My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Kedatangan Rio



Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam, namun pemilik sepasang mata bening yang terbaring di atas ranjang, masih tak jua memejamkan mata. Kiran, gadis berparas ayu itu termenung seraya menatap langit-langit kamar. Perjalanannya hari ini bersama Wira, rupanya cukup menyita tenaga dan juga fikirnya.


"Istriku sudah lama pergi. Semenjak Willy berusia 3 bulan, dia sudah meninggalkan rumah. Jadi itulah sebabnya Willy berkata jika tak pernah melihat wajah Ibunya."


Kiran mengerjap saat kalimat yang terucap dari Wira, serasa memenuhi fikiran. Wira adalah seorang duda dengan satu putra. Itulah yang Kiran tau untuk saat ini.


Semalam Willy meminta padanya untuk disuapi. Kiran pun tak menolak, dengan telaten ia menyuapi bocah tampan itu dan sesekali mengodanya, hingga tawa riang dan celotehan cadel Willy memenuhi ruang perawatan.


Kiran menyukai anak kecil. Begitu pun saat Celia masih berada dalam satu rumah dengannya, saat libur atau pun senggang Kiran akan menjaga Celia layaknya putri sendiri. Dan saat bertemu dengan Willy pun, rasa sayang itu seakan tumbuh dengan sendirinya meski ini untuk pertama kali keduanya bertemu.


Kiran menghela nafas dalam. Kenapa kejadian malam ini sedikit mengubah penilaiannya tentang sosok Wira yang Dingin dan tak bersahabat saat di tempat kerja. Gadis itu juga mengingat beberapa kejadian saat Wira datang ke rumahnya untuk bertemu dengan Celia saat bayi. Ya, Kiran sadar jika saat itu sepertinya Wira sedang menaruh hati pada Ruby dan berjuang untuk mendapatkannya. Jadi wajar jika saat itu pula sikat Wira sedikit melunak dan tak segarang saat di tempat kerjah.


Ah entahlah.


Kiran menutup wajahnya dengan bantal. Berharap ia bisa tidur tenang dan bayangan Wira lekas menghilang dari ingatan.


Tak berbeda jauh dari Kiran, di tempat Lain seorang pria pun masih terjaga saat tengah malam sudah menyapa.


Wira memilih duduk di kursi yang ia rapatkan dengan ranjang perawatan sang putra. Willy sudah terlelap. Sememtara Ibu dan seorang pengasuh ia biarkan pulang untuk bisa beristirahat dengan nyaman di rumah.


"Willy," gumam Wira begitu sepasang matanya menatap wajah damai sang putra yang terlelap. Panas tubuhnya berangsur berkurang pun dengan wajah pucatnya yang terlihat mulai memerah teraliri darah.


Entah mengapa sejak kedatangan tak sengaja Kiran beberapa jam lalu, rupanya sedikit banyak berimbas pada kesehatan Willy yang berangsur membaik.


Kiran menyuapi putranya, dan Willy dengan senang hati melahap bubur yang sudah disediakan pihak rumah sakit hingga tandas. Willy juga lebih banyak tertawa di antara rasa sakitnya saat Kiran terus mengodanya.


Wira meraup wajahnya kasar. Apakah karna keegoisannya yang sudah menjauhkan putranya dengan sang Ibu kandung, menjadi penyebab utama lemahnya daya tahan tubuh Willy?.


Pria itu menatap kembali sang putra dan kini lebih lekat. Sesungguhnya ia pun merasa bersalah, akan tetapi memang inilah yang sudah menjadi keputusan final untuknya. Saat Ibu kandung Willy memilih pergi bersama pria lain, di situ pulalah dia bertekad untuk menjauhkan sang putra dan tak mengizinkan perempuan itu untuk bisa bertemu dengan buah hatinya.


Memang terdengar kejam, namun rasa sakit yang perempuan itu torehkan nyatanya sepadan dengan keputusan yang Wira ambil.


Ah, sudahlah.


