
Raditya dan keluarga nya kembali ke Jakarta,
kembali dari rumah orang tua nya.
"Kau sudah kembali? " tanya Dylan masuk ke ruangan Raditya yang masih sibuk dengan laptop nya.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk Dylan? " tanya Raditya menatap sinis.
"Hey kawan, salah diri ku yang sudah mengetuk pintu mu lebih dari tiga kali? salahkan telinga mu yang tidak memberitahu mu. " balas Dylan sedikit tersenyum.
"Ada apa kau kesini? " tanya Raditya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukan sahabat ku, hahahaha. " ucap Dylan duduk di sofa empuk dalam ruangan itu.
"Jangan membuang-buang waktu ketika bekerja Dylan, walaupun kau sahabat ku, jangan berpikir manja pada ku." ucap Raditya yang melirik Dylan.
"Ya ampun Dylan.. sebegitu nya diri mu membenci ku. " ucap Dylan memonyongkan bibir nya.
Raditya hanya diam. Tangan nya terlalu sibuk mengetik-ngetik.
"Bagaimana dengan rencana pernikahan mu? sudah dapat restu dari orang tua mu? " tanya Dylan.
Raditya melirik Dylan.
"Tentu saja, mereka tidak keberatan. " jawab Raditya.
"Mungkin karena mereka kasihan dengan mu, yang sudah lama hidup sendiri tanpa pendamping, hahahahaha. " ucap Dylan.
"Tentu saja tidak karena itu, mereka mengakui kalau mereka menyukai Mika ." ucap Raditya.
"Hhhmmm..... bagus lah, berarti jadi donk ya pernikahan nya. " ucap Dylan.
"Mmm.... tanggal 15 bulan depan. " ucap Raditya santai.
"Eh buset... cepat juga ya. " ucap Dylan.
"Udah gak sabar ya, hahahahaha. " ledek Dylan.
"Iya, tentu saja, dari pada di rebut sama orang lain kan? " tanya Raditya melirik Dylan.
"Hehehehehehe. " tawa Dylan menggaruk kepala nya.
"Lalu apa kau mengundang Clara? " tanya Dylan.
Raditya sejenak diam.
"Tentu saja tidak, buat apa, yang ada nanti dia akan bikin masalah. " ucap Raditya.
Tok.... tok.... tok....
"Masuk. " jawab Raditya.
Diana membuka pintu dan masuk ruangan.
"Tuan, ada tuan Adrian Ferdian di luar, kata nya mau bertemu dengan anda. " ucap Diana.
Raditya dan Dylan saling melihat.
"Ada keperluan apa dia datang? " tanya Raditya serius.
"Maafkan saya tuan, dia tidak memberitahukan nya pada ku. " jawab Diana.
"Hhhmmmm.... suruh masuk." ucap Raditya.
"Baik tuan. " ucap Diana.
Sekretaris nya berjalan keluar.
Tidak berapa lama, Adrian datang.
"Selamat siang tuan Raditya. " sapa Adrian.
"Selamat siang tuan Adrian." jawab Raditya, melangkah menuju sofa tempat Dylan duduk.
"Silahkan duduk tuan Adrian. " suruh Raditya.
"Terimakasih tuan Raditya.
"Dylan, buat kan kopi untuk kami berdua. " ucap Raditya duduk di sofa depan Adrian duduk.
"Baik tuan. " ucap Dylan berdiri menuju luar ruangan bos nya.
"Baiklah tuan Adrian, ada hal apa yang mengantarkan anda ke perusahaan saya? " tanya Raditya serius.
Sebenar nya Raditya sedikit tidak suka dengan Adrian. Mau bekerja sama karena perusahaan Adrian sedang mengalami kemajuan.
"Tidak ada hal yang penting, hanya ingin mengobrol-ngobrol saja dengan rekan kerja." jawab Adrian santai.
"Apa-apaan ini? dia datang kesini hanya ingin membuang-buang waktu ku? " gumam Raditya melihat Adrian.
"Maafkan saya tuan Adrian, tapi saya paling tidak suka membuang-buang waktu bekerja ku." ucap Raditya.
"Hahahahaha.... saya mengerti tuan Raditya. " ucap Adrian.
"Anda adalah orang yang sibuk, apalagi sebentar lagi anda akan menikah. " ucap nya lagi.
"Silahkan di minum kopi nya tuan Adrian dan tuan Raditya. " ucap Dylan meletakkan gelas kopi di atas meja.
