
Fatimah dan Kiran menatap kepergian mobil Sean yang membawa serta Ruby, di ambang pintu. Kiran yang sedari tadi hanya diam saat melihat bos besar di tempatnya bekerja datang ke rumah dan membawa Ruby keluar, kini mulai buka suara untuk mengulik rasa penasarannya.
"Ibu, dia bos besar di tempatku dan Kak Ruby bekerja, kenapa bisa sampai ke rumah ini? Dan kenapa Kak Ruby juga dibawa pergi?." Kiran yang semenjak pulang memilih masuk kamar, mendadak keluar selepas mendengar suara pria di dalam rumahnya. Sontak gadis itu terkejut luar biasa. Bagaimana bisa? Tuan Sean Fernandez ada di dalam rumahnya?.
Fatimah menghela nafas, ia menarik tangan sang putri untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Jadi Nak Sean, bos kalian di tempat kerja?." Fatimah bertanya, berpura-pura tak tau padahal Sean pun sudah sempat mengatakan jika Ruby bekerja di sebuah Resto miliknya
"Benar, Ibu."
"Nak Sean adalah mantan suami dari Kakakmu juga Ayah kandung dari Celia."
Kiran terkesiap, Ia sontak membekap mulut yang sempat mengangga tak percaya.
"Ibu tidak sedang berbohong 'kan?." Bola mata Kiran bergerak-gerak. Ia kebingungan dan masih tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Benar, Kiran. Tuan Sean adalah suami dari Kak Ruby, hanya saja kita tidak pernah berkesempatan untuk melihat wajahnya bahkan bertemu langsung. Ibu juga terkejut saat pertama kali Nak Sean datang. Ibu ingin tak percaya, tapi begitu melihat wajah Celia yang begitu mirip dengannya, maka itu sudah cukup untuk menjadi jawaban setiap tanya."
Raut kebingungan Kiran, kini berubah. Entah mengapa begitu mendengar mantan suami Ruby datang dan menemui Celia, hatinya tak terima.
"Untuk apa pria itu datang, Ibu. Apakah belum cukup luka yang ia berikan untuk Kak Ruby, atau dia datang hanya untuk mengambil Celia dari Kak Ruby?."
"Kiran, apa maksudmu, Nak. Nak Sean tidak akan berbuat sekejam itu," bela Fatimah pada Sean yang spontan mendapat cebikan dari Kiran.
"Dengan membuang Kak Ruby begitu saja, apakah itu kurang dari cukup untuk bisa menilai seperti apa kepribadian Tuan Sean, Ibu?." Sebagai seseorang yang paling dekat dan tau akan perjuangan Ruby dari awal mengandung hingga melahirkan, Kiran seakan membenci orang-orang yang menjadi penyebab keterpurukan Ruby. Bukan hanya pada Sean namun juga seluruh keluarga pria kaya itu.
"Kiran, kau masih terlalu kecil untuk bisa memahami kondisi rumah tangga Ruby dan Tuan Sean di masalalu. Ada sesuatu hal yang menjadi akar masalah hingga perceraian Ruby terjadi. Tuan Sean sudah menjelaskan pada Ibu. Untuk sekarang, Ibu tidak bisa bercerita banyak namun yang pasti jika bukan hanya Ruby yang menjadi korban, tapi jugaTuan Sean. Bersikap baiklah padanya. Anggap saja jika kita tidak tahu menahu akan masalah apa yang dialami Kakakmu dan Tuan Sean."
Kiran tak menjawab. Nafasnya masih naik turun tak menentu. Tak mengira jika pria tegas sesempurna Bos besarnya adalah Pria yang sudah menghempaskan Kakaknya begitu saja, bahkan diceraikan saat hamil pula.
Kak Ruby juga kenapa tidak pernah bercerita jika Tuan Sean itu mantan suaminya. Andai aku tau lebih dulu, pasti tak akan kuampuni dia.
💗💗💗💗💗
Harapan Sean tidaklah tinggi, ia hanya ingin duduk berdua dengan Ruby, berbicara dari hati ke hati dan saling mendengarkan satu sama lain. Sean sempat pupus harapan, dikala Ruby selalu memilih menjauh dan menghindar saat bertemu. Akan tetapi, pada malam ini sesuatu yang ia fikir hanya ada dalam mimpi, kini justru terwujud.
Meski mendadak namun Sean berhasil mereservasi ruangan privat di sebuah restoran berbintang. Sean memilih ruangan yang berada di atas balkon. Sebuah ruang terbuka yang menyajikan hamparan langit malam dan gemerlapnya bintang di angkasa Juga beberapa lilin yang akan menemani makan malam mereka.
Sean mempersilahkan Ruby untuk berjalan lebih dulu. Dalam hati ingin sekali merengkuh tangan mungil itu lantas mengapitnya di lengan, berjalan bersama menuju meja yang sudah dipesan dengan saling tersenyum mesra, namun apalah daya. Sean tak mungkin melakukan hal yang di luar batas.
Sean menarik satu buah kursi, mempersilahkan pada Ruby untuk duduk lebih dulu.
"Terimakasih," ucap Ruby seraya mengulas senyum simpul pada Sean. Sementara itu sang pria menjawabnya dengan anggukan beserta senyuman yang tak kalah manisnya.
