My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Tekad Seorang Pria



...Apa yang akan kau lakukan jika sudah seperti ini, Rio?...


Duduk di sebuah kursi, Rio termenung. Kejadian beberapa menit lalu senantiasa terbayang di wajahnya. Selena, gadis masa lalu yang masih teramat ia cinta terlihat memasuki sebuah hotel dengan seorang pria dan beberapa puluh menit kemudia keluar lagi dengan penampilan yang... Acak-acakkan.


Selena, kenapa dia keluar seorang diri dan pakaiannya?.


Banyak pertanyaan mengelanyut. Dari posisinya duduk, terlihat pria yang menjadi rekan Selena keluar dengan dipapah dua orang penjaga keamanan.


Apa yang sebenarnya terjadi?.


"Tuan," panggil seseorang yang menyadarkan Rio dari lamunan.


"Ya."


"Saya sudah mendapatkan informasi tentang nona Selena sesuai dengan yang anda minta," lapor sang pria yang merupakan seorang mata-mata yang ditugaskan untuk mencari tau tentang Selena dan keluarganya.


"Katakan."


Pria berpakaian serba hitam itu mulai berbicara. Dengan saksama Rio mendengarkan. Kedua tangannya terkepal begitu mendengar perjodohan Selena dengan pria kaya yang merupakan rancangan dari ibunya.


Sudah aku duga.


Matrealistis, satu kata yang sepertinya cocok disematkan pada Margareth, menurut Rio. Dari dulu sepertinya Rio cukup faham dengan sifat perempuan yang merupakan Ibu kandung dari mantan kekasihnya tersebut.


Rio yang merupakan salah satu siswa berprestasi disekolah dengan bermodalkan beasiswa, sedari awal memang mencintai Selena meskipun pria itu tau jika sang gadis hanya memanfatkan kepintarannya saja demi sebuah tujuan.


Rio memanglah seorang guru di salah satu sekolah, tapi siapa yang mengira jika pria muda itu memiliki resto cepat saji dengan beberapa anak cabang yang tersebar di beberapa titik kota sebagai usahanya. Bisnis kuliner yang tentunya mendatangkan pundi-pundi rupiah yang bisa dikatakan sedikit sebagai penghasilannya.


Rio menghela nafas dalam. Sesungguhnya Rio hanyalah berasal dari keluarga biasa yang tak sebanding dengan Selena. Tekad dan keadaanlah yang mampu membuat Rio yang hanya seorang putra buruh pabrikm mampu menjadi seorang wirausahawan muda.


Putus dan dijauhi Selena menjadi sebuah cambukan bagi seorang Rio saat itu. Meski ia kerap mendegar selentingan dari beberapa teman yang mengatakan jika dirinya hanya dimanfaatkan oleh Selena, Rio tetap tak percaya. Sebab yang ia tau, sang gadis pun cukup nyaman saat berdua dengannya.


"Rio, aku tidak mau. Makanan ini tidak enak," rajuk Selena, gadis itu menolak begitu menerima cap berisi bulatan baso ikan dengan baluran saus manis dari tangannya.


Rio terdiam. Ia tergun untuk sejenak kemudian memasang senyum menawannya beberapa detik kemudian.


"Ya sudah, jika kau tidak mau." Rio membawa cap itu kembali ke tangannya. "Lalu kau ingin makan apa?." Rio bertanya pada Selena dengan suara lembut. Memberikan penawaran pada sang kekasih untuk memilih makan yang suka di stand pinggir jalan tempat mereka berdiri saat ini. Padahal pria itu tau jika Selena menyukai baso ikan, tapi kenapa gadis itu menolak secara terang-terangan saat sudah dibelikan?.


Pandangan Selena menyapu kesekeliling dengan tatapan tanpa minat.


"Tidak, kau saja. Aku masih kenyang. Lagi pula seluruh makanan di tempat ini, bukanlah seleraku."


Tubuh Rio meneng, begitu mendengar jawaban dari mulut sang kekasih. Begitukah sejatinya jika seluruh makanan di tempat ini bukanlah makanan yang Selena inginkan.


Rio mengerti sekarang. Ia tatap nanar cup berisi baso ikan tersebut yang tak lagi mengepulkan asap. Rupanya sebatas ini kah perasaan Selena padanya. Sebuah cinta yang diselimuti dusta dan keterpaksaan. Ia memang tak kaya, tapi setidaknya Selena bisa menghargai kerja keras dan perjuangannya.


Hari selanjutnya, Rio memilih menjaga jarak. Sempat terfikir apakah Selena akan perduli dan meminta maaf, namun nyatanya sungguh tak jauh dari dugaan. Selena ikut menghindar dan menjauh. Bahkan sampai ujian kelulusan berlangsung, ke duanya tak lagi saling bertegur sapa apalagi duduk bersama. Mereka saling menjaga jarak, hingga pesta kelulusan berlangsung.


Rio menunduk dalam. Berulang kali ia menghela nafas dalam, kemudian menegakkan kepala, memandang kedua orang tuanya yang duduk dijajaran kursi wali murid, dengan perasaan bersalah. Rio tau, orang tuanya pasti kecewa, namun sepasang paruh baya itu tetap tersenyum dan bertepuk tangan atas keberhasilan sang putra.


