My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Bentuk Perhatian



Saat ini Sean tengah bersiap untuk pulang ke kota XX sesuai permintaan Margareth untuk bisa membujuk Selena pulang. Rencananya pria tampan itu akan bertolak seorang diri, dan meninggalkan Ruby dan Celia tetap di rumah orang tuanya.


"Tidak perlu khawatir, aku yakin jika Ibu tidak akan berbuat macam-macam apalagi sampai melukaimu." Sean menengkan sang istri saat berpamitan. Maski tergambar raut kekhawatiran di wajah Ruby, namun Sean yakin jika sang Ibu tidak akan berani mengusik Ruby begitu ia tinggalkan.


Ruby menganggukkan kepala. Sean menciumi seluruh permukaan wajah sang istri sebelum beralih pada putrinya.


"Berhati-hatilah," pesan Ruby pada sang suami. "Aku ukan selalu mendoakanmu, Mas. Semoga Selena bisa menerima lamaran ini," sambung Ruby dengan segenap pengharapan.


Sean menatap Ruby lekat. Ia kemudian memeluk erat tubuh sang istri kembali sebelum keluar dari kamar.


Sean ditemani seorang supir sudah memasuki kendaraan berwarna hitam metalic yang akan mengiring perjalanan sampai ke kota xx. Dari halaman rumah Ruby yang menggendong Celia melepas kepergian sang suami dengan melambaikan tangan. Margareth sendiri tak terlihat. Entah di mana perempuan baruh baya itu sekarang namun yang pasti Margareth masih berada di dalam rumah.


Bersama Nina, Ruby mengasuh Celia. Membawanya ke halaman belakang rumah di mana beberapa gazebo dan kolam ikan buatan berada di sana.


Sepasang mata bening itu berbinar, saat sang Ibu membawanya duduk di tepi kolam ikan koi dengan berbagai warna yang rupanya menarik perhatian Celia.


Bocah cantik nan menggemaskan itu bergerak lincah dengan tangan dan kaki berusaha menggapai angin, seakan ingin menangkap ikan yang tengah berenang.


Ruby tersenyum senang. Setidaknya meskipun Sean pergi, Celia bisa menjadi teman bermain untuknya. Meski belum bisa berbicara, namun senyum sang putri seolah mengatakan jika ia senang berada dekat dengan ibunya.


Setelah beberapa waktu menghabiskan waktu di halaman belakang, Ruby membawa Celia untuk masuk ke dalam kamar dan menidurkannya.


"Nina, tolong jaga Celia. Aku akan ke dapur untuk mempersiapkan makan siang kita." Ruby sepertinya ingin memasak. Sudah lama dirinya tak memasuki dapur dan memasak di kediaman mertuanya ini. Ia sangat rindu. Biarlah jika nanti Ibu mertuanya enggan memakan masakan buatanya, namun setidaknya ia sudah berusaha untuk menjadi menatu yang patuh sama seperti dulu.


Saat melintas di ruang keluarga Ruby sempat melihat Margareth duduk seraya membaca tabloid. Ruby pun menyapa, sedangkan paruh baya itu tak menjawab namun sekilas Ruby melihat jika Marhareth sempat menganggukkan kepala.


Dalam langkahnya Ruby tersenyum tipis dan bernafas lega. Setidaknya Margareth sudah memperlihatkan perubahannya, meski sedikit. Tapi tak apalah, itu saja sudah menjadi berkah melimpah untuk Ruby.


Begitu memasuki dapur Ruby melihat tiga dua orang pelayan sedang memasak untuk makan siang. Dua orang perempuan, paruh baya dan satu orang gadis tengah berkutat dengan sayuran segar dan daging-dagingan. Entah apa yang ingin mereka masak, Ruby pun kian mendekat untuk menyapa bibi pelayan yang dulu cukup dekat dengan dirinya.


"Bibi, mau masak apa, boleh aku bantu?."


Paruh baya itu terkesiap dengan tangan menyentuh dadaa.


"Nyonya Ruby, buat Bibi terkejut saja," ucap Bibi seraya menghela nafas. Bibir paruh baya itu tersenyum lembut selepas menetralkan deru nafasnya yang tak beraturan akibat terkejut.


"Maaf," jawa Ruby disertai ringisan.


"Bibi sedang memasak seafod asam pedas kesukaan Nyonya muda, atas perintah Nyonya besar."


Apa? benarkah?.


Ruby tentu terkejut.


"Benarkah?." Rasa tak percaya Ruby mendengarnya. Bibi memasak makanan kesukaannya atas perintah Ibu mertua?.


"Iya, Nyonya. Benar," Bibi pelayan meyakinkan Ruby.


Ruby tertegun. Rasa hangat seketika menjalari tubuh, mendengar jika sang Ibu mertua memberinya perhatian dengan cara meminta Bibi pelayan memasak makanan kesukaannya.


"Nyonya Ruby duduk saja, biar Bibi dan Intan yang akan memasaknya." Paruh baya itu meminta Ruby untuk duduk.


"Tidak, Bi," tolak Ruby. "Aku juga ingin memasak sesuatu untuk Ibu," sambung Ruby yang sepertinya harus melakukan hal yang serupa dengan yang Margareth lakukan.


"Memasak?."


"Ya, Bibi. Aku juga ingin memasak makanan kesukaan Ibu."


Jawaban Ruby membuat Bibi pelayan itu tersenyum lembut. Ah, seperti hubungan mertua dan menantu itu mulai membaik selepas hancur lebih. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan mereka kedepannya.


