My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Tekad Seorang Pria Part. 2



"Ayah, apakah wajah Ibu Willy cantik seperti Kakak Kilan?." Wira terbelalak. Dalam posisi duduknya kini tubuh pria itu menegang. Bagaimana tidak, putranya yang terbilang belum lancar bicara itu bertanya tentang paras sang Ibu yang sama sekali belum pernah dilihatnya secara langsung. Dan apa tadi Willy bilang, cantik seperti Kiran?.


Willy yang berdiri di hadapannya dengan memasang wajah mengemaskan, spontan membuat pria muda itu menghela nafas dalam. Lalu dirinya akan menjawab apa?.


"Willy sayang," panggil Wira kemudian berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan sang putra.


"Iya, Ayah."


"Ibu Willy dan Kakak Kiran memiliki wajah berbeda, Karna Ibu Willy adalah perempuan yang sudah melahirkan Willy sementara Kakak Kiran adalah teman kerja Ayah." Tentu Wira hanya menjawab asal. Berharap jika sang putra akan menyudahi dalam membahas kedua perempuan yang nyata-nyata memiliki paras dan sifat berbeda. Ah, entahlah. Wira memang sedang tak ingin membahas soal wanita sekarang.


"Tapi Willy menyukai Kakak Kilan. Dia cantik, sedangkan Ibu Willy...." Bocah itu terdiam, seperti mengingat-ingat sesuatu. Suaranya yang cadel khas bocah, membuat Wira tak tahan untuk mencubit kecil pipi gembil sang buah hati.


"Ibu Willy kenapa?."


Willy tertunduk. Raut wajahnya berubah sendu. Ia memainkan kedua tanggannya yang bertautan sedangkan bibirnya menyebik, seolah sedang menahan tangis.


Wira yang sadar akan perubahan raut wajah sang anak, lekas membawa tubuh mungil itu dalam pelukan. Wajar saja jika Willy tak bisa menilai seperti apa wajah sang Ibu, sebab dalam foto sekalipun Wira tak pernah menunjukannya pada Willy. Biarlah dirinya cap jahat dengan menutupi siapa identitas Ibu kandung Willy. Namun satu yang menjadi alasan utama Wira melakukan hal tersebut karna ia tak ingin sang Anak diberikan harapan palsu oleh sang Ibu. Bertemu kemudian ditinggalkan, dan Wira tak mau hal tersebut sampai terjadi. Maka akan lebih baik jika ia menghapus semuanya tentang sang istri demi mental sang buah hati.


"Willy kuat, putra Ayah hebat. Bersama Ayah dan Nenek Willy akan selalu berbahagia. Jangan menangis, Boy," ucap Wira dengan kedua tangan mengusap air mata sang putra yang sudah membasahi pipi.


Seperti halnya sang putra, hati Wira pun remuk redam saat pria kecil itu mulai bertanya tentang sosok Ibu kandungnya. Sesunghuhnya Wira pun tak menginginkan perpisahan terjadi. Akan tetapi sang istrilah yang memilih pergi dan meninggalkan dirinya demi pria lain.


Wira membujuk sang putra untuk tenang. Meski membutuhkan beberapa waktu, tapi setidaknya saat melihat Willy sudah bisa tersenyum senang, Wira pun bisa bernafas lega.


Apa aku harus mencari sosok Ibu penganti untuk Willy?.


Wira menggelengkan kepalanya samar. Memang siapa juga yang mau menikah dengannya, sedangkan Ruby yang menjadi incaran justru sudah dirujuk oleh atasannya sendiri.


Pria berkulit kuning langsat itu memberikan Willy pada seorang pengasuh setelah ditenangkan. Dirinya harus beristirahat untuk bisa berfikir jernih disituasi genting seperti ini.


💗💗💗💗💗


Apa saja yang dilakukan Margareth selepas Selena pergi? Menangis kah atau bersenang-senang seperti biasa?.


Beberapa paperbag dengan brand termana kelas dua memenuhi kedua tangan Margareth yang kini berjalan anggun disebuah pusat perbelanjaan bersama rekan sosialitanya.


Selepas beberapa jam berbelanja, para perempuan paruh baya itu mulai memisahkan diri untuk pulang ke kediaman masing-masing. Margareth yang kelelahan meminta sopir untuk membawanya pulang.


Senja baru saja muncul namun Margareth sudah merasakan kantuk. Dalam perjalanan Margareth terlihat terlelap dan sang sopir membangunkan selepas kuda besi itu terparkir di garasi rumah.


"Nyonya, kita sudah sampai." Pria berseragam itu membangunkan sang majikan.


Margareth menggeliat. Sepasang matanya masih terasa berat untuk dibuka. Tempat duduk yang terasa empuk membuat paruh baya itu ingin tertidur lagi.


"Maaf, Nyonya. Apakah perlu saya menggendong anda ke kamar."


"Enak saja," sengit Margareth dengan kedua bola mata membulat sempurna. Kantuknya mendadak sirna saat mendengar ucapan supirnya, sementara sang sopir lekas menundukan kepalanya, takut.


"Kau fikir aku siapa, hingga lancang ingin menggendongku. Minggir!." Margareth mendorong tubuh pria yang beberapa saat lalu berdiri di dekat pintu mobil. "Bisa kurapan tubuhku kalau sampai tersentuh oleh kulitmu." Margareth masih sempat mengomel pada sang pria sampai tubuh perempuan itu menghilang di balik pintu utama.


Sang supir hanya geleng kepala seraya mengusap dadaa.


"Sabar."


💗💗💗💗💗


"Daasar sopir tak tau diri. Bisa bisanyadia ingin menyentuhku. Benar-benar lancang. Lain kali akan kupecat sa---


"Selamat sore Nyonya Margareth."


Bibir Margaret sontak terkatup. Ucapannya terhenti begitu mendapati seorang pria muda duduk menunggunya di sofa ruang tamu. Pria muda yang merupakan tamunya itu bangkit dari posisi duduknya kemudian menundukan kepala kemudian tersenyum simpul pada sang pemilik rumah.


"S-sore. Anda siapa?." Margareth menilik penampilan tamunya. Stelan jas lengkap dengan jam tangan mewah sepertinya hanya dapat dikenakan oleh para pria kalangan atas saja.


Margareth tersenyum miring. WoW, mangsa baru begitu fikirnya. Tanpa diduga Margareth meminta pada sang tamu untuk duduk kembali dengan mengunakan intonasi suara yang sangat lembut.


Tbc.