My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Kebahagiaan Yang Sesungguhnya (END)



Ada perasaan tak menentu dalam diri seorang Ruby begitu menatap alat tes kehamilan yang berada dalam gengaman.


"Garis dua," lirih Ruby tak percaya seraya membekap mulutnya rapat.


Terdiam, Ruby sengaja mengunci diri di kamar mandi, memberi ruang baginya untuk berfikir. Ruby masih terlihat syok. Sungguh kehamilan ini di luar dari prediksi. Segala kejadian yang tiba-tiba menghampiri, membuatnya meluapakan alat kontrasepsi di saat berhubungan dengan sang suami.


Ke dua tangan perempuan itu pun bergerak untuk mengusap perutnya yang masih rata dengan gerakan lembut. Bukannya tak menginginkan, namun mengingat usia Celia yang masih belum genap satu tahun, membuat perempuan itu gamang.


"Sayang, buka pintunya. Kenapa lama sekali?." Sean setengah berteriak dengan mengedor pintu kamar mandi. Ruby terkesiap. Ia lekas merapikan penampilan sebelum keluar.


Pintu pun terbuka seiring wajah Sean yang menatap khawatir pada sang istri.


"Sayang, kau kenapa?." Sean menatap penuh tanya pada sang istri yang hanya diam selepas keluar dari kamar mandi. Ada apakah gerangan yang terjadi padanya?.


Ragu, Ruby yang semula menyembunyikan alat tes kehamilan di belakang punggung, memberikan benda tipis tersebut pada sang suami.


"Sayang," panggil Sean ketika menerima barang tersebut. "Bu-bukankah ini?." Bibir Sean terbuka, antara syok dan terkejut luar biasa. "Sa-sayang, benarkah ini?. Kau hamil, sayang?." Tanya Sean masih tak percaya. Ia amati benda tersebut dengan mulut menganga saking terkejutnya.


"Ya, Mas. Aku hamil."


Sean memekik. Ia lekas merengkuh tubuh Ruby kemudian mendekapnya erat.


"Sayang, benarkah ini? Kita akan punya anak lagi dan Celia akan memiliki adik?."


Ruby mengangguk samar yang mana membuat Sean melompat kegirangan kemudian menggendong Ruby untuk direbahkannya ke atas ranjang.


"Kau harus beristirahat sayang, jangan banyak bergerak." Sean membentangkan selimut yang digunakan untuk menutup tubuh Ruby dari ujung kaki sampai leher. Pria itu begitu antusias untuk melindungi sang istri dan juga sang calon bayi.


"Tapi Mas, ini juga belum pasti mengingat aku hanya mengetesnya lewat alat dan bukan atas pemberitahuan Dokter." Entahlah, Ruby sendiri masih belum yakin.


Sean mengernyit, bingung. Tapi bukankah alat tes kehamilan juga bisa dikatakan akurat dalam mendeteksi adanya janin di dalam rahim?.


"Tapi jadwal datang bulanmu, apa tetap rutin seperti bulan-bulan sebelumnya?." Sean memang tak tau pasti gejala yang terjadi pada perempuan hamil. Akan tetapi setiap wanita hamil tentunya tak lagi mendapatkan jadwal datang bulan sampai bayi dilahirkan. Hah, mungkin itu saja gambaran paling mudah dalam fikiran Sean tentang wanita hamil.


"Aku memang terlambat haid beberapa minggu ini," jawab Ruby lirih.


"Nah jadi apalagi yang membuatmu ragu?."


Ruby terdiam. Sikapnya terlihat berbanding terbalik dengan Sean yang luar biasa senang. Perempuan itu seperti dilanda cemas. Benarkah jika ia belum siap untuk kembali menimang buah hati mengingat Celia yang masih terlalu kecil diberikan adik.


"Kita bersiap. Aku akan membuat jadwal temu dengan dokter spesialis untuk mengetahui kehamilanmu," titah Sean yang sepertinya tak dapat diganggu gugat oleh Ruby.


💗💗💗💗💗


Ruang tamu kediaman Margareth dipenuhi tawa saat Ruby bercerita apa yang dialami dirinya bersama Sean saat di rumah sakit.


"Awalnya aku kebingungan, tapi kata Dokter, beliau juga pernah menangani kasus yang hampir serupa." Ruby menjelaskan, perempuan itu kemudian tersenyum dan menatap hangat sang suami yang terbaring dan berbantalkan ke dua pahannya. Sean terlihat lemas selepas memuntahkan isi perutnya begitu mencium aroma parfum dokter perempuan yang mereka temui.


"Sean memang tak menginginkan makanan tertentu, akan tetapi Sean selalu muntah saat menghirup parfum, terutama parfum perempuan. Dan sepertinya bukan hanya pada kehamilan Celia, kehamilan keduamu pun juga akan bernasib serupa," papar Margareth seraya mengulum senyum. Paruh baya itu bercerita, seperti mengingat kembali kejadian setahunan lalu saat putranya mengalami mual dan muntah yang tak diketahui penyebabnya.


Tidak ada yang berubah. Tampilan Sean tampak begitu menyedihkan selepas mengeluarkan isi perutnya hanya setelah tanpa sengaja menghirup aroma parfum milik wanita. Entah itu rekan kerja, para karyawan bahkan keluarganya sendiri.


