
Selepas makan malam romantisnya bersama Ruby, Sean seperti memiliki harapan besar untuk bisa berkumpul kembali bersama mantan istri dan juga putrinya. Sean faham akan keraguan Ruby kepadanya. Perlakuan keluarganya menjadi alasan utama bagi Ruby untuk enggan kembali menerimanya, dan tugasnya saat ini adalah menemui Ibunya, kemudian mengungkapkan keinginannya untuk merujuk Ruby. Entah respon seperti yang akan ditunjukan oleh sang Ibu, namun satu yang pasti dia akan tetap memperjuangkan Ruby dan Celia walau bagaimana pun caranya.
Rencananya pada petang nanti Sean akan kembali ke ibu kota. Ia ingin mengunjungi rumah pribadinya, dan juga mendatangi sang Ibu-lah yang menjadi tujuan utamanya.
Sean sepertinya ingin lebih dulu bertemu dengan Ruby sebelum pulang. Katakanlah jika ia ingin berpamitan.
Ah, modus. Bilang saja jika kau sudah merindukannya.
Sean tersenyum simpul begitu keluar dari ruang kerjanya. Ia pun melangkah ringan menuju suatu tempat yang ia inginkan. Dapur menjadi tujuannya, selain untuk mengontrol para karyawan secara langsung, ia pun juga ingin melihat Ruby.
Para pekerja yang berpapasan, sontak menundukan kepala. Dibuat heran dengan Bos besar mereka yang mau-maunya berjalan ke dapur sementara ia bisa menuruh bawahannya untuk mengantikannya.
Sean bisa melihat tatapan penuh tanya pada para pekerja, namun ia cuek saja. Tak ambil pusing dan meneruskan langkah kaki nyaris sampai ambang pintu dapur.
Ruby.
Dari tempatnya berdiri Sean sudah bisa melihat Ruby, tapi kenapa Wira juga ada di sana dan kenapa mereka sedang berbicara?.
Wajah Sean yang semula cerah, mendadak keruh saat mendapati Wira tampak berdiri dan mengajak Ruby berbicara. Padahal posisi Ruby saat ini pun sedang memasak.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Sepasang kaki panjang Sean mengayun, melangkah ke depan, lebih dekat pada Wira yang tampak tersenyum saat kata-katanya dijawab oleh Ruby. Kondisi dapur yang semula riuh pun berangsur senyap manakala satu persatu dari Koki terkejut mendapati Sean yang tanpa pemberitahuan sudah berdiri di antara mereka. Akan tetapi dari sekian banyak orang di dapur, hanya Ruby dan Wira-lah yang masih belum menyadari kedatangan Sean.
Wira yang memang tak banyak bicara, hanya memperhatikan gerak gerik Ruby dalam menaklukan dapur. Terkadang pria itu tersenyum kemudian melemparkan tanya basa basi yang langsung dijawab Ruby.
Sean mengernyit. Sebenarnya untuk tujuan apa Wira memasuki dapur ini. Andaikata untuk sekedar memberi perintah, tentu ia bisa menyuruh bawahnya untuk bergerak, dan bukan dirinya.
Sean berdecak, kemudian berdehem.
Ruby dan Wira terkesiap. Begitu para karyawan lain. Sean tampak melipat ke dua tangan di dada, menatap pada wajah Wira yang memasang wajah biasa-biasa saja.
Ck, dia bahkan tidak gemetar melihatku.
"Wira, aku rasa tempatmu bukan di sini," tegas Sean yang seolah mengingatkan Wira akan posisinya di tempat ini.
Wira pun tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepala.
"Benar, Tuan. Saya kemari hanya untuk mengecek juga memastikan bahan yang dimasak dalam keadaan segar juga cara pengolahan pun harus higienis sesuai dengan standar ahli gizi," papar Wira yang mana membuat Sean kembali menyipitkan mata.
"Bukankah kau bisa menyuruh bawahanmu untuk melakukan hal seperti ini." Sean tak mau kalah. Ia masih tidak suka jika Wira dekat-dekat dengan Ruby.
"Tentu bisa, Tuan. Hanya saja saya lebih puas jika bisa memastikannya sendiri."
Sean bungkam. Wira memang sangat profesional dibidangnya. Sebenarnya Wira bukanlah orang baru bagi Sean. Keduanya bahkan sudah mengenal lama, hanya saja hubungan mereka pun tak terlalu dekat dan akan saling berbicara seperlunya saja.
