My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Willy Berkunjung Ke Rumah Kiran.



Akhir pekan merupakan hari yang dinantikan oleh sebagian besar orang. Libur dari rutinitas pekerjaan dan bisa beristirahat di rumah juga bersantai berkumpul dengan keluarga. Begitu pun dengan Kiran, gadis muda itu sedang menikmati akhir pekannya untuk bermalas-malasan. Bangun siang dan mandi semaunya. Hari ini, Kiran hanya inginbermalas-malasan.


Ruby Resto & Cafe memang buka setiap hari. Akan tetapi pada hari-hari tertentu seperti perayaan hari besar, resto akan diliburkan, dan pada saat itulah Kiran mempergunakan waktunya sebaik mungkin. Bermalas-malasan selepas penat dan lelahnya mengumpulkan rupiah.


Fatimah sudah selesai mempersiapkan menu sarapan. Cukup sederhana, hanya dengan telur dadar dan bihun goreng kesukaan putrinya.


Paruh baya itu menggelengkan kepala saat menatap pada pintu kamar sang putri yang masih tertutup rapat.


Perawan kebo, matahari sudah meninggi tapi putriku belum juga bangun.


Fatimah menghela nafas dalam. Ia membiarkan waktu libur Kiran digunakan untuk beristirahat, dan untuk urusan makan, biarlah ia menahannya sebentar lagi agar bisa sarapan bersama dengan putrinya. Sembari menunggu Fatimah memilih menonton acara di televisi guna mengusir rasa bosan. Tak jarang dalam situasi seperti ini dirinya merindukan Ruby dan juga Celia.


Sudah dua minggu ini Ruby tidak berkunjung ke rumahnya. Kiran sempat bercerita jika Ruby dan Sean sedang berada di ibu kota untuk menyambangi Ibunya, atau libih tepatnya Ibu mertua Ruby.


Fatimah senantiasa berdoa, agar Ruby dapat diterima oleh keluarga Sean. Mereka akan hidup rukun dan bahagia tanpa adanya masalah seperti dulu lagi.


"Ibu, sudah sarapan?." Fatimah terkesiap. Rupanya Kiran muncul dari kamar masih dengan rambut setengah basah yang acak-acakan. Rupanya selepas mandi, Kiran belum sempat menyisir rambutnya.


"Belum, Ibu sedang menunggumu. Ayo, kita makan bersama," ajak Fatimah pada putrinya. Paruh baya itu berpindah dari sofa ruang tamu ke meja makan.


Ibu dan anak itu sudah duduk saling berhadapan di kursi meja makan. Tak perduli penampilannya yang masih awut-awutan, Kiran menatap penuh minat pada hidangan yang tersaji di atas meja. Menu sarapan sederhana yang membuat lidahnyabergoyang.


"Hem, masakan Ibu pasti juara," puji Kiran yang mulai menyidukkan nasi ke piringnya juga ke piring Ibunya. "Tidak kalah dengan masakan Koki di resto Kak Ruby," sambung Kiran yang mana membuat Fatimah tersenyum lembut. Masakan Fatimah memang nikmat. Meski diolah dengan bumbu sederhana, namun takarannya yang pas membuat bahan apa pun yang ia olah pasti akan terasa nikmatnya.


Kiran hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut saat terdengar ketukan dari pintu depan rumahnya. Fatimah dan Kiran saling berpandangan. Mengernyit, mengira siapa tamu yang datang sepagi ini. Jika Ruby saja masih berada di Ibu kota, lantas siapa tamu mereka?.


"Kiran, teruskan sarapanmu. Biar Ibu yang buka pintu?."


"Tidak usah Ibu," cegah Kiran saat Fatimah mulai bangkit dari posisinya. "Biar aku saja." Kiran pun bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Tak sempat mengintip dari jendela, Kiran langsung membuka pintu dan membeku seketika begitu melihat siapa tamu mereka.


"Hah, Tuan Wira, Willy," ucap Kiran seraya meneguk ludah. Di balik pintu rupanya berdiri dua orang pria dengan rentan usia berbeda. Wira dan Willy. Sosok Ayah dan anak itu rupanya yang menjadi tamunya.


"Em, Kiran. Maaf." Willy seperti salah tingkah. "Willy tiba-tiba memintaku untuk datang ke rumahmu."


Kini pandangan Kiran beralih pada Willy yang tersenyum lebar padanya.


"Hai Kakak Kilan. Apa kabal," ucap Willy seraya melambaikan tangan.


Kiran membalas senyuman Willy. Gadis itu berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan tubuh mungil Willy.


