My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Kedatangan Sean



Rasa kantuk masih melanda seorang pria yang terbaring di atas ranjang. Sinar mentari bahkan sudah menyengat, hingga menerobos celah kecil di atas jendela kamar, namun seorang Sean masih enggan untuk membuka ke dua mata. Semalaman ia tak bisa tidur. Dalam fikirnya hanya dipenuhi Ruby dan Wira. Mengira-ngira hal apa saja Wira lakukan saat bertamu ke rumah Fatimah.


Kau kalah start, Sean.


Sean memaksakan ke dua matanya untuk terbuka meski teramat lengket. Setelah terbuka, ia pun bangkit. Melangkah gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Berfikirlah, Sean. Tak mungkin kau hanya diam saja saat berada dalam situasi seperti ini, dan apakah kau rela melepaskan Ruby dan Celia begitu saja?.


Sean menguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Mengusir hawa panas yang menjalar disekujur tubuh. Katakanlah jika Sean cemburu. Ya, Sean memang cemburu saat Wira terlihat mencoba mendekati sang mantan Istri. Sebagai seorang pria dewasa, Sean tentu bisa memahami maksud dari seorang Wira yang memberi tumpangan pada Ruby sebagai awal pendekatan. Hari ini modus mengantar pulang, lalu besok apa lagi?.


Sean menjambak rambutnya, frustrasi.


Tidak, ini tidak boleh dibiarkan.


Sean menarik handuk yang tergantuk kemudian melilitkannya di tubuh selepas selesai mandi. Pagi ini ia harus mulai menyusun rencana. Bukan hanya berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Ruby namun juga putri kecilnya, Celia.


Segera ia memakai pakaian yang cocok. Berpenampilan rapi namun tidak berlebihan. Selepas memastikan penampilannya sempurna, Sean pun bergegas mencari kunci mobil dan menunggangi kuda besi tersebut ke beberapa tempat yang sudah masuk dalam daftar kunjungannya.


💗💗💗💗💗


Kenapa rasanya semenyenangkan ini?.


Sean sedang berada di sebuah toko perlangkan bayi paling lengkap di kota. Bibirnya sensualnya tak henti mengukir senyuman saat menyentuh benda-benda yang baginya terlihat sangat lucu jika dikenakan bayi perempuan seusia putrinya.


"Celia pasti cantik jika memakai pakaian ini." Sean menatap gaun berwarna baby pink dengan bahan yang terasa nyaman begitu menyentuh kulit. Sean tersenyum simpul, membayangkan wajah Celia yang pastinya memiliki paras hasil perpaduan antara dirinya dan Ruby.


Selepas tersenyum, raut wajah Sean berubah murung. Pria itu menghela nafas panjang. Rencananya ia akan berbelanja berbagai macam barang sebagai buah tangan ketika mengunjungi Celia di rumah Fatimah. Ada rasa cemas yang melanda, memikirkan kemungkinan ia akan diusir selepas memperkenalkan diri sebagai ayah dari Celia pada Fatimah.


Setidaknya kau sudah berusaha, Sean. Selebihnya, berdoalah. Kelak perjuanganmu akan menemukan jalannya.


Sean selalu berfikir optimis dan terus menyemangati diri. Bagaimana pun dirinya adalah ayah biologis dari Celia. Meski Ruby menolak untuk kembali, namun setidaknya ia masih memiliki Celia yang di dalam tubuh bayi itu mengalir darahnya.


💗💗💗💗💗


"Bibi, bolehkan aku menggendong putriku?."


Tanpa ragu, Fatimah menyerahkan Celia yang tertidur dalam gendongannya pada Sean. Pria itu menerima tubuh Bayi Celia dengan hati-hati. Meski terlihat sangat kaku, namun ia berusaha sebaik mungkin agar Celia merasakan nyaman dalam dekapnya.


Seperti letupan kebahagiaan yang tak terkira saat Sean untuk pertama kali menatap buah cintanya sebegitu dekat. Sepasang mata yang semula hanya berkaca-kaca itu, kini mulai luruh, menyebabkan isak yang tak mungkin lagi tertahan. Sean penuh kehati-hatian menciumi pipi gembul Celia. Bayi cantik itu tak terganggu, ia tetap terlelap hingga Sean dapat sepuasnya meluapkan rasa rindu pada sang putri yang sudah tak sanggup ia tutupi lagi.


