
Ada rasa berbeda yang muncul saat sepasang Margareth menatap wajah bayi mengemaskan yang memilik paras nyaris serupa dengan Sean. Perempuan paruh baya itu lekas membuang pandangan, enggan bersitatap dengan sepasang mata milik bocah mungil yang mungkin saja bisa meluluhkan hatinya.
Celia terus berceloteh. Meminta perhatian Ruby dan beberapa orang yang ada dalam pandangannya.
Ruby coba menenangkan sang putri. Ia juga tersenyum dan berbicara layaknya bahasa bayi, hingga mau tak mau Margareth disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya menghela nafas dalam.
"Kau baru saja tiba, Sean. Aku enggan untuk berdebat sekarang. Beristirahatlah dan bawa istri serta putrimu ke kamar," titah Margareth yang kemudian berbalik badan meninggalkan anak serta menatu dan cucunya.
Giliran Sean yang menghela nafas dalam. Ia menatap Ruby kemudian tersenyum, berusaha memberi pengertian atas perlakuan Margareth yang juga tak berubah. Akan tetapi dari reaksi yang baru saja ditunjukan, sepertinya perempuan paruh baya itu masih punya rasa simpati, tak langsung mengusir namun justru mempersilahkan mereka untuk beristirahat. Ah, semoga saja. Setidaknya Sean masih punya harapan untuk bisa berbicara dari hati ke hati dengan Ibunya.
Sean membawa Ruby dan Celia untuk masuk ke kamar, sementara Nina beristirahat di kamar tamu.
"Mas, apa Ibu akan marah?." Ruby yang menimang Celia, menatap sang suami yang baru saja melepas jas dan meletakkannya di sandaran sofa. Pria itu tersenyum kemudian mendekat pada sang istri.
"Aku rasa, tidak. Kita hanya perlu bersabar dan membicarakan masalah Selena nanti dengan kepala dingin. Setidaknya bila perjodohan ini benar terjadi, setidaknya kita punya jalan keluar agar tidak menyakiti kedua belah pihak. Ibu dan juga Selena, semoga kita mendapatkan solusinya.
Sean pun mengambil alih Celia dari gendongan Ruby. Pria itu sedang ingin bermain dengan putrinya. Begitu dalam dekapannya, gadis kecil itu terkekeh dan berusaha menggapai pipi sang ayah dengan tangan gembulnya.
"Anak ayah pintar," puji Sean saat bibir putrinya bergumam khas bahasa bayi yang tak ia mengerti. Akan tetapi ia amat terhibur saat melihat tumbuh kembang sang anak yang cukup pesat dalam setiap harinya. Ah, Sean sudah merasakan hidupnya sempurna saat dikarunia istri yang amat cinta serta putri yang sehat dan menggemaskan. Andai saja Ibunya bisa menerima Ruby dan Celia, tentu kebahagiaan kian bertambah sempurna.
Pria berkemeja putih itu mengajak sang putri untuk berdiri di depan kaca yang memperlihatkan kebun bunga Margareth yang berada di samping rumah. Sean menunjuk ke arah bunga berbagai warna seolah ingin memperlihatkan pada sang putri dan memperkenalkannya pada bunga. Ya, meski pun Celia sendiri masih belum mengerti.
Sementara itu Ruby sedang berada di kamar mandi. Ia ingin menganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman. Dres berbahan lembut tanpa lengan menjadi pilihannya. Panjangnya yang sampai setengah betis, amat pas membalut tubuh rampingnya.
Ruby keluar dengan penampilan yang lebih segar. Riasan tipis pun masih terlihat rapi dan kian menyempurnakan penampilannya kali ini meski tak berlebihan.
"Wow." Sean selalu dibuat kagum dengan apa pun yang dimiliki oleh sang istri.
Ruby tersenyum tipis kemudian berjalan mendekat ke arah suami dan putrinya berdiri saat ini. Ruby memeluk Sean dari belakang yang masih menggendong Celia.
"Kenapa," tanya Sean basa basi begitu mendapati perlakuan hangat sang istri.
