My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Keinginan Sean



Sean sedang mengemasi beberapa barang penting miliknya dalam sebuah tas. Kali ini Sean sudah mantap untuk memulai hidup kembali bersama Ruby dan Celia. Dia harus kembali berfikir tentang masa depannya. Masa depan yang akan ia jalani bersama Ruby dan putri kecilnya.


Laramgan Margareth tak lagi digubris. Sean tidak mengira jika sifat sang Ibu tak jua berubah. Ambisius dan selalu menakar semuanya dengan uang dan kehormatan.


Aku hanya akan hidup bahagia bersama dengan Ruby, Ibu. Hanya Ruby dan bukan yang lain. Maafkan aku.


Sean memang tak menyebutkan jika ia sudah tau akan kebenaran dari semua yang menyebabkan perceraiannya dengan Ruby kala itu. Sebab, berterus terang pun akan percuma mengingat sifat Margareth yang gemar berkelit.


Sean mempercayakan Rumah pada penjaga keamanan dan Art di rumahnya. Mungkin ia tidak akan pulang dalam waktu cepat. Saat ini dirinya sedang memiliki rencana untuk membeli sebuah rumah di kota xx sebagai tempat tinggal Ruby dan Celia.


Pria berbadan tegap itu tak mampu membendung rasa bersalah dan juga rasa prihatin, begitu mendapati kenyataan jika Ruby tinggal menumpang di rumah Fatimah selepas bercerai darinya.


Membayangkan hidup Ruby yang serba pas-pasan dan harus banting tulang saat mengandung Celia, Sean pun berfikir untuk bisa membalas pengorbanan yang sudah sang istri lakukan dengan sesuatu yang sepadan.


Jika hanya dengan sebuah rumah, sepertinya belum sepadan. Tapi dengan apa? Tapi bagaimana jika Ruby malah menolaknya?.


💗💗💗💗💗


Selepas beberapa jam menempuh perjalanan, Sean kembali memasuki rumah yang sudah satu bulanan ini ia tempati. Rasa penat menyapa. Tubunya pun benar-benar lelah. Sean yang hendak merebahkan tubuh ke atas ranjang, sontak bangkit kembali selepas teringat sesuatu.


Sean mencari keberadaan ponselnya untuk menghubungi seseorang teman yang beberapa waktu lalu sempat menawarkan salah satu rumahnya untuk dijual kepada Sean. Rumah berlantai dua dengan ukuran sedang dan memiliki kolam renang di belakang itu sepertinya cukup mencuri perhatian Sean, walau hanya melihat fotonya saja.


Pria itu menerawang, membayangkan keluarga kecilnya hidup bahagia menjalani hari-hari di sebuah rumah yang terlihat nyaman tersebut. Senyum dibibir seksi Sean terukir. Demi apa pun ia sudah memimpikan momen-momen indah bersama Ruby dan Celia disetiap tidur malamnya.


Sean menyingsingkan lengan baju, menatap pada arloji di pergelangan tangan.


"Ruby pasti sedang bekerja, sepertinya sekarang aku harus menemui Bibi Fatimah untuk meminta pertimbangan juga mulai mempersiapkan semuanya." Sean bangkit. Merapikan penampilannya yang mulai berantakan sebelum mengendari kembali kuda besinya menuju rumah Fatimah.


💗💗💗💗💗


Fatimah cukup terkejut saat Sean kembali mengunjungi rumahnya, terlebih saat ini posisi Ruby sedang bekerja.


"Nak Sean, mari masuk." Fatimah yang sedang menggendong bayi Celia membuka pintu rumahnya lebar dan mempersilahkan pada tamunya untuk masuk ke dalam.


"Terimakasih, Bibi." Sean pun masuk ke dalam rumah. Seperti semalam, Sean datang tidak dengan tangan kosong. Cukup banyak barang yang ia bawa, bukan hanya barang untuk kebutuhan Celia tapi juga bahan pokok lainnya.


"Bibi, berikan Celia padaku. Aku ingin menggendongnya," pinta Sean begitu melihat putrinya terlelap dalam gendongan Fatimah.


Perempuan paruh baya itu dengan senang hati memberikan Celia, memindahkan tubuh gembul Celia pada pelukan sang Ayah.


"Putri Ayah sedang tidur. Hem wanginya, cantiknya." Sean menciumi pipi gembil Celia saking gemasnya. Berceloteh ini itu, puji bayinya ini dan itu, meski tak mendapat respon sebab bayi itu justru kian terlelap saat dalam buaian sang Ayah.