Wira seakan enggan mengingat kejadian menyedihkan itu lagi. Cukup sudah dirinya bermandikan air mata saat istri yang ia cinta tega mendua saat usia putra pertama mereka baru menginjak usia dua bulan. Saat itu, meski pun sakit Wira terus berupaya untuk mempertahankan sang istri, namun kenyataan seakan menampar kesadaran Wira saat sang istri justru memilih pergi bersama pria selingkuhannya yang tak lain merupakan matan kekasihnya.


Wira hancur sehancur hancurnya. Ia nyaris gila, bahkan mengabaikan putranya yang masih bayi untuk menangisi istrinya. Boodoh memang. Akan tetapi itulah nyatanya.


Wira berdecak. Kenapa juga ia harus memikirkan hal menyedihkan semacam itu. Saat menatap Willy, senyum di bibirnya pun terulas. Menurut dokter, esok hari putranya sudah diizinkan untuk pulang. Wira tentunya berucap syukur.


Sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih pada Kiran, karna setidaknya berkat dia Willy mau menghabiskan makan dan ceria seperti sedia kala.


"Rio."


Sepasang mata Selena membulat sempurna. Ia masih tak percaya saat Rio, kini berdiri di hadapannya. Rio tersenyum padanya sedangkan di sampingnya ada Sean, sang Kakak.


"Rio, kau tau alamat ini dari mana?" Selena memang sempat mengatakan pada Rio jika sedang berada di kota xx, tempat tingal Kakaknya, namun gadis itu sama sekali tidak menyangka jika Rio akan menemuinya.


"Kalian berdua, bicaralah. Kakak akan menemani Kak Ruby dan Celia di dalam." Sean beranjak dari ruang tamu, meninggalkan ke dua insan tersebut untuk lebih leluasa berbicara.


Selena mempersilahkan Rio untuk duduk. Saat hanya berdua seperti ini, rasa canggung tiba-tiba menyerang. Sejenak ke dua insan itu saling berpandangan.


"Selena, maaf jika kedatanganku mengganggumu." Rio berucap dengan tutur kata lembut. Ah, inilah sejujurnya yang tak bisa Selena lupakan dari seorang Rio. Sopan dan juga lembut.


"Ti-tidak, tidak sama sekali, Rio. Tadi aku hanya terkejut, karna tak mengira jika kau akan sampai mendatangiku ke kota ini." Dari pandangan mata, sesungguhnya Selena coba mencari tau akan tujuan Rio hingga rela menemuinya sampai sejauh ini, namun sayangnya gadis itu tak bisa membaca isi fikiran Rio.


"Selen, beberapa hari ini aku mencarimu." Rio memberanikan diri untuk menatap wajah Selena lekat.


"Kau mencariku? Untuk?." GaDis itu tak mampu menutupi kebingungannya. Ia masih belum mencermati kalimat yang baru saja terucap dari bibir Rio.


Rio terlihat menghela nafas dalam.


"Sebenarnya aku mendengar kabar dari seseorang jika kau pergi dari rumah."


Selena sontak menelan ludah. Bagaimana bisa Rio mengetahui tentang hal yang cukup pribadi tentang dirinya. Lalu siapa yang sudah memberitahunya, dan apakah kejadian di hotel saat itu Rio juga mengetahuinya?.


"Rio, siapa yang sudah memberitahumu?."


"Itu tidak penting, Selen." Rio seperti memperhatikan seluruh bagian tubuh Selena dari ujung rambut hingga kaki. "Selena, bagaimana keadaanmu?." Terlihat gurat kekhawatiran dari wajah Rio. Pria dengan pakaian sederhana itu tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari Selena.


"Aku, baik-baik saja. Di sini aku aman karna dalam perlindungan Kakak-kakakku."


"Syukurlah," jawab Rio dengan menghela nafas lega.


Pembicaraan pun berlanjut. Camilan dan minuman segar yang disiapkan pelayan menjadi teman bicara mereka. Demi apa pun Selena masih bingung dengan tujuan kedatangan Rio untuk menemuinya. Terlebih dirinya sedang berada di kota yang berbeda.


Apakah Rio akan langsung pulang ke Ibu kota setelah melihatnya?.


Ah sepertinya tidak. Selena menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Di sini bukanlah Rio yang cemas, namun Selena lah yang dibuat lebih cemas.


Tbc.