
Tidak jelas asal usul
Miskin
Dan kampungan
Sean termangu bigitu mengingat tiga kalimat di tujukan sang Ibu untuk istrinya, Ruby. Lagit masih gelap, saat ini waktu bahkan masih menunjukan pukul 02;35 dini hari namun Sean sudah duduk dan termenung di balkon kamar pribadinya.
Malam ini Sean tak bisa tidur nyenyak. Selepas memeluk sang istri dan menciumi pipinya sampai puas, Sean beranjak begitu memastikan perempuan dalam pelukannya sudah terlelap. Sepelan mungkin ia bergerak membuka pintu penghubung kamar dengan balkon. Ia tutup kembali agar Ruby tak terbangun kemudian mencari keberadaannya.
Saat ini fikiran Sean masih kacau balau. Sepertinya ia akan memikirkan banyak hal demi melindungi istri dan putrinya untuk hidupnya ke depan.
Sean sudah mempersiapkan seorang pengawal yang merangkap menjadi sopir pribadi Ruby. Ia akan ditugaskan dua puluh empat jam mengawal Ruby saat berada di luar rumah. Sedangkan di kediamannya sudah ada dua pengawal, yang menyamar sebagai penjaga keamanan.
Art dan suster yang dipekerjakan juga bukanlah dari sembarang kalangan. Mereka dua perempuan terpilih yang sudah dibekali ilmu bela diri dan kemampuan mumpuni dalam mengerjakan tugas yang sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk bekerja di kediaman Sean.
Akan tetapi dari semua bentuk penjagaan yang seganja Sean lakukan, sejatinya pria itu masih menyembunyikannya dari Ruby. Mereka bekerja dengan menutupi identitas sebagai para pegawal terbaik yang dibayar oleh sang suami demi untuk melindunginya.
Sepertinya fikiran Sean kali ini bukan hanya berputar pada memberi perlindungan untuk keluarga kecilnya dari kemungkinan tindakkan tidak terduga dari sang Ibu atas keputusannya. Akan tetapi sepertinya Sean kali ini akan merubah seorang Ruby yang sederhana, menjadi sosok yang pemberani nan elegan.
Semenjak menikah dengannya penampilan Ruby memang tak jauh berubah, nyaris sama dengan penampilannya saat hidup dipanti asuhan, dan itulah salah satu yang membuat penilaian Margareth berkurang padanya. Kurang Fashionable, begitu kata-kata Margareth yang kerap didengar Sean yang tujukkan untuk istrinya, Ruby.
Sean memang tak mempermasalahkan perihal penampilan Ruby, sebab Sean memang menyukai Ruby apa adanya. Ruby yang cantik alami dan selalu terlihat sederhana, rupanya sudah mampu membuat seorang Sean Fernandez mabuk kepayang. Sikapnya yang lembut dan kepiawaiannya dalam mengolah bahan makanan, membuat Sean tak mampu berpaling walau barang sejenak pun.
"Sepertinya aku harus merubah cara berpenampilan Ruby." Sean berfikir lagi. "Tapi bagaimana jika Ruby menolak?." Sean membayangkan reaksi Ruby saat ia menyampaikan keinginannya. Perempuan itu akan marah, atau hanya diam karna tersinggung.
"Bagaimana ini?." Sean mengusap wajahnya kasar. Ia takut jika Ruby kembali terluka dan ia sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi.
Resah dan gelisah. Sean dengan bertemankan sepi, menghabiskan malamnya dengan mata terbuka serta fikiran yang melanglang buana.
Satu sisi ia ingin terus bersama Ruby, namun di sisi lain ia pun tak ingin jika keselamatan Ruby terancam karna keputusannya.
"Mas." Suara familiar yang menyapa gendang telinga Sean, membuat pria rupawan itu lekas menoleh ke arah sumber suara.
"Sayang," panggil Sean yang spontan bangkit dari posisi duduknya begitu melihat tubuh Ruby yang sudah berdiri di depan pintu penghubung yang setengah terbuka.
Ruby berjalan mendekat, menghampiri sang suami yang memilih menyendiri di tempat ini dari pada tidur dengannya.
"Sayang, kenapa kau bangun? Ini masih malam, ayo aku antar ke kamar dan lanjutkan tidurmu kembali." Sean memeluk Ruby, ia ingin membawa tubuh perempuan itu untuk masuk kembali ke dalam kamar, namun perempuan itu seperti menolak.
