
Tangis terdengar disebuah ruangan yang kini diisi oleh beberapa insan yang terhanyut dalam fikiran masing-masing. Selena menangis dalam dekapan Sean. Air matanya tumpah ruah saat Margareth memintanya pulang untuk kembali dijodohkan dengan seseorang. Di sisi lain, Ruby menatap adik dan Kakak yang tengah berpelukan itu dalam diam.
Entah apa yang sedang Ruby fikirkan, namun satu yang pasti kejadian yang menimpan adik iparnya kini hampir sama dengan rumah tanggannya dan Sean. Dulu, andaikan Sean tidak terus mendesak dan meyakinkan, tentunya mereka tidak akan pernah bersatu dan menjadi sepasang suami istri. Lalu, apakah kisah mereka akan diikuti oleh Selen?. Ah, sepertinya tidak. Ibu mertuanya bahkan kembali memasangkan Selena dengan pria yang tak gadis itu kenal.
"Aku tidak mau, Kak." Selena terus merengek. Meminta pada Sean untuk bisa membujuk sang Ibu agar membatalkan rencana perjodohan.
Sean menghela nafas dalam. Ia usap puncak kepala sang adik dengan sayang.
"Iya, Kakak pasti akan bicara pada Ibu." Tak berbeda dari Selen, Sean pun kebingungan untuk bisa berbicara pada Margareth dan meminta agar hal semacam ini tak lagi terjadi. Perjodohan, perjodohan. Sean bahkan sudah muak mendengar kata 'perjodohan'.
"Berjanjilah, Kak. Aku sudah muak, dan tang ingin lagi mengikuti kemauan Ibu. Aku berhak memilih jalanku sendiri. Aku juga berhak menikah dengan orang yang aku cintai, dan tidak dengan cara seperti ini, Kak." Selena kian tersedu. Huh, membayangkannya saja tidak sanggup saat dirinya menikah dengan orang asing.
Selena mengusap pipinya yang basah dengan kedua telapak tangan. Kini ia beralih untuk memeluk Ruby.
"Kak," panggil Selen begitu ke dua tangannya memeluk Ruby. Sepertinya dalam dekapan Ruby terasa lebih hangat apalagi perempuan itu juga balas memeluknya. Ruby juga mengusap rambut legam sang adik ipar sekaligus menyeka bulir bening yang terus mengalir di pipi.
"Bantu aku, Kak. Tolong bicaralah pada Ibu untuk bisa menggagalkan perjodohan ini." Selena bersembunyi di dada Ruby. Seperti bocah, gadis itu berusaha mencari kenyaman pada seseorang yang dirasa bisa membuatnya nyaman.
Ruby sontak melirik ke arah Sean. Suaminya tersebut bahkan belum berani memberikan keputusan. Apalagi dia.
"Baiklah, setelah ini Kakak akan membawa Ruby dan Celia ke kota xx untuk menemui Ibu. Mungkin dengan bicara secara langsung dapat membuka fikiran Ibu hingga mengurungkan rencana perjodohanmu."
Ruby dan Selena terkesiap. Raut wajah keduanya berubah pias.
"Tapi Kak. Bagaimana kalau Ibu..., jika Kakak datang bersama Kak Ruby dan Celia?." Entahlah. Ketidaksukaan yang ditunjukan secara terang-terangan oleh sang Ibu pada Ruby, tak ayal membuat Selena cemas dan ketakutan. Ia hanya tak ingin keadaan akan semakin runyam andai Sean benar-benar datang menemui sang Ibu dengan membawa serta Kakak iparnya dan juga Celia.
"Kau tenang saja, kami pasti bisa melaluinya." Sesungguhnya keyakinan Sean hanya untuk membuat perasaan sang adik lebih tenang. Ia pun tak tau pasti akan reaksi sang Ibu nanti ketika ia datang dengan membawa Ruby dan Celia. Akan tetapi, andai dirinya tetap diam dan tak menghalangi rencana perjodohan, pasti adiknya akan benar-benar menjadi korban ketamakan dari sang Ibu.
"Sayang, ayo bersiap. Kita sudah tak punya banyak waktu lagi."
"Tapi Selena."