Sajian makan malam sudah terhidang, hampir memenuhi meja. Sepasang insan itu sama-sama diam. Momen seperti ini seakan mengingatkan mereka kembali pada masa-masa pernikahan dulu. Sean memang pria romantis. Makan malam berdua dan bertemankan bintang di balkon kamar, hampir setiap malam minggu mereka lakukan. Dan semua itu tak urung membuat hati keduanya semakin merindu.
"Ruby," panggil Sean.
Sean tersenyum haru. Ternyata apa yang fikirkan, Ruby pun juga sedang memikirkannya.
"Aku bingung harus bicara apa." Sean tergelak lirih, tak disangka Ruby pun juga melakan hal yang sama. Keduanya justru tergelak, akibat rasa canggung bercampur haru yang meliputi perasaan keduanya.
Mereka memilih untuk menyantap hidangan makan malam lebih dulu. Mengisi perut yang terasa lapar, meski hati berdebar-debar. Entah debaran rasa apa yang dialami keduanya namun yang pasti, makan malam kali ini seperti mengulang kembali keromantisan di masa lalu yang sejatinya tak akan pernah mereka lupakan.
"Ruby, apa kau tau? Setelah mengetahui semua yang terjadi aku selalu memimpikan kejadian seperti ini. Disaat kita hanya berdua dan berbicara dari hati ke hati. Menumpahkan semua beluh kesah yang hanya tersimpan dalam batin." Sean tak pandai merangkai kata, namun ia hanya ingin mengungkapkan sebesar apa kegundahan yang ia alami, saat dirinya terpaksa dijauhkan dari orang tercinta oleh keluarganya sendiri. Sungguh kenyataan yang lebih dari kata menyakitkan.
Ruby terdiam, ia tak bisa berkata-kata. Bibirnya terasa beku walau hanya untuk digerakkan.
"Terlebih di antara kita sudah ada Celia, bayi yang kau kandung dan lahirkan tanpa sepengetahuanku," sesal Sean yang terlihat menghela nafas dalam. Ia benar-benar merasa berdosa pada Ruby. Menjalani hidup dengan banyak rintangan tanpa ada dirinya yang menjadi teman.
"Jawab, Ruby. Apakah pada saat proses perceraian kau sudah mengandung Celia?."
Ruby spontan mengangguk saat mendapat pertanyaan dari Sean. Kali ini ia tidak akan menutupi apa pun lagi jika menyangkut dirinya dan juga putrinya.
"Lalu kenapa kau diam saja?." Nada suara Sean melemah. Spontan ia menggengam tangan Ruby di atas meja, dan mempereratnya seakan tak ingin terlepas.
"Bukankah tekat Tuan untuk menceraikan sudah bulat pada saat itu?."
Sean berubah muram. Iya, benar kata Ruby. Saat itu dirinya bahkan tak memperdulikan Ruby dan malah menginginkan hakim mempercepat proses perceraian.
"Maafkan aku, Ruby," lirih Sean penuh penyesalan. Kedua tangan itu masih saling menggengam. Lebih tepatnya Sean-lah yang menggengam tangan Ruby, namun perempuan itu pun juga tak berniat untuk melepas.
"Anda tidak bersalah, Tuan. Karna di sini saya-lah yang sudah bersalah."
Sean terdengar tidak suka dengan ucapan Ruby, terlebih saat perempuan itu masih menyebutnya 'Tuan'.
"Ruby, berhentilah memanggilku Tuan. Kita tidak seasing itu dan aku pun sungguh tak menyukai panggilanmu itu padaku. Dan apa kau bilang tadi, kau bilang jika kaulah yang bersalah? Lalu salahmu padaku apa, Ruby?."
"Salahku, karna dulu aku sangat mencintaimu. Memujamu, hingga takut kehilanganmu. Perpisahan diantara kita nyatanya membuat hidupku hancur, dan aku lebih memilih pergi sejauh mungkin dengan harapan tak akan pernah lagi melihatmu. Apa kau tau Tuan, Sean? Aku bukan marah padamu atas kejadian ini, namun jujur aku sangat kecewa padamu yang begitu meragukan kesetiaanku. Tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Walau sedalam apa pun perasaanku padamu, semuanya hanya akan menjadi kesia-siaan jika diantara kita tiada rasa saling percaya."
Ucapan Ruby kembali mengingatkan Sean pada keluarganya. Margareth dan Selena. Dua perempuan terpenting dalam hidupnya yang nyata-nyatanya tega menjadi duri dalam pernikahannya.
"Ruby, aku tau jika kau kecewa padaku. Maka dari itu, kini biarkan aku menebus semua kesalahanku di masa lalu dengan kembali menikahimu. Aku mohon, Ruby. Setidaknya fikirkan juga Celia."
"Dan aku harap kau pun memikirkan keluargamu andai ingin kembali padaku, Tuan Sean!."
Sean tersentak. Ruby mulai memberi respon atas tawarannya, berbeda dengan tempo hari yang hanya diam saja.
"Aku akan membicarakan lebih dulu masalah ini dengan Ibu. Tapi perlu kau ketahui, Ruby. Meski tanpa atau pun Restu dari Ibu, aku akan tetap menikahimu kembali. Jangan fikirkan tentang keluargaku, yang kita fikirkan kini adalah kebahagiaanmu beserta putri kita. Kau Faham, Ruby?."
Perempuan itu menghela nafas dan memalingkan pandangan. Entah jalan apa lagi yang akan ia ambil. Memilih kembali atau membiarkan hidup sendiri tanpa sosok suami.
Tbc.