
Sean tak lagi menghiraukan tatapan penuh tanya para pekerja Restonya saat dirinya diketahui kian kerap bolak balik di area dapur Resto. Sean tak perduli, dengan langkah lebar ia susuri setiap sudut ruang resto hingga memasuki dapur untuk menemui Ruby.
Mario dan para koki lain spontan menundukkan kepala begitu Sean datang. Tak terkecuali Ruby, perempuan cantik itu juga melakukan hal yang sama.
Nafas Sean naik turun setelah langkahnya terhenti tepat di hadapan Ruby.
"Ruby," panggil Sean masih dengan nafas setengah memburu akibat setengah berlari memburu waktu untuk lekas menemui Ruby.
"Ya, Tuan," jawab Ruby. Tetap memanggil Sean Tuan di hadapan orang lain yang mana membuat pria berbadan tegap itu sontak mendelik.
Ya Tuhan, Ruby
"Ikut Aku," titah Sean.
"Baik."
Sean melangkah lebih dulu, disusul oleh Ruby. Para koki lain saling pandang. Mereka seolah saling melempar tanya lewat tatapan sekaligus penasaran. Kenapa akhir-akhir ini Ruby terlihat sering dipanggil ke ruangan Bos besar. Memang Ruby sudah melakukan kesalahan sefatal apa sampai harus berhadapan dengan Bos mereka.
Mario mengendikkan bahu, mencoba untuk pura-pura tak perduli. Akan tetapi sebagai seseorang yang cukup dekat dengan Ruby, hati pria itu pun juga diliputi kecemasan. Ingin tau lebih dekat, namun ia pun tak berani. Mengingat seseorang yang berurusan dengan Ruby adalah Bos di tempat kerjanya.
Ruby mengikuti langkah Sean. Perempuan itu dibuat bertanya-tanya, kiranya apalagi yang akan dibicarakan Sean sampai harus memanggilnya. Terlebih posisk keduanya sedang bekerja.
Sean membuka pintu, selepas Ruby masuk pria itu pun menutup rapat pintu ruang kerjanya kembali.
"Ruby maaf, aku sampai harus memanggilmu di saat jam kerja seperti ini. Akan tetapi aku pun sudah tidak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi," ucap Sean seraya mengiring langkah Ruby untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruang kerja. Perempuan itu tak menolak, sedangkan sepasang telingannya berusaha mendengar ucapan sang mantan suami sekaligus menebak untuk tujuan apa sampai digiring masuk ke ruangan ini.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya untuk alasan apa Tuan sampai meminta saya untuk datang kemari?."
Sean mengertakkan gigi. Gergetan ketika mendengar Ruby masih memanggilnya 'Tuan'.
"Ruby seperti yang sudah aku katakan padamu tempo hari, aku ingin memintamu kembali. Kita kembali menikah dan hidup bahagia bersama Celia. Aku mohon Ruby, izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku di masalalu. Aku ingin membahagiakanmu dan juga Celia untuk hari ini dan seterusnya. Kau mau 'kan Ruby untuk kembali bersamaku?." Sean menangkup kedua tangan Ruby yang kini sudah ia dekatkan ke dadaa. Membiarkan Ruby untuk bisa merasakan debaran di daadanya yang bertalun.
Ruby tertegun. Ia berada dalam dilema.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Tuan. Apa mereka mengatahui jika anda menginginkan saya untuk kembali?."
Sejenak Sean terdiam dan itu sudah cukup menjawab pertanyaan Ruby. Perempuan itu pun tersenyum tipis, dan berusaha melepas kedua tangannya dari gegaman tangan besar Sean.
"Sudah saya duga, sampai kapan pun keluarga Tuan tidak akan bisa menerima kehadiran saya."
Ruby menyentak keras tangan Sean hingga gengaman tangan pria itu terlepas.
"Anda mulai boodoh, Tuan Sean. Nyawaku bahkan bisa melayang andai anda nekat melakukannya!." Ruby mulai murka. Perempuan muda itu bahkan tak bisa membayangkan kejadian apa yang menimpa pada dirinya dan juga Celia andai kata keingginan Sean untuk kembali terealisasi.
"Ruby, tolong dengarkan aku." Sean kembali mengengam tangan Ruby meski perempuan itu terus meronta.
"Ingat Tuan, jangan semakin memperburuk keadaan." Ruby terus menghindar, sementara Sean yang semakin geram, menarik tubuh Ruby hingga terjerembab dalam pelukannya.
