
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap seorang pria seraya mengulas senyum pada seseorang gadis yang sudah menunggunya. "Motorku mogok, jadi aku terpaksa mendorongnya sampai ke tempat ini." Pria itu menunjuk ke arah motornya dengan pandangan tak enak hati pada sang gadis.
"Tidak masalah, aku juga baru sampai," dusta sang gadis yang ternyata sudah menunggu kedatangan sang pria dari satu setengah jam sebelumnya. Gadis itu adalah Selena, adik kandung Sean. Hari ini dirinya memiliki janji untuk bertemu dengan Rio, teman prianya yang berprofesi sebagai guru di salah satu SMA di ibu kota. "Motor kamu mogok?."
Sang pria pun mengangguk.
"Sepertinya di dekat tempat ini ada sebuah bengkel."
"Oh, ya." Rio pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari kiranya ada sebuah bengkel motor di tempat dirinya dan Selena berada saat ini. "Nah, itu dia," sambung Rio seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah bengkel yang berada di seberang jalan.
"Ya, di situ. Lumayan dekat, kau bisa mendorongnya sampai ketempat itu supaya motormu bisa cepat diperbaiki."
Rio pun menganggukkan kepala. Ia bergegas mendorong motornya ke bengkel seberang selepas meminta izin pada Selena.
Dari kejauhan gadis berparas Ayu yang mengenakan outfit serba mahal itu,menatap Rio yang mendorong motornya di jalan sampai memasuki bengkel. Ada sesuatu rasa yang tak dapat ia gambarkan ketika berdekatan dengan sosok pria bernama Rio Kusumo tersebut.
Rio bukanlah orang baru bagi Selena. Pria sederhana itu adalah cinta pertamanya saat duduk bangku sekolah menengah atas.
Rio memang terlahir dari keluarga tak berpunya. Akan tetapi dengan kejeniusan yang ia miliki membuatnya mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan disebuah sekolah bertaraf internasional, hingga ia dipertemukan dengan Selena.
Selena yang bisa dikatakan 'boodoh' dalam semua mata pelajaran, sengaja memanfaatkan kepintaraan Rio demi mencapai keinginannya. Selena berpura-pura menyatakan cinta dan menginginkan sang pria untuk menjadi kekasihnya.
Selena tersentak, ia mengerjap. Kejadian beberapa tahun lalu terbayang jelas diingatan. Selepas pernyataan cintanya kala itu, mereka berdua pun resmi berpacaran. Pada pesta kelulusan, barulah Rio mengetahui alasan utama Selena memacarinya. Selena hanya memanfaatkan kepintarannya untuk tujuan tertentu.
Rio marah, namun Selena pun tak ambil pusing. Toh, Rio hanyalah pria miskin yang tak setara dengannya. Kedua insan yang pernah berpacaran itu kini saling membenci. Menjauh satu sama lain dan terputus hubungan.
"Selen," panggil Rio saat pria itu kembali menghampiri sang gadis, namun Selena sendiri justru sedang melamun.
"Ya," jawab Selena setengah terkejut. Gadis itu menatap Rio yang nafasnya naik turun, mungkin selepas lelah mendorong motor. Dahi pria itu pun nampak berkeringat yang mana membuat Selena spontan menari beberapa lembar tisu untuk diberikan pada Rio.
"Rio, kau berkeringat."
Begitu mendengar ucapan sang gadis, Rio yang salah tingkah lekas mengusap peluhnya dengan telapak tamgan.
"Rio, pakai ini," ucap Selena seraya mengoyangkan lembaran tisu ke depan Rio.
"Terimakasih." Malu-malu Rio menerimanya.
Kedua insan itu memutuskan untuk melepas lelah dan berbincang di salah satu kedai bakso pinggir jalan. Selena tak menolak. Ia berjalan di belakang Rio dan mencari tempat duduk yang dirasanya untuk mereka berdua.
Sejatinya ini bukan kali pert\ma mereka bertemu selepas beberapa tahun terpisah. Dua bulan lalu mereka dipertemukan oleh suatu kejadian yang tak pernah disangka-sangka.
Selena yang hendak memasuki mobilnya selepas keluar dari salah satu pusat perbelanjaan, tas miliknya ditarik paksa oleh kedua pria bersepeda motor hingga tubuh gadis itu jatuh tersungkur di jalanan. Rio yang berada tak jauh dari tempat kejadian pun tergugah rasa empatinya, hingga berinisiatif mengejar dan mengagalkan aksi penjambretan tersebut.
Sungguh sesuatu kejadian yang tak pernah disangka keduanya. Kembali bertemu diusia yang lebih matang dengan fikuran yang dewasa. Rupanya kejadian saat itu mampu memperbaiki hubungan keduanya yang sempat porak poranda. Selena dengan tulus mengucapkan kata-kata maaf yang beruntungnya disambut baik oleh Rio.
