My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Wira Bersama Kiran



Selena menatap layar ponsel dalam gengaman tangan. Dalam posisi berbaring diranjang, sedari tadi fikiran gadis itu terus melayang jauh selepas berbalas pesan dengan Rio. Katakan jika perasaan Selena sedang tak menentu. Setelah pertemuannya dengan Rio beberapa bulan lalu, tak ayal perasaan rindu itu kerap kali datang.


Ah, benarkah Rindu? Sedangkan Selena tau jika hubungan asmaranya dengan Rio saat sekolah dulu hanyalah sebatas modus.


Jemari Selena mengulir layar ponsel, rupanya gadis itu tengah mengamati beberapa foto Rio yang tersimpal dalam akun sosial media milik sang pria.


"Tampan," puji Selena setengah bergumam tanpa sadar. Bibir tipisnya mengulas senyum tipis secara tiba-tiba. Hem, mengapa kondisinya berubah seperti ini. Saat dirinya berada jauh dari sang Pria, kenapa wajahnya seakan bergentayangan dalam ingatan?.


"Hei, mungkinkah aku mulai tertarik padamu, atau bahkan sebenarnya dari dulu aku sudah tertarik, namun tidak menyadari?." Selena berdecak. Ia bermonolog dengan menatap foto Rio dalam layar ponselnya.


Setengah beberapa saat berfikir, gadis itu tergelak tipis. Dia sadar, dia perempuan. Mungkin saja dia tertarik, tapi bagaimana dengan Rio. Sedangkan pria itu sendiri tau, jika apa yang terjadi di masa lalu adalah dirinya yang ingin memanfaatkan kepintaran sang pria dengan berkedok menjadi kekasihnya.


Ah, Entahlah.


Selena tak tau seperti apa kehidupannya setelah ini. Untuk kembali ke rumah Ibunya, sepertinya sukar. Margareth pasti akan kembali memaksanya untuk bersama Leo. Akan tetapi jika terus berada di rumah sang Kakak, apakah tidak akan merepotkan?.


"Apa aku bekerja saja?. Ya, seperti Kak Ruby." Selena seperti menemukan ide cemerlang. "Tapi kan aku tidak bisa memasak," keluh Selena dengan bibir mengerucut. Jangankan memasak, menyentuh alat-alat masak saja tidak pernah. Cukup menyesal Selena dalam posisi seperti ini saat tak ada keahlian kusus yang ia miliki sebagai modal bekerja.


Jika mengandalkan ijazah pendidikan, Selena bahkan tak terfikir untuk membawanya saat kabur beberapa hari lalu.


Fikiran yang semrawut membuat Selena memejamkan mata. Ah, sepertinya lebih baik tidur saja dari pada memikirkan sesuatu yang justru membuatnya kian pusing dan tak jua menemukan jalan keluar.


Sepasang mata beningnya mengerjap, saat benda pipi di tangannya bergetar. Pandangannya terfokus pada layar ponsel. Ia kian menajamkan pandangan, saat nama Rio mengirimkan sebuah pesan yang menanyakan tentang keberadaannya.


Kenapa tiba-tiba dia menanyakan di mana keberadaanku.


Selena pun membalas pesan Rio. Berterus terang saja. Selena pun menjawab jika dirinya sedang berada di luar kota atau lebih tepatnya tinggal di kediaman kakak kandungnya.


💗💗💗💗💗


Saat Sean mengukuhkan Ruby Resto & Cafe menjadi kepemilikan sang istri, di situ pula posisi Kiran sebagai kasir berubah. Gadis itu diangkat menjadi orang kepercayaan Ruby sekaligus diangkat menjadi Asisten Manager, mendampingi Wira yang menjabat sebagai Manager umum Ruby Resto & Cafe.


Bertepatan dengan acara pertemuannya dengan Devita, Sean yang saat itu memiliki janji untuk menghadiri pembukaan sebuah resto milik salah satu sahabatnya, meminta pada Wira untuk datang menjadi perwakilan. Pria itu juga meminta pada Wira untuk membawa serta Kiran, mengingat saat ini jabatan gadis itu yang sudah resmi menjadi asistennya.


Wira menghela nafas dalam. Di lobi resto ia berdiri menunggu. Sesekali mengecek arloji di pergelangan tangan sebab Kiran tak jua datang. Pria itu sudah terlihat tampan dan rapi dengan setelan jas lengkap dan sepatu yang mengkilap. Rambut yang hitam dan tersisir rapi ke belakang, kian menyempurnakan penampilannya pada malam hari ini.


Langkah kaki tak beraturan terdengar mendekat ke arahnya. Wira bisa menebak jika Kiranlah pemilik langkah kaki berisik itu.


"Maaf, Tuan. Sudah membuat anda menunggu," ucap Kiran dengan nafas tersengal. Gadis itu menundukkan kepala pada Wira.


Sang pria melirik sekilas pada sang gadis. Kiran terlihat anggun pada malam ini. Kemeja kerja dan celana bahan yang biasanya ia pakai saat bekerja, kini berganti dengan gaun berwarna Navy selutut yang dipadukan dengan sepatu hak tujuh sentimeter berwarna putih.


Wira lekas mdmbuang pandangan. Lewat gerakan tangan ia meminta pada sang gadis untuk lekas memasuki kendaraan.


Dalam perjalanan kedua insan itu saling diam. Selain canggung, tak punya topik obrolan juga menjadi salah satu pemicu utamanya mereka memilih diam.