Sean berfikir sejenak. Jika Selena ikut, maka sama saja dengan menyerahkan sang adik begitu saja pada Ibunya. Jadi, akan lebih baik jika Selena tetap tinggal.
"Selena tetap di rumah. Akan lain cerita bila Selena ikut bersama kita."
Ruby mengangguk. Selepas menenangkan Selena, perempuan itu meminta pada sang adik ipar untuk beristirah sementara dirinya dibantu dengan Karen, mempersiapkan beberapa pakaian dan keperluan lain ke dalam beberapa koper. Hah, sepertinya Ruby pun harus berpenampilan maksimal untuk menemui Ibu mertua yang dulu kerap mengatainya lusuh dan kampungan.
💗💗💗💗💗
"Wow, kau cantik sekali, sayang," puji Sean begitu memasuki kamar dan mendapati Ruby sudah terlihat cantik dengan dres putih bermotif bunga dengan sepatu hak berwarna senada yang menjadi alas kakinya.
"Terimakasih," jawab Ruby malu-malu. Pipinya bersemu merah saat Sean menghadiahi kecupan di sana.
"Kau sudah siap?."
Ruby pun mengangguk.
"Dan Celia?."
"Celia sedang bersama Nina dan sepertinya putri kita pun sudah siap."
"Baguslah." Sean menjawil gemas puncak hidung sang istri. Tak tahan, ia pun juga membubuhkan kecupan di sana.
"Ayo berangkat." Sean menarik lebuh tangan sang istri. Saat hendak melangkah, tangan Ruby seperti menahan seolah enggan untuk beranjak. "Sayang, ada apa?." Sean menatap wajah sang istri. Ya Tuhan, wajah yang semula berseri kini tampak muram selepas dirinya meminta untuk lekas keluar dan memulai perjalanan. Mungkinkah Ruby takut jika dipertemukan dengan Ibunya.
"Aku..., takut." Selepas berucap perempuan itu menundukkan kepala. Sean spontan memeluk tubuh sang istri dan menenggelamkan wajah cantik perempuan itu pada dada bidangnya.
"Jangan khawatir, apa pun yang akan terjadi kita akan menghadapinya bersama. Selama masih ada aku, kau apa selalu aman dan terlindungi," janji Sean pada Ruby yang sejatinya hanya sedikit mengurangi ketakutan sang istri. Bukan tanpa alasan jika Ruby berfikir demikian. Sean yang pernah termakan hasutan sang Ibu mertua dianggap Ruby kurang konsisten dan memiliki pendirian yang tak kukuh. Ruby hanya takut jika kedatangannya kali ini kembali menghancurkan rumah tangannya seperti satu tahun yang lalu.
Ruby tak menjawab. Sampai mereka melakukan perjalan menuju Ibu kota dengan membawa Celia dan pengasuhnya.
💗💗💗💗💗
Ruby tersenyum tipis. Ya, Celia memang Sean versi perempuan. Dan tak salah jika paras cantik nan menggemaskan putrinya, nyaris merupai sang Bibi, Selena.
"Sayang, ayo turun," titah Sean yang mana membuat Ruby tersadar kemudian menatap pandangan ke arah luar mobil. Ya, sudah waktunya untuk turun dan menemui Ibu mertua.
Jantung Ruby seakan berdetak lebih kencang. Tubuhnya mulai gemetar dengan disertai peluh dingin yang mulai menitik di pelipis dan telapak tangan. Ruby ketakutan.
"Sayang, tenanglah." Sean terus menyemangati dan membantu Ruby untuk keluar dari mobil.
Sejenak Ruby memejamkan mata. Benarkah dirinya akan muncul di hadapan Margareth dengan wajah ketakutan? Sudah benarkah dirinya? Lantas apa gunanya segala kerja keras yang ia lakukan dalam merubah pempilan yang tujuannya untuk pamerkan pada Margareth. Ruby masih diam, hingga beberapa saat kemudian ia menghela nafas dalam.
Semangat Ruby. Sekaranglah waktu yang tepat untuk membungkam mulut Ibu mertua yang dulu merendahkanmu dengan semua pencapaianmu.
