My Boss Is My Ex Husband

My Boss Is My Ex Husband
Penyesalan Selena



Ruby tak dapat menutupi rasa terkejut begitu ia membuka pintu utama Rumahnya dan menemukan wajah sang adik ipar berdiri di baliknya.


"Selena," lirih Ruby.


Gadis bernama Selena yang semula menundukkan kepala itu, menganggkat kepala membalas tatapan Ruby.


"Kak, boleh aku masuk?."


Berjuta prasangka pastinya memenuhi benak Ruby akan kehadiran sang adik ipar ke kediamannya. Tapi kenapa para penjaga sepertinya mudah memberi akses pada Selena, dan tidak menahannya seperti yang sudah mereka lakukan pada Ibu mertuannya.


"B-boleh, ayo masuk." Maih seperti orang ling lung Ruby membuka lebar pintu rumah, memberi akses pada sang adik untuk masuk.


"Terimakasih."


Jawaban Selena membuat Ruby terbelalak. Sang adik sebelumnya tak pernah bicara selembut ini padanya, apalagi mengucap terimakasih selama dirinya menjadi istri dari Sean. Sepertinya ada yang tidak beres, begitu fikir Ruby. Perempuan itu berusaha menebak peristiwa apa yang terjadi, hingga mendengar suara deru mesin mobil yang sepertinya memasuki garasi.


Mas, Sean. Dia sudah pulang?.


Ruby mempersilahkan pada Selena untuk duduk sementara dirinya menyambut kepulangan sang suami.


Pria berbadan tegap itu keluar dari pintu mobil yang dibukakan lebih dulu oleh sopir pribadinya. Bibir sensualnya mengurai senyuman begitu mendapati wajah cantik sang istri menekat, menyambut kepulangannya.


"Mas," sapa Ruby. Sean pun merentangkan tangan, memberi kode agar Ruby lebih mendekat dan memeluknya.


Waw, aroma vanila lembut menyapa indra penciumnya. Rupanya sang istri kembali memakai parfum yang menjadi kesukaannya. Bibir Sean kian tersenyum, ia hirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang sudah bagaikan candu untuknya. Kini Sean bukan hanya memeluk namun sudah mengarahkan bibirnya untuk menyusuri leher jenjang hingga ke telinga sang istri.


"Mas!." Ruby berseru untuk menyadarkan Sean dari nafsu. "Selena sesang menunggu kita di dalam," lanjutnya lagi berusaha untuk menjauhkan bibir sang suami dari tubuhnya.


"Ah, iya. Aku baru ingat. Selen sudah datang?." Sean merengkuh pinggang Ruby, kemudian mengiring langkah sang istri untuk masuk ke dalam rumah.


"Iya, dia datang. Baru beberapa menit yang lalu sebelum kedatangan Mas."


Sean menoleh, mencermati raut wajah yang ditunjukan sang istri. Meski bibir perempuan itu tersenyum namun pria itu jika istrinya juga sedang dilanda rasa khawatir.


"Tenang saja, sayang. Selena tidak akan berani berbuat yang tidak tidak padamu." Ruby sendiri tak menjawab, ia terus melangkah, mensejajari sang suami sampai keduanya memasuki kediaman.


💗💗💗💗💗


Selena tak lagi menghiraukan harga diri. Gadis itu duduk dengan kepala tertunduk di hadapan Sean dan Ruby. Selena berbicara dengan diiringi tangisan, ketika ia menceritakan kejadian yang sempat ia alami bersama Leo akibat dari rencana perjodohan dari sang Ibu.


"Aku sudah menolak, tapi Ibu tetap bersikeras. Ia justru lebih percaya pada ucapan Leo, dari pada mendengar penjelasan yang sebenarnya dariku. Sekarang aku harus berbuat apa, Kak?." Ruby menatap Iba pada sang adik Ipar yang terlihat kacau dan mulai menyerah pada keadaan. Dipenuhi rasa kemanusiaan, Ruby yang semula duduk di samping sang suami, perlahan bangkit hingga menjatuhkan bobot tubuh di samping Selena. Ruby memeluk Selena yang terguncang, ia juga mengusap bahu sang adik untuk menenangkan.


"Terimakasih, Kak." Lagi, Ruby nyaris tak percaya saat Selena berucap demikian padanya. Gadis itu bahkan membalas pelukannya dan menagis di bahunya.


"Tenang, jangan menangis lagi. Di sini kami akan selalu ada bersamamu. Kau akan aman bersama kami, jangan takut."


Selena tergugu. Penyelasan kian menghantam diri, tak menyangka jika Ruby tetap memperlakukannya dengan baik selepas fitnah dan kekejaman yang pernah ia dan sang ibu lakukan padanya. Selena bahkan tak mampu berkata-kata, ia hanya bisa memeluk Ruby erat, dan menangis di bahunya.


