
Selepas pembicaraan yang terjadi dengan sang putra, Wira memilih menyendiri di ruang kerja. Ia menjauh dari jangkauan sang putra selepas buah hatinya tersebut selesai mengucapkan permohonan.
"Bukankah ada Kakak Kilan."
Wira meraup wajahnya kasar, wajah sang putra kembali memenuhi kepala saat dengan santainya menyebutkan nama 'Kiran' yang diinginkannya menjadi seorang Ibu.
"Bisa-bisanya dia bicara tanpa berfikir lebih dulu," gerutu Wira pada putranya sendiri.
Memang Dia fikir gampang.
Tak ingin larut dalam kebingungan, Wira lekas bersiap untuk bekerja. Memakai kemeja dan celana bahan seperti hari biasanya. Saat berkumpul di meja makan untuk sarapan, Willy diam. Pria kecil itu tak lagi membahas masalah ulang tahun atau pun Kiran. Akan tetapi sorot mata dari sang bocah seolah berkata sebaliknya. Tatapan memohon, membuat Wira meyakini jika sang putra tak main-main dengan permintaanya.
Ibu.
Ayah dan anak itu berpisah selepas menghabiskan sarapan. Wira bekerja sementara Willy dibawa oleh pengasuh untuk bermain di taman rumah.
Saat dalam perjalanan menuju Resto, Wira tampak memikirkan banyak hal. Wira sendiri faham jika diusia tumbuh kembang sang putra memang sangat membutuhkan limpahan kasih sayang yang hanya bersumber dari seorang pengasuh. Willy bisa dikatakan tak kurang kasih sayang, hanya saja mungkin saat dibeberapa kesempatan putranya melihat interaksi dari beberapa teman seusianya yang memiliki Ibu. Berbeda dengannya yang hanya memiliki Ayah dan nenek. Kemungkinan hal tersebutlah yang menjadi sumber keinginan dari Willy untuk memiliki apa yang dimiliki teman seusianya.
Willy memang tak mengenal Ibunya dan Wira sendiri pun tak berniat untuk bercerita. Willy pun tidak menyebut Ibu kandungnya sebagai gambaran seorang Ibu, dan justru menyebut Kiran sebagai sosok yang ia harapkan menjadi Ibu.
Wira mengurut pelipisnya yang mendadak pening. Entahlah, untuk saat ini sepertinya ia tak ingin ambil pusing dengan permintaan Willy. Ia ingin menjalani hidup seperti biasanya. Tenang dan tanpa beban.
💗💗💗💗💗
Benarkah Wira menginginkan ketenangan begitu melangkahkan kaki ke ruang kerjanya namun mendapati Kiran juga berada di sana?.
Langkah kaki Wira sontak terhenti. Tubuhnya mematung, ragu antara ingin melanjutkan langkah atau justru berbalik arah.
Siaal.
Wira mengumpat saat ucapan sang anak tiba-tiba mememuhi benak.
Bukankah ada Kak Kilan?.
Wira memejamkan mata sesaat. Sebentar, sepertinya pria itu tengah berfikir dalam.
Kau pria, Wira dan sudah seharusnya kau bersikap selayaknya seorang pria.
Selepas kedua matanya terbuka, ia kembali melanjutkan langkah. Melewati Kiran yang sepetinya sibuk di meja kerjanya. Tak ada sapaan saat gadis itu sigap menganggukkan kepala. Wira, tetaplah Wira. Pria yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya, apalagi pada bawahannya.
Untuk beberapa jam waktu berjalan sebagai mana mestinya. Wira berkutat dengan pekerjaan sementara Kiran pun demikian, hingga istirahat makan siang pun tiba.
Benda pipih milik Wira yang tergeletak di atas meja kerja, berdering. Pria itu abai untuk beberapa saat, berfikir jika pekerjaannya lebih penting dari pada seseorang yang sedang menghubunginya dari sambungan telefon.
Panggilan terjeda, hingga berdering kembali. Wira yang konsentrasinya mulai terpecah oleh dering ponsel, mau tak mau mengambil benda pintar tersebut dan memeriksa nama pemanggil.
"Willy!." Wira sontak menelan ludah. Ia merutuki diri karna tak memeriksa nama pemanggil lebih dulu sebelum berniat tak mengangkatnya.
Cepat ia menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel, hingga panggilan pun terhubung.
"......"
"Hallo, tampan."
"......"
"Belum, Ayah belum sempat makan siang."
Wira mendengarkan ucapan sang putra di ujung sambungan. Raut wajahnya berubah-ubah. Kadang tersenyum, mengernyit dan datar saat mendengar putranya berceloteh.
"Hah, Kak Kiran?." Wira sontak membekap mulut dan memandang ke sekeliling. Khawatir terdengar orang lain saat dirinya menyebut nama Kiran dalam pembicaraan. Entah apa yang sedang Willy tanyakan, namun satu yang pasti jika ke dua pria itu kini sedang membahas Kiran.
"Tapi tidak semudah itu, tampan. Lagi pula Kak Kiran pasti sudah punya pacar. Em, begini. Kak Kiran pasti sudah memiliki calon suami. Willy tau apa itu calon suami?."