"Baik, Tuan."
Sean pun berbalik badan dan berlalu pergi meninggalkan dapur. Ruby menghela nafas, Ia bisa merasakan raut wajah berbeda dari Sean saat tanpa sengaja melihatnya bersama Wira.
"Baiklah, aku permisi." Ruby tersentak begitu mendengar suara Wira. Demi apa dirinya sempat lupa akan keberadaan Wira selepas kedatangan Sean.
"Ya, Tuan. Terimakasih." Jawaban Ruby dibalas senyuman tipis oleh Wira. Pria itu pun mengikuti jejak Sean yang meninggalkan dapur.
💗💗💗💗💗
"Masuklah."
Pintu ruang kerja Sean terbuka. Sean sudah tampak berdiri menunggu saat Tubuh Ruby mulai memasuki ruangan.
"Tolong tutup kembali pintunya, Ruby."
Ruby yang semula ingin membiarkan pintu tetap terbuka, menghela nafas dalam. Meski ragu, ia pun mematuhi perintah Sean dengan menutup rapat pintu ruang kerjanya.
"Ruby, mendekatlah." Sean memberi perintah saat Ruby hanya berdiri di depan pintu dan tak bergerak untuk lebih mendekati meja kerjanya.
Gadis itu mengayunkan langkah, semakin dekat hingga berada di depan meja kerja Sean. Mungkin Ruby enggan berdebat, hongga memilih untuk pasrah dan mengikuti perintah Sean.
Setelah Ruby mendekat, Sean pun bangkit dan menghampiri Ruby. Gadis itu tentu terkejut, terlebih posisi tubuh Sean kini sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Ruby," panggil Sean.
"Ya, Tuan," jawab Ruby yang sepontan dibungkam Sean dengan jari telunjuk yang ia tempelkan di bibir sang mantan istri seraya berucap, "Hust. Saat sedang berdua seperti ini, aku mohon untuk tidak memanggilku Tuan." Sean menatap wajah Ruby lekat. Wajah pria itu bahkan menunduk untuk bisa mengarahkan pandangannya pada wajah Ruby yang memiliki postur tubuh jauh lebih rendah darinya.
"Panggil aku Mas, Mas Sean. Sama seperti dulu saat kau memanggiku." Jari teunjuk yang menempel di bibir itu mulai Sean turunkan. Jarak wajah di antara keduanya yang cukup dekat, nyatanya mampu menghadirkan debaran jantung yang dirasakan keduanya.
Jika Ruby memilih menggeser pandangan agar tak bersitatap dengan sepasang mata Sean, namun berbeda dengan Ruby, Sean justru enggan mengakihkan pandangannya dari Ruby bahkan sedetik saja. Ruby terlalu menjadi candu untuknya.
"Mas, Sean," ucap Ruby lirih.
"Bagus." Tangan Sean mulai terangkat. Ia mengusap rambut hitam Ruby yang terikat, penuh kasih. Sean lagi-lagi merasakan haru saat bisa merasakan menyentuh rambut Ruby yang begitu halus bak sutra.
Sesungguhnya Ruby hendak menepis tangan Sean yang sudah lancang menyentuh rambutnya. Hanya saja tanpa bisa dipungkiri ia pun menikmati sentuhan itu. Sebuah sentuhan murni kasih sayang yang selama ini ia ribdukan.
Secara tiba-tiba Sean menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga Ruby, kemudian berucap, "Ruby, aku sungguh tidak suka saat melihatmu dekat dengan Wira atau dengan pria mana pun. Mungkin ini bisa dikatakan cemburu, cemburu pada seseorang yang sudah menjadi mantan istri. Akan tetapi, perlu kau ketahui Ruby, jika rasa cintaku padamu tak berkurang sedikit pun bahkan setelah kita berpisah. Aku harap kau bisa mengerti, Ruby. Tetaplah jaga hatimu untukku." Sean menarik wajah, mulai menjauh dari telinga Ruby. Ia bisa melihat Tubyh Ruby yang menegang begitu ia dekati. Spontan dan tanpa aba-aba, Sean merengkuh tubuh Ruby hingga tenggelam di dada bidangnya. Kedua insan itu berpelukan, saat Sean tak mampu lagi membendung rasa rindunya terhadap Ruby.
Tbc.