Sean ikut bergabung. Ia merengkuh tubuh Sang istri juga sang adik. Ketiganya, mereka berpelukan. Dalam tangisan sang adik, pria itu berjanji untuk membuat perjodohan yang direncanakan sang Ibu tidak akan pernah terjadi.


💗💗💗💗💗


Di kediaman sang Kakak, Selena seperti menemukan mainan baru ketika bertemu dengan Celia. Sepasang mata gadis itu berbinar, mana kala menatap wajah bocah perempuan yang menyerupai wajah Kakak laki-lakinya.


Imut dan menggemaskan. Selena lekas mengambil alih Celia dari tangan pengasuh. Ia mengendong dan mengoceh ini dan itu pada keponakan cantiknya, meski bocah menggemaskan itu hanya bisa tergelak dan menggapai-gapai wajah sang Bibi untuk ia remas.


"Kenapa keponakan Aunty bisa seimut ini sih?." Tangan Selen gemas, ia ingin mencubiti paha gempal Celia yang berlipat seperti roti sobek.


Selena heboh sendiri. Permasalahan yang sedang menimpa seakan menguap saat dirinya bermain dengan Celia.


Ruby berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar Celia. Pengasuh Celia pun lekas beranjak, ia keluar selepas diminta oleh Ruby. Memberikan waktu pada ke dua perempuan dewasa itu untuk berbicara tanpa kehadiran orang lain.


"Kak Ruby," sapa Selena begitu tersadar jika Ruby menyusulnya ke kamar Celia.


"Wajah Celia begitu mirip dengan Mas Sean 'kan?." Ruby bertanya seolah meminta persetujuan pada Selena tentang paras sang putri yang begitu mirip dengan sang suami.


"Ya, dia Sean versi perempuan. Aku yakin jika kalian memiliki anak laki-laki, pasti denganmu, Kak." Selena tersenyum, ia menatap Ruby sekilas kemudian kembali menatap Celia yang juga sedang menatapnya dengan mata lebarnya.


"Lihatlah Kakak, Celia imut sekali. Bagaimana bisa kalian berdua membuat anak yang seimut dan menggemaskan seperti ini. Ayo kasih tau aku seperti apa cara membuatnya, Kak?."


Ruby sontak membulatkan mata. Sementara Selen spontan membekap mulut dengan telapak tangan.


"Oops, maaf. Aku hanya bercanda." Selena mengangkat ke dua jarinya hingga membentuk huruf V. Ruby sendiri hanya mengelengkan kepala, atas pertanyaan sang adik justru mengingatkannya pada proses kehamilan Celia yang penuh prahara.


Kedua terdiam. Selena yang masih bermain-main denan Celia, tiba-tiba menyentuh tangan sang Kakak ipar. Sepertinya gadis itu ingin berbicara tentang sesuatu hal.


"Kak Ruby, aku mohon maafkan aku?." Keceria yang semula sempat tergambar di wajah Selena, berangsur memudar bergantikan dengan raut wajah penuh sesal.


"Apa maksudmu, Selena? Aku tak mengerti." Ruby hanya berpura-pura, sesungguhnya ia sendiri ingin mendengar penjelasan sekaligus pengakuan dari sang adik ipar yang selama ini teramat membencinya.


"Aku yakin jika Kak Ruby tau, jika kejadian malam itu Kakak sudah masuk dalam jebakan kami, namun Kakak memilih diam dan tak sedikit pun membela diri. Sungguh, aku menyesal, Kak. Selama ini aku membenci Kakak, hanya karna semata-mata membela ibhku." Rupanya kejadian yang dialami Selena beberapa hari ini, menyadarkannya akan sifat yang dimiliki oleh perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia.


Tamak dan egois.


"Sekarang aku mengerti, alasan apa yang membuat Kak Sean mati-matian mempertahankan rumah tangganya bersama Kakak." Selena menatap pada sang kakak ipar kemudian pada Celia.


"Apa?."


"Karna sejatinya kebahagiaan tidak bisa ditukar dengan materi. Kak Ruby dan Celia adalah hidup Kak Sean. Kalian berdua berdua adalah sumber kebahagiaan Kak Sean."


Ruby menghela nafas dalam. Satu titik bulir bening kini mengalir di sudut mata. Ia tentu bisa merasakan seperti apa perjuangan Sean saat berusaha untuk kembali mengambil hatinya. Ya, tentunya semua perjalanan hidup tak akan mungkin Ruby lupakakan, dan ia bersyukur saat kemabali dipersatukan dengan seseorang yang dari dulu pun selalu ia harapkan.


Tbc.