"........."
"Iya, dia akan menjadi pasangan Kak Kiran. Mereka akan menikah."
"........"
Wira sontak mengusap wajah saat putranya berkata 'Kenapa Kak Kilan tidak menikah dengan Ayah saja'.
Maati aku!.
"Willy, sudah ya. Atasan Ayah sedang memanggil. Bye.. Da da." Wira memutuskan panggilan. Berdebat dengan sang putra lama-lama membuatnya gila.
"Tuan."
Wira terkesiap saat seorang gadis sudah berdiri di depan kerjanya. Pria itu mendongak, hingga pandangannya bertemu dengan Kiran yang berdiri menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Maaf, Tuan memanggil saya?." Berbeda dengan karyawan lain yang takut berhadapan dengan Wira, Kiran justru bisa bersikap santai.
Heem, Wira mengerutkan dahi dan berkata, "Tidak."
"Tapi saya sempat mendengar anda memanggil nama saya beberapa kali?."
Haduh, bagaimana ini?.
"Tuan," panggil Kiran saat Wira hanya bisa diam.
"Oh, ya. Ya, saya memanggil kamu tadi." Wira meringis dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pria itu berbohong.
"Apa ada sesuatu yang tuan butuhkan atau pekerjaan yang perlu saya selesaikan?."
"Oo, tidak. Em sayang hanya..." Wira sedang berfikir. Mencari-cari jawaban yang tepat untuk digunakan. "Ingin mengajak kamu makan siang. Ya, makan siang bersama." Wira masih tergelak di akhir kalimat. Ya tuhan, ingin rasanya ia bersembunyi di kolong meja guna menutupi rasa malunya pada Kiran.
Sementara itu Kiran hanya melonggo mendengar ucapan Wira yang ingin mengajaknya makan siang bersama.
"Tuan," panggil Kiran.
"Ya."
"Anda sakit?."
Wira mengernyit dan menggelengkan kepala.
"Tidak, memangnya kenapan?."
Kiran menjawab dengan ringgisan. Meski dalam hatinya penuh keheranan.
💗💗💗💗💗
Kiran sempat mengira jika mereka akan tetap makan siang di Resto, namun nyatanya berbeda. Wira membawanya untuk makan di suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Berbeda dari sikap Wira biasanya, hari ini pria berusia matang itu terlihat lebih ramah dan memperlakukannya seperti seseorang yang sudah kenal dekat.
Memang akhir-akhir ini semenjak diangkatnya dia menjadi asisten Wira, banyak kejadian tak terduga yang mengisi hari-harinya.
Mulai dari mengunjungi putra atasannya tersebut di rumah sakit, sampai kedatangan tak terduga atasannya itu ke rumahnya tepat di akhir pekan lalu.
Dan sekarang....
"Kiran."
Gadis yang disebut namanya itu, mengangkat wajah. Menatap pada sosok pria tampan yang memanggilnya.
"Ya?."
Wira berdehem. Ia seperti sedang menyusun kata-kata, sebelum meluncur bebas dari mulutnya.
"Em, apa kau sudah memiliki kekasih?."
Gadis itu mengernyit, disela suapan ia kembali menatap wajah sang pria.
"Memangnya kenapa? Maaf, Tuan. Itu masalah pribadi bagi saya yang tak bisa dengan mudah diketahui oleh orang lain." Gadis itu menundukkan pandangan dan menikmati makanannya kembali.
Wira terdiam. Ludahnya seperti tercekat. Ia berfikir apakah dirinya terlalu lancang sampai seseorang yang lempar tanya dibuat tak nyaman?.
"Kiran, maaf jika pertanyaanku terkesan lancang."
Gadis itu pun tergelak.
"Tuan, santai saja."
Apa, dia bilang aku harus santai disituasi seperti ini? Mana bisa!.
"Kiran, apa kau menyukai anak-anak?."
Begitu mendengar, gadis itu sontak menganggukkan kepala.
"Ya, Tuan. Saya sangat menyukai anak-anak."
"Termasuk Willy, putraku?."
"Ya, termasuk Willy putra anda."
"Hem, apa kau mau menjadi Ibu dari putraku?."
"Tentu sa----." Pertanyaan beruntun itu membuat Kiran menjawab tanpa lebih dulu berfikir. Bibirnya terkatup saat menyadari pertanyaan terakhir yang terdengar menggelitik indra pendengarnya.
"Kau tau 'kan jika Willy tak mempunyai Ibu, dan dia bilang jika menginginkanmu untuk menjadi Ibu baginya. Ini mungkin terdengar aneh. Akan tetapi dari usiaku yang tak lagi muda, aku berfikir untuk tak main-main dalam memikirkan tentang masa depanku juga masa depan putraku. Kiran.., aku menginginkanmu untuk menjadi Ibu bagi putraku, Willy sekaligus menjadi istriku. Bagaimana, kau bersedia?."
Di tempat duduknya, Kiran hanya bisa mengerjapkan mata. Bibirnya sedikit terbuka dengan pandangan kosong yang membuat Wira dipenuhi tanda tanya.
Kiran kenapa?.
Tbc