
Untuk pertama kalinya Willy makan satu meja dengan orang-orang yang belum lama dikenal. Jika wajah Kiran sudah pernah dilihatnya, namun berbeda dengan Fatimah. Bocah tampan itu terlihat menikmati makanan di piringnya. Sesekali ia menatap ke sekeliling, di mana sang ayah dan dua orang perempuan berbeda usia sedang menikmati makanan yang sama dengannya.
Willy tersenyum. Pria kecil yang memiliki paras mirip sang Ayah itu nampak menikmati momen yang seperti mengambarkan sebuah keluarga utuh pada umumnya. Ada Ayah, nenek dan juga..
Ibu...
Willy kini menatap pada Kiran. Tiba-tiba wajah sang bocah berubah muram.
Wira yang sedang menikmati sarapan ke duanya dalam diam, melirik pada Willy yang tiba-tiba menghentikan aktifitasnya, memasukan makanan ke dalam mulut mungilnya. Wira akui, meski usia putranya belum genap tiga tahun, namun berkat didikan sang pengasuh membuat bocah itu sudah bisa makan sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Willy, ada apa?." Wira bertanya pada sang putra.
Bocah imut menatap pada sang Ayah, kemudian melirik pada Kiran dengan bibir mengerucut, menggemaskan.
"Aku ingin disuapi," jawab Willy masih mengarahkan pandangan pada Kiran seolah meminta pada gadis itu untuk menyuapinya.
"Ayo, buka mulutnya. Biar Ayah suapi," titah sang Ayah yang justru membuat Willy kian menekuk wajah.
"Tidak mau," tolak Willy.
"Loh, kenapa. Bukankah tadi Willy bilang jika ingin disuapi?."
Pembicaraan antar anak dan ayah itu membuat Kiran dan juga Fatimah menghentikan makan. Kiran menatap Willy yang juga sedang menatapnya.
"Aku ingin disuapi Kak Kilan," jawab Willy dengan pandangan penuh harap.
Apa lagi ini.
Wira berdecak. Sang anak semakin banyak tingkah. Permintaannya terkadang membuat Wira malu, namun sang putra akan terusmerajuk jika keinginannya tak dituruti.
"Ah, baiklah. Ayo, Kakak suapi." Kiran mulai menyendok makanan dan meminta Willy untuk membuka mulut.
"Aaaa.... Aammm. Yeayy..." Setelah satu sendok makanan masuk ke dalam mulut, Willy bertepuk tangan riang. Wajahnya begitu menyiratkan kebahagiaan, dan Wira bisa merasakan hal tersebut.
Di sudut lain Fatimah mengamati interaksi antara putrinya dan putra dari atasannya yang beberapa bulan lalu sempat berkunjung ke rumah. Meski Kiran sendiri tak pernah bercerita padanya tentang Wira, tapi kenapa hubungan putrinya dengan anak kecil ini sudah terlihat dekat?.
Kiran asik menyuapi Willy hingga mengabaikan makanan di piringnya. Wira sempat menegur dan meminta Kiran untuk melanjutkan makan namun gadis itu menolak dan terus menyuapi Willy sampai makanan di piring bocah itu habis.
"Ah, kenyang." Willy mengusap perutnya yang sudah terisi.
Kiran tersenyum, kini giliran ia untuk menghabiskan sarapannya. Dalam diam Wira mengamati pergerakan Kiran. Ah, kenapa gadis semuda dia begitu telaten menjaga anak kecil yang bukan biah hatinya, dan kenapa juga Willy cepat sekali akrab dengannya?.
💗💗💗💗💗
Apakah akhir pekan ini menjadi akhir pekan yang berkesan bagi seorang Wira? Jawabanya tentu 'Ya'. Bukan hanya berkunjung ke rumah Kiran dan sarapan dengan menu sederhana, Wira juga membawa Kiran dan Willy ke sebuah taman yang tak jauh dari rumah Kiran atas rengekan Willy.
Wira terduduk pasrah di atas kursi taman berbahan kayu jati. Pria berusia matang itu menatap Iba pada Kiran yang berlarian di atas rerumputan hijau bersama Willy. Pria itu menyesal lantaran tak membawa serta pengasuh Willy hingga Kiran-lah yang mengambil alih pekerjaan perempuan paruh baya itu untuk menjaga putranya.
