My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Kegalauan Wira



Bagi Ruby ini seperti mimpi. Wajah cantik terlihat masih kebingungan saat Sean membawanya ke ruang kerja dan membawa tubuhnya untuk duduk di sebuah kursi yang selama ini Sean tempati.


"Sayang apakah kau tau jika sesungguhnya aku membangun Resto ini sebagai bentuk rasa cintaku padamu. Kau tentu masih ingat saat-saat sebelum perpisahan kita dulu, aku kerap ke luar kota dengan alasan bekerja, dan sejujurnya aku hanya sedang mengecek proses pembangunan Resto." Sean tersenyum begitu mengingatnya. Dalam satu bulan, dua kali ia akan meminta izin pada Ruby untuk dinas keluar kota, padahal Sean sedang melihat sejauh mana para arsitek dan buruh bekerja. Membuat suatu bangunan beberapa lain dengan desain sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Ruby terpaku, menatap wajah Sean dengan sepasang mata berkaca. Sungguh ia tak menduga jika sebelum berpisah Sean bahkan sudah berniat untuk memberinya kejutan, namun karna adanya fitnah yang sengaja digulirkan Margareth, membuat rencana Sean hancur berantakan. Akan tetapi, berkat kemurahan hati sang pencipta-lah, rencana yang semula hanya wacana kini dapat terwujud sesuai keinginan.


"Aku juga akan membuat dapur khusus untukmu secara terpisah. Di sana kau bisa menyagikan berbagai menu untuk pelangaan juga bebas menciptakan menu baru dari hasil kreasimu." Sean begitu antusias bahkan melebihi Ruby yang hanya bisa menunjukan wajah tidak percayanya. Pria tampan itu menangkup ke dua sisi wajah Ruby. Membelai pipi putih itu penuh kasih dan berusaha meyakinkan sang istri dengan tatapan mata yang begitu lekat.


"Mas, tapi..."


"Kenapa, sayang. Apa lagi yang masih kau ragukan?." Sean bertanya dengan menjawil dagu sang istri.


"Aku masih ragu dengan kemampuanku. Em, apa kah bisa?." Raut kekhawatiran tergambar jelas pada wajah Ruby. Ia tak yakin dengan kemampuannya sendiri mengingat ia sama sekali tak memiliki pengalaman dalam mengurus suatu usaha sebelumnya. Ruby yang hanya dibesarkan dalam lingkungan panti, membuatnya tak bisa berharap untuk memiliki pendidikan tinggi. Ia bahkan hanya tamatan SMA dan hanya bisa bermimpi untuk masuk ke salah satu Universitas, dan ketika Sean membebankan tugas cukup berat ini padanya, apakah Ruby akan bisa menaklukannya?.


"Sayang, jangan khawatir. Aku akan selalu menemani dan membimbingmu. Aku juga akan merekrut beberapa karyawan terbaik untuk mendampingimu, termasuk Kiran dan Mario. Bagaimana?."


"Begitu mendengar Kiran dan Mario disebut, sepasang mata Ruby kembali berbinar. Mungkin hal tersebut merupakan kabar yang baik untuknya. Mendapat rekan-rekan terbaik yang akan bekerja dengannya.


"Terimakasih, Sayang." Entah sebagai luapan rasa bahagia atau Ruby memang sedang menginginkannya, secepat kilat perempuan itu menubrukkan bibir merahnya dengan bibir tebal Sean. Muah.., Ruby sedikit meelumat bibir Sean, hingga pria itu terbelalak.


Ruby lekas menjauhkan diri saat dilihatnya sepasang mata Sean yang justru terpejam seolah sedang begitu menikmati.


"Ruby," lirih Sean dengan pandangan berkabut gairah, menyadari sang istri menjauh saat dirinya justru menginginkan lebih.


"Kenapa?." Ruby berpura-pura tak mengerti. Ia memasang wajah polos yang mana membuat Sean sigap memenjara tubuh sang istri untuk tak bisa bergerak.


"Nakal kamu ya?." Sean lekas melanjutkan aksi yang semula sempat terjeda. Ruby pun hanya pasrah. Di dalam ruang kerja Sean yang senyap, dua insan saling cinta itu kembali menyatukan rasa lewat sebuah sentuhan. Sentuhan penuh cinta yang membuat Seorang Ruby merasa begitu dicintai oleh Sean Fernandez.


Di lain sisi, seorang pria dengan wajah kusut masai tampak duduk seorang diri di sebuah ruangan. Jika waktu makan siang akan digunakan para karyawan untuk berkumpul juga bergantian dalam mengambil jadwal makan, Wira justru terlihat menyendiri dan menjauh dari keramaian.


Status Ruby yang kini sudah menjadi nyonya Sean Fernandez rupanya cukup sulit untuk dimengerti Wira. Bagaimana tidak, beberapa hari lalu ia bahkan masih berkunjung ke rumah Fatimah dan menyaksikan sendiri jika Celia tak memiliki Ayah. Namun kini apa nyatanya?.


Wira menghela nafas. Ia butuh penjelasan. Sebuah penjelasan yang pastinya mampu memusnahkan rasa penasaran yang kadung bersarang di dalam benaknya.