"Mas sendiri kenapa tidak tidur?." Ruby bertanya dengan pandangan menyelidik yang mana membuat Sean menelan ludah.
"Aku tidak bisa tidur."
"Apa karna ada aku dan Celia, hingga membuat Mas tak bisa tidur?."
"Bukan sayang, bukan seperti itu. Hanya saja..." Sean sendiri bingung untuk memberikan jawaban yang dirasa tepat. "Sini, duduklah." Sean kembali duduk dan meminta Ruby untuk duduk di pangkuannya.
"Sejujurnya ada sesuatu hal yang masih menganjal dalam fikiranku." Sean merasakan begitu nyaman saat memeluk pinggang Ruby. Dagunya sengaja ia biarkan bertumpu di ceruk leher sang istri.
"Tentang?."
"Bukannya semua ucapan Ibu benar, aku memang terlahir dari keluarga yang tak jelas asal usulnya, miskin dan kampungan. Ibu memang benar, Mas. Lalu apa lagi yang perlu dipermasalhkan?."
Bukan Ruby, namun hati Sean-lah yang teriris perih saat Sang istri mengulang kembali kata-kata Margareth dengan bibirnya.
"Sayang, hentikan! Semua yang ibuku sebutkan bukanlah menjadi tolak ukur kesempurnaan dalam setiap wanita, dan bagiku kau adalah perempuan paling sempurna di muka bumi ini."
Ruby memalingkan wajah saat Sean berniat untuk mencium bibirnya. Bukan menolak, hanya saja ucapan Ibu mertuanya membuat mood perempuan itu hancur seketika.
Sean menghela nafas. Ya ya ya, sepertinya dia bicara disaat yang tidak tepat.
"Sayang, bolehkah aku meminta beberapa hal padamu?."
Ruby mengernyit, Sean akan memita apa padanya sedangkan dirinya saja tak punya apa-apa.
"Meminta beberapa hal?."
"Ya, sebab jika satu hal sepertinya masih belum cukup." Sean setengah tertawa. Ia terus memeluk Ruby, sementara kepala Ruby sudah bersandar di dada bidang sang suami.
"Bagaimana jika kita merubah semua yang ada pada dirimu."
Sebentar, merubah? Maksudnya?.
"Mas, Ingin merubahku? Bagian apa dari diriku yang ingin Mas Sean rubah?." Ruby hendak melepas diri dari pelukan Sean. Dia sudah merinding saat mendengar Sean ingin merubahnya.
Apa Mas Sean akan memintaku untuk operasi plastik?.
Entah kenapa bulu kuduk Ruby merinding hanya dengan membayangkannya saja.
Sean mencubit gemas puncak hidung Ruby yang mana membuat sang empunya meng-aduh.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Maksudku bukanlah merubah diri seperti apa yang ada difikiranmu. Bukankah Ibu bilang jika kau kampungan?."
Ruby spontan menganggukkan kepala.
"Dan kita akan merubah penampilanmu. Cara berpakaianmu dan gerak tubuhmu."
Ruby terdiam.
"Ingat sayang, kau tidak perlu menjadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri, namun kau juga harus belajar memposisikan diri. Maaf sayang, bukan maksudku untuk menyudutkanmu, hanya saja bukankah kau tau jika suamimu ini cukup dikenal masyarakat. Dan masyarakat pun harus tau jika aku mempunyai istri secantik dirimu."
Ruby tersadar jika selama ini dirinya memang terkesan tertutup dan jarang sekali berbaur dengan rekan kerja sang suami. Bukan Sean tak ingin memperkenalkan Ruby, hanya saja sifat Ruby yang pemalu membuat perempuan itu kurang percaya diri saat digandeng sang suami ke tempat umum.
"Aku akan mencari seseorang yang bisa membimbingmu kedepannya. Jangan khawatir, aku akan selalu menggengam tanganmu, dan kita akan melangkah bersama dalam menempuh bahagia."
Ruby mengangguk kemudian. Perempuan itu kembali mengusap wajahnya di dada suami yang masih berbalut piyama, merasakan sensasi nyaman dan terlindungi dari seseorang yang ia cintai.
Tbc.