"Ruby, dengarkan aku!." Sean setengah berteriak di telinga Ruby. Pelukannya pun dipererat agar perempuan itu berhenti bergerak.
"Aku melakukan semua ini setelah berfikir cukup lama. Kau tau? Aku sempat meminta izin pada Ibu untuk merujukmu secara baik-baik, tapi seperti yang kau tau, Ibu menolak." Tak terasa bulir bening mulai menitik dari sudut mata Ruby, perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Margareth tak sedikit pun menyukainya, dan itulah fakta yang akan ia ingat selama hidupnya.
"Jika Nyonya Margareth saja sudah tak menginginkannya, lalu kenapa anda tetap nekad?." Ruby menatap Sean lekat, sekali lagi ingin memberi pengertian jika apa yang pria itu inginkan bukanlah menjadi yang terbaik untuk mereka. "Tuan, seperti yang sudah terjadi pada pernikahan dulu, semua cara Ibumu lakukan untuk bisa memisahkan kita, dan saya tidak ingin kejadian seperti itu akan terulang untuk ke dua kalinya."
Sean menghela nafas berat, sepasang mata elang itu sudah mulai berkaca. Sean dan Ruby berpelukan dengan pandangan saling menatap lekat. Sean bisa mengerti akan kekhawatiran Ruby dan tak ingin kembali pada hubungan yang sejatinya sudah menyakiti hati. Akan tetapi tekad Sean untuk menebus kesalahan dan membahagian Ruby dan Celia, lebih besar dan sepertinya tak ingin mendengar kata penolakan dari Ruby untuk tak ingin kembali dan peluknya.
"Ruby," panggil Sean.
"Iya."
Tangan Sean terangkat untuk mengusap pipi putih Ruby. Sean sudah tak tau untuk melakukan cara apalagi untuk membuat mantan istrinya itu percaya jika pernikahan yang akan mereka bangun tidak akan hancur untuk ke dua kalinya.
"Aku mencintaimu dan juga menyayangi Celia. Kau tau Ruby, seperti apa tersiksanya diriku saat berada jauh dari kalian." Sean menangkupkan kedua tanggan pada wajah Ruby. Mengusap dan membelai wajah cantik itu penuh kasih sayang. Ada setitik bulir bening yang luruh dari pelupuk mata Sean, dan Ruby bisa melihatnya. Sean menangis. Menangis untuk ke dua kalinya selepas malam ia mengucap talak kala itu.
"Aku akui, aku memang salah Ruby. Kau boleh membenciku. Tapi tolong, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu dan Celia. Beri aku kesempatan bagiku untuk membuktikan ucapanku untuk selalu melindungimu dan putri kita. Kau bisa pegang kata-kataku, dan jika aku gagal," potong Sean, pria itu mengatur nafas, pria itu menunduk dan kian mendekatkan wajahnya pada wajah Ruby. "Kau dan Celia bisa pergi jauh, meninggalkanku untuk selamanya." Bibir Sean bergetar, pria itu mulai terisak dan Ruby amat jelas melihat air mata yang kian deras membasahi pipi Sean sebab jarak keduanya yang teramat dekat.
"Tu-tuan," panggil Ruby. "Stop, jangan menangis," lirih Ruby yang spontan mengusap air mata di wajah Sean dengan ke dua tangan. Suasana mengharu biru, Sean tak kuat menahan tangis hingga meledak di hadapan Ruby. Semua ucapan yang keluar bahkan tak bisa sesali mengingat hal tersebut seakan menjadi cara terakhirnya untuk bisa meyakinkan Ruby. Bukan hanya sekedar ucapan, akan tetapi itu semua pun atas perasaanya dari hati yang terdalam. Sean, sungguh-sungguh ingin kembali.pada Ruby.
"Tuan, Sudah." Penuh kelembutan Ruby mengusap wajah basah Sean. Ia bisa melihat wajah kemerahan dari pria tampan yang kini ada dalam hadapan dan ia ucap kulit wajahnya.
Sean diam, dia tidak bisa berkata-kata dan hanya tangisan yang menggambarkan suasana hatinya.
"Sean Fernandez, aku menerimamu. Aku bersedia menjadi istrimu kembali dan juga menginginkanmu untuk menjadi Ayah terbaik untuk putri kita, Celia," ucap Ruby yang sontak membuat tubuh Sean menegang.
Tbc.