My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Sean Menemui Margareth Part. 3



Suasana Makan malam ini terasa berbeda bagi Margareth. Di meja makan dirinya duduk menikmati hidangan yang disajikan pelayan dengan ditemani anak, menantu serta cucunya. Margareth menghela nafas saat menatap kursi kosong yang biasanya di duduki Selena. Merasa ada kehampaan saat putrinya tak bisa makan dan berkumpul bersama.


Apa aku terlalu mengekang keinginan putra putriku?.


Sembari mengunyah makanan, Margareth menatap Sean yang juga sedang menikmati makan malamnya dalam diam. Pria yang mirip dengan mendiang suaminya itu tampak lebih segar dan terawat selepas memutuskan untuk kembali bersama Ruby.


Pandangan wanita paruh baya itu kini beralih pada menantunya, Ruby. Perempuan itu dengan gerakan tangan yang terstruktur, terlihat anggun saat menyuapkan makanan ke dalam mulut. Mulutnya pun tidak berdecap apalagi mengeluarkan suara. Sean dan Ruby makan dengan rapi dan tak bersuara. Margareth akui jika Ruby memiliki paras yang rupawan dan tak kalah dengan putri rekan-rekan sosialitanya. Hanya saja cara berpenampilan Ruby dan strata sosialnya yang tak setara membuat Margareth kurang menyukai Ruby sebagai anak menantunya. Tapi kini, kenapa penampilan dan apa yang ada pada diri Ruby seakan berbeda 180 derajat dari sebelumnya.


"Ibu, tidak baik melamun di hadapan makanan," tegur Sean pada sang Ibu yang terlihat melamun dan tak memakan hidangan di piringnya.


Margareth tersentak, ia geragapan dan langsung mengambil gelas berisi air mineral untuk diteguk.


"Eh, Iya. Ibu akan makan." Margareth terlihat salah tingkah, saat Sean memergoki dirinya mencuri padang pada Ruby dalam waktu cukup lama.


Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga untuk melanjutkan pembicaraan tentang Selena yang sempat terjeda.


Ruby duduk di samping Sean. Seperti biasa ia memasang wajah setenang mungkin dengan jemari yang selalu ia tautkan ke jemari sang suami. Celia sudah terlelap dan ditemani oleh Nina.


"Sean, Ibu menerima lamaran Bagas bukanlah tanpa alasan. Ya, Ibu akui jika kekayaan dialah yang menjadi pertimbangan utama. Tapi ketahuilah, tanpa harta mana mungkin seorang perempuan akan bahagia sebab hidup tidak hanya cukup bermodalkan cinta." Bukannya begitu 'kan? Perut juga tidak kenyang jika hanya makan cinta?.


Sean terlihat menghela nafas dalam. Memang benar ucapan sang Ibu, tapi sikap Margareth yang terang-terangan menerima lamaran karna harta, pria itu berfikir jika sifat sang Ibu belumlah berubah. Tetap materialistis dan mengukur kebahgiaan berdasarkan kemewahan.


"Ya, aku tau Ibu, tapi yang jadi masalah adalah Selena sendiri menolak lamaran ini."


"Itu karna Selen belum mengenal bagas dan melihat wajahnya. Ibu yakin jika mereka dipertemukan, Selen pasti akan berubah fikiran." Margareth lekas menyambar ucapan sang putra. Ia tetap mempertahankan keputusannya. Menikahkan Selen dengan bagas dan ia akan mendapatkan mobil mewah yang pria muda itu tawarkan.


"Apa Ibu sudah mengenal bagas dengan baik? Ya, aku hanya tidak ingin peristiwa beberapa minggu lalu kembali terulang. Selen nyaris dilecehkan pria pilihan Ibu, dan Ibu tentu masih ingat kejadian itu 'kan?."


Margareth menelan ludah.


"Ibu bahkan lebih percaya ucapan pria itu dari pada mendengar penjelasan Selena. Tahukah Ibu jika perasaan Selen benar-benar hancur saat itu. Ia meninggalkan Ibu dan memilih tinggal bersama kami. Sampai saat ini pun Selen selalu menolak jika diminta pulang. Sekarang Ibu mengerti kan jika Selen lebih nyaman bersama Ruby dari pada tinggal dengan Ibu kandungnya sendiri?."


Margareth terdiam, ia terlihat salah tingkah. Memang benar, jangankan untuk pulang, mengangkat telpon darinya pun tak pernah.


"Lalu apa yang bisa Ibu lakukan?."