"Selen, aku rasa kau tidak pernah makan di tempat seperti ini sebelumnya 'kan?." Rio bertanya ragu-ragu. Bukan tanpa alasan dia bertanya demikian, sebab saat mereka berpacaran dulu Selena akan langsung menolak saat dirinya menawarkan makan di pinggir jalan seperti saat ini.
"Ah kata siapa?." Selena mengelak. "Aku suka kok makan di tempat seperti ini." Gadis itu menjawab kemudia melahap bola-bola daging dari mangkuknya. Terlihat begitu nikmat sampai Rio tersenyum dibuatnya.
Ponsel pintar milik Selen berdering. Tertera nama Ibunya di layar benda pipih tersebut. Selena menelan ludah, mengulir layar ke atas untuk lekas menjawab panggilan.
"Ya, Ibu."
"Aku sedang di luar."
"......"
"Em, aku sendiri Ibu." Selena sempat melirik pada Rio. Pria itu terlihat menundukkan kepala.
"......"
"Baiklah, aku akan pulang." Selena menyudahi panggilan. Ia menghela nafas dan terdiam.
"Selen, ayo habiskan makananmu. Bukankah tadi kau bilang jika makan di pinggir jalan itu enak?."
Selen langsung memasang wajah senang saat Rio menegurnya. Gadis itu pun melahap makanannya kembali. Biarlah sejenak dirinya melupakan sang Ibu dan menikmati harinya bersama Rio, pria yang diam-diam sudah mencuri hatinya.
💗💗💗💗💗
"Dassar anak tidak tau diuntung. Berani-beraninya dia merujuk perempuan itu tanpa restu dariku."
Saat memasuki rumah Selena sudah disambut dengan teriakan sang Ibu dari ruang tamu. Perempuan paruh baya itu tak sendiri. Ada seorang pria yang Selena ketahui sebagai orang kepercayaan dari sang Ibu.
"Dan saya juga mendengar jika Tuan Sean membelikan sebuah rumah mewah untuk Nona Ruby dan putrinya."
Mendengar itu Margareth terduduk dan memijit pelipisnya yang berdenyut. Sean dan Ruby bahkan sudah memiliki anak. Sepertinya akan lebih sulit baginya untuk memisahkan sepasang suami istri itu lagi.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya kita harus menyusun rencana."
"Ibu, aku pulang." Selena memotong ucapan sang Ibu. Gadis itu pun setengah berlari mendekati sang Ibu kemudian mencium tangan dan kedua pipi perempuan paruh baya itu.
"Selen, dari mana saja kau?." Margareth menepuk nepuk lengan sang putri dan meminta gadis itu untuk duduk di sampingnya.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar." Selena mengalihkan pandangannya pada pria yang masih berdiri di antara mereka. "Ibu, ada apa ini?." Selena pura-pura tak tau.
"Dia mengabarkan jika Kakakmu sudah kembali pada Ruby. Mereka pun sudah tinggal bersama di sebuah rumah di kota xx. Ibu tidak akan diam, Sean dan perempuan itu harus kembali dipisahkan." Selena terdiam. Akhir-akhir ini memang dirinya lebih banyak diam saat Margareth menyinggung kehidupan rumah tangga sang Kakak. Terlebih saat dirinya dipertemukan kembali dengan Rio, Selena akan memilih untuk tak berkomentar.
"Kau," panggil Margareth pada sang tangan kanan. "Pergilah. Sepertinya kita akan mulai menyusun rencana dilain waktu." Margareth meminta pada Pria itu untuk lekas pergi. Kepalanya sudah teramat pening. Mungkin setelah ini ia akan tidur, untuk sedikit mengurangi rasa pusing di kepalanya.
"Selena," panggil Margaret pada putrinya selepas mengingat sesuatu.
"Ya."
"Ibu tau, kau pasti akan lebih menyangi Ibu dari pada Kakakmu itu. Ibu juga yakin jika kau takkan pernah mengecakkan Ibu." Margareth mengengam jemari sang putri. Pandangan perempuan paruh baya itu melembut, menatap sepasang mata bening milik sang putri.
"Ibu, ada apa ini? Ibu ingin bicara kepadaku?." Kenapa saat ditatap seperti ini, Selena justru merinding. Ia seperti mencurigai sang Ibu yang terkadang memiliki rencana di luar prediksinya.
"Kau sudah besar dan siap untuk menikah. Maka dari itu, Ibu pun sudah menemukan calon-calon yang cocok untuk dijadikan sebagai suamimu."
Selena terkesiap. Ia menelan ludah kasar. Ucapan sang Ibu seakan melemahkan seluruh persendian disekujur tubuhnya. Ya, benar. Rupanya bukan hanya sang Kakak yang menjadi korban kegilaan sang Ibu, tapi dirinya pun akan menjadi calon korban selanjutnya.
Tbc.