Akan tetapi pada siapa pula dirinya akan meminta penjelasan?. Wira berdecak kemudian mengusap wajahnya frustrasi.


Pintu ruangan yang sengaja ia tutup, mendadak terbuka saat suara khas daun pintu yang bergesekan dengan lantai membuat pria itu tersentak.


"Tuan, maaf! Saya fikir tidak ada orang." Kiran, gadis itu terkejut saat ingin mengambil suatu barang dan dibuat terkejut begitu mendapati seseorang berada di dalam ruangan. Terlebih kali ini seseorang itu adalah Wira. Seorang Manager yang dikenal memiliki wajah tampan namun angker mengingat pria tersebut yang jarang menebar senyum.


"Kiran, tunggu!."


Tubuh Kiran yang sudah separuh menutup pintu itu menegang, gadis itu memejamkan mata begitu Wira memanggilnya.


Matii aku, kenapa tadi Kak Helen menyuruhku untuk ke ruangan ini.


Kiran tersenyum lebar pada Wura. Pura-pura senang saat sang Manager memanggilnya.


"Ya, ada apa Tuan."


"Kemarilah," jawab Wira yang spontan membuat Kiran meneguk ludah.


Siialan, benar-benar maati aku.


Ragu, namun Kiran mulai berjalan mendekat pada Wira.


"Duduklah."


"Baik." Kiran menghempaskan bobot tubuh di sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan Wira.


"Aku akan bertanya padamu tentang sesuatu hal, dan kuharap kau akan menjawabnya dengan jujur."


"Pasti, Tuan. Lagi pula saya memang tipe perempuan yang jujur baik hati dan gemar menabung, jadi Tuan tidak perlu khawatir." Bibir gadis itu tersenyum, namun kedua kakinya gemetar.


Asam kau kaki, berhentilah gemetar.


Wira hanya tersenyum masam, di detik berikutnya ia terlihat menghela nafas dalam.


"Apakah yang diucap Tuan Sean tadi adalah benar, jika Ruby adalah istrinya?."


Oalah, kirain.


Kiran menganggukkan kepala seraya berucap, "Benar, Tuan."


"Kenapa bisa!." Nada bicara Sean yang tiba-tiba meninggi membuat Kiran terlonjak, kaget.


"Tentu bisa, Tuan. Mereka berduakan berbeda gender, lalu apa yang perlu Tuan khawatirkan?." Kiran memasang ekspresi bingung.


"Maaf, bukan begitu maksudku, hanya saja.... Ah, sudahlah." Wira mengibaskan tangan. Bingung juga hendak menjelaskan apa pada Kiran.


"Maaf, Tuan. Sekarang, bolehkah saya yang berbicara pada anda?." Kiran sepertinya mulai bisa membaca situasi. Wira patah hati, benarkah demikian?. Kiran sontak membekap mulutnya yang sudah ingin terbahak. Benarkah jika pria lempeng ini menaruh hati pada Ruby?.


"Hei, kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu 'kan?."


Kiran menjawabnya dengan gelengan.


"Sekarang bicaralah."


"Baik Tuan." Kiran seperti sedang mengatur nafas dan berfikir.


Tenang, tenang. Tarik nafas dalam dan buang perlahan.


"Maaf, sebelumnya apakah Tuan Wira pernah menaruh hati pada Kak Ruby?."


Wira melotot, Kiran buru-buru menelan ludah.


Ya tuhan pasti aku salah bertanya.


"Loh, kenapa? Saya kan hanya bertanya dan Tuan bisa menjawabnya dengan kata 'Ya' atau 'Tidak' tanpa adegan melotot."


Wira menghela nafas dan memilih mengalah.


"Ya, saya menaruh hati padanya."


"Nah, gitu kan jelas!."


"Kiran! Tidak perlu heboh. Soal ini hanya aku dan kau saja yang perlu tau."


Kiran lagi-lagi membekap mulut, menahan agar tawanya tak meledak di hadapan Wira.


Aku bisa dipasung jika ketahuan tertawa.


"Sebenarnya masalah ini cukup rahasia, tapi demi Tuan yang sudah terlanjur menaruh hati pada Kak Ruby, maka saya pun akan membukanya." Kiran mulai menceritakan tentang Ruby dan status pernikahannya dengan Sean. Awalnya Wira masih terlihat tak percaya, namun selepas Kiran memperlihatkan beberapa foto di ponselnya pada Wira, pria itu berangsur mulai percaya.


Tubuh Wira seakan tak bertenaga seiring rasa cintanya pada Ruby yang hanya sebatas angan.


"Mereka berpisah karna sengaja dipisahkan. Akan tetapi sekeras apa pun manusia coba memisahkan mereka, pada akhirnya mereka pun tetap kembali bersama. Manusia memang boleh berencana, namun Tuhan-lah yang berhak mengariskan."


Wira tak menjawab. Wira berfikur jika ia sudah tak punya harapan lagi untuk bisa mendekati Ruby terlebih pria yang sudah menjadi suami perempuan itu adalah atasannya sendiri.


Tbc.