"Tak apa, aku hanya sedang iki seperti ini. Memeluk Mas dan juga putri kita." Ruby mendaratkan kecupan di pipi sang putri kemudian lengan sang suami. Tinggi mereka yang terpaut cukup jauh membuat Ruby kesusahan menjakau bibir atau pun pipi Sean kecuali pria itu sedang duduk atau menunduk.
Sean tergelak. Ia lantas mengecup puncak kepala sang istri kemudian berpindah pada Celia.
"Sama sepertimu, sayang. Aku pun ingin selalu seperti ini. Bersamamu dan putri kita, tapi sepertinya jika bertambah Sean junior maka kebahagiaan kita akan kian sempurna." Sean tersenyum penuh arti sedangkan Ruby hanya bisa menelan ludah. Celia saja masih berusia 6 bulanan sedangkan Sean sudah menginginkan anak lagi.
Keseriusan ucapan mereka terpaksa terjeda saat ponsel milik Sean berdering. Benda pipih yang tergeletak di atas ranjang itu lekas ia raih.
Dahi pria tampan itu mengernyit mana kala nama Rio tertera sebagai pemanggil.
Rio, ada perlu apa dia?.
"Sayang, gendong Celia," ucap Sean kemudian memberikan sang buah hati pada sang istri. "Aku akan angkat panggilan dari Rio. Mungkin penting," sambung Sean kemudian yang langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel dan menempelkannya di telinga.
Ruby hanya bisa menatap dan mendengar ucapan Sean dengan pria di seberang. Raut wajah sang suami terlihat serius dimenit-menit pertama.
"Hah, Benarkah?."
"Jadi itu kau, kenapa tidak bicara denganku lebih dulu?."
Dari tempatnya berdiri Ruby hanya bisa menerka tentang apa yang dibicarakan oleh ke dua pria itu. Sean terlihat menghela nafas disusul senyum tipis yang terbit dari bibir seensualnya.
"Ya, Tuhan. Sekarang aku lega. Syukurlah."
".........."
"Lalu bagaimana dengan Selen, apa kau sudah mengatakannya?."
"............."
Sean tergelak yang mana justru membuat Ruby semakin dibuat tanya. Kiranya apa yang mereka bicarakan sampai ekspresi wajah Sean berubah begini hanya dalam waktu sekejap.
"Kau ini ada-ada saja. Aku bahkan sudah tak sanggup melihat adikku menangis dan terus memohon untuk menggagalkan lamaran ini." Sean kembali tergelak dan sesekali menggelengkan kepala.
"Ya sudah. Jika itu memang kemauanmu. Aku rasa ini akan menjadi kejutan yang luar biasa untuk Selena nanti."
".........."
"Aku ucapakan selamat, kau sudah berhasil mendapatkan restu dari Ibuku. Setelah ini berjanjilah padaku untuk selalu membahagiakan adikku kedepannya. Ingat Rio, kalian akan selalu dalam pengawasanku." Sean menegaskan pada Rio layaknya seorang Kakak yang wajib melindungi adik perempuannya.
".........."
"Baiklah."
Panggilan pun terputus. Sean menatap layar ponselnya yang masih terang dengan senyum yang terus terpatri di bibirnya. Ruby yang sudah penasaran datang mendekat dan bertanya pada sang suami.
Sean dengan perlahan menceritakan semuanya pada Ruby. Tentang Rio yang datang dengan mengaku bernama bagas. Sampai Rio yang melamar namun Selena tak mengetahuinya. Rio sengaja menutupi identitas diri dengan alasan untuk memberi kejutan pada Selena dan ingin tau seperti apa reaksinya.
Sungguh seperti rencana yang kekanak-kanakan, tapi sepertinya lucu juga. Kini Ruby ikut tergelak hanya dengan membayangkannya saja. Memang terdengar cukup nekat mengingat Selena pasti akan menolak, tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya lebih dulu.
"Lalu kita harus apa?."
Ah, kenapa masih bertanya sayang.
"Ya kita terima saja lamarannya."
"Jika Selena marah?."
Sean malah tergelak.
Memang polos sekali istriku. Karna di situlah letak kejutannya.
Tbc.