
Tak ada yang bisa Kiran lakukan selain mengekori langkah Wira begitu memasuki sebuah rumah sakit yang menjadi tempat putra atasannya itu dirawat. Pernah berfikir untuk pulang sendiri, namun Kiran tak enak hati. Lagi pula ia tak tau jalan. Jika memasan taksi online, ah ia tak ingin lagi merepotkan Wira.
Setengah berlari gadis itu mensejajari langkah lebar Wira saat berjalan. Ia beberapa kali tersandung akibat sepatu hak yang menyulitkan pergerakan ke dua kakinya.
"Hati-hati." Wira menoleh ke belakang, melihat Kiran yang kepayahan mengekori langkahnya. "Aku harus cepat, putraku sedang membutuhkanku." Wira kembali melanjutkan langkah. Ia tak punya banyak waktu untuk menunggu langkah lambat Kiran.
"Tidak apa, Tuan. Maaf sudah menyulitkan anda." Meski kakinya terasa perih, namun Kiran tetap mengikuti Wira hingga menuju sebuah ruang perawatan VIP yang gadis itu yakini sebagai ruangan yang ditempati putra Wira saat ini.
Wirab bergerak cepat untuk membuka pintu perawatan dan memasukinya. Sementara Kiran berhenti, ia mungkin lebih baik jika menunggu di luar ruang perawatan.
"Sepertinya aku harus mengabari Ibu jika akan pulang terlambat. Setidaknya biar ibu tak khawatir," gumam Kiran. Ia pun memilih untuk duduk di jajaran kursi tunggu yang berada di depan ruang perawatan. Satu tangannya lantas merogoh ponsel di dalam tas untuk mengirim pesan pada Fatimah.
"Kiran."
Gadis yang disebut namanya itu terkesiap, kemudian mengadah, menatap wajah seseorang yang memangilnya.
Wira yang beberapa saat lalu sudah masuk ke dalam ruang perawatan, kini keluar lagi. Ia menatap pada gadis yang ia bawa. Kiran sedang memegang ponsel dan duduk di kursi tunggu.
"Hei, kenapa duduk di sini?."
Kiran berjingkat, ia terkesiap saat sepasang mata elang milik Wira menatap tajam ke arahnya.
"Em, ya. Biar saya menunggu di luar saja, Tuan." Kiran tak ingin menganggu kenyamanan keluarga Wira hingga lebih baik jika dirinya tetap berada di luar ruang perawatan saja.
"Ayo masuk," titah Wira. Pria itu menatap tajam pada Kiran yang terlihat kebingungan dan belum beranjak dari tempat duduknya. "Ayo masuk," titah pria itu lagi yang sontak membuat tubuh sang gadis bangkit dan berdiri di sampingnya.
Begitu memasuki ruangan, Kiran dibuat kikuk. Di dalam ruang perawatan VVIP itu terdapat seorang anak laki-laki yang terbaring lemah di ranjang perawatan dengan jarum infus yang menancap di punggung tangan kecilnya. Sementara itu dua orang perempuan yang menjaga sang anak sontak menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Wira," ucap peremuan paruh baya yang duduk di samping ranjang perawatan. Perempuan itu bangkit kemudian mendekat pada Wira. "Gadis ini siapa, Nak?." Paruh baya itu bertanya pada putranya dengan pandangan tertuju pada Kiran.
Kiran mundur perlahan, ia takut hingga bersembunyi di balik punggung Wira.
Semoga dengan masuk ke ruangan ini bukanlah menjadi satu kesalahan untukku.
"Dia Kiran, Ibu. Asistenku di tempat kerja." Wira menjelaskan. Sang Ibu mengangguk tanda mengerti, namun pandangannya tetap tak beralih pada Kiran yang bersembuyi di belakang tubuh putranya dengan menundukkan pandangan.
"Kiran, ayo perkenalkan dirimu pada Ibuku." Wira berucap seraya mengeser tubuh. Mau tak mau tubuh Kiran pun terlihat jelas saat ini.
Kikuk. Gadis yang bingung hendak melakukan apa itu, coba tersenyum untuk mengurangi rasa gugup.
"Ayo, perkenalkan dirimu."
Seperti terhipnotis, Kiran lekas mengulurkan tangan pada perempuan paruh baya di hadapannya.
"Sa-saya, Kiran Bu." Ketar ketir. Kiran takut jika uluran tangannya tak disambut atau malah ditepis oleh Ibunya Wira.
"Saya Ibunya Wira, Nak. Senang bisa berkenalan dengan gadis cantik sepertimu." Di luar dugaan Kiran, Ibu Wira menyambut hangat uluran tangannya.
Kiran merasakan atmosfir berbeda saat memasuki ruangan perawatan tersebut. Entah kenapa dirinya seperti tegang saat terkumpul dalam satu ruangan bersama orang yang belum ia kenal, kecuali Wira.
Seorang perempuan lagi yang usia terlihat lebih muda dari Ibu Wira juga ikut mendekat.
"Nak Kiran perkenalkan, dia ini Ibu Nirmala, pengasuh Willy, putranya Wira sekaligus cucuku."
Aduh, kenapa jadi seperti ini.