"Apa kau tau, Kak? Ibu bahkan sampai ingin membawa Kak Sean ke dokter spesialis karna suami Kakak yang tampan ini bisa bisanya muntah saat bertemu dengan Silvia, perempuan yang rencananya akan dijodohkan Ibu pada Kak Sean."


Tawa itu mendadak lenyap selepas tanpa sengaja Selena mengungkit masalah Silvia.


"Ups, maaf. Bukan maksudku ingin membahas perempuan itu lagi. Tapi aku benar-benar ti---"


"Ruby, maafkan Ibu." Margareth bersuara. "Di hadapan Sean dan Selena, Ibu ingin meminta maaf padamu, Ruby."


Ruangan seketika hening, Baik Sean dan Ruby atau pun Rio dan Selena yang sedang berkumpul di ruang tamu seperti sedang mempersiapkan waktu dan tempatnya pada Margareth untuk berbicara. Bukankah ini sebuah momen yang sudah ditunggu-tunggu, saat Margareth dengan kesadaran penuh meminta maaf pada Ruby dan mengakui semua kesalahannya.


"Ibu akui jika Ibu memanglah egois yang dengan sadar memaksakan kehendak setiap anak-anak Ibu. Ibu selalu memandang segala sisi kehidupan dengan berlandaskan kasta dan harta. Akan tetapi, perlu kalian ketahui jika yang Ibu lakukan semata-mata untuk kebahagiaan kalian." Margareth tertunduk. Kali ini untuk pertama kali dan di hadapan putra putrinya sendiri, paruh baya itu seperti menunjukkan rasa bersalah yang luar biasa. Ia seperti diingatkan kembali oleh beberapa peristiwa yang membuktikan betapa tak berhatinya dia di waktu lalu kepada anak-anaknya sendiri.


Memisahkan putra dengan menantunya lewat cara licik juga berupaya menjodohkan Sean dan Selena yang tujuannya pun untuk bisnis. Kini Margareth seperti tertampar oleh kenyataan. Kecelakaan beberapa waktu yang dialami, diakui paruh baya itu sebagai buah dari kejahatan yang pernah ia lakukan. Margareth meyakini jika semua itu adalah karma yang sudah sepantasnya ia dapat, sebagai teguran agar dirinya bisa berubah dan lebih baik dalam kedepannya dalam menjalani hidup.


"Ibu minta maaf pada kalian semua. Jujur dan tulus dari dalam hati, Ibu mengakui semua kesalahan Ibu yang sudah terlampau banyak pada kalian, terlebih pada Ruby," ucap Margareth yang kini menatap wajah Ruby dengan pandamgan sendu. "Nak, Ruby. Ibu harap kau bisa memaafkan semua kesalahan Ibu. Kita akan hidup bersama, bahagia, seperti sebuah keluarga pada umumnya," pinta Margareth pada Ruby. Saat ini tak tak ada lagi rasa gengsi. Margareth benar-benar meminta maaf dan memohon pada Ruby untuk bisa memaafkan kesalahannya di masalalu hingga saat ini.


Ruby menatap pada Sean yang masih terbaring di pangkuannya, ia pun tersenyum saat mendapati Sean juga sedang tersenyum padanya.


"Sedari dulu Ruby pun sudah memaafkan Ibu. Ruby sadar, jika dulu Ibu melakukan semua hal tersebut memang untuk kebahagiaan putra dan putri Ibu."


Margareth tergugu. Sepasang matanya berkaca, menyadari sebaik apa sang menantu yang berulang kali selalu ingin ia singkirkan keberadaannya.


💗💗💗💗💗


Terkadang manusia kerap kali dihadapkan dengan ujian hidup yang bertubi-tubi datang menghampiri, silih berganti hingga sang manusia kerap berkata jika pemilik hidup tak adil dalam membagi takdir. Ketahuilah jika sesungguhnya sebuah ujia hidup adalah sebagai bentuk cinta kasih sang pemilik hidup pada umatnya, dan sesungguhnya sang pemilik hidup pun tidak akan pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya.


Hal tersebut juga terjadi pada kehidupan Ruby. Pernah berada di atas, saat hidupnya di ratu kan oleh Sean. Ia juga pernah berada di titik terendah dalam hidup saat di talak dan terusir dari rumahnya sendiri akibat fitnah. Merasakan kepayahan saat mengandung sembilan bulan dan melahirkan tanpa sosok suami, Ruby pun pernah merasakan.


Akan tetapi setelah semua yang terjadi, doanya pun didengar. Sang pemilik hidup kembali memihak dirinya. Jika pada kehamilan Celia dirinya begitu nelangsa, tapi tidak dengan kehamilannya saat ini.


Hidupnya kini terasa sempurna. Bukan hanya bersama Sean dan Celia, Margareth pun sudah memperlakukannya dengan baik, sesuai dengan impiannya selama ini.


My Bos Is My Ex-Husband ~END~


Alhamdulilah....


Terimakasih ☺


Sungguh kebahagiaan tak terkira bisa sampai pada titik ini.


Terimakasih buat pembaca semua. Terimakasih banyak. Tanpa kalian coretanku bukanlah apa-apa.


Akhirnya Tamat Ya.


Insya Allah nanti akan ada exstra part tentang Kiran dan Wira.


Terimakasih...☺☺☺