Saat mengatur kemudi, sesekali pandangan Wira tertuju pada ponsel pintar miliknya yang tak berada jauh dari jangkauan.


Pada malam ini sesungguhnya Wira berniat untuk menolak perintah Sean. Willy sedang dalam kondisi demam saat ia tinggalkan. Satu sisi ia ingin menemani sang putra, namun disisi lain perintah sang atasan pun tak bisa ia abaikan begitu saja.


Menempuh perjalan selama kurang lebih 30 menit, Wira dan Kiran sudah sampai di sebuah bangunan yang menjadi tujuan mereka.


Begitu memasuki bangunan berlantai tiga itu, para pemilik beserta rekan lainya tampak menyambut kedatangan Wira dan Kiran. Mereka dijamu sebaik mungkin oleh sang pemilik acara. Selepas menyapa dan memberi sambutan, sebuah Resto milik rekan Sean tersebut Resmi dibuka. Wira terlihat terlibat obrolan dengan beberapa rekan-rekannya sesama Manager dari resto berbeda-beda.


Sementara Kiran yang memang baru pertama kali menghadiri perhelatan semacam ini, cukup rikuh dan kurang percaya diri untuk bergabung dalam pembicaraan dengan para tamu lain. Ia cukup berdiri atau pun duduk di samping Wira. Saat pria itu bangkit dan berjalan menyapa rekan, Kiran mengikutinya. Kiran sudah seperti ekor Wira. Di mana Wira berada di situlah ada Kiran yang setia mengikuti.


Ya tuhan, aku dan Tuan Wira sudah seperti anak itik dan induknya.


Meski malu, tapi mau bagaimana lagi. Ia tak ingin sampai tersesat andaikan terpisah dari Wira di tempat ramai seperti ini.


"Lelah, Tuan," jawab Kiran jujur seraya meringis menatap Wira.


"Kenapa tidak duduk?."


"Karna saya takut terpisah dari anda, Tuan." Setengah malu perempuan itu berucap. Tapi biarlah, bukankah lebih baik jujur dari pada mereka terpisah dan ia tak tau jalan pulang.


Wira berdecak seraya geleng kepala.


"Apa kau fikir aku akan pulang dan meninggalkanmu di sini begitu saja?."


"Ya, mungkin saja begitu."


Lagi, Wira mengelengkan kepalanya. Ia baru sadar jika perempuan yang ia bawa adalah bocah. Bocah polos nan lugu yang tak berpengalaman.


"Kiran, kau sudah makan?." Wira jadi terfikir, sebab saat dirinya makan bersama rekan lain ia seperti tak melihat Kiran ikut makan dan hanya duduk atau pun berdiri di sampingnya.


Saat gadis itu menggeleng, di situ pulalah Wira menghela nafas dalam.


Ya Tuhan Kiran.


Ponsel pintarnya yang tersimpan di saku jas berdering saat Wira berniat untuk menyuruh Ruby menikmati hidangan lebih dulu sebelum mereka pulang. Saat ponsel itu sudah diraih, tubuh Wira menegang saat tertera nama sang Ibu lah yang menghubunginya.


Ada apa ini? Kenapa perasaanku tak menentu.


"Halo, Ibu. Ada apa, bagaimana keadaan Willy?."


"......."


Wajah Wira terlihat terkejut, Kiran yang melihat perubahan ekspresi Wira begitu menerima panggilan pun dibuat bertanya-tanya.


"Apa? Ya, suruh supir untuk membawa Willy secepatnya ke rumah sakit. Aku akan pulang dan langsung menuju rumah sakit." Wira menutup panggilan. Ia hendak berlari ke luar pintu utama resto namun panggilan Kuran membuat langkah pria itu terhenti.


"Tuan."


Wira menoleh, ia meraup wajah kasar. Ia baru ingat jika datang bersama Kiran.


"Tuan ingin kemana?." Wajah gadis itu ketakutan bercampur bingung. Terlebih ia tau jika Wira sempat ingin meninggalkannya.


Kiran, bagaimana ini. Mana mungkin dia aku tinggalkan di tempat ini sendirian, tapi putraku?.


"Ayo ikut aku." Tanpa ba bi bu Wira lekas menarik tangan Ruby dan membawa gadis itu keluar dari keramaian.


"Tuan, kita akan kemana. Pulang?." Padahalkan mereka belum berpamitan pada penyelenggara acara, begitu fikir Kiran.


Wira masih diam. Ia membuka pintu samping dan meminta Kiran untuk lekas masuk ke dalam mobil.


"Ayo, Kiran. Kita tak punya banyak waktu." Begitu Kiran sudah duduk di kursi, Wira lekas masuk dan mengatur kemudi.


Kiran tak berani bertanya saat melihat Wira melajukan kecepatan kendaraan dengan cukup kencang di jalanan. Ia hanya bisa pasrah dan menerima di mana Wira akan menurunkannya.


"Kita akan ke rumah sakit, putraku sedang mendapatkan perawatan. Maaf aku tidak bisa mengantarmu lebih dulu, jadi aku akan msmbawamu ke rumah sakit lebih dulu sebelum pulang ke rumahmu."


Kiran hanya bisa mengangguk. Tak berani menjawab apa lagi menolak terlebih laju kuda besi yang mereka tunggangi semakin kencang.


Tbc.