My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Karna Kau Pantas Untukku Perjuangkan



Di dalam kendaraan yang melaju kencang memecah kepadatan jalanan, Ruby meringkuk, memeluk Pinggang Sean dan bersandar pada dada bidangnya. Selepas melewati adegan drama yang menguras emosi, sepasang suami istri itu memilih langsung kembali ke kota XX.


Ada perasaan lega yang teramat sangat di dalam dada Ruby. Dengan matanya sendiri ia melihat Sean mengakui dan memujanya sebagai istri di depan perempuan yang menjadi pilihan Ibunya. Setidaknya, Ruby bisa tenang.


Begitu banyak kejadian yang membuatnya sampai rela mendatangi sang suami ke Ibu kota. Lewat jaringan telephon Sean mengungkap jika Margareth lagi-lagi memintanya untuk menemui seorang gadis yang kembali akan dijodohkan dengannya. Sean dilema, ia pun meminta pendapat pada Ruby untuk bisa menyelesaikan masalah sekaligus mematahkan keinginan sang Ibu untuk kembali memisahkannya.


Ruby yang luar biasa bingung, akhirnya menceritakan masalah pribadinya itu pada Selena, dan lewat Selena-lah ide kedatangan rahasia itu muncul seketika.


Dalam rengkuhan lengan besar Sean, perempuan itu mendongak, menatap wajah tampan sang suami yang menatap ke arah jalanan.


Satu tangan perempuan itu terulur, untuk mengusap rahang kokoh sang suami yang mulai ditumbuhi jambang tipis.


Tampan.


Wajah Sean yang tampan serta kepribadiannya menawan, membuat hati Ruby kian tertawan. Benarkah jika semakin hari ia semakin menggilai sang suami.


"Ada apa?." Sean menundukkan wajah, hingga pandangan keduanya bertemu.


"Kau tampan," puji Ruby yang mana membuat bibir sensual sang suami mengulas senyum.


"Terimakasih atas pujiannya, Sayang. Tapi aku rasa pujianmu saja belumlah sepadan dengan apa yang sudah kulakukan untuk mengukuhkan hubungan pernikahan kita hari ini." Terlihat senyum di bibir Sean yang penuh arti. Pria itu mengecup telapak sampai pergelangan tangan sang istri. "Aku bahkan sudah tak sabar untuk sampai dirumah dan menidurkanmu di ranjang." Setengah berbisik Sean berucap, mengingat di depan mereka ada seorang sopir yang sedang mengatur kemudi.


"Mas," pekik Ruby seraya menahan pergerakan tangan Sean yang merambat kemana-mana.


"Kenapa?." Pria itu terlihat tidak suka saat kesenangannya digangu.


"Bagaimana dengan Ibu?. Aku rasa setelah kejadian ini, Ibu akan semakin membenciku." Tentu saja Ruby bisa memperkirakan sesuatu yang akan terjadi selepas kejadian pada hari ini. Bukan hanya benci, Margareth bahkan tak akan sudi mengakuinya sebagai menantu untuk seumur hidup.


"Biarkan saja. Aku tak perduli. Sudah cukup sekali aku kehilanganmu, setelahnya tak kan kubiarkan orang lain memisahkan kita, walau itu Ibu kandungku sendiri." Tak ada sejejak pun keraguan dalam setiap kata yang keluar dari bibir Sean. Begitu lantang dan jelas. Tubuh Ruby bahkan bergetar, deburan rasa haru dan tak percaya terus saja bermunculan saat pria yang sudah menikahinya itu mantab memilihnya dibandingkan dengan seorang Ibu yang sudah melahirkannya.


"Apa Mas tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang diambil. Memilihku dan menikahiku?." Hah, benarkah Ruby bertanya demikian sedangkan Sean sudah menikahinya bahkan sampai dua kali.


"Tentu saja. Apa semua yang telah kulakukan belum cukup untuk membuktikan seberapa besar kesungguhanku padamu, Ruby." Meski nada bicara Sean terdengar tenang, mamun penuh penekanan disetiap kata.


"Aku takut kau menyesal." Ruby sadar. Ia bisa berdiri seperti ini sekarang, semuanya karna Sean. Ia tentu bukanlah siapa-siapa tanpa dukungan dan cinta kasih dari Sean.


"Untuk apa menyesal, karna sedari duluaku tau, jika kau pantas untuk bisa aku perjuangkan." Seperti itulah Ruby bagi Sean. Ruby adalah hidupnya dan juga semangatnya. Tak perduli pada sang Ibu yang seakan selalu memaksakan kehendaknya. Sean kian mantab memilih Ruby. Ruby adalah rumah yang paling nyaman untuk pulang. Tempat ia berkeluh kesah dan juga mencurahkan kasih sayang.


"Ruby, aku bahkan sudah tak sabar untuk cepat-cepat mencetak adik untuk Celia. Aw.." Sean memekik saat Ruby mencubit pinggangnya. Perempuan itu melirik pada Sang sopir yang sepertinya mendengar ucapan menggelitik Sean.


Tbc.