My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Rencana Sean Part. 2



Beberapa hari ini Ruby begitu menikmati akan status baru sebagai seorang istri dari Sean sekaligus Ibu bagi Celia. Sean memintanya untuk tak bekerja lebih dulu selama beberapa hari untuk menikmati bulan madu ke dua mereka, meski pun hanya di rumah saja.


Sean melengkapi seluruh fasilitas di dalam rumah barunya yang dikhususkan untuk Ruby dan kenyaman bayi mereka. Rumah ini bahkan bisa dikatakan lebih nyaman dari rumah Sean yang terletak di Ibu kota. Akan tetapi, rumah di ibukotalah yang menyimpan memori perjalanan hidup sepasang suami istri itu dari awal menikah hingga harus bercerai.


Ruby mengasuh Celia dengan bantuan Sean dan juga Nina, perawat Celia. Nina terbilang cekatan dan luwes dalam menjaga Celia meski ia sendiri masih belum berkeluarga. Nina sejatinya adalah seorang bidan yang dipilih Sean untuk menjaga putrinya. Nina juga menguasai beberapa cabang bela diri seperti Karate dan taekwondo. Tentunya Sean bisa mempekerjakan Nina dikediamannya dengan biaya yang tak sedikit, begitu pun dengan beberapa pekerja lain yang dikhususkan bekerja padanya. Akan tetapi sebanyak apa pun uang yang ia keluarkan demi untuk melindungi keluarga kecilnya, Sean tak keberatan. Uang bisa dicari, begitu fikir Sean. Tapi kebahagian, Sean bahkan tak akan bisa bahagian andai Ruby dan Celia tak bersamanya.


"Sayang aku akan membawamu ke suatu tempat?." Sean yang sedang memakaikan sebuah kalung ke leher Ruby, membuka Suara. Pria itu menatap pantulan tubuhnya dan sang istri dari cermin meja rias. Senyum Sean terukir, ia pun memeluk tubuh Ruby dari belakang dan menciumi puncak kepala sang istri berulang.


"Kemana?." Ruby bertanya seraya mendongak, hingga pandangan kedua insan itu saling berpautan.


"Rahasia," ucap Sean yang satu detik kemudian sudah membenturkan bibirnya dengan bibir ranum milik sang istri. Kedua berciuman, menikmati gejolak pasangan baru yang terasa begitu panas saat kedua tubuh itu saling berdekatan.


Pertautan kedua benda kenyal itu terlepas. Selepas memastikan penampilannya dan Ruby sudah rapi, pria dengan stelan jas itu menarik tangan Ruby dan membawanya untuk keluar dari kamar.


"Mas, katakan. Kita akan ke mana?." Ada sejejak kekhawatiran dalam diri Ruby saat Sean membawanya untuk pergi ke suatu tempat yang masih dirahasiakan. Apakan Sean akan membawanya ke hadapan Margareth?. Ruby menelan salivanya susah payah pun dengan tubuhnya yang mendadak menggigil.


Langkah Ruby terhenti. Sean yang memegang tangan sang istri pun ikut menghentikan langkah.


"Kenapa, heem?."


"Apa kita akan pergi ke rumah Ibu?." Ragu-ragu Ruby bertanya.


Sean pun tersenyum tipis. Dia bisa merasakan seraut wajah kekhawatiran terkhawatiran dari ekspresi sang istri.


"Em, tidak. Aku akan membawamu ke tempat lain."


Mau tak mau Ruby pun mengkuti langkah Sean, terlebih jemarinya selalu berada dalam gengaman sang pria dan tak mau dilepaskan. Mereka meninggalkan Celia pada Nina, mempercayakan pengawasan bayi cantik itu pada perempuan muda tersebut saat mereka tinggalkan.


💗💗💗💗💗


"Restoran?." Ruby menatap bangunan beberapa lantai di tempat kuda besi mereka terhenti saat ini. Ruby Resto & Cafe, rupanya menjadi tujuan mereka saat ini. Perempuan itu menggelengkan kepala seraya tergelak lirih. Ia bahkan sempat berfikir yang tidak-tidak.


Memangnya Sean akan membawamu kemana Ruby selain tempat ini.


Sopir pribadi yang mengantar perjalan sepasang suami istri itu bergerak sigap untuk membuka pintu mobil ke dua majikan.


