My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Kedatangan Rio Part. 2



Ruby baru saja menidurkan Celia di dalam box bayi saat Sean memasuki kamar. Pria itu langsung memeluk tubuh Ruby dari belakang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menghindu aroma Vanila lembut yang selalu menjadi candu baginya.


"Mas, siapa tamu kita?." Ruby bertanya dengan tak membalikkan tubuhnya. Ia membiarkan rasa nyaman dan hangat yang menjalar saat tubuhnya dengan sang suami saling menempel.


"Dia Rio, teman Selena." Sean menjawab ditengah aktifitasnya menciumi pipi dan leher Ruby. Ah, rasanya nyaman sekali saat kedua insan yang saling mencintai sedang beradegan seperti yang Sean dan Ruby lakukan saat ini.


"Rio?." Selena tampak berfikir. Sepertinya ia masih asing dengan nama pemuda yang baru disebut oleh sang suami.


Rio yang mana?


"Kau belum mengenalnya juga belum pernah bertemu dengannya." Sean mengurai dekapan. Dengan tangan saling menggengam, Sean duduk dan membimbing Ruby untuk duduk di pangkuannya.


"Apa dia salah satu teman dekat Selen?." Ruby hanya menebak. Seingatnya Sean tidak akan mengizinkan sembarang orang untuk bisa masuk ke rumah. Bahkan Margareth sekalipun.


Sean terlihat menghela nafas. Ia seperti sedang menyusun kalimat sebelum diucapkannya pada sang istri.


"Rio merupakan mantan kekasih Selen. Tapi itu dulu sekali saat keduanya masih duduk di bangku sekolah." Tangan Sean bergerak untuk mengusap helaian lembut rambut Ruby. Kini pandangan ke duanya saling berpaut dengan tangan Sean yang mendekap pinggang Ruby erat.


"Sepertinya ada beberapa kejadian dialami selena yang luput dari pengawasanku."


"Hem, apa itu?."


Sean menceritakan perihal rencana perjodohan Selena yang diatur oleh Ibunya. Selena sendiri memang tak tertarik, namun tetap menemui sang pria sebab tak ingin mengecewakan Ibunya.


Wajah Sean berubah merah, menahan amarah saat menceritakan jika pria calon tunangan adiknya justru berbuat hal tak senonoh pada Selena, hingga gadis itu berhasil melarikan diri.


Ruby mendengar cerita sang suami deng saksama. Rupaya tak jauh berbeda dari Sean, hidup Selena pun dikendalikan sepenuhnya oleh Margareth.


"Selena tentu menolak selepas tau sifat beejat calon pilihan Ibu."


Ya tentu saja, kalau aku jadi Selena pun pasti akan melakukan hal yang sama. Begitu fikir Ruby.


"Dan kehadiran Rio kemari, sesungguhnya juga masih bersangkutan dengan perjodohan Selena yang gagal."


"Hah, maksudnya?." Raut kebingungan tergambar jelas di wajah Ruby.


"Selena menemui Selena, Rio sempat berbicara padaku, jika dia ingin melamar Selen."


"Apa?."


Sean menganggukkan kepala.


"Ya."


Ruby dibuat penasaran. Sebenarnya siapa sosok Rio, yang katanya masih bagian dari masa lalu adik iparnya itu. Dan apa lagi tadi, Rio ingin melamar Selena?.


"Lalu bagaimana dengan Ibu. Apa beliau tidak akan marah jika Selen sampai menerima lamaran Rio?."


Sean mengelengkan kepala samar. Entahlah, ia sendiri pun tidak yakin. Terkecuali, jika Rio bisa meyakinkan Ibunya.


💗💗💗💗💗


Kenapa penampilan Rio kali ini cukup berbeda?.


Itulah satu kalimat yang terbesit dalam benak Selen saat mengamati penampilan Rio saat ini. Tak seperti hari biasa yang Rio selalu menggenakan seragam khas pengajar saat menemuinya, kini pria yang usianya sama dengannya itu menggunakan kemeja dancelana bahan untuk menutupi tubuh kekarnya.


Terlihat tampan.


Selen memuji Rio dalam hati.