Ruby lekas mempersiapkan seluruh bahan dan peralatan memasak. Kali ini ia ingin membuat pepes ikan yang merupakan masakan kesukaan Margareth. Ruby pernah mendengarnya dari Sean jika sang Ibu mertua amat menyukai olahan pepes ikan buatan Ibunya atau nenek dari Sean. Hanya saja selepas nenek Sean meninggal, Margareth tak lagi dapat menikmati masakan yang amat disukainya itu. Jika Bibi pelayan memasak pun rasanya tak akan sama, hingga Margareth dibuat kecewa.


💗💗💗💗💗


Seluruh hidangan yang dimasak sudah tertata di atas meja makan termasuk pepes ikan buatan Ruby.


Semoga saja Ibu suka.


Ruby berjalan ke luar dapur untuk melihat putrinya yang semula sedang terlelap. Saat melintas di beberapa ruangan, dirinya tak melihat penampakan sang Ibu mertua di mana pun. Mungkin saja Margareth sedang beristirahat di kamar.


Perempuan itu membuka kamar putra sangat pelan, takut jika sampai mengeluarkan suara hingga mengusik tidur lelap sang buah hati.


Deg.


Begitu pintu terbuka. Ia mendapati seorang perempuan sedang berdiri dan menatap ke arah Celia yang terlelap di dalam box, tapi itu bukanlah Nina, pengasuh Celia melainkan...


"Ibu," panggil Ruby pelan pada Margareth yang sedang berdiri dengan pandangan terpaku pada cucunya.


Margareth tersentak. Ia salah tingkah dan mulai bergerak menjauhi Celia namun tetap tak bersuara.


"Aku hanya ingin mengatakan jika waktunya makan siang dan semua makanan sudah terhidang di meja." Guna menetralisir kecanggungan Ruby pun lekas mengucap kalimat yang sedikit meredakan keterkejutan Margareth. Tanpa suara dan hanya menganggukkan kepala, paruh baya itu beranjak meninggalkan kamar Ruby.


Sepeninggal Margareth Ruby melihat keadaan putrinya. Masih terlelap, da Ruby hanya menepuk paantatnya sejenak sebeluk keluar untuk menemani Margareth makan siang.


Dari tempatnya berdiri saat ini Ruby bisa melihat Margareth duduk dikursi meja makan. Bibi pelayan lekas melayaninya untuk menciduk nasi dan juga hidangan lain.


"Bi, kau memasak pepes ikan," tanya Margareth begitu melihat penampakan makanan yang sebut tadi tersaji di atas sebuah piring.


"Benar, Nyonya."


"Sudah aku bilang, tak usah lagi membuat jika hasilnya mengecewakan," sarkas Margareth yang mana membuat tubuh Ruby gemetar dari tempat berdirinya saat ini.


Bibi pelayan itu tersenyum tipis kemudian berucap, "Nyonya bisa mencobanya lebih dulu. Sedikit saja. Jika rasanya mengecewakan, maka saya janji bila ini untuk terakhir kalinya saya memasak pepes untuk Nyonya."


Margareth serasa malas untuk mencicipi olahan yang dulunya menjadi makanan kesukaannya. Ia enggan sebab rasanya pasti akan sama dengan Bibi pelayan yang buat sebelum-sebelumnya. Tak sesuai ekspektasinya.


Margareth menyedok sedikit bagian daging ikan berbumbu tersebut. Ia seperti tak berminat memakan namun tetap memaksakannya sampai masuk ke dalam mulut. Hup..


Em...


Kenapa rasanya..


"Bi, kenapa rasanya.." Margareth menggantung ucapan. Ia masih mengenyam dan merasakan. Ia bahkan mengambil bagian daging cukup besar untuk ia lahap kembali. Bibi pelayan hanya menjadi pengamat. Dalam hati ia tertawa riang, sepertinya sang Nyonya menyukai pepes ikan buatan menantunya.


"Rasanya kenapa, Nyonya?."


"Em, seperti ada peningkatan dari rasa masakan buatanmu. Belum sesempurna buatan Ibu, tapi ini enak," puji Margareth yang semakin lahap memakan olahan ikan tersebut.


Kini Bibi pelayan benar-benar tersenyum. Ia melirik pada Ruby yang masih berdiri di sudut pintu.


"Nyonya Ruby, mari bergabunglah untuk makan siang bersama dengan Nyonya besar," pinta Bibi pelayan yang mana membuat Ruby melangkah mendekati meja makan. Sementara itu, Margareth tampak cuek dengan kehadiran menantunya. "Nyonya, sesungguhnya yang memasak pepes ikan tersebut bukanlah saya, tapi Nyonya Ruby," lanjut Bibi pelayan yang sontak membuat Margareth menghentikan kunyahan.


"Saya senang, sebab Nyonya Ruby dapat memasakan makanan kesukaan Nyonya, lebih baik dari saya. Selamat, Nyonya Ruby."


Ucapan Bibi pelayan membuat Ruby tersenyum tipis. Ia pun memilih untuk duduk bergabung dengan sang Ibu mertua, dan mulai menikmati masakan seafood yang sudah diolah bibi pelayan untuknya.


Margareth terdiam sejenak. Ia seperti kikuk namun berusaha menutupinya. Ia seperti ketahuan memuji masakan sang menantu, karna kesalahan Bibi pelayan.


Akan tetapi setelah beberapa saat, paruh baya itu kembali melahap makanannya. Terlihat menikmati namun tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir saat ia mertua dan menantu itu makan siang di meja yang sama. Mereka saling diam namun memperhatikan satu sama lain.


Tbc.