"Ayo turun," ajak Sean pada Ruby yang masih belum bergerak seinci pun dari tempatnya semula. Masih duduk diam dengan ekspresi wajah sulit diartikan.


Ruby menunduk, meneliti penampilannya.


"Mas, kenapa tidak bilang jika akan ke resto."


"Ya, setidaknya aku tak akan berpakaian seperti ini." Dres berwarna kuning sebawah lutut dan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, membuat perempuan cantik itu ragu untuk turun. "Setidaknya aku akan pakai seragamku saat bekerja, juga mengikat rambutku," sambung Ruby lirih seraya memainkan jemari tangannya yang saling berpaut.


Sean tergelak, ia mencubit kecil dagu lancip sang istri begitu gemasnya.


"Kau akan turun sendiri atau menunggu aku menggendongmu sampai masuk Resto?."


Ruby menelan ludah dan secepat kilat bergerak untuk keluar dari mobil. Sean lagi-lagi tergelak, oleh tingkah sang istri yang begitu menggemaskan.


Bagaimana ini.


Fikiran Ruby masih dipenuhi tanda tanya akan kedatangannya ke tempat ini selepas libur beberapa hari. Terlebih saat ini tangan Sean sudah mengapit lengannya, membawa langkah sang perempuan untuk berjalan sejajar dengannya.


Jika di luar Resto terlihat sepi seperti tak ada aktifitas seperti biasanya, namun berbeda saat pintu masuk Resto terbuka.


"Selamat datang," ucap seluruh karyawan secara serempak seraya menundukkan kepala. Ruby terdiam, saat seluruh pekerja rupanya sedang menyambutnya.


"Ayo, sayang. Aku akan memperkenalkanmu kepada seluruh karyawan." Ucapan Sean sontak membuat Ruby menelan ludah susah payah. Ia ingin menolak, tapi sepertinya tidak mungkin mengingat ia sudah terlanjur masuk ke dalam tempat ini.


Sean senantiasa mengengam tangan Ruby. Pria itu memposisikan tubuh untuk berdiri di antara para karyawan yang berdiri menyambutnya. Tentu saja raut wajah terkejut sekaligus penuh tanya, tergurat jelas pada seluruh karyawan yang mengenal Ruby. Terlebih Ruby kini ada di sebelahnya dengan tangan perempuan itu yang senantiasa ia gengam.


"Selamat pagi saya ucapkan kepada seluruh karyawan Ruby Resto & Cafe." Pandangan Sean menyapu sekeliling. Diantara wajah terkejut para karyawan, wajah Wira-lah yang memasang ekspresi melebihi semua rekannya. Sementara Kiran, gadis itu berdiri tenang di barisan paling ujung. Tak ada ekspresi terkejut mengingat Kiran sudah tahu kebenarannya.


"Kalian pasti bertanya, kenapa saya mengajak Ruby untuk berdiri di sini." Sean tersenyum pada Ruby kemudian merapatkan tubuh dengan tangan saling menggengam. "Ruby, salah satu rekan kerja kalian ini adalah istri dari saya."


Para karyawan terkesiap bahkan ada beberapa yang terlihat syok, termasuk Wira begitu mendengar ucapan Sean.


"Ya, ceritanya cukup panjang. Tapi di sini saya tidak bisa bicara banyak. Bertepatan pada hari ini pula, saya akan menyerahkan seluruh tanggung jawab dan pengelolaan Ruby Resto & Cafe pada istri saya, Ruby Alexandra."


Kali ini giliran Ruby yang terkesiap. Pandangannya sontak bergerak ke arah Sean.


"Mas," lirih Ruby. Ia terkejut sebab tak ada pembicaraan tentang Resto sebelumnya dari Sean kepadanya.


Sean hanya menanggapi ucapan sang istri dengan seulas senyuman.


"Saya juga akan menunjuk beberapa karyawan yang nantinya akan mendampingi dan membantu istri saya untuk mengembangkan Resto dan menjadikan rumah makan ini lebih diminati banyak pelanggan untuk ke depannya." Sontak tepuk tangan seluruh karyawan memenuhi ruangan. Meski masih diliputi tanda tanya besar akan status Ruby sekarang. Akan tetapi mengingat kebaikan Ruby selama menjadi teman, mereka pun mengapresiasi dan turut senang akan keberuntungan Ruby yang kini menjadi pemilik resmi Resto Ruby & Cafe.


Tbc.