"Terimakasih tuan Dylan. " ucap Adrian menatap Dylan.
"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Dylan meninggalkan rungan itu.
"Ada hal apa si Adrian datang bertemu dengan Raditya? " gumam Dylan.
"Jadi kapan rencana pernikahan anda? " tanya Adrian meminum kopi buatan Dylan.
Raditya kaget dengan pertanyaan yang di berikan Adrian.
"Kenapa anda bertanya hal itu? " tanya Raditya seperti tidak suka.
"Hanya sekedar bertanya saja. " jawab Adrian.
"Sekitar tanggal 15 bulan depan. " ucap Raditya meminum kopi nya.
"Wah... hanya tinggal beberapa hari lagi ya." ucap Adrian.
"Jangan lupa untuk mengundang ku tuan Raditya. " ucap Adrian.
"Tentu saja, pasti itu. " ucap Raditya.
"Apa anda akan mengundang mantan isteri anda? " tanya Adrian menatap tajam Raditya.
Begitu juga dengan Raditya.
"Tidak, untuk apa. " jawab Raditya.
Di sini Raditya tidak tahu kalau Adrian pernah menjadi kekasih dari mantan isteri nya, Clara. Akan tetapi Adrian tahu, siapa mantan suami Clara.
"Kau benar juga tuan Raditya, hahahahaha.... masa lalu adalah masa lalu. " ucap Dylan.
"Bagaimana dengan perusahaan anda? " tanya Raditya.
"Sedang sukses-sukses nya, anda tahu kan, perusahaan ku sangat terkenal. " ucap Adrian.
"Banyak pesanan dari perusahaan lain, banyak juga mereka ingin bekerja sama dengan perusahaan ku. " ucap Adrian.
"Lalu kenapa tidak bekerja sama dengan mereka saja? " tanya Raditya.
"Saya tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang baru berdiri tuan Raditya, sedangkan perusahaan anda kan sudah lama berdiri, dan memiliki sejarah predikat terbaik dalam dunia perbisnisan. " ucap Adrian santai.
"Usaha anda sangat banyak, properti, perhotelan, restoran, dan masih banyak lagi kan? " ucap Adrian.
"Wah.... anda tahu banyak ternyata. " ucap Raditya.
"Tentu saja tuan, sebelum saya mau bekerja sama dengan perusahaan lain, saya harus melihat sejarah perkembangan perusahaan itu. " ucap Adrian.
"Makanya saya mau bekerja sama dengan anda. " ucap Adrian menatap Raditya.
"Oh ya.... pasti calon isteri anda sangat senang bisa menikah dengan anda. " ucap Adrian.
"Tentu." ucap Raditya bangga.
Suasana menjadi hening, dari raut wajah mereka, seperti tatapan musuh.
****************************
"Pa, sebaik nya kita bertemu dengan calon besan kita." ucap Mona, mama Raditya.
"Benar ma, apa lagi pernikahan nya tinggal beberapa hari lagi. " jawab Hermawan, papa Raditya.
"Kapan pa? " tanya Mona.
"Coba minta saja alamat nya ma, kalau sudah di kasih, kita langsung datang. " ucap suami nya.
" Menurut papa, di mana kita akan mengadakan pernikahan anak kita? " tanya Mona lagi.
"Terserah mereka saja." jawab suami nya.
"Mama mau nya sih di Jakarta saja pa. " ucap Mona.
"Ma, yang menikah kan anak kita, jadi kita sebagai orang tua kan harus mendukung." ucap Hermawan papa Raditya dan suami nya.
"Kalau begitu saya pamit dulu tuan Raditya. " ucap Adrian mengulurkan tangan nya.
"Silahkan tuan Raditya." ucap Raditya menjabat tangan Adrian.
"Senang sekali saya bisa ngobrol-ngobrol dengan anda, hahahahaha." ucap Adrian.
Raditya tidak bicara, dia bingung mau membalas bicara apa. Dia hanya tersenyum.
Adrian pergi meninggalkan Raditya. Sementara Raditya menatap orang itu keluar, dan kembali duduk di kursi singgasana nya.
"Entah kenapa aku sangat tidak menyukai nya, seperti berhadapan dengan musuh. " gumam Raditya.
"Ada panggilan tak terjawab dari Mama? ada apa? " gumam Raditya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE NYA YA....