
Melihat seperti apa yang ditunjukan Margareth juga cara paruh baya itu menyambut kedatangannya, Rio tertawa dalam hati. Rencananya berhasil. Dengan stelan jas dan penampilannya yang begitu rapu layaknya putra konglomerat, membuat Margareth silau hingga tak perlu mengintimidasi dan langsung mempersiapkan dirinya untuk duduk.
Dua orang pelayan muncul dengan membawa minuman segar juga camilan. Bibir kemerahan Margareth tersenyum lebar kemudian mempersilahkan tamu untuk menyicipi.
"Terimakasih, Nyonya." Tanpa rasa sungkan, Rio mulai meneguk minuman segar berwarna kuning itu ke dalam mulut. Ia pun sempat melirik pada Margareth yang duduk di seberangnya. Perempuan paruh baya itu menatapnya dengan pandangan kagum.
Ya tuhan, begitu kuatkah pesonaku sampai Nenek-nenek saja menatapku tanpa kedip.
Rio tersenyum tipis kemudian menaruh kembali gelas minum itu ke tempatnya.
"Siapa namamu, anak muda?." Rupanya setelah beberapa menit mereka duduk saling berhadapan, Rio belum sempat memperkenalkan diri.
"Saya Bagas, Nyonya," jawab Rio dengan suara lantang.
"Dan tujuanmu datang ke mari?."
"Melamar putri anda Selena, untuk saya jadikan Istri."
Jawaban Rio tak urung membuat Margareth terkesiap. Sesaat tubuhnya seperti mematung hingga beberapa detik kemudian kesadarannya kembali datang. Rio menelan ludah kasar, ia khawatir dengan reaksi Margareth ke depan. Akan tetapi setelah melihat seulas senyum terkembang di bibir paruh baya itu, Rio pun bisa menghela nafas lega.
"O.., tujuan itukah yang membuatmu datang kemari?." Lagi-lagi Margareth menelisik penampilan Rio dari kaki hingga pucak kepala.
"Benar, Nyonya."
Margareth menyerigai.
"Memang kau punya apa hingga berani datang melamar putriku? Jangan bilang jika kau hanya bermodal nekat, sudah pasti aku akan mengusirmu sekarang juga dari rumahku."
Tidak salah. Rio dapat mengira jika Margareth akan mempertanyakan tentang harta benda yang ia punya.
"Semuanya."
Margareth mengerutkan kening seperti sedang berfikir, bibirnya pun kembali membentuk serigai.
"Semua, maksudmu?."
"Ya, aku punya semua."
Margareth mengayunkan kakinya yang saling bertumpuan. Hem, sepertinya menarik.
"Seperti mobil, rumah, apartemen. Apa kau memilikinya?." Entah untuk tujuan apa sebenarnya pertanyaan Margareth ini. Tapi dia pun sepertinya menikmati raut wajah sang pria muda yang masih terlihat tenang meski dipancing dengan pertanyaan yang memuakkan.
Rio mengangguk tanpa ragu.
"Wow, menarik. Lalu usaha dan isi saldo tabunganmu?."
"Bagaimana, Nyonya Margareth. Apakah lamaran saya di terima." Senyum di bibir Rio kembali terukir. Jika sudah seperti ini, mana mungkin Margareth sanggup untuk menolaknya.
"Anda tidak perlu khawatir. Saya akan memberikan satu unit mobil mewah andai Nyonya berhasil membujuk Selena untuk mau menerima lamaran saya."
Margareth kian meneguk ludah namun belum mampu untuk menjawab.
"O, masih kurang? Saya akan tambahkan lagi dengan uang sebesar xx rupiah ke rekening Nyonya. Bagaimana?."
"Te-tentu. Jangan khawatir. Putri saya pasti akan menerima lamaran anda. Pasti, saya jamin itu." Margareth mengelengkan kepalanya tak percaya. Uang, dia akan dapat uang. Perseetan dengan rencana perjodohan Leo dan Selen. Sekarang, bukankah pria di hadapannya ini lebih mapan?.
Ya tuhan, mobil baru, uang banyak.
Margareth bertepuk tangan riang. Sedangkan Rio, menatap sinis perempuan mata duitan di hadapannya. Beruntung berkat kerja kerasnya, ia bisa menjadi sosok dirinya yang sekarang. Andai dulu dirinya tetap pasrah, mungkin tak kan seperti ini jalan ceritanya.
"Saya masih sanksi, bagaimana jika putri anda menolak, atau bahkan kabur saat akan bertemu dengan saya?."
Kini wajah Margareth berubah pias. Ia mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
Duh, bagaimana ini?.
Saat ini saja Selena sedang kabur karna menolak dijodohkan. Lalu bagaimana jika ia tak dapat membawa putrinya kembali dan memaksanya lagi untuk menerima lamaran dari pria kaya ini.
"Tidak, kau tidak perlu khawatir. Selena itu putriku yang penurut. Dia pasti akan senang saat dilamar oleh pria tampan dan kaya sepertimu." Duh, Margareth sejujurnya tak yakin dengan jawabanya sendiri. Selena penurut? Iya, dia penurut jika tidak berurusan dengan perjodohan seperti ini.
"Lalu di mana putri anda sekarang?."
Maampus.
"I-itu, em putriku sedang, em sedangg... Liburan, ya liburan. Dia sedang berlibur di rumah kakaknya di kota xx." Terbata-bata Margareth menjawab pertanyaan Rio.
"O.. Begitu," jawab Rio seraya menganggukkan kepala, padahal dalam hati ia terbahak. Margareth coba menutupi keberadaan sang putri dengan dalih berlibur.
Obrolan basa basi pun kembali berlanjut. Sesungguhnya Rio mulai jenuh, hanya saja ia masih belum puas untuk bermain-main dengan Margareth.
Masih dengan semangat yang terus berkobar. Margareth bercerita ini dan itu tentang Selena pada calon menantunya. Memuji begini, memuji begitu. Mulutnya seakan tak berhenti bicara sampai berbusa.
Saat benar-benar tak mampu lagi menanggapu ucapan Margareth, Rio pun undur diri. Senyum di bibir pria itu merekah sempurna selepas keluar dari gerbang utama kediaman orang tua Selena. Impiannya untuk memiliki Selena sebentar lagi akan terwujud. Restu yang sangat mustahil didapat rupanya begitu mudah ia kantongi, hanya berbekal ucapan maut dan harta yang berlimpah tentunya.
Tbc.
Wah, Si Rio bener-bener ya. Beraninya dia ngerjain Margareth 😂