Meski kikuk namun Kiran berusaha untuk tetap tenang. Ia menjabat tangan Nirmala yang juga menyambunya hangat.
Dan apa tadi? Willy, putranya Wira? Jadi...
Pandangan Kiran kini tertuju pada anak laki-laki yang terbaring di ranjang perawatan.
"Ibu, maaf tadi saya tidak sempat membeli apa pun untuk--"
"Ah tidak apa," pungkas Ibu Wira cepat. "Ibu tau jika kalian baru saja menghadiri sebuah acara dan terburu-buru datang kemari." Ibu Wira pun mempersilakan pada Kiran untuk duduk di sofa yang tersedia.
Duh, bagaimana ini?.
Wira kini duduk di ranjang bersama sang putra. Pria dewasa itu mengengam tangan sang putra dan menciuminya. Sementara Willy sendiri masih terlelap. Ia sama sekali tak terusik meski sang Ayah menyentuh bagian-bagian tubuhnya.
Perlakuan Wira pada putranya tak ayal membuat penglihatan Kiran terusik. Sepasang mata bening itu kini menatap Wira yang kini sikapnya amat berbeda pada saat di tempat kerja.
"Em, tidak apa Bu. Lagi pula saya sudah mengatakan pada Ibu di rumah jika akan pulang terlambat malam ini."
Ibu Wira mengangguk samar. Meski di hatinya masih terganjal. Pasalnya ini kali pertama putranya membawa seorang gadis ke hadapannya terlebih kehadapan putra sematawayangnya.
"A-ay-ah."
Suara lemah milik anak kecil itu membuat padangan beberapa orang di dalam ruangan sontak menoleh pada sesosok tubuh mungil yang terbaring di ranjang. Willy, putra Wira itu sudah membuka mata.
"Willy, kau sudah bangun, Nak."
Bocah itu mengangguk lemah. Bibirnya yang pucat mengulas senyum pada sang Ayah dengan pandangan mata penuh cinta.
"Ayah menungguku?."
Pertanyaan sang putra seperti sebilah senjata tajam yang menyayat pergelangan tangan. Teramat pedih dan menyakitkan. Wira sadar jika waktu yang ia punya untuk sang anak sangatlah sedikit. Terlebih dalam fase tumbuh kembang diusia putranya sekarang, teramat membutuhkan perhatian serta kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, dan Wira amat sangat merasa bersalah akan hal tersebut.
"Ya, ayah menunggumu dan akan selalu menjagamu."
"Benalkah?." Tersirat keraguan dalam pertanyaan sang putra. Bukankah Ayahnya akan mengucapkan kata demikian, tapi kembali menghilang selepas ia terbangun dari tidur.
"Tentu, Apakah putra kesayangan Ayah mulai meragukan ucapan Ayah?."
Willy sontak menggeleng.
"Pintar."
Pengasuh Willy tiba-tiba mendekat dan berbisik di telinga Wira. Terlihat jika pria itu menganggukkan kepala dan setelahnya pengasuh itu kembali menjauh.
"Putra hebat Ayah sudah makan?." Wira menghela nafas dalam. Saat sakit seperti ini Willy memang tak ingin makan apa pun.
"Belum," jawab Willy.
Kiran yang mendengar suara cadel milik putra atasannya, dibuat penasaran. Kiranya seperti apa paras bocah itu.
Tepat, rupanya sepasang mata Willy yang bergerak bebas itu menangkap sosok perempuan asing yang kini sedang duduk dengan posisi tak jauh darinya.
"Ayah, siapa Kakak itu?." Telunjuk mungil itu menujuk ke arah Kiran. Dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut, sepertinya bocah itu sedang berfikir dalam atau pun mengingat-ingat, dan itu sungguh terlihat menggemaskan bagi Kiran.
"Em, dia Kakak Kiran, teman Ayah di tempat kerja." Ah, mungkin Kiran lebih pantas di perkenalkan sebagai Kakak pada Willy.
"Em, apa Willy belum mengenalnya?."
"Tentu belum, sayang."
Willy menatap Kiran. Bocah laki-laki itu tersenyum lembut pada Kiran namun tak mengucapkan sepatah kata.
Kiran yang juga menatap pada Willy, merasakan adanya magnet secara alamiah yang membuat gadis itu ingin mendekat pada sang bocah.
Benar saja, Kiran bangkit dan berjalan menuju ranjang Willy namun memilih sisi yang berbeda dari Wira.
"Willy sakit?." Mungkin pertanyaan yang terdengar basa basi. Tapi biarlah. Kiran sendiri sepertinya menyukai anak yang ramah seperti putra atasannya ini.
Dengan suara cadelnya, Willy mulai berceloteh. Ia tampak antusias menceritakan ini dan itu pada Kiran.
"Kakak Kilan cantik. Apakah Ibu Willy juga secantik Kakak Kilan?."
Kiran tertegun namun meresapi akan kalimat yang diucapkan Willy.
"Maksud Willy?." Kiran tak mengerti.
"Iya, apakah Ibunya Willy punya wajah secantik Kakak Kilan. Em, kalna Willy belum pelnah melihat sepelti apa wajah Ibu."
Deg.
Bukan hanya Kiran terkejut, namun semua orang yang berada di dalam ruangan juga merasakan yang sama.
Tbc.