"Hai juga tampan. Em, Kakak sangat-sangat baik, dan akan lebih baik lagi saat bertemu dengan pria tampan seperti Willy."


Pria kecil itu tergelak. Menampakkan barisan gigi susunya yang rapi dan bersih.


"Belum, Willy belum sarapan." Jawaban Willy sontak membuat sepasang bola mata Wira membulat. Pria itu kaget mendengar ucapan Willy yang mengatakan jika belum sarapan, padahal sebelum menuju rumah Kiran tadi Ayah dan anak itu sempat menyantap bubur ayam buatan pelayan.


Astaga Willy, sejak kapan kau belajar berbohong?. Kau tau Willy, ini sangat memalukan sekali.


Di belakang Willy dan Kiran, Wira menggerutu dalam hati. Sungguh diseumur hidup dirinya tak pernah bertingkah semacam ini. Datang pagi-pagi ke rumah salah satu bawahannya dengan membawa seorang putra yang sudah sok akrab dengan si pemilik rumah. Ya Tuhan. Willy mengepalkan ke dua tangan. Rasanya ia ingin memukul dinding untuk memusnahkan rasa malu dalam dirinya, namun jika kondisinya di depan sang putra, Ia bisa apa. Pasrah, Wira pun memilih pasrah dan mengikuti langkah putranya.


Begitu mendengar ucapan Willy yang belum sarapan, Kiran lantas membawa bocah itu untuk duduk di meja makan bergabung dengan Ibunya.


"Kakak, dia ini siapa?." Willy menunjuk Fatimah yang terlihat terkejut. Wajar saja, paruh baya itu belum pernah melihat anak kecil asing yang begitu dekat dengan putrinya.


"Em Willy, perkenalkan ini Ibunya Kak Kiran. Willy bisa memanggilnya Nenek."


"Seperti Nenek di rumahnya Willy?." Willy menyebut Nenek, Ibu dari Ayahnya.


"Iya, Benar. Ayo, Willy kasih salam dulu," titah Kiran yang meminta pada Willy untuk mendekat dan menjabat tangan Ibunya. Fatimah yang mulai bisa mengendalikan keadaan, mengulurkan tangannya pada Willy.


"Selamat pagi, Nenek. Aku Willy, putla dali Ayah Wila," ucap Willy dengan suara cadel khas anak-anak. Fatimah faham sekarang. Saat anak kecil itu menyebut nama Wira dan melihat pria bernama Wira itu berada di antara mereka, Fatimah pun menganggukkan kepala.


"Selamat pagi juga anak pintar. Ayo, kita sarapan," ajak Fatimah pada Willy. Wira yang masih berdiri diam seperti maju mundur. Antara ia atau tidak untuk bergabung dengan putranya di meja makan.


"Tuan Wira, mari." Kini Kiran-lah yang bersuara. Gadis berpakaian santai dengan rambut panjang yang masih belum tersisir itu mempersilahkan pada Managernya untuk ikut bergabung.


"Em, tidak usah, Kiran. Tadi aku sudah sarapan," tolak Wira.


"Em, kata siapa?. Kita belum salapan, Ayah. Bukankah di depan pintu Kak Kilan tadi Ayah bilang jika pelutnya sakit dan minta diisi?."


Asem kau Willy. Benar-benar kau ya. Ayah tidak lapar, kita sudah makan bubur sebelum berangkat kemari 'kan?.


Tentu kata-kata itu hanya bisa diucap Wira dalam hati. Sumpah demi apa pun, ia ingin menghilang saja dari bumi ini dari pada hatus dipermalukan oleh putra sendiri.


"Willy..." Lirih Wira dengan tatapan membunuuh pada sang putra.


"Em Tuan Wira, benar kata Willy. Tuan lebih baik ikut sarapan bersama kami. Ya, walaupun dengan menu seadanya tapi setidaknya bisa untuk mengisi perut yang kosong." Tanpa Ba Bi Bu, Kitmran menarik sebuah kursi dan mempersilakan Wira untuk duduk.


Willy yang posisinya berhadapan dengan Wira bahkan sudah menikmati sarapan ke duanya. Ia begitu lahap memakan bihun dari piringnya. Meski sedikit pedas, Willy tak mengeluh. Ia hanya lebih banyak minum dan menyeka peluh di dahinya.


Kiran yang berada di samping Willy, sesekali menyuapi pria kecil itu. Lagi, keduanya terlihat sangat akrab bak sudah kenal lama. Di meja makan tersebut, Fatimah dan Willy lebih banyak diam dibandingkan dengan Kiran dan Willy yang sudah terlihat seperti Ibu dan anak.


Tbc.