Akan tetapi, apa yang paling ia takutkan tak benar-benar terjadi. Fatimah, perempuan paruh baya berhati lembut itu menerima kedatangannya dengan tangan terbuka. Awalnya perempuan itu kebingungan, sebab sama sekali tak mengenalinya, hingga Sean mulai memperkenalkan diri dan pelan-pelan menjelaskan jika dirinya adalah mantan suami Ruby sekaligus Ayah dari Celia.


Fatimah terkejut luar biasa. Wajahnya ketakutan bercampur cemas. Fatimah cukup kebingungan untuk mengambil sikap. Sampai pada saat Sean kembali menjelaskan apa yang sudah ia ketahui tentang kebenaran sang mantan Istri, barulah Fatimah merasakan kelegaan dan membiarkan Sean untuk bisa melihat Celia secara dekat dan juga menggendongnya.


"Bibi, tolong pegang Celia sebentar." Sean kembali memberikan Celia pada Fatimah. Pria teringat untuk menurunkan barang-barang pembeliannya yang memenuhi bagasi.


"Nak Sean," ucap Fatimah yang kebingungan melihat banyaknya barang yang dibawa Sean.


"Ini pakaian dan perlengkapan Celia."


"Tapi..." Fatimah menelan ludah. Ini terlalu banyak, lantas ia ingin menjawab apa jika Ruby bertanya?.


"Tidak apa, Bi. Celia adalah putriku. Barang-barang ini sangat tak sebanding dengan perjuangan Ruby selama ini dalam mengandung dan melahirkan putriku tanpa aku." Gurat wajah penuh penyesalan kembali tergambar di wajah tampan Sean. Ia kembali mengendong Celia dan menimangnya. Menciumi pipi gembul sang bayi yang sama sekali tak tergangu akan ulah ayahnya.


Fatimah tak banyak berbicara. Ia memberikan waktu pada Sean untuk menghabiskan waktu berdua dengan putrinya. Fatimah menatap ke arah luar. Hari mulai beranjak petang dan mungkin sebentar lagi Ruby dan Kiran akan pulang. Bagaimana ini?.


Meski cemas, namun Fatimah tak bisa meminta pada Sean untuk pulang. Fatimah justru bergerak ke arah dapur untuk mempersiapkan makan malam. Membiarkan Sean dan yang kini mulai memasuki kamar Ruby, berniat untuk menidurkan bayi itu ke ranjang.


💗💗💗💗💗


Saat Ruby dan Kiran baru saja menuruni sebuah taksi online, kedua perempuan itu dibuat penuh tanya pada kendaraan mewah yang terparkir di halaman rumah Fatimah. Siapakah pemiliknya?.


Ke dua perempuan itu tak ingin menebak. Mereka mengucap salam dan memasuki rumah saat tak melihat siapa pun yang terlihat di ruang tamu.


Kiran langsung menuju kamar, begitu pun dengan Ruby. Ia masuk begitu saja saat melihat pintu kamarnya yang terbuka lebar. Dan, Ruby terkesiap begitu melihat sosok pria berada di dalam kamar dirinya dengan posisi berdiri memunggunginya.


Ia ingin berteriak, namun saat pria itu berbalik badan dan menempelkan jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat untuk diam, Ruby pun mengurungkan niat.


Ruby terpaku di tempat. Ia melihat Sean yang tengah menimang Celia dengan mata sesekali terpejam seolah begitu menikmati aktifitasnya.


Ruby tersentuh. Sejenak ia menikmati pemandangan yang tersaji di hadapan. Pria gagah dengan balutan kemeja berwarna abu yang membalut pas ditubuh kekarnya itu tengah berusaha menidurkan bayi kecil dalam gendongan. Andai saja...


Ruby lekas keluar dari kamar, ia tak kuat jika lebih lama lagi menatap pemandangan yang justru semakin menambah luka dalam diri.


Tbc.