💗💗💗💗💗


Celia sudah dipindahkan ke dalam kamar saat Sean meminta izin untuk berbicara penting dengan Fatimah. Bagi Sean, Fatimah adalah orang yang tepat untuk ia ajak tukar pendapat. Selain Fatimah orang terdekat Ruby, Fatimah pun bisa memahami akan situasi yang Sean dan Ruby tengah alami. Terbuka saat Sean datang dan mengakui jika dirinya adalah Ayah dari Celia. Meski amarah dan kekecewaan sempat terlihat di wajahnya, namun perempuan paruh baya itu sebisa mungkin meredam dan membiarkan dirinya menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Ya, sebaik itulah Fatimah. Sifatnya sungguh bertolak belakang dengan sifat Ibu kandungannya, Margareth. Mereka bak langit dan bumi.


Sean mulai berbicara. Ia menceritakan kejadian saat mendatangi kediaman orang tuanya, berniat untuk kembali pada Ruby. Fatimah dengan seksama mendengarkan. Fatimah turut prihatin. Ia tak menyangka jika Margareth sebegitu membenci Ruby dan berniat untuk terus memisakan gadis itu dengan putranya.


"Bibi, sungguh aku tidak mampu hidup terpisah dari Ruby, terlebih di antara kami sudah ada Celia saat ini." Menurut Sean, Fatimah pasti sudah mengetahui kemana arah pembicaraannya.


"Saya ingin kembali pada Ruby, Bibi. Apakah Bibi mengizinkan?."


Perempuan paruh baya itu terlihat menghela nafas dalam. Ia pun teramat kebingungan untuk memberi jawaban. Apakah akan menolaknya, atau justu mengizinkan.


"Nak Sean, meski pun Ruby sudah Bibi anggap seperti Ibu sendiri, namun Bibi pun tidak bisa memberi izin atau pun menolak. Bibi akan menyerahkan semua keputusan pada Ruby."


Sean tertunduk. Masalah yang menyangkutnya cukup pelik. Jika semua keputusan ada pada Ruby, pria itu cukup sangsi, mengingat kesalahan yang ia perbuat di masa lalu terbilang fatal.


"Tapi aku takut jika Ruby sampai menolak." Terasa begitu menyakitkan. Sean bahkan tidak akan sanggup hidup, andai Ruby menolak keinginannya untuk rujuk.


"Wajar jika Nak Sean takut. Terlebih selepas mendapati jika Ruby kerap diperlakukan secara tidak baik oleh orang terdekat Nak Sean. Ruby pasti trauma, andaikata bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu sudah menyakitinya. Bahkan bisa saja mereka mengulangi kejahatan mereka selepas Nak Sean dan Ruby kembali hidup bersama."


Sean menelan salivanya susah payah. Benar. Kemungkinan dan ketakutan Fatimah bisa saja terjadi. Tapi ia pun tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk bisa kembali bersama Ruby.


"Sesungguhnya Bibi tidak yakin jika hidup Ruby dan Celia akan aman bila Nak Sean berniat untuk rujuk. Maaf, bukan berniat untuk mencegah, Akan tetapi Nek Sean pun pasti tau alasan apa yang melandasi Bibi untuk bisa berbicara demikian."


Sean kembali menghela nafas dalam. Ya, ucapan Fatimah lagi-lagi benar dan kembali menyadarkannya jika keselamatan Ruby dan Celia pasti akan dipertaruhkan andaikan dirinya kembali bersama.


Tidak Sean, kau jangan takut. Jika kau tepat mengambil tindakan, Ruby dan Celia pun akan aman bersamamu.


Sean mengepalkan kedua tangan. Bukankan hidup butuh perjuangan saat kita punya keinginan. Dan PR terbesar bagi seorang Sean adalah meyakinkan Ruby dan membuktikan jika gadis itu akan aman saat memutuskan untuk kembali padanya.


"Bibi tidak perlu khawatir. Aku berjanji pada Bibi untuk selalu melindungi Ruby dan Celia, meski nyawaku taruhannya. Bibi boleh pegang kata-kataku." Sean mengucap janji pada Fatimah dengan sunguh-sungguh. Sean ingin membuktikan pada Fatimah, sebesar apa dirinya berusaha untuk membersamai Ruby dan menjadi Ayah serta Suami yang bertanggung jawab untuk Ruby dan Celia.


Fatimah masih terdiam. Ia tak bisa menjawab dan memilih menyerahkan semua keputusan pada Ruby.


Tbc.