My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Meminta Pendapat Sean



Rio datang melamar.


"Huh, sudah gilaa ya?." Selena memekik. Selepas kepergian Rio, gadis itu langsung mengunci diri di kamar. Ruby sempat mengetuk pintu dan memanggil namun Selen tak mau keluar. Kakak iparnya itu pun mengalah dan membiarkan dirinya terkurung dalam kesendiriaan.


Tadi tentu saja Selena dibuat luar biasa terkejut dengan ucapan Rio yang berniat ingin melamarnya. Ia mengira jika semua hanyalah sebuah candaan semata, namun raut wajah serius yang ditunjukan oleh sang pria membuat Selen berkesimpulan jika ucapan Rio bukanlah bualan semata.


Bagaimana ini.


Selena tentu belum bisa memberikan jawaban. Ia tak menolak namun juga tak menerima. Bagi Selen keputusan tersebut bukan murni berasal dari dirinya namun juga keluarganya.


"Lagi pula seperti apa reaksi Ibu nanti kalau pria yang datang melamarku hanyalah ..." Selena mengacak rambutnya kasar. Cukup dibuat frustrasi dengan tidakan Rio yang berujung mendebarkan hati. Bagaimana tidak berdebar sedangkan Selena sendiri juga memiliki rasa pada Rio ups...


"Selen," panggil seseorang dari balik pintu diiringi dengan ketukan.


Suara Kak Sean.


"Ya, ada apa Kak?."


"Buka pintunya, Kakak ingin bicara." Suara Sean terdengar setelah hening beberapa saat.


Selena menelungkupkan wajahnya ke bantal. Bagaimana ini, begitu fikir sang gadis. Sudah dipastikan jika Sean akan berbicara dengannya dan membahas tentang kedatangan Rio di rumahnya.


Pasrah saja Selena. Yang kau punya sekarang adalah Kak Sean. Tidak ada salahnya jika kau curhat sedikit tentang asmaramu padanya.


Gadis itu bangkit dari ranjang, melangkah gontai untuk membuka pintu kamar.


"Selen, kau tidur?." Sean bertanya saat pintu kamar sang adik baru saja terbuka. Melihat rambut sang adik yang acak-acakan di tambah ke dua matanya yang memerah, Sean berfikir jika dirinya sudah menganggu tidur sang adik.


"Hem, aku?." Selen menjawab seraya menunjuk dirinya sendiri. "O, tidak. Aku tidak tidur, Kak. Hanya rebahan saja." Gadis itu tergelak. Memasang wajah ceria agar Sean tak curiga dan bertanya yang tidak-tidak.


Sean menatap lekat wajah sang adik sebelum ia berucap, "Ayo keluar. Kita bicara di ruang keluarga. Ada sesuatu hal yang ingin Kakak tanyakan padamu."


Maati Aku.


"Bi-bicara apa?." Setengah terbata gadis cantik itu bertanya. Kenapa perasaannya mendadak tidak enak seperti ini.


"Jangan banyak bertanya, ikuti saja." Sean lekas berbalik badan meninggalkan Selena yang masih mematung di tempatnya.


💗💗💗💗💗


"Sudah sejauh mana hubunganmu dan Rio sekarang?." Duduk di sofa ruang keluarga, Sean yang duduk ditemani Ruby sedang mengintrogasi Selena. Kedatangan Rio yang berniat untuk melamarnya, rupanya menjadi perhatian khusus untuk Sean.


Selena meneguk ludah. Kenapa sang Kakak justru bertanya seperti ini?.


"Hubungan apa, Kak? Kami tidak memiliki hubjngan apa pun."


Sean tersenyum tipis menanggapinya.


"Bagaimana tidak sedangkan dia datang dengan maksud untuk melamarmu."


Selena berdecak. Ia mengaruk kulit kepalanya yang tak gatal dan justru membuat Sean dan Ruby serempak tergelak.


"Kau ingin menyangkal?."


"Demi tuhan, Kak. Aku berkata jujur."


"Selen." Sean meninggikan suara. "Jangan membawa-bawa nama tuhan dalam pembicaraan seperti ini?." Sean nampak tak suka.


"Kenapa tidak boleh jika aku mengatakan yang sebenarnya!." Ah, kesabaran Selen terkikis jua. "Kami hanya berteman untuk saat ini, Kak. Ya, dulu memang kami sempat berpacaran. Tapi itu dulu, saat kami masih duduk di bangku sekolah." Pada akhirnya Selen pun buka kartu. Percuma juga bila menutupinya dari Sean, toh lambat laut sang Kakak itu akan mendengarnya sendiri dari mulut orang lain.


