriku memang berbeda level."


Prok


Sean menepuk keras kedua telapak tangan, dan secara bersamaan pintu ruangan VVIP terbuka. Di sana, muncul sesosok perempuan cantik dengan balutan gaun berwarna merah terang sedang berjalan begitu anggun mendekati kedua insan di meja makan yang melihatnya dengan ekspresi wajah berbeda.


Jika Devita menatap penuh tanya sekaligus kagum, berbeda dengan Sean yang berbinar dan menunjukan seberapa besar terpesonanya dia.


"Nona Devita, apa kau mengenal perempuan cantik yang ingin bergabung bersama kita?." Sean bertanya dengan pandangan hanya tertuju pada perempuan cantik bergaun merah, tanpa ingin mengeser pandangannya ke arah lain.


Devita menatap pada perempuan cantik yang asing baginya. Jika ditilik dari penampilan, sepertinya perempuan itu juga berasal dari keluarga berada dengan pakaian dan perhiasan serba Wah yang melekat di tubuh indahnya.


"Tidak, aku tidak mengenalnya."


Sean tersenyum miring begitu menatap Devita.


"Jika kau tak mengenalnya, maka perkenalkanlah, Dia Ruby Alexandra, istri sekaligus wanita spesialku yang tadi kau sebut miskin dan kampungan." Sean bangkit dari duduk, berlutut di hadapan Ruby dan membawa satu tangan perempuan itu untuk dikecup.


"Terimakasih sudah datang, Sayang. Kau adalah istri terbaik dan akan satu-satunya menjadi milikku." Sean mendongak, berlutut seraya menatap ke dua bola mata bening istrinya yang diliputi keharuan. "I love you," sambung Sean kemudian, dan sekali lagi mengecup punggung tangan sang istri.


"l love you, I love you to, sayang." Sungguh kebahagiaan tak terkira bagi Ruby saat Sean sudi berlutut di hadapannya, merendahkan diri dan mengucapkan kata cinta begitu lantang di hadapan seorang gadis yang menjadi pilihan Ibunya.


"Hei, apa-apaan ini!." Devita menggebrak meja, perempuan itu bahkan sampai bangkit dari posisi duduknya karna tak terima saat adegan Sean berlutut dan mencium tangan perempuan asing itu tepat di depan mata.


Sean tergelak. Ia bangkit kemudian memeluk dan merengkuh pingang Ruby agar kedua tubuh itu menempel tanpa cela.


"Kenapa? Apa kau merasa terganggu dengan kemesraan kami, Nona Devita?." Tak berbeda dari Sean yang memasang wajah dan suara angkuh, Ruby pun bersikap yang sama. Perempuan lembut itu kini berdiri penuh percaya diri memamerkan seluruh kelebihan dalam diri yang ia miliki. Paras rupawan, Kulit putih dan bentuk tubuh nyaris sempurna serta dipadukan dengan gaun indah model belahan samping semata kaki yang masih dapat mengekspos kaki jenjangmya, membuat penampilan Ruby kali ini semakin paripurna.


Dalam diam Devita mengamati penampilan Ruby dari kepala hingga ujung kaki. Sungguh, apa yang ada di hadapannya seperti berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan oleh Margareth. Miskin dan kampungan, tapi penampilan Ruby seolah mengambarkan yang sebaliknya.


"Tentu saja, kalian sungguh tidak pantas mempertontonkan kemesraan itu di hadapanku." Setengah geram Devita berucap, hah bisa dikatakan jika kepercayaan dirinya merosot tajam selepas melihat sosok Ruby.


"Kami bahkan bisa melakukan sesuatu hal yang lebih dan lebih, dari apa yang sudah tersaji di hadapan anda beberapa menit lalu, Nona." Tanpa ragu Sean langsung melahab bibir Merah Ruby. Meluumat dan menyesap benda kenyal nan terasa manis hingga sepasang suami istri itu hanyut dalam permainan lidah sampai melupakan seseorang yang berdiri seraya menatap tak percaya pada mereka.


"Hentikan!." Devita berteriak histeris.


Ciuuman Sean dan Ruby terlepas. Sean merapikan lipstik Ruby yang belepotan dengan jari jempolnya. Menatap penuh cinta pada sang istri, seolah mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


"Perlu anda ingat, Nona Devita. Aku amat sangat mencintai istriku, Ruby Alexandra. Jika bicara tentang level, ya, aku akui, level kalian memang berbeda bahkan amat sangat berbeda dan level istriku sungguh jau di atas anda. Dan sampai kapan pun yang pantas mendampingi diriku, adalah Ruby. Bukan dirimu, Nona Devita!."


Sean menarik lembut tangan Ruby untuk membawanya keluar dari ruangan. Entah seperti apa tanggapan sang Ibu nanti, Sean tak perduli. Cintanya hanya pada Ruby, bukan hanya hari ini tapi untuk selamanya.


Tbc.