Ruby berjalan dengan langkah Ringan. Saat Nina meminta untuk mengambil alih Celia, Ruby menolak.
"Biarkan Celia bersamaku, Nina."
Nina pun menganggukkan kepala, membiarkan sang majikan mengendong putri kecilnya yang terlelap.
Sean mengandeng tangan Ruby saat pintu rumah utama sudah dibuka oleh seorang pelayan paruh baya.
"Tuan Sean, Nyonya Ruby." Paruh baya itu terkejut dengan kedatangan Tuan mudanya yang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Terlebih mereka datang dengan membawa anak kecil dalam gendongan.
"Bibi, kami ingin bertemu dengan Ibu." Sean langsung mengutarakan maksud dan tujuan. Ia tak ingin berbasa basi sebab sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Tunggu sebentar, Tuan. Bibi akan panggilkan," jawab sang pelayan kemudian mempersilakan pada tamunya untuk masuk.
Ruby menatap kesegala penjuru ruangan. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama seperti saat terakhir kali ia datang ke rumah ini.
Sean membawa sang istri untuk duduk. Berdampingan dengan tangan saling berpautan. Kini wajah Ruby tak lagi menyiratkan rasa takut apalagi cemas. Dia duduk dengan tegak dan tenang sementara dagunya terangkat seolah menunjukan jati dirinya kini bukan lagi perempuan lugu yang mudah untuk ditindas.
Langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa detik kemudian sosok perempuan paruh baya dengan riasan tebal dan pakaian mahal muncul. Dahi perempuan itu sontak mengernyit dan kemudian sepasang matanya membelalak sempurna. Raut wajahnya menyiratkan ketidak sukaan, terlebih pada sosok perempuan yang sedang mengendong anak.
Anak. Diakah ...
"Untuk apa lagi kau datang, Sean? Bukankah saat itu kau bahkan berani mengusirku? Dan apa ini? Kau datang dengan membawa perempuan kampungan ini?." Margareth menelisik penampilan Ruby.
Hei kenapa sepertinya ada yang berubah.
"Aku datang atas nama Selena untuk mencegah perjodohan yang lagi-lagi sudah Ibu rencanakan."
Margareth menyerigai.
"Apa perdulimu, toh Ibu sudah mendapatkan calon yang tepat untuk adikmu. Dia tampan dan yang pasti punya segalanya yang bisa menjamin kebahagiaan hidup putriku untuk kedepannya." Margareth bahkan sudah membayangkan mengendarai mobil baru bersama rekan-rekan sosialitanya.
"Tapi Selena menolaknya, Ibu. Dia terus menangis dan memintaku untuk datang dan membatalkannya. Apakah Ibu tega merengut kebahagiaan putri Ibu sendiri dengan cara menikahkan dengan pria yang tak ia cintai!." Sean mulai tersulut emosi. Suaranya yang semula lembut mulai meninggi, hingga Celia yang terlelap mulai tergangu dan mengeliat dalam gendongan sang Ibu.
"Tutup mulutmu, Sean. Tau apa kau tentang kebahagiaan adikmu. Selena itu gadis pencinta kemewahan. Sifatnya sama denganku, dan Ibu yakin jika Bagas adalah pria yang tepat untuk Selena." Margareth tak mau kalah, ia juga meninggikan nada bicaranya yang mana membuat Celia membuka mata dan mengerjap.
"Da da da da." Celotehan mengemaskan itu keluar dari bibir mungil Celia yang melebarkan mata dan kebingungan menatap ke sekeliling.
"Ba ba ba ba."
Semua orang terdiam. Pandangan mereka sontak tertuju pada Celia yang berceloteh dan tersenyum menatap bergantian ke arah beberapa orang dewasa yang berada satu ruangan dengannya.
Margareth terhenyak. Ia tatap wajah bocah perempuan yang mirip dengan Sean, ah tidak, dia malam mirip Selena saat kecil.
"Na na na na."
Margareth menelan ludah. Ia terdiam begitu mendapati putri Sean itu sedang menatapnya dan sesekali tertawa. Jantungnya berdetak kencang, terlebih saat bocah perempuan yang mirip Selena itu menggerakkan tangan ke arahnya seolah ingin disapa.
Tbc.