Aku harap setelah kejadian ini Kiran tidak langsung mengundurkan diri dari kafe.
Itulah Do'a Wira. Pria itu hanya takut jika Kiran kapok dikerjai putranya hingga berimbas pengunduran diri dari pekerjaannya. Jika hal yang ia takutkan benar-benar terjadi, maka demi apa pun ia pasti akan dihantui rasa bersalah seumur hidup.
"Willy, sudah. Hentikan, Sayang. Lihatlah, Kak Kiran sudah kelelahan mengejarmu." Setengah berteriak Wira memanggil putrinya. Ingin rasanya Wira mengantikan Kiran untuk berlarian mengejar putranya namun apa daya, Willy bilang tidak akan seru jika bermain dengan Ayah yang memiliki wajah serius dan jarang tersenyum. Ya, tuhan. Ini penghinaan ataukah sebuah kejujuran?. Ingin rasanya Wira berteriak begitu, tapi apalah daya, Wira pasti tak akan mampu melakukannya.
"Sebental, Ayah," jawab Willy dengan berteriak pula. Bocah menggemaskan itu terkekeh saat Kiran berhasil menangkap tubuhnya kemudian mengelitiki pingganggnya. Kiran sesungguhnya sudah merasa kelelahan, hanya saja melihat binar kebahagiaan dalam diri Willy saat bermain dengannya, Kiran tak tega walau sekedar untuk beristirahat.
Wira mendongak. Mentari amat terik menjelang tengah hari dan putranya serta Kiran masih asik bermain di tempat terbuka.
"Willy, kemarilah. Ayo beristirahat. Bukankah harinya panas, pasti kalian juga butuh minum." Wira kembali berseru. Ketika mendengar kata minum, Willy yang memang sudah kehausan berhenti berlari. Anak itu menoleh pada Kiran, lekas mengengam tangan gadis itu dan membawanya untuk mendekati sang ayah di bawah pohon rindang.
"Ayah, Willy haus."
Kini Wira yang kelabakan. Ia bahkan belum mempersiapkan minuman.
"Em, sayang. Tunggu sebentar, ya. Ayah akan membeli minuman untukmu dan juga Kak Kiran, sebentar saja." Setelah berucap Wira lekas berlari mencari kedai yang tak jauh dari taman. Bukan hanya minuman, Wira juga membeli camilan dan makanan lain untuk menganjal perut.
"Ayah datang." Willy tersenyum senang begitu sang Ayah datang dengan membawa banyak makanan untuknya.
Tanpa beralaskan tikar, ketiganya duduk di atas rerumputan sembari menikmati camilan yang dibeli Wira. Senyum di bibir bocah itu tak pernah luntur. Ada saja pemandangan yang membuat Willy tak henti tersenyum. Selama dirinya dilahirkan, ini untuk pertama kalinya Willy berada di taman dengan ditemani Ayahnya. Selama ini Willy selalu menghabiskan waktunya di dalam rumah. Jika keluar, mungkin hanya di pusat perbelanjaan atau pun kerabat orang tuanya.
Willy kesepian. Jauh dari lubuk hati terdalam jika anak itu pun butuh kehidupan layaknya keluarga anak lain seusianya.
Jika melihat pada Kiran, entah mengapa Willy mengambarkan gadis tersebut seperti seorang Ibu. Lembut dan kasih sayangnya membuat Willy kagum dan menyusun rencana untuk bisa bertemu dengannya setiap hari.
Saat pertemuan pertama di rumah sakit, Wira yang menyebut jika Kiran adalah teman kerja, fikiran bocah itu langsung bekerja. Ikut ayahnya bekerja, sesungguhnya itu hanyalah alasan, dan benar saja. Willy menemukan Kiran di sana, di tempat ayahnya bekerja.
Dalam diam bibir mungil itu tersenyum penuh makna. Saat ini hanya dialah yang tau kemana rencananya akan bermuara. Terucap doa disaat dirinya mengingat sosok Kirana.
Tuhan, jadikan dia Ibuku.
Tbc.