"Rio, kenapa kau bisa sampai sampai ke rumah ini?." Mungkin sudah untuk yang kesekian kali pertanyaan tersebut terlontar dari bibir Selen. Sungguh, bermimpi pun ia tak pernah jika Rio sampai menemuinya sampai ke luar kota seperti ini.


"Ceritanya panjang."


Hah, maksudnya?.


"Kau datang sendiri?." Gadis itu menengok ke arah luar pintu. Sepertinya tak ada siapa pun selain para penjaga.


"Ya, aku datang seorang diri."


"Selena," panggil Rio selepas beberapa saat keduanya terdiam.


"Ya."


"Maaf jika lancang, sesungguhnya aku sudah mengetahui tentang apa yang terjadi padamu, sampai kau memutuskan untuk tinggal di kota ini, bersama Kakakkmu." Pria muda berlesung pipi itu menatap Sang lawan bicara cukup lekat. Nada bicaranya terdengar lembit seperti biasa, namun ucapan Rio laksana guntur yang mampu mengejutkan Selena.


"Maksudmu?."


Tidak mungkin jika Rio sampai tau kejadian di hotel pada malam itu.


"Tentang rencana pertunanganmu."


Selena menghena nafas lega. Toh, mana mungkin seorang Rio bisa sampai hotel dan melihat kegaduhan yang terjadi pada malam itu.


"Dan kejadian saat kau bersama seorang pria di salah satu hotel."


Glek.


Tubuh Selena menegang.


Tidak, tidak mungkin.


"K-kau, kau mengetahuinya?." Bibir Selena bergetar. Bola matanya mulai berkaca.


"Ya, aku mengetahuinya, bahkan saat pria yang bersamamu saat itu keluar dengan dibantu dua orang penjaga keamanan hotel."


Bulir bening dari sudut mata Selena mulai menitik. Malu, perasaan itulah yang kini dirasakan Selena. Gadis itu pun tertunduk dalam dengan kedua tangan salin memilin.


"Selen, kau kenapa?."


Nada bicara Rio yang lembut sanggup mengetarkan hati Selena. Gadis itu mulai mengangkat dagu, namun tak berani menatap mata sang lawan bicara. Selena malu, sangat malu. Bisa saja Rio berfikir yang tidak-tidak tentangnya. Seorang gadis masuk ke sebuah hotel bersama seorang pria yang bukan kerabatnya. Ya Tuhan.


"Tidak apa, aku hanya sedikit tidak enak badan saja," dusta Selen.


"Kau sakit?."


"Mungkin." Gadis itu terkejut saat Rio bangkit dan menempelkan punggung tangan ke kening dan ke dua pipinya. "Rio, apa yang kau lakukan?." Selena coba menjauhkan tubuh dari jangkauan tangan Rio.


"Bukannya kau bilang sedang sakit?." Rio seperti tak suka saat Selena menghidar darinya.


"Tidak, aku berbohong." Rupanya Selena tak bisa berdrama di depan Rio. "Sekarang katakan, apa tujuanmu datang kemari. Sepertinya tidak mungkin jika kau datang tanpa tujuan apa pun mengingat perjalanan yang kau tempuh cukup jauh." Entahlah, Selena seperti tak punya kekuatan bahkan untuk sekadar menegakkan kepala di hadapan Rio. Malu rasanya.


"Melamarmu."


"Apa!."


"Aku ingin melamarmu."


Tidak, Rio pasti salah bicara.


"Ka-kau ingin me-melamarku?." Terbata Selena berucap. Ia sungguh tak percaya. Bagaimana bisa? Mana mungkin?.


"Kenapa? Kau menolak lamaranku?."


Selena menelan salivanya susah payah. Dia harus jawab apa.


"Tidak, Rio. Kau pasti sedang bercanda kan?." Gadis itu ingin tertawa dan ingin mengatakan jika candaan Rio sama sekali tidak lucu.


"Aku serius, Selena. Aku bahkan sudah mengatakan maksud dan tujuanku untuk melamarmu pada Kak Sean."


"Apa?."


Tidak, ini tidak benar.


Mana mungkin. Ia masih terkejut dengan kedatang tiba-tiba Rio, tapi kenyataan yang ia dapat justru lebih mengejutkan lagi. Ya, Tuhan. Bagaimana ini, lalu bagaimana reaksi Ibunya andai tau kejadian ini?.


Tbc.