Sean terdiam sejenak. Saat terbesit sebuah ide, pria tampan itu lekas meminta sang Ibu untuk menghubungi Bagas lewat panggilan Vidio.


Aku hanya sedang ingin memastikan saja.


Panggilan pun terhubung. Wajah Rio muncul di layar ponsel milik Margareth. Perempuan paruh baya itu menyapa Bagas dengan suara dibuat selembut mungkin.


Sean melengos. Sungguh perlakuan yang amat bertolak belakang saat Ibunya berbicara dengan Ruby.


"Ibu, katakan pada dia jika aku ingin bicara." Sean mengulurkan tangan, meminta pada sang Ibu untuk memberikan ponsel itu padanya. Awalnya Margareth ragu, tapi bagaimana lagi, Sean pasti akan semakin melarang lamaran itu terjadi. Mau tak mau Margareth pun memberikan ponselnya dengan perasaan khawatir.


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Anggap saja kalian sedang berkenalan selayaknya calon adik dan kakak ipar pada umumnya," titah sang Ibu yang takut jika putranya sampai memaki bahkan memarahi calon menantunya.


Sean tak menjawab namun terdengar pria itu berdecak.


"Halo, selamat malam calon Kakak ipar." Suara dan wajah seseorang di layar ponsel mengembalikan kesadaran Sean. Demi apa pun Sean hendak tertawa begitu wajah Rio terpampang nyata di kamera dengan senyum lebarnya.


Ya tuhan, tengil sekali kau rupanya. Awas saja nanti.


"Sean," panggil Margareth saat sang putra bertanya banyak hal pada Bagas.


"Kau yakin ingin melamar dan menikahi adikku?." Suara Sean lantang terdengar.


"Yakin, Kak. Kau bisa memenggal kepalaku andai aku menyakiti hati adikmu." Suara Bagas di seberang pun tak kalah lantang. Margareth sampai melotot pada Sean begitu kata 'Memmenggal kepala' singgah di telinga.


"Baik, aku pegang kata-katamu." Sean menyerahkan kembali benda pipih itu pada Margareth. Kini perempuan itu bisa menghela nafas lega dan memutuskan panggilan.


"Bagaimana, Sean. Kau dengarkan jika Bagas tidak main-main untuk menikahi adikmu?."


Sean mengangguk, ia melirik pada sang istri yang menundukkan kepala. Pria itu tau jika sebenarnya Ruby merasakan hal yang sama dengannya, menahan tawa. Akan tetapi karna tak ingin tertangkap basah oleh Ibu, maka perempuan itu menyembunyikannya dengan cara menundukan kepala.


"Ya, aku sudah dengar, tapi sekarang yang menjadi tugasku adalah keyakinan Ibu."


"Sean, apa maksudmu?." Tanya Margareth tak mengerti.


"Ibu benar-benar menerima Bagas menjadi suami Selena?."


"Tentu."


"Walau apa pun yang terjadi?."


Margareth berdecak kemudian terkekeh.


"Sean, berhentilah bermain-main. Bukankah sudah Ibu terangkan jika Ibulah yang menginginkan pernikahan ini terjadi?."


Bagus.


"Baiklah. Jika sudah yakin maka tugasku hanya tinggal membawa Selena pulang."


Senyum di bibir Margareth merekah sempurna. Akhirnya.


"Ibu harap kau berhasil membawa adikmu pulang bagaimana pun caranya. Kau putraku, Sean. Sudah sepantasnya kau menunjukan baktiku padamu."


Sean mengangguk yakin.


"Tentu saja, asal jika aku bisa membawa Selen kembali maka Ibu harus bisa menerima Ruby sebagai Istriku. Memperlakukan Ruby dan Celia dengan baik sama seperti Ibu memperlakukan Bagas. Bagaimana?."


"Sean!." Margareth membentak sang putra.


"Kenapa, apa permintaanku terlalu berat Ibu? Ibu bahkan tak sepadan dengan perjuanganku membawa Selen pulang. Ingat, Ibu. Dari awal Selen memang tak menginginkan lamaran terjadi, maka jika aku tak bergerak bisa dipastikan jika lamaran ini pun akan gagal."


Margareth menghela nafas dalam. Amarah mulai berkobar di kedua mata. Akan tetapi ia coba sekuat tenaga untuk menahannya.


"Baiklah, Ibu sanggupi permintaanmu asalkan kau berhasil membawa adikmu pulang."


Sean tersenyum samar, begitu pun dengan Ruby yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi suami dan mertuanya dalam diam.


Tbc.