"Benarkah?." Kini Ruby-lah yang bertanya. Niat bertanya atau malah sengaja ingin menggoda.


"Ayolah, Kak," rengek Selen pada Ruby. "Cukup Kak Sean saja yang tak percaya padaku," sambung sang gadis seraya memasang wajah memelas.


"Lalu bagaimana ceritanya Rio sampai ke rumah ini dan akan melamarmu. Ingat Selen, pria tak memiliki rasa cinta tak akan mungkin berbuat senekad ini?."


Benar juga Ya.


"Tapi aku memang tidak tau, Kak. Rio hanya menanyakan keberadaanku dan beberapa jam kemudian dia sudah sampai ke rumah ini. Percayalah, Kak. Ini bukan murni kesalahanku." Selena terus merengek dan ia juga tak ingin fisalahkan.


"Ck, dasaar bocah. Lagi pula siapa juga yang akan menyalahkanmu."


Gadis itu mencebik dengan memainkan kedua tangannya di atas pangkuan.


"Lalu apa jawabanmu, kau menerima atau malah menolaknya?."


Gadis itu menghela nafas dalam kemudian menjawab, "Aku belum memberikan jawaban. Tidak menerima juga tidak menolak. Aku bimbang. Lagi pula apa yang menyangkut denganku masih menjadi tangung jawab Ibu dan juga Kakak. Aku belum bisa memutuskan tanpa pertimbangan dari kalian."


Selena sudah dewasa rupanya. Sean tersenyum pada sang adik kemudian pada sang istri di sampingnya.


"Sementara perasaanmu, apa kau juga mencintai Rio?."


Selena kini tertunduk. Ah, kenapa sisi melownya tiba-tibu muncul begini.


"Selen," panggil Sean saat Selena hanya diam dan tertunduk. "Tapa bicara, ekspresi wajahmu sudah menjawab segala tanya. Kau juga mempunyai perasaan yang sama padanya 'kan?."


Sang adik mengangguk patah patah.


"Ta-tapi aku takut pada Ibu."


Jawaban sang adik membuat sepasang suami istri itu terhenyak. Ya, memang benar ucapan Selen. Batu sandungan terbesar mereka adalah sang Ibu.


"Bukankah Kakak tau dengan sifat Ibu. Memaksaku untuk menikah dengan seorang pria pilihannya hanya karna dia berasal dari keluarga terpandang tanpa tau sifat dan kepribadiannya. Ibu egois dan materealistis. Semua hanya beliau ukur dengan harta dan jabatan. Sementara Rio, Rio berasal dari keluarga biasa-biasa saja, Kak." Semakin lirih Selena berucap. Kejadian seperti ini seakan mengingatkannya pada sebuah kejadian di mana Ruby direndahkan oleh sang Ibu saat menjadi Istri Sean dulu. Dan kini, sepertinya hal semacam ini dirinya pun juga akan ikut merasakan.


Dahi Sean mengernyit. Selena bilang jika Rio dari keluarga biasa, hah kenapa bisa begini.


"Rio dari keluarga biasa?."


Wajah Selena kembali tertunduk kemudian mengangguk.


"Benar, Kak. Maaf jika dulu aku juga sempat menghina Kak Ruby bahkan ikut memfitnahnya." Andai ia tau akan berakhir seperti ini, mungkin Selena akan menolak secara terang-terangan untuk mengikuti alur permainan kejam sang Ibu. Entah Margareth hidup seperti apa saat ini selepas dirinya pergi.


"Dari dulu, kami sudah memaafkanmu. Sekarang yang menjadi tugas kita adalah meminta pengertian Ibu beserta restu. Kakak yakin ini tidak mudah, tapi setidaknya kita akan berusaha. Andaikan Ibu dengan tegas menolak, maka kau masih punya aku, Kakak laki-laki yang akan menjadi wali pernikahanmu sebagai penganti mendiang Ayah. Kau tidak perlu khawatir." Memang begitulah seharusnya. Saat orang tua yang sejatinya dihormati tak lagi mampu untuk dijadikan panutan. Ini tentang masa depan sang adik yang perlu ia perjuangkan, bila perlu dirinya pun harus siap pasang badan.


Tbc.