Belum habis kekecewaan Rio, selang beberapa jam Selena menemui dan mengatakan jika hubungan cinta keduanya hatus berakhir sampai di sini. Entah apa alasannya. Selena sendiri tak menyebut sedangkan Rio tak ingin tau. Mereka berpisah dan memilih jalan masing-masing.


Jika Selena dapat dengan mudah masuk ke Universitas mana pun yang ia mau, lalu bagaimana dengan Rio?.


Rio selalu meyakini jika apa pun yang sudah terjadi dalam hidup adalah sebuah pelajaran. Kerap diabaikan dan disepelekan karna berasal dari keluarga biasa, membuat tekad Rio untuk menjadi orang yang suksek dengan bekerja keras, kian bulat.


Rio tetap kuliah, di sebuah Universitas yang cukup ternama. Ia juga mulai bekerja. Bekerja apa pun itu termasuk menjual koran dan tukang ojek online pun ia lakukan.


Dua tahun bekerja serabutan dan nyambi kuliah, akhirnya Rio memiliki modal sendiri untuk bisa membuka usaha sendiri. Gerai makan cepat saji yang cukup viral di kalangan anak muda, menjadi satu usahanya. Dengan bantuan sang Ibu, Rio mempersiapkan bahan sebelum dijual.


Lima tahun Rio berjuang. Membangun usaha sekaligus menyelesaikan kuliahnya. Bersyukur sebab semua usaha yang ia lakukan memang tak mengkhianati hasil.


Impiannya untuk menjadi seorang guru pun terwujud. Di salah satu sekolah ia mengabdikan diri untuk menjadi seorang pengajar. Sementara usahanya kini sudah semakin sukses. Bukan lagi kedai pinggir jalan, Rio sudah memiliki Resto cepat saji dengan beberapa anak cabang. Sungguh pencapaian yang luar biasa untuk seorang anak muda yang hanya berbekal kenekatan serta kerja keras untuk mewujudkan semua impiannya.


Seorang pria yang dulunya dipandang sebelah mata oleh seorang gadis, Kini sukses dan mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Rio tak menyangka jika sakit hatinya, membuahkan sebuah keberhasilan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.


Terimakasih luka. Kau membuat tekadku lebih kuat berkali lipat sampai membuahkan hasil seperti ini.


Saat itu, Rio sendiri tak tau akan ia tunjukan pada siapa keberhasilannya, selain pada orang tuanya. Setelah selena, Rio seperti enggan berhubungan dengan gadis lain.


Sesungguhnya ia sudah beberapa kali bertemu dengan Sean saat menghadiri acara resmi yang digelar rekan-rekannya sesama Wirausaha muda. Rio tentu tau jika Selena adalah adik dari Sean, sebab dua kakak beradik itu memang anak dari seorang pengusaha cukup berpengaruh di ibu kota.


Sampai pada beberapa bulan lalu saat keduanya menghadiri acara yang sama, Rio memberanikan diri untuk menyapa juga berbincang dengan Sean. Dari situlah Rio bisa mengenal Sean, dan menjadikannya teman.


Di situ pulalah tuhan seakan mendengar rintihan hatinya saat tanpa sengaja dirinya dipertemukan lagi dengan Selena, selepas enam tahun lebih tak bertemu. Rio yang berdiri dengan dibalut seragam kerjanya, terpaku begitu jarak dirinya dan gadis yang ia cinta hanya dua meter saja.


Tak berbeda dari Rio, tubuh Selena pun membeku. Ke duanya diam, sampai Selena berinisiatif untuk menyapa lebih dulu. Di sebuah resto anak cabang milik Rio, keduanya bertemu. Sebisa mungkin Rio menyembunyikan identitas dirinya sebagai pemilik Resto pada Selena. Ia ingin terlihat seperti pria sederhana seperti dulu di hadapan Selena, untuk mengetahui seperti apa respon dari mantan kekasihnya itu saat sedang bersamanya.


Aku rasa, ada yang berbeda.


Entah hanya perasaanya saja ataukah sifat Selena yang sudah berubah seiring bertambahnya usia. Gadis itu kini terlihat lebih ramah, namun irit bicara. Saat ia menawarkan camilan dari jajaran kedai pinggir jalan, Selena tak menolak, malah memakannya dengan lahap.


Dipertemuan kedua Rio mengatur skenario seolah-olah sepeda motor miliknya mogok di tengah jalan dan mengharuskan Selena menunggunya cukup lama di tempat yang sudah dijanjikan. Rio sempat mengira jika Selena akan luar biasa marah dan memakinya. Ternya tidak, sungguh diluar dugaan saat gadis itu justru menatap Iba pada Rio yang mendorong motor dengan keringat bercucuran. Belum selesai keterkejutan, Rio yang meminta untuk bertemu di tempat makan pinggir jalan dan berharap Selena akan menolak, rupanya tidak juga. Sampai mereka menghabiskan menu pinggir jalan dan yang dipesan, Rio berfikir jika sepertinya sifat Selena memang sudah banyak berubah. Tentunya lebih baik dari sebelumnya.


Rio menghela nafas. Dari tempatnya duduk saat ini hotel yang beberapa jam lalu di masuki Selena terlihat. Ya, Resto cepat saji milik Rio letaknya memang berdampingan dengan hotel XX.


Tbc.


Note.


Tentang Rio sebelum memberanikan diri untuk menemui Selena di rumah Sean.